Hari itu dimana aku salah memilih dan bersikeras walau orang tua ku melarang dan memperingatkan atas apa yang ku pilih.
aku hidup dengan status baru sebagai seorang istri, dimana aku harus selalu berusaha menutupi apa yang ku rasakan.
Hingga dimana hidup ku bagai di ujung jurang neraka yang menjelma di dalam bumi,
rasa ingin mengakhiri waktu untuk diriku sendiri.
sayang Tuhan masih baik mengirimkan perantara untuk hidup ku.
hari hari ku masih dengan segala pertanyaan hingga ayah ku datang ke rumah ku dengan seribu misteri jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra Badrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepedulian yang hangat
"Bunga masih belum sadar mungkin karena efek obat yang di berikan, wajah nya begitu pucat air infus terus mengalir membantu pemulihan nya"
"Semoga tidak terlalu fatal ya Bu" ucap helen pada ratna memperhatikan sejak tadi.
"iya nak, ibu tidak pernah melihat nya marah sampai seperti itu, mungkin batin dan mental nya sangat terluka karena perlakukan yang ngak bisa di terima nya, tolong bantu jaga ya helen ibu akan keluar sebentar ada keperluan mendesak untuk kebutuhan bunga"
Ratna yang berlalu pergi meninggalkan kamar dimana bunga di baringkan dengan selang infus menacap di pergelangan tangan nya.
bunga mengigau dalam tidur nya yang membuat helen sedikit lega karena bunga masih sadar hanya sekedar pingsan dan butuh istirahat bukan seperti kemarin yang membuat semua khawatir.
"kau terlalu tidak berperasaan ku pikir ini semua salah ku hingga aku melihat jelas apa yang kau lakukan dan kau tuju tidak serta-merta karena itu rasa dari hubungan ini"
Helen berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut bunga yang tidak sadar seperti berbicara dengan seseorang.
"sekarang kau terima karma yang sudah kau perbuat selama ini, mungkin ini bukan hanya terjadi pada ku saja, kau akan hidup tapi kau akan tersiksa dengan semua yang jalani, kau kehilangan banyak lingkungan mereka hanya melihat mu kasian tidak akan ada yang mampu membantu mu sedikit pun"
Banu yang masuk ke dalam kamar memperhatikan gadis itu, mencari tau apa yang terjadi di alam bawah sadar bunga sampai begitu tajam kalimat nya menghakimi seseorang.
"ayah apa semua baik baik saja? helen harus berbuat apa untuk nya"
"jaga saja jangan biarkan dirinya sendirian mungkin ini terlalu berdampak bagi mental nya sangat melukai batin nya len, ayah titipkan ya semoga tidak terlalu lama bunga dalam bawah sadar nya."
penjelasan Banu pun sedikit membuat helen tenang.
Banu memperhatikan gadis itu ternyata benar Sukma nya masuk dalam ke dalam bawah sadar nya, meruntuk kesumat pada chandra yang memang jiwa nya di kurung oleh bunga, begitu sial nasib pemuda itu bukan mendapat apa yang di inginkan malah mendapat hukuman karma secara tunai tanpa menunggu anak cucu nya.
Bunga yang ada disana pun terkejut melihat sang ayah ada memperhatikan nya dari jauh, dengan sosok harimau putih yang mendampingi nya bersisihan dengan sang ayah.
"Cah ayu, sudah....."
"jangan terlalu lama kau ada disini tidak baik bagi raga mu, biarkan berlaku apa yang sudah menjadi hukuman kalian untuk dia"
Bunga mengindahkan suara yang sudah akrab di pendengaran dan hati nya, Senopati
bergegas bergerak dari tempat nya
Dirinya yang semula memakai gaun putih indah menghampiri eyang puteri, ayah nya dan senopati yang berdiri berdampingan melihat nya dari jauh.
melangkah anggun bak puteri khayangan.
Hingga kembali dengan tepat, tubuh nya kembali membuka mata, pertama kali melihat helen duduk tepat di samping nya.
"Len... aku haus mau minum."
helen sigap tanpa harus babibu untuk mengambilkan minum nya.
"aku seperti habis berjalan jauh dan Banyan berbicara haus banget len, ini kenapa tangan ku ?'
"Sudah.... Istirahat lah, ibu yang meminta mu istirahat jangan di bantah perintah nya."
Helen sengaja membuat bunga relex dengan mengajak nya menonton film favorit mereka, agar lupa karena luapan emosi yang begitu menyeramkan di pandang banyak orang.
Tidak lama revo dan pa dayat datang berbarengan melihat keadaan bunga, membawa kan cake tiramisu kesukaan bunga.
"Heiiiiii.... Aku ngak di bawain cake ? Kejam nyaaaa kalian bapak, revo....."
Bunga terkekeh karena kecemburuan sebab cake, "inilah satu satu yaa jangan cemberut lagi."
Dua laki laki itu pun terkekeh melihat Helen yang manyun lima sentimeter karena cake.
"maaf yaa aku kira tadi ngak ada kamu len."
"Bagaimana ngak ada aku, aku selalu ada dimana pun bunga. Sebel deh"
Sore kembali menjelang Ratna kembali ke rumah melihat kondisi bunga, masih dengan khawatir tidak mengetahui anak nya susah sadar dan sudah bisa bercanda.
"Oh syukurlah anak ibu sudah bangun, mau makan apa nak?' Tawar ratna melihat mereka bercanda begitu seru.
"Apa saja Bu, aku tapi masih kenyang karena cake ini, ibu mau ? aku sudah boleh lepas infus Bu? Sangat ngak nyaman sekali"
"Nanti ya kalau kamu sudah lebih baik kita lepas, suster sudah memeriksa kondisi mu tadi, banyak yang banyak biar cepat melepas nya nak."
"Halo semua ......" Sapa vandy membawakan wajah ceria yang masih misteri dengan membawa buket coklat dan banyak makanan di tangan nya.
"Makasih den ngak usah repot-repot bawain bapak, tadi kita udah makan kok", Ledekan pa dayat membuat vandy melongo ngak bisa berkata banyak tapi mata nya melengos
"PEDE banget si bapak si, tapi saya bawa ada untuk bapak ngak jadi deh ...." Ledek vandy
"mesti ngak jadi tetep aja bapak terima kok", cengir pa dayat sambil mengambil kotak makanan di tangan vandy
Mereka selalu sukses membuat bunga lupa pada sedih dan sakit nya,
...****************...
"Bagaimana proses hukum nya yah ? Sudah dua minggu chandra di bawa pihak berwajib."
tanya helen yang duduk bersama para laki laki di teras
"Semua baik baik saja, seperti nya kita akan kedatangan tamu untuk meminta di bebaskan chandra,"
"Jika mau bebas bisa yah, tapi jaminan serta ganti rugi pasti harus mereka lakukan, jadi bebas bersyarat bukan bebas seutuh nya. Jelas vandy begitu lantang tidak menerima jika Chandra harus bebas dengan mudah."
"Kita tunggu saja siapa yang akan datang nanti anak anak, jangan lengah menjaga kondisi bunga yang masih belum stabil".
"Terapi bunga masih berjalan kan pa dayat?" banu memastikan nya karena memang pa dayat yang menjaga bunga selama terapi.
"Masih dong pak, saya bareng den revo yang menjaga nya, semangat non juga besar jadi tidak susah untuk menjaga nya dan menemani nya."
"Baiklah. Revo tolong bantu om merapihkan apartemen yang berantakan, nanti ada helen juga tolong tata kembali seperti semula pasti kalian tau selera bunga".
Mereka mengobrol dengan begitu intensif untuk perkembangan yang sudah berjalan, tidak mau kehilangan momen atau kecurian keadilan yang sedang di tegakkan.
Bunga keluar menyusul mereka tanpa alat bantu berjalan, mereka melihat begitu senang, pa dayat segera datang menghampiri bunga untuk membantu.
"Ngak apa pak, saya bisa."
"biar bisa juga bapak jagain non, biar kaya gawang gitu."
"Duduk dekat bangku bapak aja non biar ngak di gangguin den vandy yaa ... Bapak jagain tenang aja non"
"Unge, tampol aja itu bapak kalo ngeselin, issshhtttt"
Sehari tanpa mereka hari bunga sepi tidak ada yang bercanda dan mengajak nya tertawa, terapi alami untuk mental bunga tanpa harus pergi ke psikiater untuk memulihkan nya.
mereka duduk bersisihan bercanda seperti biasa sampai malam kembali larut.
"revo udh terlalu malam, menginap saja disini yaa esok kan libur, nanti kita mau nonton film jadi kamu harus ikut ngak boleh nolak lagi"
Kali ini revo gagal menolak ajakan yang langsung di todong bunga, karena memang hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sebener nya masih bisa menolak tapi selalu di tolak takut bunga marah.
Rumah yang begitu hangat sangat mendukung untuk pemulihan mental yang tidak pernah di bayangkan seberapa rusak nya hanya bunga yang mengetahui seberapa besar harapan di taruh untuk sang kekasih.
Sesekali kadang mengingat momen baik indah yang tidak bisa di ungkapkan seketika begitu retak bagai serpihan kaca yang langsung melukai tanpa sedikit sisa yang terbentuk.