"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Suasana di halaman depan Gedung Utama Universitas Indonesia pagi itu begitu riuh. Puluhan wartawan dari media cetak, televisi, hingga portal berita online sudah berkerumun layaknya semut yang mencium aroma gula.
Kabar mengenai skandal fitnah akademik yang melibatkan nama besar Arvin Dewangga telah meledak semalam setelah tim hukum Dewangga Group merilis pernyataan awal.
Di sebuah ruangan VIP di dalam gedung fakultas, Zoya duduk terdiam. Ia baru saja tiba kembali dari pesantren semalam setelah Arvin memohon-mohon di depan Abah untuk diberikan kesempatan terakhir membersihkan nama baik istrinya.
Zoya setuju untuk datang, bukan karena ia sudah memaafkan Arvin sepenuhnya, melainkan karena ia tidak ingin menyandang status mahasiswi curang di sisa hidupnya.
"Siap?" suara berat Arvin memecah lamunan Zoya.
Zoya mendongak. Arvin berdiri di sana, tanpa jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tampak lelah namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
"Kenapa harus ada wartawan, Tuan?" bisik Zoya. "Bukankah Anda paling benci skandal?"
"Ini bukan skandal, Zoya," Arvin mendekat, berlutut di depan kursi Zoya agar mata mereka sejajar. "Ini adalah deklarasi. Dunia harus tahu bahwa mereka telah salah menilai wanita yang paling berharga dalam hidupku."
Pintu gedung fakultas terbuka. Kilatan lampu flash kamera seketika memberondong keluar layaknya hujan badai. Suara jepretan kamera dan teriakan pertanyaan wartawan saling bersahutan, menciptakan kebisingan yang memusingkan.
"Pak Arvin! Apa benar istri Anda melakukan kecurangan?!"
"Nona Zoya, bagaimana tanggapan Anda soal bukti CCTV yang beredar?!"
Arvin tidak menjawab satu pun pertanyaan itu. Dengan gerakan yang tegas dan protektif, ia menggandeng tangan Zoya. Bukan sekadar memegang, tapi menautkan jemari mereka dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang memberitahu dunia bahwa tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.
Zoya sempat tersentak. Ini adalah pertama kalinya Arvin menyentuhnya di depan publik dengan begitu berani. Selama ini, ia selalu merasa seperti rahasia yang disembunyikan di balik dinding apartemen mewah.
Di sisi lain lapangan, terlihat Nadia dan Pak Hendra digiring oleh petugas kepolisian menuju mobil tahanan. Nadia tampak berantakan, wajahnya ditutupi kain untuk menghindari kamera, sementara Pak Hendra hanya bisa menunduk pasrah.
Arvin sengaja meminta polisi membawa mereka melewati kerumunan wartawan agar rasa malu yang dirasakan Zoya berpindah sepenuhnya kepada mereka.
Arvin menuntun Zoya menuju podium yang telah disiapkan. Di sana sudah berjajaran belasan mikrofon dari berbagai stasiun televisi.
Arvin mengambil napas panjang, menatap tajam ke arah lensa kamera yang menyorotnya.
"Terima kasih sudah hadir," suara Arvin bergema melalui pengeras suara, tenang namun penuh otoritas. "Hari ini, saya tidak berdiri di sini sebagai CEO Dewangga Group. Saya berdiri di sini sebagai seorang suami."
Ruangan mendadak senyap. Para wartawan seolah menahan napas.
"Kecurangan yang dituduhkan kepada mahasiswi berprestasi di samping saya ini adalah murni fitnah yang direncanakan secara keji oleh pihak-pihak yang iri akan integritasnya. Bukti asli telah kami serahkan ke pihak berwajib, dan pelaku utama, telah ditangkap."
Arvin berhenti sejenak, lalu ia menarik Zoya sedikit lebih dekat ke sisinya. Ia menoleh ke arah istrinya yang tertutup cadar, matanya melembut sesaat sebelum kembali menatap publik.
"Zoya adalah istri sah saya," ucap Arvin dengan penekanan di setiap kata. "Dia adalah wanita paling terhormat yang pernah saya kenal. Dia tidak butuh kunci jawaban, karena dialah jawaban dari setiap doa yang pernah saya panjatkan."
Suasana semakin riuh, namun Arvin belum selesai. Ia mendekatkan mikrofon ke wajahnya lagi.
"Mulai detik ini, saya tidak akan membiarkan satu inci pun harga dirinya diinjak oleh siapa pun lagi. Siapa pun yang berani menyentuh integritasnya, berarti sedang mendeklarasikan perang melawan seluruh kekuatan Dewangga. Saya akan melindungi kehormatan istri saya dengan segala yang saya miliki."
Zoya terpaku. Air mata haru mulai merembes dari balik cadarnya. Selama ini, ia mendambakan pengakuan, namun ia tidak pernah menyangka akan mendapatkannya dengan cara semegah ini.
Arvin, pria yang biasanya hanya bicara soal aset dan reputasi, kini berdiri sebagai tameng yang paling kokoh di depan dunia.
Setelah konferensi pers yang menggemparkan itu, Arvin membawa Zoya masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam mobil hening, namun tidak lagi dingin.
"Tuan..." suara Zoya lirih. "Terima kasih."
Arvin menatap ke luar jendela, mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya yang jarang terlihat. "Jangan berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria yang hampir kehilangan separuh jiwanya."
Arvin kemudian menoleh, menggenggam tangan Zoya lagi. "Setelah ini, kita pulang ke apartemen, ya? Aku sudah minta Mbok Sum memasak makanan kesukaanmu. Dan... soal pesantren, biarkan aku bicara pada Abah nanti."
Zoya tersenyum kecil di balik cadarnya.
"Zoya? Kau melamun?" tanya Arvin cemas.
"Tidak, Tuan. Aku hanya lelah," jawab Zoya berbohong.
Mobil mewah itu melaju membelah jalanan Jakarta yang macet. Arvin merasa telah memenangkan pertempuran besar, tanpa menyadari bahwa bom waktu yang jauh lebih besar sedang berdetak di tangan istrinya.
...----------------...
To Be Continue ....