NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa di Sarang Serigala

Langkah kaki Anya terasa berat saat menapaki lantai marmer kediaman utama Alfarezel yang seluas lapangan bola. Malam ini, ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam elegan dengan potongan kerah sabrina yang mengekspos tulang selangkangnya yang indah. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya.

Di sampingnya, Devan berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dingin yang biasa ia bawa ke ruang sidang bisnis. Namun, ada satu hal yang berbeda: tangan kekar Devan kini melingkar pas di pinggang Anya, menarik tubuh wanita itu agar merapat pada sisinya.

Sentuhan itu terasa begitu panas, membuat jantung Anya bertalu-talu di balik rongga dadanya.

"Tenang," bisik Devan sangat lirih, nyaris tak terdengar, tepat di dekat telinga Anya saat mereka memasuki ruang makan megah. "Anggap mereka semua hanya sekumpulan kilobait data yang harus kau kelola."

Anya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di tangannya. Begitu mereka melangkah masuk, tiga pasang mata langsung tertuju pada mereka dengan intensitas yang menghunjam.

Di ujung meja, sang patriark Bramanta Alfarezel menatap mereka dengan mata elang yang mirip dengan milik Devan. Di sisi kiri, Karina ibu tiri Devan menyunggingkan senyum yang tidak sampai ke mata. Sementara di sebelahnya, Dion, sang sepupu, menatap Anya dengan pandangan menilai yang vulgar.

"Jadi... ini wanita yang membuatmu mengabaikan putri para kolega bisnisku, Devan?" Suara Bramanta memecah keheningan, berat dan penuh wibawa.

Devan menarik sepasang kursi, mempersilakan Anya duduk dengan gerakan yang sangat ksatria sebelum ia sendiri duduk di sebelahnya. "Ya, Kakek. Ini Anya Anandita. Wanita yang sudah bersamaku selama delapan bulan terakhir."

Karina tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat terdengar halus namun sarat akan racun belati. "Anya Anandita... nama yang cantik. Tapi maaf, saya sudah memeriksa daftar keluarga besar di Jakarta dan rasanya tidak pernah mendengar marga Anandita. Kalau boleh tahu, orang tuamu bergerak di bidang bisnis apa, Anya?"

Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan langsung untuk menelanjangi status sosial Anya. Ruang makan itu mendadak senyap, menyisakan ketegangan yang begitu pekat. Dion tersenyum meremehkan, sementara Bramanta hanya diam, menunggu bagaimana respons wanita pilihan cucunya ini.

Anya merasakan tenggorokannya kering. Detik itu juga, ia tahu jika ia salah bicara, sandiwara ini akan hancur dan Devan akan kehilangan segalanya. Lebih dari itu, harga dirinya sebagai seorang anak kembali diuji.

Anya meletakkan tangannya di atas meja, menautkan jemarinya dengan tenang, lalu menatap Karina lurus-lurus dengan senyum paling anggun yang bisa ia sunggingkan.

"Mendiang ayah saya tidak bergerak di bidang bisnis makro, Nyonya Karina," jawab Anya, suaranya terdengar jernih, tenang, dan sama sekali tidak menampakkan rasa rendah diri. "Beliau adalah seorang pendidik, seorang guru yang menghabiskan hidupnya untuk membangun fondasi karakter manusia. Bagi keluarga kami, investasi terbesar bukan terletak pada angka di rekening bank, melainkan pada integritas dan kejujuran."

Anya sengaja memberi penekanan pada kata integritas dan kejujuran, sebuah sindiran halus yang menusuk, mengingat rumor di kalangan internal kantor bahwa keluarga Karina sering terlibat dalam manipulasi dana yayasan.

Mendengar jawaban telak itu, senyum di wajah Karina langsung membeku. Dion terkejut, sementara Devan yang duduk di sebelah Anya, perlahan meraba tangan Anya di bawah meja, meremas jemari wanita itu dengan lembut sebuah gestur apresiasi terselubung yang mengirimkan sengatan hangat langsung ke hati Anya.

Bramanta Alfarezel, sang singa tua, tiba-tiba menggebrak meja pelan dengan telapak tangannya. Alih-alih marah, sebuah senyum tipis yang langka muncul di wajah keriputnya yang tegas.

"Integritas," gumam Bramanta, mengangguk-angguk kecil sambil menatap Anya dengan binar ketertarikan yang baru. "Kata yang sudah sangat jarang kudengar di ruangan ini. Menarik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!