Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 2. Masa lalu terungkap
Mamahnya seorang single parents untuk saat ini. Lalu kondisi mamahnya sekarang bolak-balik rumah sakit, kesehatannya sedikit terganggu dan ia penderita insomnia berat.
Itu yang aku ketahui saat ini.
Berarti aku selama ini salah paham. Aku pikir, ibu Nala yang merupakan nenek dari pihak ayahnya itu adalah ibu sambung untuk mas Barraq. Karena mas Barraq mengatakan bahwa orang tuanya sudah berpisah, kemudian ia di sini tinggal dengan ibu kandungnya.
“Berarti mamah tuh…” Aku bingung menyambungkan pertanyaannku. Karena ini konflik yang sensitif, aku khawatir ia tersinggung.
“Mamah nggak pernah bilang ke suaminya kalau dia punya anak dengan pacarnya di masa lalu. Mas datang merusak kebahagiaan dan ketentraman mamah, jadi Mas bertanggung jawab atas kondisi mamah dan adik-adik Mas sekarang,” ujarnya dengan kembali menggenggam tanganku.
Mampus aku, pasti sekarang aku yang diminta cerita tentang kondisiku.
“Jadi kamu mau ngarang cerita apa lagi untuk ngelak dari Mas? Mas loh cuma minta kepastian, nggak mau cuma gini-gini aja,” ucapnya dengan kembali merangkulku dengan tangan kiri, dengan tangan kanannya menggenggam tangan kananku. Bahuku bersandar pada dada bidangnya ini.
Sebenarnya pantas tidak sih bila seorang istri berdekatan dengan laki-laki lain saat jauh dari suaminya begini? Tapi ini di luar kendaliku.
“Apa dengan tentang Mas yang baru kamu tau ini, kamu berpikir untuk jauhi Mas?” tanyanya berlanjut.
“Aku pasti jauhi Mas setelah tau Mas naruh perasaan ke aku, karena aku ini istri orang,” tukasku dengan melepaskan rangkulannya dan genggaman tangannya ini.
Aku paham posisiku salah saat ini.
Lagipula, siapa yang akan menolaknya dengan fakta tersebut? Aku menolaknya karena aku bersuami, jika aku single pun sudah aku iyakan sejak tadi.
Di mana lagi coba laki-laki minta kepastian? Biasanya juga perempuan yang minta kepastian.
Ini sudah jaman edan, sudah tidak peduli asal-usul masa lalu. Yang penting dia ini ATM berjalan, dia sumber uang dan dia kaya. Masalah ia tersandung kasus, mungkin sial saja karena ketahuan.
Jika tidak ketahuan, mungkin sepertiku yang bebas berdekatan dengan bosku sendiri di belakang suamiku. Kalau aku ketahuan suamiku dirangkul-rangkul bujangan, sepertinya aku sudah habis dianiaya di tempat dan ditalak di tempat.
Ia pun tampan, rahangnya tegas dengan bentuk wajah yang khas sekali. Karena aku memperhatikan keluarga ayahnya memiliki rahang begitu semua. Garis mandibula yang menonjol dan sudut yang tajam di bawah telinga, garis dagunya pun simetris ketika aku memandangnya.
Aku tidak tahu pasti keluarganya blasteran atau pribumi Indonesia asli, karena kulitnya sedikit cerah dan ia pun cukup tinggi. Mungkin tingginya sekitar seratus delapan puluh senti, tinggi badannya hampir sama semua dengan keluarga dari ayahnya.
Rambutnya berwarna hitam, tapi bola matanya berwarna coklat cerah. Alisnya tentu seperti anak muda jaman sekarang yang memiliki belahan, terdapat piercing juga di alis kirinya.
Kembali lagi, aku menyadari bahwa posisiku salah. Hanya tidak ketahuan saja, intinya begitu.
“Ayolah Dea Amanda, jangan berbelit-belit.” Tanganku kembali diraih olehnya.
“Berbelit-belit gimana sih, Mas?” Aku frustasi sendiri karena ia tidak percaya, padahal aku sudah mengakuinya.
“Ya tinggal iyakan aja, Mas juga paham kok kalau kamu punya ketertarikan yang sama dengan Mas,” tuturnya dengan memainkan jemariku.
“Eh, tunggu. Mas punya hadiah untuk kamu.” Ia merogoh saku celananya.
Astaga, diberinya aku cincin. Kalau aku bisa bersuami dua pun, aku sudah menikah di perantauan ini.
Tapi dilihat dari riwayat pernikahanku, aku harusnya introspeksi diri. Karena apa? Suamiku yang saat ini adalah suamiku yang ketiga. Jika aku gagal berumah tangga lagi, sudah pasti aku dicap buruk oleh para tetangga. Apalagi, aku sudah berjanji di depan orang tuaku bahwa ini adalah pernikahanku yang terakhir.
Tapi ngomong-ngomong, memang siapa yang akan bercerai? Aku tidak punya pikiran demikian dengan suamiku. Dalam komunikasi kami wajar, ribut wajar perihal aku slow respon.
Toh, aku di sini juga tidak berzina dengan laki-laki lain dan tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Kedekatanku dengan mas Barraq hanya sebatas rekan kerja, menurutku. Cuma memang aku menyadari, bahwa ia memiliki ketertarikan padaku.
Apalagi sejak kasusnya selesai, ia berani merangkulku dan memainkan jemariku. Mungkin orang mengira kami adalah pasangan, karena kami terlihat cukup ‘mesra’, menurutku.
Masalah perasaanku, terus terang saja aku merasa hanya melanjutkan hidup. Euforia itu sudah tidak pernah aku rasakan, saat terakhir sebelum menikah dengan suami yang sekarang. Entah perasaan ini mati karena sikap dan tingkahnya, aku tidak punya waktu untuk memilah perasaanku sendiri. Aku hanya fokus kerja, untuk menghidupi mereka semua di kampung.
Bukan karena suamiku tidak bekerja, mungkin hanya rasa syukurku saja yang kurang atau memang nafkah darinya tidak cukup untuk kebutuhan kami berdua. Ia bekerja di salah satu pabrik pembuatan saus di kampung halamanku, tapi hitungannya ia adalah pekerja harian lepas. Jadi pendapatannya ya dihitung hanya ketika ia berangkat saja. Sedangkan setelah beberapa bulan menikah, gejala malas itu sudah aku rasakan pada suamiku.
Meski memang aku belum memiliki anak dari ketiga pernikahanku, tapi aku memiliki orang tua yang sudah sepuh. Jadi, aku butuh biaya lebih untuk kebutuhan mereka yang sering sakit-sakitan.
Aku bukanlah anak tunggal, tapi kebutuhan mereka yang lebih sering untuk berobat ini tidak cukup hanya diberi dua cepek ceng dari kakakku.
Bekerja adalah inisiatifku sendiri. Aku pun pernah bekerja di kampung halamanku, tapi karena dekat dengan keluarga aku menjadi ‘manja’ dengan pekerjaanku. Jika jauh dari keluarga begini kan, ya aku paksa-paksakan. Karena jauh, ongkos mahal dan mau manja ke siapa juga di rantau orang?
“Mas, aku tuh pernah jadi janda dua kali. Pernikahanku yang jalan tiga tahun ini, ini adalah pernikahanku yang ketiga,” ungkapku dengan memandang sekilas cincin darinya dan melihat wajahnya.
Serupawan ini, malah jatuh cinta pada perempuan problematik sepertiku. Seperti tidak ada wanita lain saja.
Ia tertawa lepas, kemudian menyugar rambutnya ke belakang.
“Siapa yang mau percaya dengan karangan kamu itu, De?” Ia melirikku masih dengan tawa lepasnya.
Ia kira aku melawak.
“Kenapa nggak percaya?” tanyaku menggantung. “Mas bisa dapatkan perempuan yang lebih muda dan lebih simpel,” lanjutku dengan memperhatikan wajahnya dari samping.
Satu telinga memiliki lima tindik, tapi tentu tidak dipasang semua aksesorisnya. Ia bentuk berandal dari keluarga mapan, jadi ia tetap berkharisma di pandangan.
“Mas nggak peduli itu, De! Mau beda usia, beda adat, beda suku, beda bahasa, beda kebangsaan, tak masalah. Yang penting jangan beda server aja,” ujarnya dengan memamerkan gigi rapinya, “Mas trauma dengan kisah ayah dan ibu kandung Mas, kalau kita beda server,” ungkapnya dengan menurunkan nada suaranya.
Oh, aku mulai sedikit memahami titik masalah orang tuanya dulu sampai tidak menikah itu. Karena mereka berbeda keyakinan. Aku mulai paham teka-teki ini.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠