SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 PANGGILAN DARI DUNIA BARU
Bu Sari duduk perlahan. Wajahnya tampak lelah, lebih lelah daripada sebelumnya. Namun di balik lelah itu, ada sesuatu yang berbeda. Mungkin rasa takut. Mungkin rasa lega. Mungkin keduanya.
“Kan,” katanya pelan, “kamu tadi keras sekali.”
Arkan berbalik. Ia menatap ibunya dengan lembut.
“Maaf, Bu.”
Bu Sari menggeleng pelan. “Ibu bukan marah. Ibu cuma… belum biasa.”
Arkan menghampirinya, lalu duduk di kursi depan ibunya. Kursi itu berderit lagi, tetapi sistem kali ini tidak berkomentar. Mungkin jatah tiga puluh detiknya belum habis. Atau mungkin sistem tahu bahwa momen ini tidak perlu diganggu.
“Kita memang belum biasa,” kata Arkan. “Tapi kalau kita tetap seperti dulu, orang-orang akan terus masuk, terus bertanya, terus meminta, terus membuat Ibu merasa tidak enak.”
Bu Sari menatap pintu yang sudah terkunci.
“Aku tidak mau Ibu hidup seperti itu terus.”
Naya meletakkan mapnya di meja, lalu berkata pelan, “Naya juga tidak mau.”
Bu Sari memejamkan mata. Ketika membukanya lagi, ada air mata yang tidak jatuh, tertahan di pelupuk.
“Ibu cuma takut kita dibenci orang.”
Arkan menatap perempuan itu lama.
Dulu, kalimat itu akan membuatnya diam. Karena hidup di lingkungan sempit memang seperti berjalan di antara mata orang lain. Terlalu banyak tersenyum dianggap mencari muka. Terlalu diam dianggap sombong. Terlalu susah dikasihani. Mulai membaik dicurigai.
Namun mungkin mulai hari ini, mereka harus belajar bahwa tidak semua orang perlu dibuat senang.
“Bu,” ucap Arkan lembut, “mungkin kita tidak bisa menghindari orang bicara. Tapi kita bisa berhenti hidup hanya supaya orang tidak bicara.”
Naya mengangguk kecil.
Bu Sari tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi Arkan, seolah mencari anak laki-laki yang dulu selalu pulang dengan wajah lelah dan berkata semuanya baik-baik saja. Anak itu masih ada. Tapi sekarang, ada sesuatu yang tumbuh di matanya.
Bukan kesombongan.
Bukan kemarahan.
Melainkan keputusan.
Sistem tiba-tiba muncul di layar ponsel Arkan yang masih tergeletak di meja.
[Pembentukan batas sosial berhasil.]
[Program Keluarga Naik Kelas: berlanjut.]
[Langkah berikutnya disarankan untuk dipercepat.]
[1. Pemeriksaan kesehatan Ibu Sari.]
[2. Pembaruan kendaraan.]
[3. Survei tempat tinggal transisi.]
[4. Persiapan pendidikan Naya.]
[5. Penyusunan narasi finansial legal.]
Arkan menatap daftar itu.
Kali ini ia tidak merasa panik seperti sebelumnya.
Masih takut, iya.
Masih bingung, jelas.
Namun ada bagian dalam dirinya yang mulai memahami bahwa uang itu bukan hanya angka. Uang itu adalah alat untuk membangun jarak dari hal-hal yang selama ini menyakiti mereka.
“Besok pagi,” kata Arkan tiba-tiba.
Bu Sari dan Naya menatapnya.
“Besok pagi kita ke rumah sakit dulu. Medical check-up lengkap.”
Bu Sari langsung membuka mulut, tetapi Arkan mendahuluinya dengan tatapan lembut namun tegas.
“Tidak ditawar, Bu.”
Naya cepat menyambung, “Naya setuju.”
Bu Sari menatap dua anaknya, lalu menghela napas panjang. “Kalian ini kalau sudah kompak, Ibu bisa apa?”
“Setelah itu,” lanjut Arkan, “kita lihat rumah.”
Bu Sari kembali menegang.
“Bukan rumah mewah,” Arkan menenangkan lebih dulu. “Rumah yang aman. Tempat yang lebih nyaman. Kita lihat dulu. Tidak langsung pindah kalau Ibu belum siap.”
Sistem berbicara di kepala Arkan.
[Kalimat: tidak langsung pindah.]
[Catatan: Tuan Rumah masih bernegosiasi dengan ketakutan keluarga.]
[Strategi diterima.]
Arkan melanjutkan, “Malam ini Naya cari daftar kampus terbaik. Jangan yang paling murah. Yang paling bagus.”
Naya menelan ludah. “Boleh lihat yang di ibu kota?”
“Boleh.”
Mata Naya membesar sedikit, seperti anak kecil yang baru diberi izin menyebut mimpi yang selama ini disimpan diam-diam.
Bu Sari menunduk. Tangannya meremas ujung bajunya, tetapi kali ini ia tidak langsung melarang.
Arkan melihat perubahan kecil itu.
Dan ia bersyukur.
Tidak perlu semuanya selesai malam ini. Tidak perlu ibu langsung percaya. Tidak perlu Naya langsung berani. Tidak perlu Arkan langsung menjadi triliuner yang sempurna.
Cukup satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Ponselnya bergetar pelan.
Sebuah notifikasi baru muncul dari Sistem Triliuner Absolut.
[Akses Pendamping Legal & Administrasi Level 1 terbuka.]
[Asisten finansial sementara tersedia.]
[Nama: Olivia Tan.]
[Profesi: konsultan hukum dan manajemen aset.]
[Status: dapat dihubungi.]
Arkan mengerutkan kening.
“Olivia Tan?”
[Sistem mendeteksi kebutuhan Tuan Rumah akan penjelasan legal yang tidak memalukan.]
[Subjek Olivia Tan dapat membantu menyusun narasi keuangan, perlindungan aset, pembelian properti, dan komunikasi dengan bank.]
Arkan menatap layar itu lama.
Akhirnya, sesuatu yang ia butuhkan.
Bukan sekadar uang.
Bukan sekadar sistem yang mengejek.
Tapi orang nyata yang bisa menjelaskan hal-hal yang tidak bisa ia katakan kepada keluarganya.
Di saat yang sama, ponsel Arkan menerima panggilan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Namun di bawah nomor itu, sistem menampilkan keterangan emas.
[Prioritas tinggi.]
[Perwakilan Private Wealth Banking.]
[Tujuan: verifikasi dan penawaran layanan nasabah utama.]
Arkan menatap layar.
Bu Sari memperhatikan wajah anaknya yang mendadak berubah.
“Siapa, Kan?”
Arkan belum menjawab.
Di dalam kepalanya, sistem berbicara dengan nada datar.
[Selamat, Tuan Rumah.]
[Dunia lama mulai menyadari keberadaan uang Anda.]
[Peringatan: mulai sekarang, yang mengetuk pintu tidak hanya keluarga dan tetangga.]
[Bank akan menjadi yang pertama.]
Ponsel itu terus bergetar di meja kecil rumah mereka.
Arkan menatap panggilan tersebut, lalu menyadari bahwa sore yang ia kira sudah terlalu panjang ternyata baru permulaan.
Ia mengangkat ponsel.
Menarik napas.
Lalu menerima panggilan itu.