Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sinar matahari Bandung siang itu terasa hangat, menyelinap di antara celah dedaunan pohon angsana yang menaungi taman kampus. Zivara menyandarkan punggungnya pada bangku kayu, membiarkan semilir angin menyapu sisa-sisa penat setelah tiga jam berkutat dengan mata kuliah Nirmana. Di sampingnya, Dina asyik mengipasi wajah dengan buku catatan, sembari melemparkan pandangan jauh ke seberang taman.
"Duh, Vara... duduk di sini itu memang obat paling manjur setelah kelas," ujar Dina, matanya tiba-tiba berbinar nakal. "Lihat deh, dari sini kita bisa cuci mata lihat barisan cowok-cowok Manajemen Bisnis Internasional. Paket lengkap; rapi, wangi, dan masa depannya kelihatan mentereng!"
Dina terkekeh, sorot matanya tak lepas dari gedung megah di seberang jurusan DKV yang hanya dibatasi oleh area taman ini. Zivara terdiam, jemarinya tanpa sadar meremas ujung roknya sendiri. Sebuah sesak yang akrab merayap di dadanya.
Dulu, alasan utamanya memilih DKV bukanlah semata-mata karena cinta pada seni, melainkan karena tata letak gedung ini. Di kehidupan sebelumnya, taman ini adalah saksi bisu betapa seringnya ia duduk berjam-jam hanya demi mencuri pandang ke arah Kaizar yang sering terlihat di koridor gedung Manajemen. Ia sengaja menempatkan dirinya di posisi ini, menjadi pengagum rahasia yang mengabdikan seluruh waktunya hanya untuk memuja punggung pria yang bahkan jarang menoleh padanya.
"Dina," panggil Zivara pelan, memutus lamunan sahabatnya.
"Ya, Var? Kenapa? Ada yang cakep lewat?" sahut Dina antusias.
Zivara menatap lurus ke arah kanvas kosong di dalam tasnya, lalu beralih menatap Dina dengan serius.
"Menurutmu, apa aku perlu pindah jurusan saja ya?"
Pertanyaan itu seketika membungkam tawa Dina. Ia menoleh dengan dahi berkerut, memastikan bahwa sahabatnya itu tidak sedang bercanda.
"Pindah? Vara, lo sakit? Semester sudah jalan, tiba-tiba bilang mau pindah?"
"Aku merasa... mungkin aku tidak cocok di sini," gumam Zivara. Ia ingin melarikan diri dari segala hal yang mengingatkannya pada obsesi bodohnya terhadap Kaizar, termasuk setiap sudut kampus ini yang sudah terlanjur ia beri jejak memori tentang pria itu.
Dina menggeleng tidak percaya. "Gak cocok dari mana? Tadi di kelas, dosen puji sketsa lo habis-habisan. Nilai lo selalu stabil, lo punya bakat alami di seni, Vara. Gue rasa jiwa bebas lo itu beneran keluar kalau lo lagi pegang kuas."
Dina menghela napas panjang, merendahkan nada bicaranya. "Tapi ya, kalau lo merasa gak nyaman sampai ke batin, gue gak bisa memaksa. Yang menjalani kan lo, bukan gue. Cuma ya sayang banget, Var. Bakat lo itu langka."
Zivara kembali terlempar dalam keheningan. Kata-kata Dina ada benarnya; ia memang mencintai seni. Akan tetapi, setiap kali ia melihat gedung Manajemen itu, luka lama di masa depannya seolah berdenyut kembali. Ia takut jika terus berada di sini, tembok pertahanan yang ia bangun dengan susah payah akan runtuh setiap kali ia melihat Kaizar melintas.
**
Angin sepoi-sepoi di taman kampus DKV siang itu seharusnya bisa menenangkan pikiran Zivara yang sedang kalut. Sayangnya, kedamaian itu terusik ketika ia menangkap pergerakan di depan gedung Manajemen yang berada tepat di seberang posisinya. Dari kejauhan, ia melihat Kaizar baru saja keluar dari ruang kelas bersama Reno, sahabat kentalnya yang selalu tampak santai.
Langkah Kaizar yang biasanya tegas mendadak terhenti. Seorang gadis dengan langkah ringan berlari kecil menghampirinya, rambut panjangnya berkibar tertiup angin sembari menyuarakan nama Kaizar dengan nada manja yang khas. Gadis itu adalah Luna, mahasiswi jurusan musik sekaligus sosok yang menjadi pusat semesta Kaizar saat ini.
Zivara yang masih duduk di bangku taman hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka karena jarak, tetapi bahasa tubuh keduanya bercerita jauh lebih banyak daripada kata-kata.
"Kaizar, kamu ke mana saja?" tanya Luna begitu ia sampai di hadapan pria itu, wajahnya menunjukkan campuran antara cemas dan kesal. "Semalam aku menunggu kamu sampai larut, tapi kamu tidak datang sama sekali."
Kaizar menghela napas, sorot matanya yang biasanya dingin tampak sedikit melunak, meskipun masih ada jarak di sana. "Aku sudah bilang padamu, Luna. Semalam ada acara makan malam keluarga dengan tetangga baru. Aku tidak bisa pergi begitu saja," jawab Kaizar rendah.
Luna tidak lantas puas dengan jawaban itu. Ia memajukan bibirnya, tampak menuntut perhatian lebih.
"Lalu tadi pagi? Aku telepon berkali-kali tapi tidak kamu angkat."
"Aku sedang menyetir, Luna. Ponselku kumatikan," balas Kaizar singkat. Bayangan Zivara yang duduk diam di kursi penumpang mobilnya tadi pagi mendadak terlintas di benaknya, menciptakan sedikit gejolak rasa bersalah yang aneh.
Melihat ketegangan yang mulai muncul, Reno yang berdiri di samping Kaizar segera menengahi. Ia menyenggol bahu sahabatnya itu sambil terkekeh. "Sudahlah, Zar. Jangan kaku begitu. Kasihan Luna sudah jauh-jauh ke sini. Kalian pergi makan siang saja di kantin, biar gue yang urus urusan kelas nanti."
Kaizar terdiam sejenak, melirik ke arah taman tempat Zivara tadi duduk, tetapi ia tidak menemukan gadis itu menatapnya. Akhirnya, ia mengangguk tipis.
"Ayo. Kita ke kantin."
Wajah Luna seketika berubah cerah, seolah mendung baru saja berganti pelangi. Tanpa ragu, ia langsung menggandeng lengan Kaizar dengan erat, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria itu saat mereka mulai melangkah menuju kantin pusat.
Dari kejauhan, Zivara menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang terasa hampa. Pemandangan yang dulu akan membuatnya menangis di kamar selama berjam-jam, kini hanya ia pandangi dengan senyum kecut. Ia melihat betapa serasinya mereka; sang pangeran manajemen dan sang dewi musik.
Zivara baru saja menyadari sesuatu yang menyakitkan. Di kehidupan mana pun ia berada, statusnya tetap sama: seorang penonton di tengah drama romansa orang lain. Ia mematikan layar ponselnya yang masih menyala, lalu berdiri untuk meninggalkan taman.
**
Sore itu, saat Zivara hendak berjalan meninggalkan gedung fakultasnya, sebuah suara berat yang sangat ia kenali menghentikan langkahnya.
"Pindah jurusan?"
Zivara membeku. Ia berbalik dan mendapati Kaizar sudah berdiri tidak jauh di belakangnya, bersandar pada pilar beton dengan tangan terlipat di depan dada.
“Tahu darimana?” Zivara mengernyit heran mendengar pertanyaan Kaizar yang tiba-tiba, sebab ia merasa baru tadi siang berbincang dengan Dina tentang keputusannya ini.
“Kenapa pindah jurusan?”
"Apa urusannya denganmu, Kak?" tanya Zivara dingin.
Kaizar melangkah mendekat, auranya yang dominan seketika mengintimidasi ruang di sekitar Zivara.
"Kamu mau pindah karena merasa tidak cocok, atau karena kamu sedang mencoba melarikan diri dariku?"
Zivara tertawa sumbang, menatap langsung ke dalam mata gelap Kaizar yang tajam. "Kak Kaizar, jangan terlalu percaya diri. Dunia ini tidak berputar di sekitarmu saja. Aku pindah atau tidak, itu murni untuk masa depanku, bukan karena kau."
"Benarkah?" Kaizar menyeringai, sebuah senyum miring yang terlihat berbahaya. "Lalu kenapa setiap kali aku muncul, kamu selalu terlihat seperti baru saja melihat hantu? Kalau kau memang sudah tidak peduli, seharusnya kau tidak keberatan tetap berada di sini, tepat di depan mataku."
Zivara mengepalkan tangannya, menahan getaran emosi yang mulai membuncah. Ia ingin berteriak bahwa ia sudah muak dengan permainan ini.
Zivara melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Ia berbisik tepat di telinga Kaizar dengan nada yang membuat pria itu terpaku.
"Kalau begitu, bagaimana jika aku tetap di sini, tapi bukan untuk memujamu seperti dulu? Bagaimana jika aku tetap di sini hanya untuk menunjukkan padamu bagaimana rasanya menjadi orang asing di hidupku sendiri?"
Zivara melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, ia melihat sosok wanita berdiri di ujung koridor gedung Manajemen. Wanita itu mengenakan gaun putih anggun, menatap ke arah mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.
* * *