NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Altar Pengorbanan

​Kaki Imam Darah menendang-nendang udara hampa. Tangan pucatnya mencengkeram pergelangan tangan Arya, berusaha melepaskan cekikan yang sekeras jepitan hidrolik itu. Namun, setiap kali ia mencoba mengalirkan energi dari Inti Emasnya, Qi murni milik Arya langsung menekan dan membungkamnya secara absolut.

​"K-Kau... tidak bisa membunuhku..." Imam Darah terengah-engah, matanya mulai memerah karena pembuluh darah yang pecah. "Aku terhubung dengan Formasi Puncak Darah... Kematianku akan memicu alarm—"

​"Konektivitas nirkabel melalui segel jiwa," Arya memotong dengan nada datar, menganalisis benang energi merah tipis yang menghubungkan dahi Imam Darah dengan puncak gunung. "Sangat tidak efisien."

​Arya mengangkat tangan kirinya dan menjentikkan jari telunjuknya tepat memotong benang energi tak kasat mata tersebut.

​Sring! Segel jiwa itu putus tanpa memicu peringatan apa pun ke pusat formasi. Mata Imam Darah membelalak dalam teror yang tak terlukiskan. Pengetahuan kultivasi pemuda di depannya ini benar-benar melampaui akal sehat Kunlun!

​"Sekarang kau offline," bisik Arya sedingin es. "Dan hukum fisika dasar menyatakan: tekanan berlebih yang disuntikkan ke dalam ruang tertutup yang rapuh, akan memicu ledakan."

​Tanpa belas kasihan, Arya mengalirkan Qi pembalik bervoltase tinggi langsung melalui cengkeramannya, menembus kulit Imam Darah dan menghantam langsung ke dalam Dantian pria itu.

​BUMMM!

​Sebuah ledakan teredam terjadi di dalam perut Imam Darah. Inti Emas Tahap Menengah yang ia banggakan hancur berkeping-keping. Darah hitam menyembur dari mulut, hidung, dan telinganya. Tubuhnya langsung terkulai lemas, mati seketika sebelum otaknya bisa memproses rasa sakit.

​Arya melepaskan cengkeramannya, membiarkan mayat petinggi Kuil Kegelapan itu jatuh ke tanah vulkanik layaknya karung rongsokan. Ia mengusap tangannya dengan saputangan yang ia keluarkan dari saku mantel, lalu membuangnya ke atas mayat tersebut.

​"Tuan..." Elena melangkah maju, menatap ngeri mayat-mayat pengawal dan Imam Darah yang berserakan. "Mereka semua telah dilenyapkan. Apa kita langsung mendaki?"

​"Ritual mereka berada pada tahap kritis. Fluktuasi energi di puncak sana tidak stabil. Kita tidak akan membuang waktu dengan berjalan menyusuri tebing," Arya mendongak, menatap langsung ke pusaran awan merah kehitaman di langit puncak.

​"Pegang lenganku, Elena. Kita potong kompas."

​Sebelum Elena sempat mencerna kata-kata itu, Arya menghentakkan kakinya. Tanah di bawah mereka meledak. Menggunakan daya tolak dari Qi Puncak Kesempurnaan Fondasi yang dipadukan dengan manipulasi gravitasi, tubuh Arya melesat vertikal menembus udara, melompati ketinggian tebing ribuan meter dalam satu tarikan napas.

​Kecepatan lontaran itu menciptakan dentuman sonik yang membelah kabut merah darah di sepanjang lereng gunung.

​Dalam hitungan detik, mereka mendarat dengan bunyi debuman keras di pelataran puncak gunung. Pijakan mereka menghancurkan lantai batu obsidian menjadi kawah kecil.

​Pemandangan yang terhampar di Puncak Darah itu seolah diangkat langsung dari dasar neraka.

​Pelataran seluas lapangan sepak bola itu dipenuhi oleh ratusan kultivator berjubah hitam yang sedang duduk bersila, menggumamkan mantra bahasa kuno yang menyayat hati. Di tengah pelataran, terdapat sebuah altar tulang raksasa yang menopang kuali obsidian raksasa. Darah segar mendidih di dalam kuali tersebut, menciptakan uap merah pekat yang membubung ke langit.

​Di atas kuali itu, mengambang sesosok bayangan manusia yang mengenakan jubah keemasan. Dia adalah Tuan Besar Agung Kuil Kegelapan. Fluktuasi Qi yang memancar dari tubuhnya sangat mengerikan, menekan udara hingga terasa padat. Ia telah mencapai Ranah Inti Emas Tahap Puncak, dan kini sedang membakar esensi jiwa untuk memaksakan terobosan menuju Ranah Grandmaster!

​Uap darah dari kuali itu mengikat ratusan bola cahaya kecil—esensi jiwa dari korban pengorbanan—yang menjerit tanpa suara saat mereka ditarik perlahan ke dalam tubuh Tuan Besar Agung.

​Di antara ratusan bola jiwa itu, Mata Dewa Arya langsung mengunci dua bola cahaya yang saling berpegangan di dekat pusat pusaran. Fluktuasi energi dari dua bola cahaya itu beresonansi kuat dengan rantai DNA Arya dan Cincin Naga di jarinya.

​Itu adalah sisa-sisa esensi jiwa orang tuanya yang selama tiga tahun ini disiksa dan ditahan di dalam kuali kutukan.

​[Peringatan Sistem! Fluktuasi Emosi Tuan Muda Melampaui Batas Rasional! Indikator Adrenalin Meningkat 10.000%. Resiko Sinkronisasi Qi Tidak Stabil!]

​Untuk pertama kalinya sejak Sistem Naga Leluhur bangkit, Arya tidak mempedulikan peringatan logis tersebut. Rasionalitasnya yang selalu sedingin mesin kini menguap. Lapisan ketenangan yang selalu ia jaga hancur berkeping-keping, digantikan oleh murka murni dari seekor naga yang pantangan terbesarnya baru saja disentuh.

​Udara di Puncak Darah tiba-tiba membeku. Hawa dingin yang memancar dari tubuh Arya membuat uap darah di udara mengkristal menjadi butiran es merah yang jatuh ke lantai.

​Ratusan kultivator gelap yang sedang melantunkan mantra tiba-tiba berhenti. Mereka merasa seolah ada pedang es tak kasat mata yang ditodongkan tepat ke tenggorokan mereka. Mereka serentak menoleh ke arah kawah pendaratan.

​Tuan Besar Agung yang mengambang di atas kuali perlahan membuka matanya. Matanya sepenuhnya hitam tanpa bagian putih, memancarkan kejahatan purba.

​"Siapa yang berani mengganggu Ritual Pemanggilan Surgawi?" suara Tuan Besar Agung menggema, mengandung getaran jiwa yang bisa membuat manusia biasa gila.

​Arya tidak menjawab. Ia perlahan melepaskan trench coat hitamnya, membiarkannya jatuh ke tanah berbatu. Di balik jas itu, kemeja putihnya sedikit berkibar tertiup angin puncak yang membeku.

​Setiap kali Arya mengambil satu langkah maju, lantai obsidian di bawah sepatu botnya retak dan hancur menjadi debu. Aura putih kebiruan yang tadinya tenang kini meledak-ledak membentuk siluet naga raksasa yang melingkari tubuhnya.

​"Aku selalu menyelesaikan masalah menggunakan kalkulasi untung rugi dan probabilitas," ucap Arya. Suaranya tidak berteriak, namun bergema lebih keras dari guntur, memecahkan konsentrasi ratusan penyembah berhala di sekitarnya.

​"Namun hari ini... tidak ada perhitungan bisnis. Tidak ada negosiasi. Tidak ada interogasi."

​Arya mengangkat tangan kanannya. Langit di atas Puncak Darah yang tadinya berawan merah perlahan mulai berputar, membentuk pusaran awan hitam yang memancarkan kilatan petir. Medan Gravitasi Tirani merespons kemarahan absolut tuannya, memperluas jangkauannya hingga menyelimuti seluruh pelataran.

​"Bunuh penyusup itu!" teriak salah satu tetua Kuil Kegelapan dari dekat altar.

​Ratusan kultivator gelap serentak bangkit, menghunus senjata mereka yang berlumuran darah, dan menerjang ke arah Arya seperti gelombang tsunami hitam.

​"Kalian mencuri jiwa keluargaku untuk dijadikan bahan bakar," lanjut Arya, sama sekali tak mempedulikan ratusan ahli bela diri yang menerjang ke arahnya. Ia menurunkan tangannya dengan satu gerakan horizontal yang brutal.

​"Maka aku akan meratakan Puncak Darah ini, dan menjadikan kalian semua abu tanpa nisan."

​BUMMMMM!

​Gravitasi lima puluh kali lipat bumi dijatuhkan secara instan ke atas seluruh pelataran.

​Itu bukan sekadar tekanan; itu adalah palu godam dari alam semesta. Ratusan kultivator yang berlari itu seketika hancur rata dengan tanah. Darah, daging, dan tulang meledak bersamaan, mengubah pelataran obsidian itu menjadi karpet darah segar dalam sepersekian detik. Jeritan mereka bahkan tidak sempat keluar dari tenggorokan yang telah hancur.

​Hanya dengan satu gerakan tangan, seluruh pasukan Kuil Kegelapan musnah tak bersisa.

​Di atas altar, Tuan Besar Agung terbelalak. Ritmenya terputus paksa. Ia menatap pemuda berkemeja putih di tengah lautan mayat itu dengan ketidakpercayaan total.

​Arya Permana perlahan mendongak, menatap langsung ke arah penguasa Kuil Kegelapan itu dengan sepasang mata naga yang memancarkan vonis kematian tak terelakkan.

​"Turun dari altar itu," perintah Arya, suaranya membekukan nyala api neraka. "Atau aku yang akan menyeretmu turun."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!