NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Resonansi Kehancuran dan Turunnya Laba-Laba Malam

Ruang hampa di Lantai 50 tidak memiliki langit untuk dihancurkan, namun ketika Aiz Wallenstein dan sang Trailblazer berbenturan, rasanya seolah-olah seluruh semesta sedang runtuh ke atas kepala mereka.

​KRAAANGGG!

​Bilah pedang Desperate beradu dengan tongkat bisbol berkarat. Dua senjata yang secara logika fana memiliki kasta yang jauh berbeda itu kini memancarkan kepadatan energi yang sama persis. Api hitam-keemasan dari Path of The Destruction meledak dari titik benturan, menyapu ruang dimensi seperti badai matahari.

​Gelombang kejutnya begitu dahsyat hingga pulau-pulau batu yang melayang di sekitar mereka hancur menjadi kerikil. Kubah Aegis of Preservation milik Tsubaki bergetar hebat, memancarkan retakan-retakan kecil saat menahan panas radiasi dari ledakan tersebut.

​"Monster..." desis Aiz, suaranya terdistorsi oleh resonansi Nanook. Matanya menatap lurus ke dalam mata sang Trailblazer, kosong namun dipenuhi kebencian yang membakar. "Selama kau masih bernapas... dunia ini akan selalu menangis."

​Sang Trailblazer menggertakkan giginya, mengerahkan seluruh kekuatan lengannya untuk menahan tekanan pedang Aiz yang tidak masuk akal.

​"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!" balas pemuda berambut abu-abu itu, urat-urat di wajahnya menonjol saat api keemasan dari Stellaron di dadanya memompa adrenalin kosmis ke seluruh nadinya. "Aku baru saja bangun sepuluh menit yang lalu! Dan aku... bukan monster!"

​Dengan raungan keras, Trailblazer memutar tubuhnya, mengalihkan lintasan pedang Aiz, dan mengayunkan tongkatnya dari sisi berlawanan. Aiz dengan sigap menendang dada pemuda itu, mengirimnya terpental ke belakang sebelum tongkat itu sempat mengenai kepalanya.

​Pertarungan jarak dekat di antara keduanya benar-benar brutal, memancarkan ledakan demi ledakan setiap kali senjata mereka bertemu.

​Di sisi lain arena, Finn tidak membiarkan Dan Heng bernapas.

​Kapten Pallum itu melesat dengan kecepatan bayangan, mengabaikan gravitasi yang miring dengan melompat dari satu serpihan batu melayang ke batu lainnya. Tombaknya menghujani Dan Heng dari segala arah. Setiap tusukannya tidak hanya membawa sihir, namun juga tekanan absolut dari The Hunt.

​"Pertahanan yang bagus," puji Finn dingin saat Dan Heng kembali menangkis tombaknya dengan presisi milimeter. "Tapi sampai kapan kau bisa melindungi inang itu?!"

​Dan Heng memutar Cloud-Piercer, mengayunkan tebasan naga air yang memaksa Finn mundur sejenak. Pemuda berambut hitam itu bernapas sedikit berat. Tekanan konstan dari stigmata cyan di punggung manusia kerdil ini benar-benar tidak wajar.

​"Bukan urusanmu," jawab Dan Heng datar. Ia melirik ke arah March 7th yang mulai kewalahan.

​Di sana, Ottar—sang Raja Orario—melangkah maju bagaikan raksasa yang tidak terhentikan.

​"Menjauh darinya!" March menarik busurnya berkali-kali. Tiga anak panah Six-Phased Ice melesat, menancap tepat di lengan dan kaki Ottar. Es abadi yang mampu membekukan suhu secara absolut itu merambat dengan cepat, membungkus tubuh raksasa ras Boarlum tersebut dalam bongkahan es padat.

​March menghembuskan napas lega. "Hah! Kena kau, pria besar!"

​Namun, kelegaan itu hanya berumur satu detik.

​CRATAK!

​Retakan besar muncul di permukaan es. Detik berikutnya, es abadi itu hancur berkeping-keping. Ottar tidak menggunakan sihir atau berkah Aeon; ia hanya menggunakan otot dan kekuatan murni dari seorang petualang Level 7 yang telah mencapai puncak hierarki fana. Kulitnya sedikit memerah karena frostbite, tapi ekspresinya tidak berubah sedikit pun.

​"Sihir pembeku yang merepotkan," geram Ottar dengan suara beratnya. Ia mengangkat pedang besarnya, bersiap menebas pulau tempat March berpijak. "Tapi tidak cukup."

​March menelan ludah, melangkah mundur. "O-oke, itu curang..."

​Di barisan belakang, Loki menggigit kukunya hingga berdarah. Matanya menatap ngeri pada api Destruction yang menyelimuti Aiz.

​"Haruhime!" teriak Loki ke arah gadis rubah itu. "Fokuskan sihirmu pada Aiz! Jangan biarkan apinya memakan kewarasannya, tarik kesadarannya kembali dengan Harmony milikmu!"

​Haruhime, yang sudah berkeringat dingin, mengangguk panik. Mahkota Harmony di dahinya bersinar menyilaukan. Ia mencoba menyanyikan mantra penyatuan, mencoba meraih jiwa Aiz melalui benang Falna.

​Namun, saat benang Harmony menyentuh lautan Destruction di jiwa Aiz, Haruhime menjerit tertahan. Ia merasa seolah-olah telapak tangannya baru saja dicelupkan ke dalam lautan lava. Dua Path itu secara fundamental saling menolak. Aiz tidak bisa diselamatkan dari jarak jauh.

​Siklus pertarungan itu menemui jalan buntu (stalemate).

​Kereta Astral memiliki pertahanan tempur yang luar biasa dari Dan Heng dan anomali kekuatan sang Trailblazer, sementara Aliansi Orario di-buff hingga ke batas maksimal oleh Haruhime dan dilindungi oleh Preservation Tsubaki.

​Namun, daya tahan manusia memiliki batas.

​Trailblazer mulai terengah-engah, staminanya terkuras habis untuk mengimbangi teknik berpedang Aiz yang telah terasah bertahun-tahun di dalam Dungeon. Di sisi lain, tangan Aiz mulai melepuh oleh panas apinya sendiri, kulit pucatnya retak seperti porselen yang terbakar dari dalam.

​Di Atas Tebing Pantau

​Aku melihat tinta di perkamenku mulai mengering. Panggung telah disiapkan persis seperti yang kubayangkan. Kedua belah pihak telah kehabisan kartu truf pertama mereka dan energi mereka mulai berkedip layaknya lilin yang ditiup angin.

​"Sekarang," bisikku. Ujung penaku menekan perkamen, menuliskan satu kalimat pendek dengan huruf tebal.

​Lalu, laba-laba malam itu merayap turun dari sarangnya, membawa benang realitas di ujung jari-jarinya.

​Kafka tersenyum. "Waktu yang tepat."

​Ia melangkah maju hingga ujung sepatunya melewati tepian tebing yang melayang. Tanpa ragu, Kafka menjatuhkan dirinya ke bawah arena. Payung ungunya terbuka di udara, mengurangi kecepatan jatuhnya, membuatnya melayang turun ke medan perang layaknya seorang dewi kematian yang elegan.

​Silver Wolf meniup permen karetnya lalu menekan satu tombol besar bercahaya merah di layar hologramnya. "Mengeksekusi program 'Isolasi Sektoral'."

​Di bawah sana, Finn baru saja akan melempar tombaknya ke arah Dan Heng ketika tiba-tiba, ribuan piksel cahaya keunguan meledak dari udara kosong di antara mereka. Piksel-piksel itu merangkai dirinya sendiri dengan kecepatan cahaya, membentuk dinding-dinding siber transparan yang memisahkan arena menjadi kubus-kubus ruang dimensi tertutup.

​BZZZTTT!

​Ottar terkurung di dalam satu kubus piksel, tebasannya memantul keras tanpa bisa menggores dinding firewall tersebut. Tsubaki, Haruhime, Loki, dan Riveria terisolasi di kubus lain. Finn dan Dan Heng terpisah oleh dinding yang sama.

​"Sihir apa ini?!" Riveria memukulkan tongkatnya ke dinding piksel itu, namun tidak ada respons magis yang terjadi. Ini bukan sihir. Ini adalah barisan kode peretasan murni dari dunia lain.

​Di tengah-tengah kekacauan ruang yang terpisah-pisah itu, hanya Aiz dan sang Trailblazer yang berada di dalam satu ruangan kubus yang sangat besar. Keduanya berhenti bertarung sejenak, dada mereka naik turun, sama-sama kebingungan melihat kotak dimensi yang mengurung mereka.

​Tepat saat Aiz mengangkat pedangnya kembali, sepasang sepatu hak tinggi mendarat dengan mulus di antara mereka berdua. Bunyi klik dari sepatu itu menggema aneh di ruang hampa tersebut.

​Aiz melebarkan matanya. Sang Trailblazer mundur selangkah.

​Wanita berjas ungu tua dan kemeja putih itu berdiri dengan anggun. Ia menyandarkan payungnya ke bahu, matanya yang seindah batu kecubung melirik ke arah Trailblazer, lalu ke arah Aiz, dan terakhir menatap ke seberang dinding piksel di mana Finn dan Loki menatapnya dengan horor.

​"Pertunjukan yang memukau," ucap Kafka santai, suaranya mengalun pelan namun terdengar jelas oleh semua orang di ruangan itu. "Tapi sayangnya, kalian berdua terlalu berisik. Kalian bisa membangunkan naga yang tidur jika terus membanting barang seperti itu."

​"Siapa kau?!" Aiz menerjang maju, tidak peduli siapa wanita ini. Api kehancuran meledak dari pedangnya.

​Kafka tidak menghindar. Ia tidak mencabut katana atau senapannya. Ia hanya melepas kacamata hitamnya dan menatap lurus ke dalam mata emas Aiz yang menyala.

​Mata ungu Kafka berkilat redup.

​"Dengarkan aku..."

​Suara itu... aneh. Itu bukan ancaman, bukan juga mantra sihir. Suara Kafka (Spirit Whisper) menyelinap langsung ke dalam korteks otak Aiz, melewati semua pertahanan fisik dan energi Nanook, meretas sistem saraf pusatnya layaknya perintah absolut dari pencipta.

​"Tidurlah. Api itu terlalu panas untukmu."

​Tubuh Aiz menegang kaku di udara. Pedang Desperate yang diayunkannya berhenti hanya lima sentimeter dari leher Kafka. Api hitam-keemasan di tubuh gadis berambut pirang itu berkedip-kedip, berjuang melawan perintah tersebut, sebelum akhirnya padam sepenuhnya bagai lilin yang disiram air.

​Mata Aiz kembali kosong, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan ketidaksadaran murni. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ambruk ke lantai.

​"Aiz!" jerit Riveria dan Loki bersamaan dari balik dinding siber, meninju pembatas itu dengan sia-sia.

​Trailblazer menelan ludah. Ia memegang tongkat bisbolnya erat-erat, bersiap menghadapi wanita menakutkan ini. "A-apa yang kau lakukan padanya?!"

​Kafka berbalik menatap pemuda berambut abu-abu itu. Senyum lembut yang sangat familiar—namun asing—terukir di wajahnya. Ia berjalan mendekat perlahan, langkahnya seirama dengan detak jantung sang wadah Stellaron.

​"Jangan takut. Aku tidak melukainya, dia hanya kelelahan," bisik Kafka lembut, berjarak hanya satu jengkal dari Trailblazer. Ia mengangkat tangannya yang bersarung, menyentuh dada pemuda itu tepat di mana Kanker Semua Dunia itu bersemayam.

​Trailblazer membeku. Suara dari wanita ini... terasa sangat aman, membungkam naluri bertarung Destruction yang sedari tadi mendidih di darahnya. Tongkat bisbolnya terjatuh ke lantai dengan suara berdentang keras.

​"Bagus," puji Kafka lembut. "Sekarang, dengarkan aku... kau akan ikut denganku, dan melupakan sisa pertempuran malam ini."

​Dari atas tebing, aku melihat pemandangan itu dan menutup perkamenku. Tinta terakhirku untuk babak ini telah meresap. Pemburu telah mengambil kembali buruannya, persis di bawah hidung para Dewa Orario dan Kereta Astral. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!