Love Scandal 2
Suara piring dan gelas berbenturan terdengar dari ruang belakang gedung. Para vendor dari catering dan Event organizer sedang sibuk menyiapkan serangkaian acara 'perjodohan' yang begitu menyayat hati. Di ujung meja, Jilly meremas ujung kebaya putih polos yang ia kenakan. Bukan gaun pengantin mewah yang seharusnya dikenakan seorang putri keluarga tersebut, melainkan gaun sederhana pemberian sang ibu tiri.
Ayah Jilly sibuk sendiri dengan ponselnya seakan sama sekali tidak memperhatikan putrinya itu.
"Ini sudah jam berapa, Pa?? Kalau Marshall tidak datang, Mama mau pulang saja. Minta saja ganti rugi sama Pak Rinto." Kata Bu Irma.
"Iya Maa, iyaa.." Pak Dadang gelisah karena istrinya mulai kesal karena Letnan Marshall tak kunjung datang dalam acara akad nikah putrinya, putri dari wanita yang di jodohkan dengannya dulu. Pernikahan ini bukan keinginannya, melainkan perjodohan yang diatur jauh hari karena sang istri tak ingin lagi hidup satu rumah bersama Jilly lagi.
"Kalau Papa nggak bisa tegas, Mama pulang..!!!" Ancam Bu Irma.
Belum sampai mulut itu tertutup, terdengar samar suara gaduh dari ruang khusus keluarga. Pak Rinto dan Bu Anye mencari keberadaan putranya Marshall yang tidak kunjung datang dalam acara pernikahannya sendiri.
"Nggak bisa di hubungi, Bang." kata Pak Ali memberi kabar buruk pada seniornya.
"Aduuuhh.. kemana itu anak. Apa sebelum ini ada masalah, Mas?" tanya Pak Rinto.
"Nggak ada, Bang. Makanya saya juga bingung." jawab Pak Ali.
...
Satu jam berlalu, tak ada sedikitpun kabar dari Letnan Marshall.
Dari kejauhan nampak seorang pria berpostur tubuh tinggi dan gagah berjalan menghampiri.
"Anakmu, Bang." bisik Bu Niken, istri Pak Rinto.
"Sudah selesai akad, kan?? Kenapa tamunya ribut sekali??" tanya pria yang akrab dengan panggilan nama Gancho.
Dengan santainya pria muda itu menyulut rokok di hadapan para keluarga lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Mana Bang Marshall?"
"Itulah masalahnya. Abangmu tidak bisa di hubungi, kabur entah kemana." jawab Pak Rinto.
"Jangan bercanda, lima menit yang lalu saya baru komunikasi sama Bang Marshall."
"Abangmu itu kabur. Kita yang ada disini nggak ada yang bisa hubungi dia... Reigaarr." Kata Pak Rinto. "Papa malu sekali. Seharusnya kalau memang Marshall tidak bersedia, tolak saja perjodohan ini."
Bang Reigar kembali mengedarkan pandangan pada sosok wanita yang sedang duduk di sudut ruangan dan makan dengan lahap.
'Busyeett.. limbah gelembung sabun kah si Jilly itu, pantas Bang Marshall ogah. Tapi lari tanpa kata begini juga kurang ajar.'
"Kamu sudah tidak punya Putri. Tolong bantu Papa mikir penyelesaian masalah ini..!! Papa akan kembalikan satu milikmu, mobil pribadimu dan salah satu kartu kreditmu. Papa sudah usulkan..........."
"Sabar dulu, Pa. Penyelesaian dalam masalah apa??? Satu kali pun saya belum pernah bertemu dengan Jilly dan keluarganya. Tanpa semua benda yang Papa sita, saya masih tetap bisa jalankan bisnis, punya kartu kredit lain dan mobil atas nama saya sendiri. Mana mungkin........." ujar Bang Reigar.
Tak lama seorang gadis melintas, tidak terlalu tinggi, tapi gadis itu bertubuh indah dan sangat cantik membuat Bang Reigar terdiam sejenak.
"Masya Allah, bridesmaid nya si gendut itu kah?" gumam Bang Jordan lirih.
Bu Irma menarik kasar tangan Jilly. "Kamu memang tidak berguna, tidak tau di untung. Mama juga nggak mau tau, muka Papa sudah tercoreng. Lebih baik kamu menikah dengan duda yang di pilihkan Pak Rinto, calon mertuamu. Jangankan Mama, nampaknya beliau pun muak karena selalu sial berdekatan sama kamu."
Bang Reigar kembali tertegun melihatnya. Ia melirik gadis bertubuh subur yang sedang duduk di sudut ruangan tadi. Ada sekilas senyum di wajahnya namun kemudian ia sembunyikan. "Mana mungkin saya menolak." ucap Bang Jordan.
"Kau yakin?" Tanya Pak Rinto.
"Apa ada cara lain selain melanjutkan pernikahan ini?? Nama keluarga kita di pertaruhkan, kan??"
Langkah pelan namun pasti, Bang Jordan menghampiri Bu Irma dan Jilly.
"Bisa kita lanjutkan saja, waktu sudah menjelang sore." kata Bang Jordan membuat mata Bu Irma membulat besar.
"Kamu... Reigar?? Letnan Reigar?? Duda yang di ceritakan Pak Rinto??" tanya Bu Irma penuh selidik.
"Benar, itu saya. Letnan Rihia Jordan Herfal Reigar." jawab Bang Jordan.
"Oohh.. itu ya, ini.. anu.. Sebenarnya nggak apa-apa juga kalau nikahnya batal. Nggak baik juga kan, lanjut acara yang sudah hancur. Hmm.. tapi apa tidak sebaiknya kamu menikah dengan Medina? Dia kakaknya Jilly." ujar Bu Irma seolah sedang membujuk.
"Maaf, perundingan para orang tua untuk pernikahan ini adalah antara Abang saya dan Jilly. Tapi karena insiden yang tidak di harapkan, ada baiknya janji para sepuh, biar saya selesaikan." Respon Bang Reigar.
"Tapi, Reigar......."
"Saya butuh bicara dengan Jilly. Permisi..!!!" Bang Reigar melangkah menghampiri Jilly sembari membuang pandangan saat melirik gadis gemuk yang sibuk dengan makanan di sudut ruangan.
~
"Harus ada perjanjian apa sampai Om Reigar bersedia menyelamatkan harga diri saya." tanya Jilly.
Bang Reigar segera kembali menyimpan kilas senyum tipisnya. Dalam pandang matanya, Jilly adalah gadis yang cukup berani.
"Saya ini seumuran dengan Abang saya, Marshall. Haruskah ada perbedaan sapaan??" tanya Bang Reigar.
"Nggak nyangka aja, Papa memilihkan laki-laki yang usianya terpaut jauh dengan saya." jawab Jilly.
"Yaaaa.. tidak jauh juga. Hanya sekitar tujuh atau delapan tahun. Jadi bagaimana, hari sudah sangat sore, tamu sudah menunggu......."
"Okee.. lima menit saja. Saya minta waktu lima menit untuk menulis surat perjanjian kita." kata Jilly.
Bang Reigar memberi jalan dan sedikit memberi ruang untuk gadis cantik itu.
~
Bang Reigar membaca satu persatu point di dalam surat perjanjian perjanjian tersebut. Perjanjian di atas materai.
1. Keuangan terpisah dalam bentuk apapun.
2. Tidak boleh tidur berdekatan dan satu tempat tidur, harus menjaga jarak.
3. Tidak boleh mencampuri urusan masing-masing.
4. Tidak minta bersentuhan dalam bentuk apapun.
5. Wajib romantis di hadapan rekan kerja
6. Saya bayar Letnan (..isi nama..) untuk jadi bodyguard Arnianda Jilly Annantara.
7. Perjanjian hangus jika di lakukan.
"Maksudnya bagaimana nih? Saya tidak boleh berdekatan, tidak minta anak, tapi wajib romantis dan kamu bayar saya sebagai bodyguard. Saya ini tentara, juga sudah punya gaji sendiri." kata Bang Reigar.
"Saya ini pengusaha, butuh pengawalan, uang saya jauh lebih banyak dari Om." jawab Jilly. "Cepat tulis satu point di sana, hanya satu point..!!"
"Waahh.. nggak adil nih."
"Dalam pernikahan, perempuan selalu banyak di rugikan. Belum lagi kalau Om berulah, selingkuh, atau....kabur misalnya.
Bang Reigar mengangguk. Untuk beberapa saat Bang Reigar berpikir. Ia terus mengetuk meja dengan pulpen di tangannya lalu kemudian menulis sesuatu di atas kertas perjanjian tersebut.
8. Tiga kali pelanggaran dari salah satu pihak, maka point tersebut hangus. Di dalam pelanggaran ketiga, yang bersangkutan harus menyerahkan seluruh aset, harta, dan kekayaan pribadinya kepada pihak yang tidak bersalah, serta tidak berhak menuntut cerai selamanya atau syarat damai termudah, punya anak.
Jilly mengintip point tersebut lalu mencibirnya. "Oohh.. Letnan Reigar, ya. Memangnya aset apa yang Om punya??"
Bang Reigar tersenyum tipis. "Kalau setuju, silakan tanda tangan saja..!!"
"Oke." dengan cepat Jilly menandatangani surat tersebut tanpa tau, Letnan Reigar sedang menahan senyum penuh kelicikan tanpa gadis itu tau kenyataan nya.
' 'Perjalanan religi' selanjutnya baru akan di mulai, cantik.'
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Ana
Ok kita Gas dgn cerita mba nara😍
2026-05-22
0
dyah EkaPratiwi
😍😍
2026-05-22
0