Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebencian yang sudah mendarah daging
Beberapa saat kemudian, pintu ruang tindakan akhirnya terbuka. Keenan dan Kinanti yang sejak tadi menunggu dengan gelisah langsung berdiri dan menghampiri dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Keenan dengan suara bergetar.
Dokter tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritis. Kondisinya mulai stabil dan beliau sudah sadar. Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan."
"Alhamdulillah..." Keenan mengembuskan napas panjang. Beban yang sejak tadi menyesakkan dadanya seolah ikut luruh. Di sampingnya, Kinanti menangkupkan kedua tangan sambil mengucap syukur dalam hati.
Tak lama kemudian, Bu Salma dipindahkan ke kamar perawatan. Perempuan paruh baya itu terbaring lemah di atas ranjang. Kepalanya masih dibalut perban putih, sementara infus terpasang di lengan kirinya.
"Bu..." panggil Keenan lirih sambil melangkah mendekat.
Mendengar suara anaknya, Bu Salma perlahan membuka mata. Namun, begitu pandangannya bertemu dengan Keenan dan melihat Kinanti berdiri di belakangnya, ia segera memalingkan wajah ke arah lain.
"Alhamdulillah... aku lega Ibu sudah sadar," ucap Keenan dengan suara penuh haru.
Tak ada jawaban. Bu Salma tetap membisu, seolah keberadaan mereka tak berarti apa-apa.
Suasana kamar mendadak dipenuhi keheningan yang canggung. Pandangan Kinanti kemudian tertuju pada sebuah ompreng berisi makanan yang terletak di atas nakas.
"Bu... sudah waktunya makan. Biar aku suapi, ya," ujarnya lembut.
Lagi-lagi Bu Salma tidak memberikan tanggapan. Namun, Kinanti tidak berkecil hati. Dengan hati-hati ia mengambil ompreng itu, lalu menyendok sedikit nasi dan lauk. Saat sendok hampir menyentuh bibir Bu Salma, perempuan itu mendadak menoleh.
Namun, bukan untuk menerima suapan. Dengan tangan kanannya yang tidak terpasang infus, Bu Salma menepis ompreng di tangan Kinanti dengan kasar.
“Brak!”
Kinanti yang sama sekali tidak menduga tindakan itu refleks melepaskan pegangannya. Ompreng terjatuh ke lantai, disusul nasi dan lauk yang berhamburan ke segala arah.
Kinanti segera berjongkok hendak memungut nasi yang berserakan di lantai. Namun, Keenan sigap menahan lengannya.
"Nggak usah, nanti Mas panggil petugas kebersihan saja."
Kinanti mengangguk pelan. Ia mengurungkan niatnya, lalu berdiri kembali di samping suaminya.
Keenan menghembuskan nafas panjang sebelum menatap ibunya.
"Bu... Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku benar-benar nggak berniat menyakiti perasaan Ibu."
Bu Salma mendengus,
"Sudahlah. Sejak menikah dengan perempuan itu, kamu memang sudah berubah. Dulu kamu anak yang penurut. Sekarang, kamu berani membentak ibumu sendiri."
Keenan memejamkan mata sesaat, berusaha meredam gejolak di dadanya.
"Kalau Ibu nggak terus-terusan menghina Kinanti, aku juga nggak akan bicara sekeras itu."
"Kamu masih saja membelanya!" seru Bu Salma dengan mata memerah. "Ibu yang mengandungmu sembilan bulan, melahirkanmu dengan taruhan nyawa, tapi sekarang, kamu lebih memilih membela perempuan yang bahkan nggak jelas asal-usulnya!"
Kalimat itu menghantam dada Kinanti begitu keras. Ada nyeri yang menjalar, tetapi ia memilih menelannya bulat-bulat. Ini bukan waktu yang tepat untuk memperpanjang pertengkaran.
"Mas... aku keluar sebentar," ucapnya lirih.
Tatapan Keenan mengikuti langkah istrinya hingga menghilang di balik pintu. Setelah itu, ia kembali menatap ibunya dengan sorot mata yang dipenuhi kelelahan.
"Aku benar-benar nggak tahu harus berbuat apa lagi supaya kebencian Ibu kepada Kinanti bisa hilang."
"Hilang?" Bu Salma tersenyum sinis. "Sampai kapan pun perempuan itu nggak akan pernah bisa menggantikan posisi Ratih!"
Keenan menarik napas panjang.
"Aku panggil petugas kebersihan dulu. Sekalian minta makanan yang baru buat Ibu."
Baru saja ia hendak melangkah, suara Bu Salma kembali menghentikannya.
"Suruh Kalila ke sini sekarang. Ibu maunya disuapi sama dia."
"Kalila lagi di rumah, Bu. Dia nemenin Tiara. Biar aku saja yang merawat Ibu."
"Ibu nggak mau!" bentak Bu Salma tegas. "Panggil Kalila sekarang juga. Ibu cuma mau disuapi sama Kalila!”
"Baiklah... kalau itu memang yang Ibu inginkan."
Nada suara Keenan terdengar pasrah.
Ia berbalik, lalu melangkah keluar dari ruang perawatan.
Setelah memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan nasi yang berserakan di lantai, ia juga meminta pihak rumah sakit mengganti makanan ibunya yang telah tumpah.
Usai mengurus semuanya, Keenan menghampiri Kinanti yang masih menunggu di lorong rumah sakit.
"Kita pulang sekarang," ucapnya.
Kinanti menatap suaminya dengan raut penuh tanya.
"Terus... Ibu gimana?"
Keenan mengembuskan napas panjang, seolah beban di dadanya semakin sesak.
"Ibu masih marah sama Mas. Beliau maunya dirawat sama Kalila. Jadi biar Kalila yang nemenin beliau."
Kinanti mengangguk paham. Pandangannya bergeser ke arah pintu ruang perawatan Bu Salma yang kini tertutup rapat. Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya.
Selama ini ia sudah berusaha bersabar, mengalah, bahkan berkali-kali menelan penghinaan tanpa membalas. Namun, semua itu tetap tak mampu meluluhkan hati ibu mertuanya.
Barangkali... sampai kapan pun, perempuan itu memang tak akan pernah menganggapnya sebagai seorang menantu.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke ruang perawatan sambil membawa nampan berisi makanan pengganti. Setelah meletakkannya di atas kecil di samping ranjang, ia menoleh ke arah Bu Salma.
"Maaf, Bu. Saya mau bertanya. Perempuan yang tadi memakai hijab syar'i... apakah beliau putri Ibu?"
"Bukan," jawab Bu Salma singkat, tanpa sedikit pun melembutkan nada suaranya.
Perawat tersenyum tipis.
"Saya sempat mengira beliau putri Ibu."
"Memangnya kenapa Suster menanyakan perempuan itu?" tanya Bu Salma dengan wajah datar.
Perawat menarik nafas pelan sebelum menjawab.
"Saat Ibu tiba di IGD, kondisi Ibu cukup kritis karena kehilangan banyak darah. Kebetulan stok darah golongan AB di rumah sakit sedang sangat terbatas."
"Lantas?"
"Beliau langsung bersedia mendonorkan darahnya tanpa berpikir panjang. Berkat transfusi itu, penanganan bisa segera dilakukan. Bisa dibilang... beliau yang menyelamatkan nyawa Ibu."
Kalimat itu seharusnya mampu meluluhkan hati siapa pun. Namun tidak bagi Bu Salma. Sorot matanya justru berubah tajam. Rahangnya mengeras menahan amarah.
"Kenapa harus perempuan itu yang mendonorkan darahnya? Saya jijik kalau harus menerima darahnya!” desisnya.
Perawat tampak terkejut, tetapi tetap berusaha bersikap profesional.
"Keadaan saat itu sangat mendesak, Bu. Kalau kami menunggu stok darah dari rumah sakit lain, kondisi Ibu bisa jauh lebih buruk."
Ucapan itu sama sekali tak menggoyahkan kebencian yang telah lama bersarang di hati Bu Salma. Sedikit pun ia tak merasa terharu, apalagi berhutang budi kepada Kinanti.
"Suster..." panggilnya pelan.
"Ya, Bu?"
"Bisa tidak... darah perempuan itu diambil lagi dari tubuh saya?"
Perawat mengernyit. Pertanyaan itu begitu di luar dugaan hingga ia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Maaf, Bu. Itu tidak mungkin. Darah pendonor sudah menyatu dengan aliran darah Ibu. Tidak bisa dipisahkan lagi."
Bu Salma bergidik. Perutnya terasa mual membayangkan darah Kinanti kini mengalir di dalam tubuhnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Putri Ibu sedang dalam perjalanan ke sini."
Setelah pintu ruang perawatan tertutup, perawat itu menggeleng heran, "Pasien yang aneh. Baru kali ini aku melihat seseorang membenci orang lain sampai menolak darah yang sudah menyelamatkan nyawanya.”
Mahesa hemmmm ada something ini