NovelToon NovelToon
Long Wait

Long Wait

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Davina Auroraaa

LONG WAIT

Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.

Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.

Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.

Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Di Balik Jas Putih, Hati yang Tak Lagi Berbohong

Lima tahun berlalu bagai arus sungai deras yang tak terbendung, menggerus kenangan masa SMA hingga menjadi halus, namun meninggalkan jejak yang dalam di hati setiap orang. Jakarta kini tampak lebih megah, lebih sibuk, namun bagi Sabiru Naverlla Azzura, kota ini tetap memiliki satu titik pusat gravitasi yang tak pernah bergeser: Allbiru Sky Kalangga.

Kini, Sabiru berusia dua puluh dua tahun. Ia bukan lagi gadis remaja yang gemetar ketakutan di sudut kelas. Ia telah tumbuh menjadi wanita muda yang anggun, dengan rambut hitam panjang yang sering diikat rapi, dan mata yang masih menyimpan kehangatan masa kecil namun kini dibalut ketegasan seorang mahasiswi tingkat akhir jurusan Sastra. Namun, di balik senyum dewasanya, ada ketergantungan halus yang tak pernah putus pada sosok tertentu. Sosok yang kini dikenal sebagai Dokter Allbiru.

Allbiru, yang kini berusia dua puluh lima tahun, telah mewujudkan impian masa kecilnya untuk menjadi pelindung dalam arti yang sesungguhnya. Ia lulus kedokteran dengan predikat cum laude dan kini bekerja sebagai dokter umum sekaligus residen bedah di Rumah Sakit Sky Memorial, rumah sakit terbesar milik keluarga Sky. Di balik jas putihnya yang selalu wangi antiseptik dan rapi, tersimpan otot-otot lengan yang kuat dan tatapan mata yang sama tajamnya—bahkan lebih—dari lima tahun lalu. Ia masih sama protektifnya, mungkin bahkan lebih parah. Bagi Allbiru, Sabiru bukan sekadar adik angkat; ia adalah pasien prioritas utama, tanggung jawab seumur hidup, dan rahasia terbesar di hatinya yang terus membesar seiring waktu.

Mereka kini tinggal di sebuah apartemen mewah yang terhubung langsung dengan rumah sakit, sebuah keputusan yang diambil Rania dan Aldo agar Allbiru bisa lebih mudah mengawasi Sabiru, terutama setelah insiden Marelvin dulu yang membuat Malia trauma berat. Malia sendiri tinggal di rumah utama bersama Rania, namun hampir setiap hari ia datang ke apartemen untuk memastikan anaknya baik-baik saja, meski seringkali kecemasannya justru membuat Sabiru merasa tercekik.

Sore itu, hujan kembali turun membasahi Jakarta, seolah langit ingin mengulang skenario lama. Sabiru duduk di sofa ruang tengah apartemen, memegang buku skripsinya yang belum juga selesai. Kepalanya penat. Tiba-tiba, suara kunci elektronik berbunyi beep, dan pintu terbuka.

Allbiru masuk dengan langkah lelah. Jas putihnya masih melekat, stetoskop tergantung di leher, dan lingkaran hitam tipis terlihat di bawah matanya. Shift pagi yang panjang dan operasi darurat selama enam jam membuatnya terlihat letih, namun begitu matanya menangkap sosok Sabiru di sofa, seluruh kelelahan itu seolah menguap seketika. Wajahnya langsung melunak.

"Pulang, Dok?" sapa Sabiru lembut, segera berdiri dan mengambil tas kerja Allbiru. Sentuhan jari-jarinya saat tas itu terasa akrab, namun ada getaran listrik kecil yang selalu ada sejak kejadian di teras lima tahun lalu. Getaran yang tak pernah hilang, malah semakin kuat.

Allbiru tersenyum tipis, menatap Sabiru dari atas ke bawah, memastikan adiknya itu utuh, tidak terluka, tidak ada tanda-tanda sakit. "Iya, Sabi. Maaf Kakak pulang telat. Ada kasus kecelakaan beruntun di tol tadi, korban banyak."

Mendengar kata "kecelakaan", bahu Sabiru menegang sedikit. Ia tahu betul itu adalah kata terlarang bagi ibunya, Malia. Dan entah kenapa, belakangan ini kata itu juga mulai membuatnya takut, seolah ada firasat buruk yang menggantung.

"Nggak apa-apa, Kak. Ibu tadi nelpon, bilang mau bawa sup ayam sebentar lagi," kata Sabiru sambil membimbing Allbiru ke kursi santai. "Kakak istirahat dulu ya? Aku ambilin air hangat."

Allbiru menangkap pergelangan tangan Sabiru saat gadis itu hendak berbalik. Cengkeramannya hangat, tegas, namun penuh kelembutan. "Nanti saja, Sabi. Duduk sini sebentar."

Sabiru menurut, duduk di sandaran tangan kursi Allbiru, posisi yang terlalu dekat untuk sekadar kakak-adik, namun terlalu nyaman untuk dijauhi. Allbiru menatap wajah Sabiru lekat-lekat, jari telunjuknya tanpa sadar mengusap pipi gadis itu, gerakan yang sudah menjadi ritual harian mereka.

"Kamu kelihatan pucat, Sabi. Sudah makan siang? Minum vitamin yang Kakak kasih tadi pagi?" tanya Allbiru, suaranya berubah menjadi mode "dokter". Nada otoritatif yang sering membuat Sabiru kesal namun juga merasa dicintai.

"Sudah, Dok. Aku nggak lupa," jawab Sabiru tertawa kecil, menepis tangan Allbiru pelan, meski dalam hati ia menikmati perhatian itu. "Kakak ini kalau udah mode dokter, nyebelin banget sih. Aku bukan pasien Kakak."

Allbiru terkekeh, tapi tatapannya tetap serius. "Bagiku, kamu adalah pasien paling penting, Sabi. Jantungmu, napasmu, kebahagiaanmu... itu semua tanggung jawabku. Kalau sampai kamu sakit, aku yang gagal."

Kalimat itu menggantung di udara, sarat makna ganda. Sabiru menunduk, jantungnya berdegup kencang. Tanggung jawab? Atau lebih dari itu? Selama lima tahun terakhir, hubungan mereka terjebak dalam zona abu-abu yang indah namun menyiksa. Allbiru semakin dewasa, semakin tampan, dan semakin banyak wanita yang mencoba mendekatinya—perawat cantik, rekan dokter, bahkan putri pemilik yayasan—namun Allbiru selalu menolak dengan dingin. "Saya sudah punya seseorang yang harus saya jaga," begitu alasan standar yang selalu ia berikan, tanpa pernah menyebut nama.

Dan Sabiru? Ia juga menolak setiap pendekatan pria. Bagaimana bisa ia menerima orang lain, ketika hatinya sudah penuh sesak oleh sosok kakaknya sendiri? Ketika setiap sentuhan Allbiru terasa seperti rumah, dan setiap kejauhan darinya terasa seperti kehilangan oksigen?

"Tapi Kak," bisik Sabiru pelan, memberanikan diri menatap mata Allbiru yang dalam. "Kakak nggak capek jaga aku terus? Umur kita udah nggak muda lagi, Kak. Orang-orang mulai bertanya... kenapa kita masih tinggal serumah? Kenapa Kakak nggak pernah pacaran? Kenapa aku juga nggak pernah nerima siapa-siapa?"

Suasana mendadak hening. Hanya suara hujan di luar yang terdengar semakin deras. Allbiru menarik napas panjang, dadanya naik turun. Pertanyaan yang sama juga menghantuinya setiap malam. Ia ingin sekali menjawab, "Karena cuma kamu, Sabi. Karena sejak lima tahun lalu, aku sadar aku nggak bisa melihatmu sebagai adik lagi." Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan, dibelenggu oleh status mereka, oleh janji pada Malia, dan oleh ketakutan akan menghancurkan segala-galanya.

"Capek?" ulang Allbiru lirih, tangannya kembali mengusap rambut Sabiru. "Nggak pernah, Sabi. Menjagamu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup. Soal orang lain... biarkan mereka bicara. Dunia boleh menilai kita aneh, boleh menganggap kita terlalu dekat. Tapi selama kamu aman, selama kamu bahagia di sisiku, aku nggak peduli soal label apa pun. Biarkan waktu yang menjawab semuanya."

Sabiru menatap Allbiru dengan mata berkaca-kaca. Jawaban itu bukan pengakuan cinta secara langsung, tapi itu lebih dari cukup. Itu adalah janji setia dalam bahasa mereka sendiri. "Janji ya, Kak? Nggak akan ninggalin aku? Nggak akan menikah sama orang lain sebelum... sebelum aku siap?"

Allbiru tersenyum, senyum yang penuh kerinduan dan sedikit rasa sakit. "Aku janji, Sabiru Naverlla Azzura. Sampai kapan pun. Dunia boleh menunggu, tapi aku nggak akan pergi kemana-mana tanpa kamu."

Mereka terdiam dalam keheningan yang nyaman, saling bertumpu, seolah melawan arus waktu yang terus berjalan. Namun, di luar sana, badai sedang disiapkan.

Di parkiran bawah tanah apartemen, sebuah mobil hitam tua terparkir di sudut gelap, jauh dari jangkauan CCTV. Di dalamnya, Rio Pratama duduk sambil merokok, matanya terpaku pada layar monitor kecil yang menampilkan rekaman CCTV lobi apartemen. Ia melihat Allbiru dan Sabiru yang sedang berpelukan mesra di ruang tengah (melalui kamera tersembunyi yang berhasil ia pasang minggu lalu).

"Dua tikus dalam satu perangkap," gumam Rio sambil menghembuskan asap rokok. Wajahnya semakin tua, semakin keras, dengan bekas luka tipis di pelipisnya akibat konflik masa lalu. "Si Dokter Pahlawan dan Putri Cantiknya. Mereka pikir mereka aman di menara gading ini?"

Ponsel Rio bergetar. Pesan masuk dari nomor anonim: "Rencana B dimulai besok. Target: Kecelakaan Tunggal. Lokasi: Jalan raya menuju kampus Sabiru. Waktu: Pukul 07.00 pagi. Pastikan rem blong. Buat mereka ingat rasa takut itu."

Rio tersenyum miring, senyum yang dingin dan kejam. "Besok pagi... kita akan uji seberapa kuat 'pelindung' itu, Dok. Mari kita lihat apakah kamu bisa menyelamatkan adik manismu saat maut datang dalam bentuk mobil yang melaju kencang. Sejarah akan berulang, Malia. Dan kali ini, aku yang akan menulis akhirnya."

Rio membuang puntung rokoknya, lalu menyalakan mesin mobil. Suara mesin menderu rendah, siap menerjang hujan malam itu. Besok pagi, Jakarta akan kembali diguncang oleh tragedi yang dirancang khusus untuk menghancurkan hati seorang ibu dan memisahkan dua sejoli yang terikat takdir.

Sementara itu, di dalam apartemen, Allbiru dan Sabiru masih asyik dalam dunia mereka, tidak menyadari bahwa hitungan mundur menuju bencana sudah dimulai. Mereka tidak tahu bahwa esok pagi, "Long Wait" mereka akan diuji dengan cara yang paling menyakitkan: nyawa yang dipertaruhkan di atas aspal basah.

1
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
adududuuuhhhh benih cinta terlarang itu mau dibawa kemana nantinya
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
namanya mirip banget...
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
Thor agak panjang untuk jadi bab, jadiin dua bab thor. Seseorang pernah berkata padaku, biar enak dibaca pembaca dan lebih terlihat estetikanya, bab novel itu jangan terlalu panjang. kalau sudah dua kalimat atau lebih jadikan bab baru.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
belum pernah ke rumah orang kaya raya nampaknya dia, sampai melongo begitu
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
pribadi seseorang bisa tergambar dari cara seseorang memandang dan melihat yah
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
cerita yang menarik thor
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hai Thor aku dah mampir, jangan lupa follback ya aku dah follow
Davina Aurora: sudah aku follback ya ka🥰
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
ini juga bagusss, saya suka👍
Davina Aurora: makasii ka☺️
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
ya ampun nangis bacanya, jiwa emak2nya keluar
Davina Aurora: makasii ka udah mampirr🤭
total 1 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
terharu 🥲🫠
Davina Aurora: makasii ka😊🩷
total 1 replies
T28J
mantap... panjang ini👍
T28J
hadiir 🙏
Davina Aurora: okee ka makasih ya ka😊
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!