NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Eksekusi Tanpa Jejak dan Rahasia Stempel Klan

​Keringat dingin membasahi wajah keriput Tabib Lin Hua, menetes jatuh ke atas lantai tanah yang lembap. Udara di dalam gubuk terasa setajam silet. Di hadapannya, Lin Tian berdiri dengan postur santai, namun belati berukir rune di tangannya menempel tepat di urat nadi leher sang tabib. Sedikit saja pemuda itu memberikan tekanan, nyawa pria tua ini akan melayang.

​Logika dunia kultivasi sangat sederhana: yang kuat memangsa yang lemah. Selama tiga tahun, Tabib Lin Hua menggunakan posisinya untuk menyiksa ayah Lin Tian demi menjilat Lin Kuang. Sekarang, hierarki itu telah berbalik secara absolut.

​"K-kau tidak bisa membunuhku..." Tabib Lin Hua mencoba menggertak, suaranya bergetar hebat. "Jika aku dan pengawal ini tidak kembali ke aula utama dalam satu jam, Kepala Klan Lin Kuang akan curiga! Dia akan mengirim pasukan elit kemari dan mencincangmu!"

​"Waktumu untuk menjawab pertanyaanku tersisa tiga tarikan napas," ucap Lin Tian datar, matanya tidak memancarkan emosi apa pun. Bilah belati itu ditekan ke depan, mengiris lapisan kulit pertama leher sang tabib. Garis darah merah tipis mengalir pelan.

​Rasa perih yang menusuk dan aura kematian yang begitu pekat meruntuhkan pertahanan mental Tabib Lin Hua seketika. Ia menyadari pemuda di depannya ini bukanlah remaja belasan tahun yang naif, melainkan seorang algojo berdarah dingin.

​"A-aku bicara! Aku akan bicara!" jerit Tabib Lin Hua tertahan. "Stempel Kepala Klan yang palsu... Lin Kuang tidak menyimpannya di ruang kerjanya! Benda itu selalu dibawa di dalam cincin penyimpanannya setiap saat! Dia tidak pernah melepaskannya dari tubuhnya karena dia tahu benda itu adalah satu-satunya legitimasinya di mata publik sebelum Sekte Pedang Surgawi meresmikannya!"

​Mata Lin Tian menyipit. "Masuk akal. Pria paranoid sepertinya tidak akan membiarkan artefak sepenting itu jauh dari jangkauannya. Lalu, siapa orang di dalam Sekte Pedang Surgawi yang melindunginya? Klan kecil seperti Klan Lin tidak mungkin bisa memanipulasi pelantikan Kepala Klan tanpa dukungan dari dalam sekte."

​Tabib Lin Hua menelan ludah, wajahnya memucat seolah menyebut nama orang tersebut adalah sebuah pantangan. "Itu... itu adalah Tetua Lu dari Puncak Awan Hukuman di Sekte Pedang Surgawi. Tiga tahun lalu, Lin Kuang diam-diam menjual informasi tentang Akar Spiritual Pedang milikmu kepadanya. Sebagai gantinya, Tetua Lu menerima Su Yue sebagai murid pribadinya dan menggunakan pengaruhnya untuk menekan faksi ayahmu dari luar, membiarkan Lin Kuang melancarkan kudeta dari dalam!"

​Kepingan puzzle itu akhirnya tersusun sempurna di benak Lin Tian. Sebuah konspirasi yang masuk akal dan terencana dengan rapi. Su Yue menginginkan bakatnya, Lin Kuang menginginkan kekuasaan ayahnya, dan Tetua Lu menginginkan bibit unggul untuk faksinya. Ketiganya bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Lin Tian.

​"Jadi begitu," gumam Lin Tian pelan, menarik belatinya beberapa milimeter dari leher sang tabib.

​Merasa mendapat celah untuk hidup, Tabib Lin Hua segera bersujud. "Lin Tian... Tuan Muda Lin Tian! Aku hanya alat! Aku dipaksa oleh Lin Kuang! Tolong, lepaskan aku. Aku bersumpah tidak akan membocorkan rahasia bahwa kau telah pulih—"

​Cras!

​Sebuah kilatan cahaya abu-abu berkelebat membelah udara.

​Mata Tabib Lin Hua membelalak lebar. Ia mencoba memegang lehernya, namun darah menyembur deras dari celah luka yang memotong arteri dan pita suaranya secara presisi. Tubuh tuanya ambruk ke lantai, kejang beberapa saat sebelum akhirnya terdiam selamanya.

​Lin Tian mengibaskan sisa darah dari belatinya dengan tenang. Tidak ada keraguan atau penyesalan di matanya.

​"Di jalan kultivasi, membiarkan musuh hidup karena belas kasihan palsu adalah bentuk bunuh diri yang paling konyol," ucap Lin Tian dingin. Jika ia melepaskan tabib ini, Lin Kuang akan mengetahui segalanya dalam hitungan menit, dan pasukan pembunuh klan akan mengepung gubuk ini.

​Namun, membunuh mereka berdua menciptakan masalah logis yang baru. Mayat mereka adalah bukti. Jika disembunyikan di sekitar sini, anjing pelacak klan akan menemukannya dengan mudah. Jika dikubur, butuh waktu yang tidak ia miliki.

​Lin Tian mengulurkan kedua tangannya di atas kedua mayat tersebut. Dantiannya berputar, memanggil Qi Primordial yang murni. Hukum Kekacauan tidak hanya bisa menciptakan, tetapi juga memiliki atribut destruktif yang mematikan, yaitu meluruhkan segala bentuk materi kembali menjadi debu energi.

​Wush...

​Kabut abu-abu menyelimuti mayat Tabib Lin Hua dan sang pengawal. Suara mendesis seperti daging yang dilemparkan ke atas besi panas terdengar pelan. Perlahan namun pasti, pakaian, daging, dan tulang mereka terurai, hancur menjadi partikel-partikel debu halus yang tertiup angin keluar melalui jendela yang rusak.

​Hanya dalam waktu satu menit, tidak ada yang tersisa dari kedua orang itu selain dua cincin penyimpanan tingkat rendah yang jatuh berdenting di lantai tanah. Ini adalah eksekusi dan pembersihan yang tanpa celah.

​Lin Tian memungut kedua cincin tersebut, menghapus jejak darah di lantai dengan kakinya, lalu bergegas menuju ranjang ayahnya.

​Keributan tadi tampaknya telah membangunkan pria paruh baya itu. Lin Zhen membuka matanya dengan susah payah, menatap kosong ke sekeliling ruangan sebelum pandangannya jatuh pada putranya. Rona kemerahan di wajahnya menandakan bahwa esensi Teratai Salju Seribu Tahun semalam masih terus bekerja meregenerasi vitalitasnya.

​"Tian'er... apa yang terjadi? Ayah mendengar suara..." suara Lin Zhen masih serak, namun jauh lebih bertenaga dari hari-hari sebelumnya.

​"Tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya sekarang, Ayah," Lin Tian membantu ayahnya duduk. "Lin Kuang sudah kehilangan kesabarannya. Mereka mengirim orang untuk meracunimu hingga mati hari ini. Aku telah... membereskan mereka. Tapi hilangnya mereka akan memicu alarm klan dalam satu atau dua jam ke depan. Kita harus pergi dari kompleks Klan Lin sekarang juga."

​Mata Lin Zhen membelalak terkejut, namun sebagai mantan Kepala Klan yang berpengalaman dalam intrik berdarah, ia segera mengendalikan emosinya. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari putranya. Aura pemuda itu tidak lagi layu, melainkan setajam pedang yang baru dihunus.

​"Kau pulih..." Lin Zhen bergumam, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Surga tidak buta. Baik, kita akan pergi. Tapi sebelum itu... ada satu hal yang harus kau ambil."

​"Stempel Kepala Klan yang asli?" tebak Lin Tian.

​Lin Zhen mengangguk lemah, tersenyum getir. "Lin Kuang menyiksa ayah selama tiga tahun, mengira ayah menyembunyikannya di brankas rahasia di paviliun leluhur atau menitipkannya pada serikat dagang di kota. Pria bodoh itu terlalu meremehkan prinsip paling dasar dari penyembunyian."

​Lin Zhen menunjuk ke arah tungku perapian tanah liat yang kusam di sudut gubuk, tempat Lin Tian selalu merebus obat untuknya setiap hari.

​"Tempat paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Hancurkan batu pijakan di bawah tungku itu," perintah Lin Zhen.

​Tanpa membuang waktu, Lin Tian berjalan ke arah tungku. Ia mengalirkan Qi ke tangan kanannya dan menghantamkan tinjunya ke lantai batu di bawah tungku. Batu itu hancur berantakan. Di antara puing-puing tanah dan abu, terdapat sebuah kotak timah kecil yang tertutup rapat.

​Lin Tian membuka kotak itu. Di dalamnya, terbaring sebuah stempel batu giok berwarna putih susu, dihiasi ukiran kepala harimau yang memancarkan aura spiritual murni elemen angin. Inilah artefak otentik yang melambangkan kekuasaan mutlak atas seluruh aset dan formasi pertahanan Klan Lin.

​"Selama kau memegang stempel itu, Lin Kuang hanyalah seorang pemberontak tanpa legitimasi. Benda itu juga memegang kunci untuk membuka perbendaharaan rahasia leluhur di dasar gunung belakang," jelas Lin Zhen, napasnya terengah-engah setelah banyak bicara.

​"Aku mengerti," Lin Tian menyimpan stempel itu dengan aman ke dalam Cincin Naga Hitam miliknya.

​Ia kemudian berjongkok dan menarik ayahnya ke punggungnya. Tubuh Lin Zhen sangat ringan akibat penyusutan otot selama bertahun-tahun, sehingga bagi Lin Tian yang berada di Pengumpulan Qi Tingkat 5, beban ini tidak terasa sama sekali.

​"Kita akan pergi ke mana, Tian'er? Keluarga bangsawan lain di kota ini semuanya tunduk pada Lin Kuang. Tidak ada yang berani menampung kita," tanya Lin Zhen cemas saat mereka melangkah keluar dari gubuk.

​Lin Tian memindai area sekitar, memastikan rute pelarian mereka aman dari pandangan patroli pagi klan. Sepasang matanya memancarkan ketenangan yang absolut.

​"Kita tidak akan bersembunyi di tempat keluarga bangsawan, Ayah. Di dunia ini, kesetiaan bisa dibeli, tapi keserakahan pedagang adalah hal yang paling bisa diprediksi dan dimanfaatkan."

​Tangan kiri Lin Tian menyentuh Token Tamu Kehormatan Emas di balik jubahnya.

​"Kita akan menetap di Paviliun Beribu Harta. Selama kita memiliki nilai di mata mereka, bahkan sepuluh Lin Kuang pun tidak akan berani menyentuh sehelai rambut kita di dalam gedung itu. Dan dari sana, aku akan menghancurkan Lin Kuang selangkah demi selangkah."

​Menjadi seperti bayangan abu-abu yang tak kasat mata, Lin Tian memanggul ayahnya, melesat melewati dinding belakang kompleks klan, dan menghilang ke dalam hiruk-pikuk jalanan Kota Daun Gugur tepat saat bel alarm dari Aula Utama Klan Lin mulai berdentang nyaring di kejauhan.

1
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍
Fajar Fathur rizky
klan huangpu dan leluhurnya akan musnah hahahaha
Daryus Effendi
terlalu banyak penjelasan jadi nya membosankan
T28J
semangat kak 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!