"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 6
Hardi pulang tepat pukul 7 malam, ia tak tahu jika ibu dan adiknya datang berkunjung. Ia melihat di meja makan tersedia beberapa masakan yang tak seperti biasanya. Ayam semur, tumis buncis bakso dan perkedel tahu.
"Kenapa kamu lama sekali pulangnya?" tanya Wati setelah putranya mencium punggung tangannya.
"Tadi lembur," jawab Hardi beralasan padahal dia tak ingin pulang lebih cepat, malas bertemu istrinya.
"Hampir tiap hari begini?" tanya Wati lagi.
"Tidak, Bu. Paling seminggu dua kali," jawab Hardi berbohong.
"Ya sudah, duduk. Kita makan sama-sama, kami sudah lapar sekali!" ucap Wati.
Mereka pun menikmati makanan yang dimasak Wati dan dibantu Mila serta Dhea.
"Kenapa Ibu masak sebanyak ini?" tanya Hardi sambil mengunyah.
"Ini cuma tiga macam," jawab Wati.
"Ya, ini sudah banyak banget, Bu." Kata Hardi sambil mengambil ayam semur sepotong lagi.
"Biasanya kamu cuma makan tahu, tempe, telur?" singgung Wati.
"Tanyakan saja pada Mila, Bu. Kenapa dia tiap hari masak cuma yang itu-itu saja?" Hardi menunjuk istrinya dengan telunjuk tangan kanannya.
"Kenapa menyalahkan Mila? Kamu itu yang harus mikir, berapa sebulan uang belanja buatnya!" omel Wati.
"Delapan ratus ribu itu sangat besar, Bu. Aku mencarinya butuh waktu empat hari," Hardi tak mau disalahkan.
"Zaman sekarang uang segitu gak cukup. Kalian belum punya anak, biaya yang dikeluarkan pasti lebih besar. Pasti kamu boros sekali, 'kan?" tuding Wati kepada putranya.
"Aku gak boros, malah sangat hemat. Aku sedang menabung buat keperluan jika sewaktu-waktu Mila hamil dan melahirkan," kata Hardi berbohong, padahal selama menikah dia hanya menyentuh istrinya 2 kali saja.
"Kalau memang begitu, Ibu setuju saja. Tapi, janganlah tiap hari makan dengan lauk yang itu-itu saja. Sesekali belilah ikan atau daging, lagian punya uang. Bukan sama sekali gak punya uang buat dinikmati," saran Wati.
"Nanti kami makan enak kalau Mila sudah gajian, Bu. Sesekali aku mau menikmati gaji dari istriku," kata Hardi melirik istrinya.
"Tapi, kamu tidak bisa menikmati gajinya buat memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena kamu itu seorang suami!" Wati mengingatkan putranya agar tak terlalu pelit dengan istri.
"Iya, Bu. Aku tahu gajinya pun cuma sedikit!" ucap Hardi menyindir.
Satu jam setelah makan malam, mereka masuk ke kamar masing-masing. Hardi dan Mila kini berada di atas ranjang.
"Selama ibu di sini, jangan bersikap manja atau sok manis. Kau beruntung makan enak hari ini dan aku berharap semoga badanmu gak tambah melebar karena menikmati masakan ibuku!" sindir Hardi seraya melihat bentuk tubuh istrinya.
"Aku 'sih berharap ibu dan adik Mas Hardi setiap hari di sini. Aku juga bosan makan lauknya tempe, tahu, telur. Aku juga pengen menikmati daging ayam dan sapi yang selama ini gak diberikan suamiku!" Mila balas menyindir.
"Harusnya kau bersyukur aku masih memberimu makan, lihatlah diluar sana banyak pria yang gak mau bertanggung jawab dengan keluarganya!"
"Kalau memberikan aku makan, orang tuaku juga mampu!" singgung Mila yang kesal dengan ucapan suaminya.
"Sekarang kau mulai berani, ya!" Hardi mulai terpancing, namun ia tak mau gegabah karena ada ibu dan adiknya.
"Aku begini juga karena Mas Hardi!" kata Mila.
"Aku tidak mau membuat keributan malam ini!" Hardi mengeraskan rahangnya.
"Aku juga capek terus ribut denganmu!" Mila membalas kata-kata suaminya.
"Malam ini kau bisa membantah ucapan ku, tapi enggak dilain hari!!" Hardi membalikkan badannya memunggungi istrinya.
"Aku berharap, kita gak pernah ribut dan seatap lagi!" batin Mila.
***
Mila bangun lebih awal seperti biasa, melaksanakan sholat subuh dan disusul suaminya. Hardi sebenarnya malas bangun pagi tetapi karena ibunya menginap di rumahnya terpaksa dia juga ikut sholat.
Setelah sholat, Hardi pamit tidur kembali dengan alasan masih sangat mengantuk. Wati pun membiarkannya sebab Hardi juga mau lanjut bekerja lagi.
Mila dan Wati lalu berangkat pagi-pagi ke pasar. Sejam kemudian keduanya kembali dari pasar menenteng 1 kantong belanjaan. Mila pun membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan.
Tepat jam 7 pagi, seluruhnya telah berkumpul di ruang makan. Hardi begitu semangat menikmati sarapan pagi hari ini. Bahkan dia meminta istrinya untuk membungkusnya sebagai bekal makan siang.
Setelah suaminya berangkat kerja, Mila akhirnya bisa menikmati sarapan dengan santai dan tenang. Sebab sedari tadi Hardi selalu saja menyuruhnya.
Mila menyantap balado udang, sop ayam dan tumis kacang panjang masakan ibu mertuanya. Mungkin hari ini menjadi makanan terakhir buatnya sebagai seorang menantu. Meskipun ibu mertuanya baik tetapi niatnya bercerai sangat besar.
Jam 10 pagi seluruh pekerjaan telah diselesaikan, Mila, Wati dan Dhea berkumpul di teras rumah.
"Bu, aku mau tanya," kata Mila.
"Kamu mau tanya apa?" Wati menoleh ke arah menantunya.
"Apakah bapaknya Mas Hardi sangat menyayangi Ibu?" tanya Mila.
Wati tersenyum dan menjawab, "Sangat baik dan sabar. Ibu orangnya cerewet. Kalau tak sesuai dengan keinginan, Ibu bakal mengomel."
"Makanya, bapak gak berani sama Ibu, Kak!" sahut Dhea tertawa.
"Hahaha...benar itu!" timpal Wati.
"Apa aku harus marah-marah? Belum saja aku mengomel, dia sudah memukuli ku!" batin Mila.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa Hardi gak menyayangimu?" tanya Wati.
"Mas Hardi cuma cuek aja, Bu." Jawab Mila berbohong padahal lebih dari itu sikap dan sifatnya.
"Kamu harus banyak bersabar menghadapinya, ya!" nasihat Wati sembari mengelus punggung menantunya.
Mila mengiyakan sambil tersenyum tipis.
"Ibu gak mau rumah tangga anak-anak Ibu berantakan seperti yang dialami kedua orang tuanya Ibu," kata Wati.
"Memangnya orang tuanya Ibu berpisah karena apa?" Mila penasaran.
"Ayahnya Ibu sangat pelit, makanya istrinya kabur. Bayangkan saja, mau membeli makanan Neneknya Hardi itu harus pergi ke ladang orang lain buat mendapatkan upah atau sekedar sayuran untuk dimakan," ujar Wati.
"Memangnya kakeknya Mas Hardi tidak bekerja?" tanya Mila.
"Bekerja di kantor desa. Tak tahan dengan sikapnya, kami pun terpaksa terpisah dari ayah dari usia Ibu tiga tahun," jawab Wati.
"Semoga saja aku tidak berjodoh dengan laki-laki pelit apalagi suka main tangan dan main perempuan!" sahut Dhea setelah mendengar cerita ibunya.
"Aamiin.." kata Wati berharap nasib anak-anaknya tak seperti ibunya.
"Sekarang aku yang menjadi korban anakmu, Bu. Aku gak mau berpisah dengan anakmu setelah kami memiliki keturunan. Aku harus lepas darinya sebelum semakin dalam kami terikat. Jika aku mempunyai anak, maka sulit melepaskannya!" batin Mila.
"Kalau Hardi berulah, kamu katakan saja pada Ibu. Biar Ibu nasehati!" kata Wati.
"Iya, Bu. Aku akan menceritakannya kepada Ibu," ucap Mila tersenyum tipis.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔