Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Terbuka
Helen berlari menembus hujan yang tiba-tiba turun dengan deras, memeluk flashdisk itu di dadanya seolah-olah itu adalah jantung ayahnya sendiri. Ia kembali ke kontrakan dengan napas tersengal dan baju yang basah kuyup.
Ario langsung menyambutnya, mengunci pintu dan menutup jendela dengan rapat. "Kau dapat?"
Helen menunjukkan benda hitam kecil itu. Tangannya masih gemetar, namun matanya memancarkan cahaya yang mematikan. "Papa sudah menyiapkan ini, Ario. Dia tahu dia akan dikhianati. Ini bukan hanya tentang kecelakaan itu. Ini tentang semua penggelapan dana yang dilakukan Tante Beatrix selama bertahun-tahun."
Helen menatap ke arah luar, ke arah hujan yang menghapus jejaknya di aspal Jakarta. "Pak Haris sudah bicara. Sekarang, giliran aku yang akan membuat seluruh dunia mendengar suara Papa."
Di kontrakan sempit itu, di tengah kemiskinan dan penderitaan, sebuah rencana besar mulai matang. Sang Putri yang menyamar sebagai buruh cuci kini telah memegang kunci untuk membuka gerbang neraka bagi Beatrix van Amgard. Perang kini bukan lagi soal bertahan hidup, tapi soal pembalasan yang tuntas.
****
Lampu bohlam di langit-langit kontrakan Tambora itu berkedip-kedip, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyesakkan di dalam ruangan sempit tersebut. Di luar, suara hujan yang menghantam atap seng terdengar seperti ribuan genderang perang yang tak kunjung usai. Helen Kusuma duduk bersila di depan laptop tua milik Ario Diangga, matanya terpaku pada layar yang menampilkan deretan dokumen digital yang baru saja ia ambil dari flashdisk peninggalan ayahnya.
Ario berdiri di belakangnya, tangannya bertumpu pada bahu Helen yang gemetar. Awalnya, mereka mengira ini hanya tentang kecelakaan maut di jalan tol itu. Namun, saat satu demi satu folder dibuka, sebuah kenyataan yang jauh lebih gelap dan mengerikan mulai terkuak—seperti bangkai yang dipaksa keluar dari dasar laut yang paling dalam.
"Ya Tuhan..." suara Helen pecah. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba menahan jeritan yang meronta di tenggorokannya.
Di layar itu, terdapat sebuah rekaman suara percakapan telepon yang terenkripsi dan scan dokumen medis tertanggal sepuluh tahun yang lalu. Itu adalah tahun di mana ibu kandung Helen, Dewi Kusuma, meninggal dunia. Selama ini, Helen percaya bahwa ibunya meninggal karena penyakit gagal jantung yang mendadak. Namun, dokumen di depannya berkata lain.
Terdapat korespondensi rahasia antara Beatrix van Amgard—yang saat itu masih merupakan asisten pribadi Aditya Kusuma—dengan seorang apoteker di Belanda. Mereka membahas tentang digitalis, sejenis obat jantung yang jika diberikan dalam dosis tertentu secara terus-menerus pada orang sehat, akan memicu serangan jantung yang tampak alami dan tak terdeteksi lewat otopsi standar.
"Dia membunuhnya..." rintih Helen. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang kini tirus. "Dia membunuh Mama agar dia bisa mengambil posisinya. Dia sudah merencanakan ini sejak awal, Ario! Dia menghancurkan keluargaku sepotong demi sepotong selama sepuluh tahun!"
Ario mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. "Tidak hanya itu, Helen. Lihat folder ini. 'Project Phoenix'."
Helen mengklik folder tersebut dengan jari yang bergetar hebat. Isinya adalah skema penggelapan uang perusahaan yang sangat masif. Beatrix telah mengalihkan hampir 40% keuntungan Kusuma Group ke rekening-rekening offshore di Panama dan Swiss jauh sebelum Aditya Kusuma meninggal. Ia menciptakan hutang-hutang fiktif untuk mencekik perusahaan dari dalam, sehingga saat Aditya tiada, ia bisa dengan mudah melakukan hostile takeover dengan bantuan investor Eropa yang sebenarnya adalah perusahaan cangkang miliknya sendiri.
"Papa tahu..." Helen terisak, bahunya berguncang hebat. "Papa mengumpulkan semua ini karena dia mulai curiga. Dia ingin menceraikan Tante Beatrix dan melaporkannya ke polisi, itulah sebabnya mobil itu disabotase. Papa mati untuk melindungi bukti ini... Papa mati untuk melindungiku."
Helen ambruk ke pelukan Ario. Ia menangis sejadi-jadinya, sebuah tangisan yang bukan lagi karena kemiskinan atau lapar, melainkan tangisan karena dikhianati oleh kenyataan pahit selama bertahun-tahun. Ia teringat bagaimana dulu ia memanggil Beatrix dengan sebutan "Mama", bagaimana ia pernah memeluk wanita itu saat merasa sedih, tanpa tahu bahwa ia sedang memeluk iblis yang telah meracuni ibu kandungnya dan menyembelih ayahnya.
****
Di puncak Menara V.A. Nordic, suasana yang biasanya dingin dan tenang kini berubah menjadi neraka bagi para staf. Beatrix van Amgard berdiri di tengah ruang kerjanya, napasnya memburu. Di hadapannya, beberapa layar televisi menampilkan berita ekonomi yang mengejutkan.
Sebuah akun anonim di platform media sosial baru saja merilis teaser dokumen mengenai ketidakberesan akuisisi Kusuma Group. Meski belum sepenuhnya terbuka, pasar saham bereaksi dengan brutal. Nilai saham V.A. Nordic merosot tajam dalam hitungan jam.
"Siapa yang melakukannya?!" teriak Beatrix. Ia menyapu semua barang di atas mejanya hingga berhamburan ke lantai. Gelas kristal, telepon kantor, dan plakat-plakat mahal hancur berkeping-keping.
Bambang masuk dengan wajah pucat pasi. "Nyonya... otoritas pajak baru saja mengirimkan surat panggilan. Mereka mendeteksi adanya aliran dana yang tidak wajar ke rekening Panama yang disebutkan dalam bocoran internet itu."
Beatrix mencengkeram kerah kemeja Bambang dengan kekuatan yang mengejutkan. "Cari Helen! Cari dia dan bunuh dia sekarang juga! Dia memegang flashdisk itu! Haris memberikan benda itu padanya!"
"Kami sedang berusaha, Nyonya, tapi—"
"TIDAK ADA TAPI!" Beatrix meraung. Namun, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ada nada ketakutan dalam suaranya. Ia berjalan mondar-mandir, tangannya gemetar saat mencoba menyulut cerutu.
Tiba-tiba, ponsel pribadinya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan sebuah pesan singkat berupa file audio. Beatrix membukanya dengan ragu.
Tiba-tiba, ponsel pribadinya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan sebuah pesan singkat berupa file audio. Beatrix membukanya dengan ragu.
Suara yang keluar dari ponsel itu membuat darah Beatrix terasa membeku. Itu adalah suaranya sendiri, sepuluh tahun yang lalu, sedang memberikan instruksi untuk mengganti obat jantung Dewi Kusuma.
"Pastikan dia meminumnya setiap pagi. Jangan tinggalkan jejak. Aku ingin dia pergi sebelum musim gugur berakhir."
Beatrix menjatuhkan ponselnya ke lantai. Wajahnya yang biasanya kaku dan angkuh kini tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap. Kejahatan yang ia kubur sedalam mungkin di bawah fondasi kerajaan bisnisnya kini mulai merembes keluar, merusak segala kemegahan yang ia bangun.
"Helen..." desis Beatrix, matanya berkilat antara amarah dan kegilaan. "Kau pikir kau bisa menghancurkanku dengan ini? Aku akan membakar kota ini sebelum aku membiarkanmu menang."
****
Di kontrakan Tambora, suasana menjadi sangat sunyi setelah badai tangis Helen mereda. Ia duduk tegak, matanya merah namun tatapannya kini sedingin es. Tidak ada lagi keraguan di sana. Helen Kusuma yang manja telah benar-benar mati, digantikan oleh malaikat pencabut nyawa bagi Beatrix.
"Ario," panggil Helen pelan.
"Ya?"
"Kita tidak akan merilis semuanya sekaligus. Kita akan menyiksanya. Kita akan mengirimkan bukti-bukti ini satu per satu kepada para investornya, kepada polisi, dan langsung ke ponselnya. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya melihat duniamu runtuh bata demi bata, sama seperti yang aku rasakan saat mendarat di bandara kemarin."
Ario mengangguk. Ia mulai mengetikkan perintah di laptopnya, menggunakan protokol keamanan tingkat tinggi untuk menyebarkan "bom waktu" digital ke berbagai penjuru.
"Aku sudah mengatur pengiriman otomatis ke lima media internasional utama jika terjadi sesuatu pada kita dalam 24 jam ke depan," ujar Ario. "Dia tidak bisa lagi membunuh kita untuk menghentikan ini. Jika kita mati, rahasianya akan meledak di seluruh dunia."
Helen berdiri, berjalan menuju cermin kecil yang retak di dinding kontrakan. Ia melihat wajahnya sendiri. Ia melihat daster lusuh yang ia kenakan. Ia melihat kemiskinan di sekelilingnya.
"Tante Beatrix mengira kemiskinan akan membuatku lemah," ucap Helen sambil menyisir rambutnya dengan jari. "Tapi dia salah. Kemiskinan memberiku satu hal yang tidak dia miliki: kejernihan untuk melihat siapa musuhku yang sebenarnya."