Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24: Bug yang Tidak Bisa Dihapus
Malam di Hangzhou terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Di kamar hotel suite-nya yang berada di lantai 42, Lukas Arkan berdiri mematung di depan jendela kaca besar, menatap gemerlap lampu kota yang menyerupai sirkuit raksasa. Namun, pemikirannya tidak tertuju pada ekspansi pasar atau laporan keuangan kuartal ketiga. Pikirannya terjebak pada satu baris komentar di dalam sistem kodenya.
//Jangan menyerah, Rea. Kita pasti bisa.
Dia memejamkan mata rapat-rapat. Dia telah mencoba menghapus baris itu ribuan kali dalam benaknya, tapi setiap kali dia mencoba melakukan compile pada sistem kehidupannya yang baru, komentar itu selalu muncul. Itu adalah ghost code—kode hantu yang tidak terlihat oleh orang lain, tetapi terus berjalan di latar belakang, memakan memori, dan mengacaukan stabilitas emosinya.
"Sial," umpatnya lirih, suaranya parau.
Dia menyambar gelas kristal berisi whisky dan meneguknya. Rasa panas cairan itu menjalar ke kerongkongannya, tapi tidak cukup untuk membakar kenangan tentang bengkel Pak Edi yang bau oli, tentang tawa Rea saat mereka berhasil memecahkan kode yang rumit, tentang Bermain Mobile Legends bersama Hazel, atau tatapan ibunya sebelum menutup mata untuk selamanya.
Lukas meletakkan gelas dengan kasar. Dia harus membuang Andrea. Dia harus memastikan gadis itu tidak pernah lagi mendekati dunianya.
Keesokan harinya, telepon kantornya berdering. Suaranya dingin dan presisi. "Kirim dia ke kantor saya sekarang. Saya butuh bicara dengannya."
Andrea—atau Rea—menerima panggilan itu satu jam kemudian. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena dia tahu bahwa tindakannya di auditorium kemarin telah membuahkan hasil. Dia telah memancing Lukas keluar dari persembunyiannya. Dia telah memaksa sang CEO untuk mengakui keberadaannya.
Saat Rea melangkah masuk ke kantor Arkan Tech Solutions, dia disambut dengan kemewahan yang klinis. Segalanya putih, minimalis, dan sangat efisien. Tidak ada kekacauan, tidak ada kehidupan.
Lukas duduk di balik meja kaca besar. Dia tidak mengenakan setelan jas lengkap hari ini, hanya kemeja putih dengan lengan digulung, memperlihatkan lengannya yang tampak lebih kokoh. Dia sedang menatap layar monitor besar yang menampilkan diagram sistem yang rumit.
"Kamu punya sepuluh menit," ucap Lukas tanpa menoleh. Suaranya datar. "Jelaskan apa yang kamu maksud dengan 'virus' itu kemarin."
Rea berjalan mendekat, berdiri di seberang meja. Dia tidak duduk. "Kamu tahu persis apa yang aku maksud. Kamu sedang mengalami memory leak di sistem kamu. Kamu terus menulis kode baru, menambahkan fitur-fitur canggih, tapi kamu tidak pernah benar-benar membersihkan error fundamental yang kamu bawa dari masa lalu. Dan error itu semakin membesar setiap kali kamu mencoba menutupinya."
Lukas tertawa sinis, lalu berbalik menatap Rea. "Saya tidak butuh psikiater. Saya butuh seorang praktisi. Kamu mengklaim sistem saya cacat? Tunjukkan di mana letaknya, kalau kamu memang sehebat yang kamu kira."
Dia menggeser keyboard-nya ke arah Rea. Ini adalah tantangan. Lukas yakin bahwa meskipun Rea cerdas, dia tidak akan bisa memahami arsitektur sistem yang telah dia bangun dengan teknologi high-level dan enkripsi tingkat tinggi yang dikembangkan Lukas selama tiga tahun terakhir.
Rea menarik napas panjang. Dia duduk di kursi, tangannya diletakkan di atas keyboard. Dia bisa merasakan aura Lukas yang mengintimidasi di belakangnya, menatap setiap gerakan jarinya.
Rea tidak membuka interface aplikasi. Dia langsung masuk ke kernel sistem. Dia mulai mengetikkan baris perintah. Sudo mode. Dia mengenali pola pemanggilan fungsinya. Meskipun Lukas telah mengubah bahasa pemrogramannya, logika dasarnya masih menggunakan pendekatan mekanika yang dulu mereka pelajari untuk bengkel.
"Ini dia," gumam Rea. Dia menunjuk ke sebuah modul yang ditandai dengan kode L-01. "Modul ini seharusnya menyeimbangkan beban saat mesin mencapai RPM tinggi. Tapi di sini, kamu menggunakan algoritma recursive. Itu salah, Lukas. Dulu kita pernah bahas ini. Kamu harus menggunakan iterative agar tidak terjadi stack overflow."
Lukas terdiam. Dia mematung di belakang Rea. Dia tidak percaya gadis ini—gadis yang baru saja kuliah di China—mampu membaca arsitektur sistemnya secepat itu.
"Kamu masih menggunakan metode itu?" tanya Lukas, suaranya sedikit gemetar.
"Kenapa tidak? Itu metode yang efisien," jawab Rea sambil terus mengetik, memperbaiki baris kodenya. "Satu-satunya masalah adalah kamu terlalu memaksakan sistem untuk 'berpikir' seperti manusia, sementara kamu sendiri sedang mencoba untuk berhenti merasa seperti manusia."
Rea menekan tombol Enter. Sistem memberikan respons: Update Applied. Efficiency +45%.
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Lukas berjalan perlahan mengitari meja, menatap layar monitor dengan tatapan tidak percaya. Efisiensi itu... itu adalah angka yang dia kejar selama setahun terakhir dan tidak pernah dia capai.
"Kamu..." Lukas menatap Rea, matanya berkilat antara amarah dan kekaguman. "Kenapa kamu melakukan ini?"
"Karena aku tahu kamu butuh bantuan," jawab Rea tenang, memberanikan diri menatap mata pria itu. "Kamu membangun perusahaan ini sendirian, Kak. Kamu hebat, kamu jenius. Tapi kamu tidak bisa melihat bug yang ada di dalam dirimu sendiri karena kamu terlalu takut untuk bercermin."
"Saya tidak takut!" teriak Lukas, menepis tumpukan kertas di mejanya hingga jatuh berserakan. "Saya hanya tidak ingin kembali menjadi Luq! Luq yang lemah! Luq yang menangis di koridor rumah sakit!"
Rea berdiri, menatapnya tanpa gentar. "Luq tidak lemah. Luq adalah orang yang berjuang demi ibunya. Luq adalah orang yang belajar coding di bengkel sambil menahan lapar. Luq seorang Mentor hebat yang mengajari Anak SMP tentang Bahasa Mandarin dan Matematika.Itu adalah kekuatan, Lukas! Bukan kelemahan!"
Terlihat seperti sedang berperang di dalam dirinya sendiri. Topeng Lukas Arkan yang dingin mulai retak parah, memperlihatkan Luqman yang hancur di baliknya.
"Kamu tidak mengerti," bisiknya, suaranya pecah. "Setiap kali saya mengingat masa itu, saya merasa seperti... saya tidak berharga. Bahwa saya hanyalah sampah yang berusaha naik kelas."
"Kamu bukan sampah," Rea mendekat, tangannya terulur, kali ini Lukas tidak menghindar. Dia membiarkan Rea menyentuh lengannya. "Kamu adalah hasil dari kerja kerasmu sendiri. Dan kamu tidak perlu membunuh Luqman untuk menjadi Lukas. Kamu bisa menjadi keduanya. Kamu bisa menjadi Lukas Arkan yang sukses, dengan hati yang dimiliki Luq di masa lalu."
Lukas menatap tangan Rea di lengannya, lalu beralih menatap wajah gadis itu. Di mata Rea, dia tidak melihat kebencian, tidak melihat pengkhianatan. Dia melihat keyakinan. Keyakinan yang sama yang selalu Rea berikan padanya saat Rea masih di SMP dulu.
"Kenapa kamu peduli?" tanya Lukas, hampir seperti bisikan.
"Karena kita adalah partner," jawab Rea sederhana. "Dan seorang programmer tidak akan pernah meninggalkan sistemnya saat sedang crash. Kita akan memperbaikinya bersama."
Lukas memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia tidak merasa harus memasang perisai. Dia merasa lelah. Sangat lelah. Dia menarik napas panjang, dan saat dia mengembuskannya, bahunya yang tegang perlahan turun.
"Sistem ini..." Lukas menunjuk monitor. "Memang sering crash saat saya sendirian. Saya kira saya hanya butuh upgrade hardware. Ternyata, saya hanya butuh orang yang tahu logic-nya."
Rea tersenyum, senyum tipis yang tulus. "Kamu tidak butuh hardware baru, Lukas. Kamu hanya butuh debugging pada bagian hati."
Lukas menatap Rea lama, seolah sedang memindai seluruh keberadaan gadis di depannya. Lalu, dia tidak menatap Rea sebagai "asisten" atau "ancaman". Dia menatapnya sebagai Andrea.
"Tinggal—Lah disini sebentar" ucap Lukas pelan. "Jangan kembali ke kampus dulu. Bantu saya menyelesaikan patch ini."
Rea tersenyum lebar. Dia tahu, dia baru saja membuka pintu. Pintunya memang masih berat, dan Lukas mungkin akan menutupnya lagi besok pagi, tapi setidaknya, dia sudah bisa melangkah masuk.
"Siap, Bos," jawab Rea, kembali duduk di depan keyboard.
Hari itu, di kantor yang dingin dan mewah itu, Lukas Arkan mulai belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini perlu di-delete. Ada beberapa memori yang justru harus di perbaiki agar hidup bisa berjalan dengan lebih stabil. Dan di sampingnya, Andrea—sang debugger—siap memastikan bahwa tidak ada lagi bug yang merusak masa depan mereka.