Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadirannya
Malam itu, Aurora berdiri di balkon kamar, memandang rintik hujan yang membasahi jalanan batu di bawah temaram lampu jalan. Pikirannya melayang, lalu sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya.
Semua ini benar-benar terasa seperti novel romansa murahan yang sering dibaca para gadis di perpustakaan kota,
Batinnya mengejek.
Ia membayangkan para pembaca di luar sana yang mungkin sedang memegang buku dengan sampul bergambar pria tampan dan wanita bergaun megah.
Alurnya sungguh klise dan begitu transparan hingga aku ingin tertawa. Seorang ahli waris yang terdesak, pernikahan kontrak dengan pria dingin yang misterius, lalu muncul konflik yang dibuat-buat agar kami terjebak dalam satu ruangan. Dan kalian para pembaca pasti sudah bersiap-siap menanti momen di mana si pria dingin ini tiba-tiba menjadi pahlawan yang 'bucin', lalu kami hidup bahagia selamanya, bukan?
Aurora memutar bola matanya, menyindir imajinasi siapa pun yang berharap kisah hidupnya akan semanis itu.
Aku sungguh berharap skenario membosankan itu tidak akan pernah terjadi di sini. Maaf saja, tapi aku tidak sedang berada di dalam lembaran kertas dengan tinta manis yang ditulis hanya untuk memuaskan fantasi kalian. Ini adalah realitas tahun 1930-an yang keras, bukan panggung sandiwara romantis yang alurnya bisa kutebak hanya dengan membaca bab pertama.
Baginya, Lucien tetaplah sebuah alat fungsional dalam perjanjian hukum ini, dan ia lebih suka mempertahankannya seperti itu. Ia tidak butuh pahlawan yang mendadak jatuh hati hanya karena dia menunjukkan sedikit sisi rapuh; dia hanya butuh museum itu tetap berdiri kokoh.
Lagipula...
Aurora berbalik masuk ke dalam kamar yang luas namun sunyi itu,
hidup ini jauh lebih rumit daripada sekadar akhir bahagia yang kalian dambakan. Dan aku... aku tidak punya waktu untuk terjebak dalam alur dangkal yang biasa kalian baca sebelum tidur.
......................
Pameran itu benar-benar sebuah kemenangan. Perpaduan antara cahaya lembut dan emosi yang menghanyutkan.
Aurora telah mencurahkan seluruh jiwanya dalam kurasi ini, mengubah paviliun timur menjadi sebuah tempat perlindungan yang dipenuhi permainan bayangan dan sapuan cat air yang tampak begitu hidup.
Saat ia berjalan di antara kerumunan tamu, aroma parfum mahal bercampur dengan bau kanvas tua yang khas memenuhi indra penciumannya.
Suaranya terdengar lembut, berupa gumaman tenang saat ia memandu sekelompok investor menyusuri galeri.
Di momen itu, ia merasakan sebuah kebanggaan yang jarang ia rasakan—sepercik jiwa seniman yang selama ini terpaksa ia kubur di balik jabatan mentereng sebagai Direktur.
Lalu, suasana di ruangan itu mendadak berubah.
Perubahan itu tidak terjadi secara terang-terangan; melainkan seperti sebuah keheningan yang tiba-tiba menyedot seluruh suara di sana.
Obrolan para kaum elit perlahan mereda, digantikan oleh gerakan refleks orang-orang yang mendadak menegakkan punggung mereka.
Lucien Valehart baru saja melangkah masuk.
Pria itu sebenarnya tidak cocok berada di sini—di sebuah ruang yang penuh dengan emosi jujur dan keindahan yang rapuh.
Lucien adalah sosok yang terbentuk dari baja, batu obsidian, dan perhitungan dingin.
Mengenakan setelan abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, ia melintasi galeri itu layaknya seekor predator yang sedang melewati taman bunga.
Ia sama sekali tidak melirik karya seni di sekelilingnya. Mata abu-abunya yang tajam dan sulit dibaca hanya memindai kerumunan, mencari satu target utama.
Ketika tatapannya akhirnya terkunci pada Aurora, jarak di antara mereka seolah menguap begitu saja meski ruangan itu sedang penuh orang.
Lucien tidak memanggil namanya. Ia tidak perlu melakukan itu.
Ia hanya berjalan lurus ke arahnya. Suara ketukan sepatunya di atas lantai pualam terdengar berirama, seakan menegaskan dominasi.
Ia berhenti tepat beberapa senti di belakang Aurora.
Keberadaannya membawa hawa panas yang mendadak mengepung punggung wanita itu.
Ia belum menyentuh Aurora—setidaknya belum saat ini—tapi ia mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik dengan suara rendah sehalus beludru yang menyentuh telinga Aurora.
Suara yang sengaja hanya untuk didengar oleh istrinya sendiri.
"Kau terlihat sangat indah di bawah cahaya ini," gumamnya.
Nadanya sedikit dingin tapi menggoda, jauh dari kesan kaku yang biasanya ia tunjukkan selalunya.
"Dan kau terus-menerus menghindari telepon dariku. Sepertinya kesabaranku mulai habis jika harus diabaikan oleh istriku sendiri."
Aurora membeku.
Hembusan napas pendek dan tajam lolos dari bibirnya. Kehadiran Lucien yang tiba-tiba, kehangatan tubuhnya serta aroma kayu cendana dan sisa hujan dingin yang melekat pada setelannya, terasa seperti sebuah invasi ke dalam zona nyaman yang telah ia bangun dengan susah payah.
Ia berbalik perlahan. Matanya yang membulat kini bertemu langsung dengan kedalaman mata abu-abu yang tajam itu.
Ini jarang terjadi. Sangat langka.
Lucien adalah pria yang hidupnya diatur oleh jadwal ketat dan absen strategis. Ia tidak sekadar muncul di galeri seni, dan ia tentu saja bukan tipe orang yang mau memamerkan kehadirannya di depan publik.
Melihatnya di sini, berdiri begitu dekat hingga Aurora bisa merasakan panas tubuh dari dada pria itu hampir menyentuh bahunya, mengirimkan sengatan listrik yang tak mampu ia tekan.
"Lucien," Aurora berbisik.
Suaranya terdengar lembut dan rapuh, sangat kontras dengan nada berat pria itu.
"Aku... aku tidak menyangka kau akan datang. Kau bilang jadwalmu penuh sampai akhir kuartal ini."
Aurora melirik dengan gugup ke arah kelompok investor di dekat mereka. Orang-orang itu kini memperhatikan keduanya dengan rasa ingin tahu yang sangat besar, seolah sedang lapar akan gosip baru.
Dinamika kekuasaan di ruangan itu telah berubah total.
Detik ini, ia bukan lagi seorang Direktur yang memegang kendali penuh, melainkan seorang wanita yang terjebak dalam tarikan gravitasi pria yang sangat berbahaya.
Jari-jarinya secara naluriah meringkuk. Noda samar cat biru pada ibu jarinya menekan telapak tangannya sendiri saat ia kembali menatap Lucien.
Denyut nadinya terasa berpacu lebih cepat di pangkal lehernya.
"Dan aku tidak menghindarimu," bisik Aurora.
Meski begitu, cara Lucien menatapnya dengan sorot mata yang penuh perhitungan, jeli, dan fokus yang aneh membuat Aurora merasa seolah pria itu bisa melihat setiap kebohongan yang pernah ia katakan pada dirinya sendiri.
"Aku hanya sedang... sangat sibuk. Pameran ini membutuhkan seluruh perhatianku."
Sadar akan mata-mata haus gosip dari kaum bangsawan di sekeliling mereka, Aurora tiba-tiba merasa butuh untuk segera melarikan diri dari tontonan itu.
Cara Lucien menatapnya saat ini terasa berbeda.
Aurora mengulurkan tangan. Tangan kecilnya yang halus menyentuh kain gelap nan mahal dari lengan jas Lucien.
Dengan tarikan kecil yang ragu-ragu, ia menuntun pria itu menjauh dari para investor dan kerumunan yang mulai berbisik. Ia membawanya menuju lorong tersembunyi yang menghubungkan ke ruang privat kurator.
Perubahan suasana dari aula emas yang terang benderang menuju lorong redup berlapis beludru itu terasa sangat mendadak. Keheningan jatuh menyelimuti mereka bagaikan tirai yang berat.
Begitu mereka benar-benar luput dari pandangan orang-orang, Aurora berhenti dan berbalik menghadap Lucien. Dadanya naik turun dengan napas yang pendek.
Lorong itu sempit. Dalam keintiman yang mendadak ini, tubuh tinggi Lucien terasa semakin mendominasi, seolah mengurung Aurora tepat di depan dinding.
"Kau tidak bisa begitu saja muncul di sini seperti ini," bisiknya. Suaranya bergema lembut di kesunyian lorong.
Aurora tidak langsung melepaskan lengan Lucien. Jari-jarinya masih menyentuh otot lengan bawah pria itu, merasakan kekuatan yang tersembunyi di balik setelan jasnya.
"Kau tahu apa yang akan dikatakan orang-orang saat kau menunjukkan ketertarikan pada sesuatu. Mereka akan berpikir museum ini bukan lagi proyekku, melainkan milikmu."