Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Batas Bambu
Kehangatan menjalar seketika begitu kelima mahasiswa itu melangkahkan kaki melewati ambang pintu pondok bambu. Aroma kayu kering yang terbakar samar dari tungku kecil di sudut ruangan dan keharuman teh melati langsung menyapa indra penciuman mereka, mengusir sisa-sisa bau busuk Hutan Sangker yang sempat menempel di pakaian.
Pondok itu sangat sederhana namun tertata dengan sangat rapi. Sebuah tikar anyaman pandan berukuran besar tergelar di tengah ruangan, diterangi oleh cahaya kuning keemasan dari beberapa lampu minyak yang tergantung di tiang-tiang bambu. Tidak ada perabotan mewah; hanya ada beberapa rak kayu berisi buku-buku tua bermotif kaligrafi, sebuah meja pendek, dan beberapa cangkir tanah liat yang mengepulkan uap hangat.
"Silakan duduk," ujar gadis berhijab itu dengan nada suara yang menenangkan. Ia mengisyaratkan tangan kanannya ke arah tikar pandan.
Zenix melangkah lebih dulu, diikuti oleh Jovanka yang masih merangkul Sasti, serta Deandra yang menuntun Susan. Setelah memastikan kedua gadis itu duduk dengan nyaman, ketiga cowok itu ikut melabuhkan tubuh mereka yang terasa remuk. Zenix duduk bersila paling depan, melipat tangannya di atas lutut, sementara jaket denim hitamnya yang robek di bagian lengan memperlihatkan bekas noda darah kering.
Gadis berhijab itu berjalan ke sudut ruangan sejenak, lalu kembali dengan membawa seko kecil dari tanah liat dan menuangkan air teh hangat ke dalam lima cangkir yang sudah tersedia. Ia menyodorkannya satu per satu kepada mereka.
"Minumlah dulu untuk menenangkan hati kalian. Di sini kalian aman," ucapnya lembut.
Susan dan Sasti buru-buru meraih cangkir tersebut dengan tangan yang masih gemetar. Rasa hangat dari tanah liat itu merembes ke telapak tangan mereka, perlahan-lahan mengembalikan kehangatan tubuh yang sempat terenggut oleh dinginnya hutan terkutuk di luar sana. Setelah mereka berlima meneguk teh tersebut, keheningan sempat merayap sejenak sebelum sang gadis berhijab duduk dengan sopan di seberang Zenix.
Sepasang mata bulat milik gadis itu menatap mereka satu per satu dengan cermat. Ada gurat keheranan yang mendalam di wajahnya yang bersih. Pandangannya tertuju pada pakaian modern mereka jaket kulit hitam Jovanka, jaket baseball navy cream milik Deandra, dan penampilan Zenix yang mencolok dengan rambut cokelat keperakannya serta anting hitam di telinga. Mereka berlima jelas-jelas adalah anak muda dari kota, lingkungan yang sangat asing bagi tempat terpencil ini.
"Maaf jika saya lancang," gadis itu membuka suara, memecah keheningan dengan nada penuh rasa ingin tahu yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Saya sangat penasaran... sebenarnya kalian ini berasal dari mana? Dan bagaimana bisa kelima orang berbeda jenis seperti kalian ini... bisa berjalan keluar dari kedalaman Hutan Sangker dalam keadaan hidup?"
Pertanyaan itu membuat Jovanka dan Deandra saling berpandangan. Zenix hanya menatap lekat gadis itu dengan tatapan dinginnya yang khas, namun ia mendengarkan dengan saksama.
Gadis berhijab itu menghela napas pendek, jemarinya bertaut di atas pangkuan gamis abu-abunya. "Bukannya saya tidak senang melihat kalian selamat. Justru sebaliknya, ini adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Selama saya tinggal di sini, hukum Hutan Sangker itu mutlak. Siapa pun manusia yang sudah melangkahkan kaki dan tersesat ke dalam perut hutan itu, mereka tidak akan pernah bisa keluar lagi. Jiwa mereka akan tersesat selamanya, atau tubuh mereka ditemukan dalam kondisi yang mengerikan. Tempat ini adalah labirin kutukan yang menolak kehidupan manusia."
Mendengar penjelasan itu, Susan kembali merinding dan merapatkan tubuhnya ke lengan jaket baseball Deandra.
Deandra, yang kapasitas logikanya perlahan mulai kembali setelah meminum teh hangat, berdeham pelan untuk menjernihkan suaranya. "Kami mahasiswa dari kota," jawab Deandra memulai penjelasan. "Kami sedang dalam perjalanan liburan semester menggunakan mobil. Tapi di tengah jalan, kami dihadang oleh sekelompok bandit bersenjata. Kami terpaksa melawan, tapi kami kalah jumlah."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya gadis itu, menanti kelanjutan cerita dengan saksama.
"Kami diserang sampai hampir tidak sadar," sahut Jovanka, ikut angkat bicara sambil mengusap lengan Sasti yang berada di sampingnya. "Lalu tiba-tiba ada sosok misterius berjubah hitam yang datang mengalahkan para bandit itu. Sasti dan Susan yang kelelahan menangis karena ketakutan akhirnya tertidur di dalam mobil, begitu juga kami yang pingsan karena luka-luka. Anehnya, begitu kami semua terbangun, kami sudah tergeletak di tengah hutan yang sangat mengerikan itu. Mobil kami hilang, dan kami tidak tahu arah jalan pulang."
Gadis berhijab itu mengangguk-angguk, wajahnya semakin tegang. "Sosok berjubah hitam itu... mungkin adalah salah satu entitas penunggu perbatasan yang menarik kalian masuk ke dalam jebakan ruang gaib Hutan Sangker. Lalu, bagaimana kalian bisa menemukan jalan menuju pondok ini? Kabut di hutan itu dirancang untuk menyesatkan arah kompas maupun batin manusia."
"Ada yang menolong kami keluar dari sana," giliran Zenix yang berbicara. Suaranya yang berat dan datar langsung menarik perhatian sang gadis. Dylan memutar cincin perak di jarinya secara tidak sadar. "Saat kami dikepung oleh suara-suara aneh dan tawa wanita yang melengking, tiba-tiba muncul sebuah roh putih di depan kami."
Mendengar kata 'roh putih', raut wajah gadis berhijab itu langsung berubah drastis. Matanya membelalak kecil, dan tubuhnya sedikit menegang ke depan. "Roh putih?" sebutnya memastikan, suaranya sedikit meninggi karena terkejut. "Kalian... dituntun oleh roh putih?"
"Iya," angguk Sasti pelan, memberanikan diri untuk ikut berbicara. "Roh itu bercahaya, penampilannya seperti manusia tapi transparan. Dia yang membelah kabut dan menyuruh kami mengikutinya. Dia juga yang memperingatkan kami di dalam pikiran agar tidak mendengarkan suara-suara aneh dan melarang kami menoleh ke belakang sekecil apa pun, kalau tidak kami akan jadi budak hutan itu."
Gadis berhijab itu menarik napas dalam-dalam, wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus kekaguman yang besar. "Masha Allah... jadi itu benar-benar dia," gumamnya lirih seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Bagaimana ciri-ciri dari roh tersebut secara lebih detail?" tanya gadis itu lagi dengan mendesak, memastikan bahwa ia tidak salah dengar. "Apakah dia memancarkan cahaya yang hangat dan tidak membuat kulit kalian merinding kedinginan? Dan apakah gerakannya seperti melayang tanpa menyentuh daun kering sama sekali?"
Yuan mengangguk cepat. "Benar. Cahayanya pudar tapi sangat bersih, tidak seperti atmosfer hutan yang gelap dan pekat. Auranya terasa melindungi. Ketika kami berjalan di belakangnya, rasa takut kami entah bagaimana bisa diredam, asalkan kami tetap menatap lurus ke depan dan fokus pada penuntun itu. Dan tepat sebelum kami sampai di pagar tanaman kuning luar pondok ini, roh itu menghilang setelah menyuruh kami masuk ke sini."
Mendengar konfirmasi yang jujur dari mereka berlima, gadis berhijab itu mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menyandarkan tubuhnya kembali, senyuman penuh rasa syukur terukir di bibirnya.
"Kalian benar-benar orang-orang yang sangat beruntung," kata gadis itu dengan nada takjub yang tulus. "Roh putih yang kalian lihat itu adalah roh suci penjaga batas hutan. Dia adalah entitas kuno yang baik, yang tugasnya menjaga agar kutukan Hutan Sangker tidak meluas ke luar wilayah ini. Jarang sekali bahkan hampir tidak pernah roh suci itu menampakkan diri, apalagi sampai menuntun manusia keluar secara langsung. Biasanya, dia hanya mengamati dari jauh atau mengusir makhluk kegelapan yang mencoba keluar batas."
Gadis itu menjeda kalimatnya, menatap luka di lengan Zenix dan pakaian mereka yang kotor. "Mungkin roh suci itu melihat bahwa kalian adalah korban yang tidak bersalah dan memiliki hati yang bersih, sehingga dia memilih untuk turun tangan sendiri. Jika bukan karena tuntunannya, dan jika kalian melanggar pantangan untuk menoleh ke belakang tadi... saya rasa malam ini saya tidak akan pernah menyeduhkan teh untuk kalian di pondok ini."
Kata-kata itu membuat ruangan menjadi hening sesaat. Kelima mahasiswa itu menyadari betapa tipisnya batas antara keselamatan dan kematian yang baru saja mereka lalui beberapa saat lalu. Jika salah satu dari mereka egois dan berbalik karena penasaran atau ketakutan, mereka semua pasti sudah hancur.
Setelah ketegangan mengenai misteri roh putih itu mulai mencair, Deandra menyadari bahwa sejak awal mereka masuk, mereka belum sempat memperkenalkan diri secara resmi kepada sang pemilik pondok yang telah menerima mereka dengan sangat baik ini.
Deandra membetulkan posisi kacamata bacanya, lalu tersenyum ramah. "Ah, maafkan kami. Karena terlalu panik, kami sampai lupa sopan santun. Perkenalkan, nama saya Deandra," ujar Deandra sambil menganggukkan kepala dengan sopan. Ia kemudian menunjuk gadis di sebelahnya. "Dan ini kekasih saya, Susan."
Susan tersenyum tipis ke arah gadis berhijab itu, meskipun matanya masih sedikit sembap. "Salam kenal," bisik Susan.
Jovanka kemudian menyambung, mengetuk dada jaket kulitnya dengan jempol. "Kalau saya Jovanka. Dan ini kekasih saya, Sasti," katanya dengan gaya santainya yang mulai kembali, meskipun tangannya tetap menggenggam jemari Sasti dengan erat di atas tikar. Sasti ikut mengangguk dan tersenyum manis sebagai tanda perkenalan.
Terakhir, pandangan gadis berhijab itu beralih kepada cowok berambut cokelat keperakan yang duduk paling depan.
Zenix menatap balik gadis itu dengan pandangan lurus yang tenang namun tajam. "Zenix," ucapnya singkat, padat, dan jelas, memperkenalkan dirinya sebagai ketua dari geng tersebut.
Gadis berhijab itu mendengarkan setiap nama dengan penuh perhatian. Senyumnya semakin melebar, memancarkan pesona alami yang sangat bersahaja dan menyejukkan hati siapa pun yang melihatnya. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk penghormatan dan salam balik yang santun.
"Salam kenal untuk kalian semua Zenix, Jovanka, Sasti, Deandra, dan Susan," ucapnya dengan suara merdu yang kembali mengalir ramah. "Nama saya Anisa. Saya adalah pemilik sekaligus penjaga pondok bambu ini."
"Anisa..." Sasti mengulangi nama itu pelan, merasa nama tersebut membawa rasa damai yang akrab di telinganya.
"Iya, nama yang indah," puji Susan yang mulai merasa jauh lebih tenang setelah mengetahui nama sang penyelamat mereka.
Anisa mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih atas pujian tersebut. "Pondok ini didirikan oleh kakek saya terdahulu, dan sekarang sayalah yang merawatnya. Seperti yang kalian rasakan tadi saat melewati pagar bunga kuning di luar, tempat ini dilindungi oleh ayat-ayat suci dan doa-doa keselamatan yang ditanam di sekeliling batas tanah. Makhluk-makhluk dari Hutan Sangker tidak akan pernah bisa menembus kemari. Jadi, untuk malam ini, kalian bisa beristirahat total di sini tanpa perlu khawatir akan teror apa pun."
Anisa kemudian berdiri dari posisi duduknya, merapikan gamis abu-abunya yang panjang. "Kalian pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang menguras fisik dan mental. Di bagian belakang pondok ini ada dua ruangan kecil yang bisa kalian gunakan untuk tidur. Yang perempuan bisa tidur di kamar sebelah kanan, dan yang laki-laki bisa menggunakan ruangan sebelah kiri. Besok pagi, setelah energi kalian pulih, kita baru akan memikirkan bagaimana cara agar kalian bisa kembali ke kota."
Mendengar tawaran yang begitu tulus dari Anisa, rasa syukur yang luar biasa membuncah di dalam hati kelima mahasiswa tersebut. Mereka akhirnya tahu bahwa di tengah-tengah kegelapan Hutan Sangker yang terkutuk, masih ada secercah cahaya keselamatan berupa pondok bambu ini dan seorang gadis bernama Anisa.