"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: LUKA DI BALIK BAYANG-BAYANG
Malam semakin larut, namun keheningan di kediaman Lynn terasa mencekam. Setelah drama percobaan bunuh diri Elysia yang berhasil memulihkan posisinya, rumah itu kembali ke dalam ritme yang palsu. Nerina telah mengurung diri di kamarnya, menolak makan malam dan hanya ingin sendiri.
Di lantai bawah, pintu perpustakaan yang berat tertutup tanpa suara. Ruangan itu gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang tipis menembus celah gorden beludru.
Di sana, di tengah kegelapan yang pekat, Ergino berdiri mematung. Seragam pelayannya yang rapi kini terasa seperti jerat leher yang mencekik. Ia tidak lagi menampilkan wajah datar yang biasa ia tunjukkan pada keluarga Lynn. Wajahnya kini dipenuhi oleh kemarahan yang tertahan dan kesedihan yang sangat dalam.
Ergino melangkah menuju meja kayu besar, jemarinya menyentuh permukaan meja dengan gemetar. Pikirannya terus mengulang momen di koridor tadi—saat ia menghapus air mata di pipi Nerina. Air mata yang seharusnya tidak pernah jatuh lagi.
"Brengsek," desisnya, suaranya parau dan penuh kebencian pada dirinya sendiri.
Ergino mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia teringat tatapan mata Nerina yang penuh luka. Luka yang ia kenal baik. Luka yang ia saksikan di garis waktu sebelumnya, saat ia hanya bisa menatap jasad wanita itu yang mendingin di gudang tua tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba, Ergino meraih sebuah pisau pembuka surat berbahan perak yang terletak di atas meja. Matanya berkilat gelap dalam remang malam. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu dengan gerakan cepat dan dingin, ia menyayat kulit telapak tangannya.
Darah segar merembes keluar, menetes ke atas karpet mahal, namun Ergino bahkan tidak berkedip. Rasa perih itu menjalar ke sarafnya, namun ia justru merasa sedikit lega.
"Ini untuk setiap tetes air matanya yang jatuh malam ini," bisiknya pada kegelapan.
Ia kembali menyayat punggung tangannya, kali ini lebih dalam. Rasa sakit itu adalah penebusan. Baginya, setiap kali Nerina menangis, itu adalah kegagalannya sebagai pelindung. Ia telah melintasi maut dan memutar kembali roda takdir hanya untuk memastikan mata itu tidak lagi basah oleh kesedihan, namun malam ini, mawar hitamnya kembali terluka oleh duri yang sama.
"Aku membiarkannya merasa sendirian lagi," gumamnya dengan napas memburu. "Aku membiarkan ular itu menyentuh harga dirinya."
Ergino menyandarkan kepalanya di rak buku, membiarkan darah di tangannya menetes tanpa henti. Di dalam kepalanya, suara-suara dari masa lalu berteriak. Suara Nerina yang memohon bantuan, suara Andrew yang tertawa, dan dinginnya malam saat semuanya berakhir.
"Kali ini tidak akan sama," Ergino bersumpah pada keheningan. "Elysia, kamu pikir air mata palsumu bisa menyelamatkanmu? Kamu baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri."
Ia mengambil sapu tangan putih bersih dari sakunya, melilitkan kain itu pada tangannya yang terluka dengan gerakan kasar, mengabaikan rasa sakit yang menyengat. Ia harus tetap berfungsi. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan Nerina besok pagi.
Keesokan Paginya - Ruang Makan
Nerina turun ke lantai bawah dengan wajah yang tertutup riasan tipis untuk menyembunyikan mata yang sedikit sembab. Ia mengenakan pakaian kantor yang lebih tajam dari biasanya, seolah-olah pakaian itu adalah baju zirah.
Di ruang makan, suasana tampak "normal". Elysia duduk dengan perban kecil di pergelangan tangannya—sebuah tanda "perjuangan"—sambil disuapi bubur oleh Anora. Elyas dan Nero bicara dengan nada rendah, sesekali melirik Nerina dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Nerina, duduklah," ujar Elyas, suaranya jauh lebih lembut daripada semalam, mungkin karena rasa bersalah. "Kita perlu bicara tentang surat yang baru saja tiba dari kediaman Fidelis."
Nerina duduk tanpa suara. Ergino muncul dari belakangnya, membawakan kopi hitam kesukaannya. Nerina sempat melirik ke arah tangan Ergino dan menyadari ada perban yang menyembul dari balik lengan kemeja putih pelayannya.
"Gino, tanganmu kenapa?" tanya Nerina lirih, hampir tak terdengar oleh yang lain.
Ergino membungkuk formal, menuangkan kopi dengan stabil. "Hanya kecerobohan saat membersihkan perpustakaan semalam, Nona. Tidak perlu dikhawatirkan."
Nerina menyipitkan mata. Ia tahu Ergino tidak ceroboh. Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Elyas meletakkan sebuah surat dengan segel resmi keluarga Fidelis di atas meja.
"Andrew sudah resmi dikirim ke luar negeri untuk pengobatan mental," ujar Elyas. "Tuan Besar Fidelis meminta maaf secara pribadi atas kejadian di dermaga. Dan... ada sebuah lampiran surat dari Andrew untuk keluarga ini. Dia menulisnya sebelum berangkat."
Elysia mendongak, wajahnya mendadak pucat. "Pesan... pesan apa, Ayah?"
Nero membuka lampiran itu dan membacanya keras-keras. "Untuk keluarga Lynn... Aku melakukan segalanya karena dibutakan oleh ambisi. Namun, aku tidak melakukannya sendirian. Ada seseorang yang terus meyakinkanku bahwa Nerina adalah musuh bersama kita. Seseorang yang memberiku akses pintu belakang gedung Lynn agar aku bisa mencuri data audit. Seseorang yang memintaku menyingkirkan Nerina secara permanen agar posisinya kosong..."
Elysia meremas sendoknya hingga bergetar. "Dia... dia pasti berhalusinasi! Andrew hanya ingin menyeret orang lain bersamanya!"
"Andrew tidak menyebutkan nama," sela Nerina, menatap tajam ke arah Elysia. "Tapi dia menyebutkan satu detail menarik. Orang itu memberinya sebuah liontin sebagai tanda aliansi. Liontin perak dengan inisial 'E'."
Anora Lynn tersentak, matanya tertuju pada leher Elysia yang kosong. "Elysia... bukankah kamu punya liontin seperti itu?"
"Ibu! Aku menghilangkannya beberapa hari lalu! Andrew pasti menemukannya dan menggunakannya untuk memfitnahku!" Elysia mulai menangis lagi, badannya bergetar. "Ayah, tolong! Jangan percaya pada pria gila seperti Andrew!"
"Fitnah atau bukan, audit digital akan membuktikan semuanya," ucap Nerina dingin. "Gino sudah menemukan log aktivitas dari komputer yang digunakan untuk mengirim data pada Andrew. Dan tebak apa? Alamat IP-nya berasal dari kamar tamu yang kamu tempati, Elysia."
Elysia berdiri, suaranya melengking. "Nerina Aralynn! Kamu yang melakukannya! Kamu menggunakan pelayanmu yang aneh itu untuk meretas kamarku! Ayah, Nerina sedang menjebakku lagi!"
Elyas Lynn mengusap wajahnya, tampak sangat lelah. "Cukup. Aku tidak tahu siapa yang benar lagi. Tapi satu hal yang pasti, mulai hari ini, posisi Wakil Direktur Operasional akan tetap dibekukan sampai tim forensik IT independen memberikan hasilnya."
"Tapi Ayah!" Elysia menjerit.
"Keputusanku sudah bulat!" bentak Elyas.
Nerina berdiri, mengambil tasnya. "Aku berangkat ke kantor. Ayo, Gino."
Di dalam mobil, suasana sangat sunyi. Nerina menatap punggung Ergino yang sedang mengemudi. Ia memikirkan perban di tangan pria itu.
"Gino," panggil Nerina.
"Ya, Nona?"
"Kamu menyakiti dirimu sendiri semalam, bukan?" tanya Nerina langsung. "Di perpustakaan. Aku mencium aroma darah saat lewat di depan pintunya tadi malam."
Ergino terdiam cukup lama. Mobil berhenti di lampu merah. Ia menoleh sedikit, menatap mata Nerina melalui cermin. "Rasa sakit di tangan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang Anda rasakan di hati Anda, Nerina."
Nerina tertegun. "Kenapa kamu melakukan itu? Kamu tidak perlu menanggung bebanku."
"Saya sudah bersumpah pada diri saya sendiri," suara Ergino merendah, penuh dengan intensitas yang mencekam. "Bahwa jika saya gagal menjaga senyum Anda, maka tubuh saya harus membayar harganya. Anda adalah mawar hitam saya. Dan saya tidak akan membiarkan dunia mematahkan duri Anda lagi tanpa saya merasakan sakit yang sama."
Nerina merasa matanya kembali panas, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena perasaan asing yang membuncah di dadanya. "Siapa kamu sebenarnya, Gino? Kenapa kamu begitu terobsesi melindungiku?"
Ergino kembali menjalankan mobil saat lampu berubah hijau. "Identitas saya adalah bayangan yang akan menelan musuh-musuh Anda. Fokuslah pada Elysia. Dia sedang terpojok, dan tikus yang terpojok akan mulai menggigit secara membabi buta. Dia akan mencoba menyerang titik terlemahmu malam ini."
"Apa itu?"
"Kenanganmu tentang masa lalu," jawab Ergino misterius. "Dia akan membawa seseorang dari 'kehidupan lamamu' yang belum pernah muncul di masa ini."
Nerina mengerutkan kening. Seseorang dari masa lalu? Siapa lagi yang bisa menghancurkannya selain keluarga Lynn dan Andrew?
"Siapa, Gino?"
"Ibumu yang sebenarnya, Nerina," bisik Ergino. "Atau setidaknya, wanita yang mengaku sebagai ibumu."
Nerina membelalak. Drama baru saja mencapai level yang tidak pernah ia duga sebelumnya.