Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18 jalur tikus tanah bawah dan gerbang air mata darah
Kegelapan total yang pekat menyergap rombongan kecil keluarga Yan begitu mereka menuruni anak tangga tanah terakhir di bawah lantai dapur paviliun. Bau tanah basah bercampur dengan lumut beracun yang membusuk langsung menusuk hidung, menciptakan atmosfer pengap yang meredam kebisingan dari dunia atas.
Di garis depan, Ye Ling’er berjalan dengan kelenturan seekor kucing liar yang berburu di malam hari. Tangannya sesekali menyentuh dinding batu yang kasar, merasakan riak getaran spiritual yang merambat dari atas. Di jari telunjuk kirinya, seuntai cincin giok mengeluarkan pendar cahaya kebiruan yang sangat tipis, hanya cukup untuk menerangi dua langkah di depan mereka tanpa memicu alarm formasi pelacak milik pengawal kota.
Yan Xinghe berjalan tepat di belakang gadis penenun informasi tersebut. Langkah kakinya terasa berat, setiap kali telapak kakinya menapak tanah lumpur, otot betisnya menegang keras untuk menahan sisa beban gravitasi dari *Pedang Berat Tanpa Bilah* di punggungnya. Lima ribu kati logam dewa itu kini terasa seperti sebuah batu kilangan raksasa yang mencoba meremukkan tulang rusuknya yang baru saja retak akibat hantaman Tetua Xuan Kong di stadion.
Darah kering yang menempel di sudut bibirnya belum sempat ia basuh. Di dalam Dantiannya, tiga dari sembilan meridian petir yang baru saja ia rajut menggunakan esensi *Bara Api Gagak Emas* kini berada dalam kondisi bergejolak hebat. Serangan dari praktisi Alam Melangkah Langit telah meninggalkan seutas energi asing bercorak putih keperakan yang terus mencoba menggerogoti dinding lautan energinya.
Xinghe memejamkan mata sambil terus berjalan, memusatkan fokus spiritualnya secara internal. Ia mengaktifkan putaran kelima dari *Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan*. Siksaan rasa sakit yang merobek sumsum tulangnya justru ia gunakan sebagai palu untuk menghancurkan energi asing milik Tetua Xuan Kong, meleburnya menjadi partikel nutrisi mentah untuk memperkuat kembali kepadatan jaringan ototnya sendiri.
"Fisik fana ini benar-benar membatasi kapasitas jiwaku," batin Xinghe, menekan gejolak manis di tenggorokannya agar tidak memuntahkan darah lagi. Jika ia memiliki setidaknya tubuh di Alam Pemadatan Inti Mistik, telapak tangan Xuan Kong tadi bahkan tidak akan mampu menggores jubah sutranya. Kenyataan bahwa ia terpaksa melarikan diri menggunakan formasi darurat adalah sebuah pengingat yang brutal bahwa ia harus secepat mungkin melangkah keluar dari ranah Penyempurnaan Tubuh.
Di belakang Xinghe, Yan Qingshan berjalan sambil memanggul dua buntelan kain besar berisi sisa persediaan makanan dan obat herbal. Lengan kirinya mendekap erat pundak Shen Yulan yang berjalan dengan napas terengah-engah, sementara Yan Xiaoxiao menggenggam ujung pakaian kakaknya dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Lorong bawah tanah yang sunyi dan menyeramkan ini memicu trauma lama mereka tentang penindasan di desa.
"Kita sudah berjalan sejauh dua mil," suara Ye Ling’er memecah keheningan, berbisik dengan nada yang sangat rendah. "Jalur tikus bawah tanah ini dibangun oleh sekelompok penjarah makam ratusan tahun lalu, melintasi tepat di bawah fondasi tembok granit selatan kota. Di depan sana adalah titik persimpangan utama tempat pipa pembuangan limbah kota bertemu dengan aliran sungai bawah tanah."
Langkah mereka terhenti di sebuah ruangan berbentuk kubah bundar yang luas. Di tengah ruangan, air hitam berbau belerang mengalir deras menuju sebuah celah besi jeruji raksasa yang membatasi dunia bawah tanah dengan wilayah luar kota.
Ye Ling’er menghentikan pergerakannya, matanya menatap tajam ke arah bayangan gelap di balik pilar batu penopang kubah.
"Keluar dari sana, Tikus-tikus Keluarga Mu. Penciuman kalian benar-benar lebih tajam daripada anjing pemburu," desis Ye Ling’er, tangannya bergerak ke pinggang meraih belati tipis berbentuk daun bambu.
Suara tawa serak yang dipenuhi kebencian menggema dari balik kegelapan pilar batu.
Lima sosok manusia melangkah keluar secara perlahan. Mereka tidak mengenakan zirah rapi pengawal kota, melainkan jubah hitam dengan sulaman benang merah berbentuk taring serigala di kerah baju—para pembunuh bayaran tingkat tinggi dari *Faksi Taring Darah*, organisasi pembunuh bayaran rahasia yang selama ini dibiayai oleh Keluarga Mu untuk membersihkan musuh politik mereka di distrik bawah tanah.
Pemimpin mereka adalah seorang pria paruh baya kurus kering dengan sepasang mata yang cekung ke dalam, memancarkan aura dingin dari praktisi **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Ketiga**. Di tangannya, sepasang belati beracun berwarna hijau tua mengeluarkan asap tipis yang merusak udara pengap di sekelilingnya.
"Ye Ling’er, kau mengkhianati aturan netralitas informan demi melindungi sekelompok buronan Tanah Suci," pria kurus itu menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang hitam. "Keluarga Mu mungkin telah kehilangan Tuan Muda Yunfei dan Kepala Keluarga Canghai, tetapi sisa-sisa tetua kami telah menawarkan hadiah sepuluh ribu batu spiritual tingkat tinggi untuk kepala pemuda berjubah hitam itu. Menyerahlah, dan aku mungkin akan membiarkan mayatmu tetap utuh."
Empat pembunuh di belakangnya segera menyebar, memegang rantai besi berduri yang dialiri energi spiritual korosif, menutup seluruh akses rute pelarian menuju jeruji besi pembuangan.
Qingshan meletakkan buntelan kainnya ke tanah dengan perlahan. Ia melangkah maju dua langkah, berdiri tepat di samping adiknya. *Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi* di dalam tubuhnya berputar ke tingkat maksimal. Esensi elemen tanah yang merembes dari dinding-dinding gua bawah tanah tersedot masuk ke dalam pori-porinya, membuat otot-otot dadanya yang tebal memancarkan rona kecokelatan yang solid seperti batu karang.
"Xinghe, tubuhmu terluka parah setelah pertempuran di stadion. Biarkan kakak yang membereskan anjing-anjing kurus ini," ucap Qingshan, suaranya berat penuh dengan ketegasan yang baru lahir. Ia tidak lagi memiliki ketakutan seorang penebang kayu; pembantaian di gang selatan beberapa hari lalu telah menanamkan insting bela diri yang kokoh di dalam jiwanya.
Xinghe melirik wajah kakaknya, merasakan kestabilan energi elemen tanah yang mengalir di nadi Qingshan. Kenaikan tingkat menuju Tingkat Ketiga Penyempurnaan Tubuh telah memberikan kakaknya fondasi pertahanan yang cukup kuat untuk menahan serangan fisik praktisi di atasnya.
"Gunakan pukulan berputar saat mereka mengayunkan rantai. Jangan menahan energi mereka di dada, alirkan dampak benturannya menembus lantai tanah di bawah kakimu," instruksi Xinghe pelan, memberikan panduan taktik yang berharga dari sudut pandangnya.
"Bocah pemotong kayu berani menyombongkan diri di hadapan Faksi Taring Darah?!" raung salah satu pembunuh dari sayap kiri. Ia menghentakkan kakinya, melompat maju sambil mengayunkan rantai besi berdurinya secara horizontal menyasar leher Qingshan. Rantai itu berdesing tajam, membawa energi spiritual abu-abu yang sanggup memotong pilar batu.
Qingshan tidak mundur satu inci pun. Sesuai instruksi adiknya, ia mengambil kuda-kuda kokoh dengan kedua kaki melebar mencengkeram tanah lumpur. Saat rantai besi itu menghantam lengan kirinya yang dilapisi ziarah otot elemen tanah, suara benturan logam dan batu bergema keras.
*BANG!*
Rasa sakit yang membakar sempat merayapi lengannya, tetapi Qingshan menggertakkan gigi, menarik napas dalam-dalam sesuai ritme *Pernapasan Harimau*. Gelombang energi benturan tersebut ia salurkan turun melewati tulang belakang, paha, hingga meledak keluar menghancurkan lantai tanah di bawah kakinya menjadi lubang sedalam satu jengkal. Tubuh besarnya tetap tegak lurus bagai monumen batu yang tak tergoyahkan.
"Sekarang!" Xinghe bersuara dari belakang.
Memanfaatkan keterkejutan pembunuh yang rantainya tertahan, Qingshan melangkah maju satu langkah besar. Tangan kanannya mengepal rapat, menarik seluruh esensi elemen tanah dari sekeliling ruangan ke dalam buku jarinya. Ia melepaskan pukulan lurus *Tinju Harimau Meruntuhkan Bumi* tepat menuju dada sang penyerang.
*BUMMM!*
Pukulan kasar tanpa hiasan visual itu membawa bobot ribuan kati tenaga fisik murni yang dipadukan dengan kepadatan elemen tanah. Zirah hitam pembunuh itu hancur berkeping-keping seketika. Seluruh tulang dadanya amblas ke dalam, meremukkan jantung dan paru-parunya dalam satu hantaman mutlak. Pria itu terlempar sejauh sepuluh meter, menghantam dinding gua hingga rontok sebelum akhirnya jatuh tak bernyawa ke dalam aliran air limbah hitam.
Satu pembunuh mati di tangan seorang praktisi Penyempurnaan Tubuh Tingkat Ketiga.
Pria kurus pemimpin pembunuh membelalakkan matanya, rasa terkejut menghapus sisa keangkuhannya. "Seni bela diri pertahanan fisik yang begitu padat?! Sialan, bantai mereka bersama-sama! Jangan beri mereka ruang untuk mengalirkan energi!"
Tiga pembunuh yang tersisa, bersama dengan pemimpin Alam Meridian tersebut, melesat maju secara serempak dari empat arah yang berbeda. Belati hijau beracun milik sang pemimpin meluncur dengan lintasan meliuk seperti ular berbisa, mengincar tenggorokan Xinghe, sementara tiga rantai besi lainnya mengurung pergerakan Qingshan dan Ye Ling’er.
Ye Ling’er bergerak lincah, belati bambunya memotong rantai besi musuh dengan percikan bunga api yang benderang, namun perbedaan tingkat kekuatan membuatnya terdesak mundur menempel pada pilar batu.
Xinghe yang sedari tadi berdiri diam akhirnya menggerakkan tangan kanannya. Ia tidak mencabut kain kanvas pembungkus senjata di punggungnya secara penuh; ia hanya memegang gagang pedang berat *Meteorit Bintang Kegelapan* menggunakan telapak tangannya yang masih berdarah.
Meskipun tiga meridiannya mengalami keretakan, Tubuh Fana Tanpa Cacat miliknya sanggup meledakkan tenaga fisik murni yang berada di dimensi yang sepenuhnya berbeda dari praktisi lokal.
"Menggunakan bisa ular untuk menyerang mantan pemilik Niat Pedang absolut adalah bentuk kebodohan yang paling murni," gumam Xinghe sedingin es abadi.
Ia tidak mengelak dari tusukan belati beracun sang pemimpin. Saat ujung belati hijau itu hanya berjarak setengah sentimeter dari jakunnya, Xinghe memutar bahu kanannya ke depan, mengayunkan balok logam berat di punggungnya—yang masih terbungkus kanvas—dalam satu tebasan vertikal yang pendek namun membawa daya tekan gravitasi absolut sebesar lima ribu kati.
*DUAAAR!*
Tekanan udara di depan pedang berat Xinghe seketika memadat membentuk dinding transparan yang menghantam telak wajah dan lengan pria kurus tersebut sebelum belatinya sempat mendarat. Sepasang belati spiritual tingkat menengah itu hancur menjadi serbuk besi halus, dan seluruh tulang lengan hingga bahu kanan sang pemimpin pembunuh remuk berantakan dalam sekejap.
Pria kurus itu memuntahkan darah segar bercampur potongan gigi, tubuhnya tersungkur keras ke lantai lumpur, matanya dipenuhi kengerian yang tak terbatas. "K-Kekuatan fisik macam apa ini?! Kau... kau bahkan tidak membuka meridianmu!"
Xinghe tidak memberikan jawaban verbal. Ia mengangkat kaki kanannya, lalu menginjak dada pria kurus itu dengan kejam. Energi petir ungu sisa dari Dantiannya disalurkan melalui sol sepatunya, membakar habis sisa meridian jantung sang pemimpin pembunuh hingga menjadi arang dalam hitungan milidetik. Pria itu mengejang pelan sebelum akhirnya tewas mengenaskan di lantai gua yang kotor.
Melihat pemimpin mereka yang berada di Alam Meridian tewas hanya dalam satu ketukan tekanan udara, tiga pembunuh yang tersisa kehilangan seluruh keberanian mereka. Mereka melempar rantai besi mereka ke tanah, berbalik arah dan berlari kencang menuju kegelapan lorong atas, meratapi nasib buruk mereka malam ini.
Xinghe tidak mengejar mereka; membunuh pion-pion penakut seperti itu hanya akan membuang sisa energinya yang berharga. Ia menarik napas panjang, menstabilkan kembali denyut nadinya yang sempat memanas.
"Kerja bagus, Kakak," puji Xinghe pelan pada Qingshan yang sedang menghapus cipratan darah di wajahnya. "Kau telah menguasai esensi dari *Pernapasan Harimau*. Di masa depan, bahkan praktisi Alam Meridian Tingkat Menengah tidak akan mudah menembus pertahanan fisikmu."
Qingshan tersenyum bangga, merasakan kekuatan baru yang mengalir di nadinya.
Ye Ling’er berjalan mendekati jeruji besi raksasa pembuangan limbah kota. Menggunakan belati bambunya yang dialiri energi spiritual biru, ia memotong tiga batang besi setebal lengan anak-anak dalam beberapa sayatan presisi, menciptakan lubang yang cukup besar untuk dilewati manusia.
"Jalur air ini mengalir langsung menuju Ngarai Kematian di luar tembok selatan kota," ujar Ye Ling’er sambil menyeka peluh di dahinya. "Setelah kita keluar dari sini, kita akan berada di wilayah Tanah Tak Bertuan yang membatasi wilayah selatan dengan perbatasan *Kekaisaran Naga Langit*. Di sana tidak ada lagi pengejaran resmi dari pengawal kota, tetapi bahaya sesungguhnya baru saja dimulai."
Rombongan kecil itu menerobos lubang jeruji besi, melompat turun ke arah aliran sungai dangkal di luar tembok kota. Dinginnya angin malam di alam liar menyambut permukaan kulit mereka, mengusir aroma pengap gua bawah tanah.
Xinghe menoleh sejenak menatap kemegahan tembok granit Kota Awan Mengambang yang menjulang tinggi di balik kabut malam. Lampu-lampu kristal pertahanan di atas tembok masih berkedip liar, menandakan pasukan zirah putih Tanah Suci masih sibuk menggeledah setiap sudut distrik sipil untuk mencarinya.
"Kota Awan Mengambang..." Xinghe menggumamkan nama tempat itu untuk terakhir kalinya, tidak ada sedikit pun penyesalan atau kerinduan di matanya. Tempat ini hanyalah sebuah stasiun kecil dalam perjalanan panjangnya kembali menuju langit tertinggi.
Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah timur laut, tempat di mana kegelapan cakrawala menyembunyikan pegunungan hitam yang berbatasan dengan Kekaisaran Naga Langit. Langkah kakinya yang membawa beban lima ribu kati kembali menapak mantap di atas tanah berbatu, memimpin keluarganya menembus badai malam menuju medan perang yang sesungguhnya.
Tiga hari tiga malam perjalanan dihabiskan rombongan keluarga Yan melintasi wilayah dataran tinggi gersang yang memisahkan otoritas selatan dengan wilayah kekaisaran militer. Vegetasi hijau telah sepenuhnya menghilang, digantikan oleh hamparan batu kapur merah dan ngarai-ngarai curam yang udaranya selalu sarat dengan bau karat besi dan ozon yang gelisah.
Di wilayah Tanah Tak Bertuan ini, hukum moral manusia fana tidak lagi memiliki makna sekecil debu. Sesekali, mereka berpapasan dengan mayat-mayat kultivator pengelana yang membusuk di pinggir jalan dengan pakaian yang telah dijarah habis, menjadi makanan bagi sekawanan Burung Nasar Bersisik Hitam yang beterbangan rendah di angkasa.
Selama perjalanan yang melelahkan tersebut, Xinghe terus mendisiplinkan tubuhnya. Setiap kali matahari terbit hingga tenggelam, ia menolak menggunakan setitik pun energi spiritual untuk meringankan berat pedangnya. Siksaan fisik murni dari beban lima ribu kati itu memaksa serat-serat otot di pundak dan punggungnya untuk terus hancur, beregenerasi, dan memadat di tingkat seluler. Kepadatan *Tubuh Fana Tanpa Cacat* miliknya kini telah mencapai titik di mana senjata tajam tingkat fana akan tumpul jika mencoba menggores kulitnya.
Pada sore hari ke-empat, rute perjalanan mereka yang mendaki lereng berbatu terhenti di depan sebuah celah ngarai raksasa yang diapit oleh dua tebing batu hitam tegak lurus setinggi ratusan meter. Di atas gerbang ngarai tersebut, sebuah jembatan batu runtuh sebagian memisahkan dua sisi tebing.
Sebuah gerbang benteng kayu kuno yang sebagian besarnya telah hangus terbakar berdiri kokoh memblokir satu-satunya jalur lintasan sempit. Di atas menara pengawas benteng tersebut, sebuah bendera usang berwarna merah darah dengan lukisan tengkorak manusia berkibar tertiup angin kencang.
Ini adalah *Gerbang Air Mata Darah*, titik perbatasan paling selatan yang membatasi wilayah liar dengan zona militer luar milik *Kekaisaran Naga Langit*. Tempat ini terkenal sebagai sarang penyamun, pembelot militer, dan praktisi buronan yang mengumpulkan uang tol dari siapa pun yang ingin memasuki wilayah kekaisaran.
"Suasana di gerbang hari ini sangat tidak wajar," Ye Ling’er menahan langkahnya di balik bongkahan batu besar, matanya yang cerah memindai tata letak menara pengawas. "Normalnya, Gerbang Air Mata Darah dikuasai oleh *Kelompok Bandit Tujuh Serigala*. Hari ini, bendera di atas menara itu milik *Faksi Gagak Besi*—salah satu pasukan tentara bayaran elit yang biasanya bekerja untuk faksi militer Kekaisaran wilayah dalam."
Xinghe menyipitkan mata, indra spiritualnya yang tajam menangkap fluktuasi energi yang sangat pekat dan disiplin dari balik tembok kayu benteng. Setidaknya ada lima puluh praktisi bersenjata lengkap yang bersiaga di titik-titik panah, dan aura pemimpin mereka berada di **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Kelima**.
"Mereka tidak sedang mengumpulkan uang tol biasa," ucap Xinghe tenang, tangannya meraba gagang pedang berat di punggungnya. "Aura mereka terkunci rapat ke arah rute kedatangan kita dari selatan. Tampaknya, jaringan informasi Tanah Suci telah mengirimkan plakat buronanku hingga ke pos perbatasan ini sebelum kita tiba."
Gongsun Zhi memanfaatkan otoritas faksi raksasanya untuk membeli kesetiaan para tentara bayaran di perbatasan, memasang jaring laba-laba maut untuk menyambut kedatangan sang Kaisar Pedang.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Xinghe?" Shen Yulan menggenggam erat tangan Xiaoxiao, kecemasan kembali membayangi wajah keibuannya. "Jika kita memutar arah, kita akan terjebak di padang gersang tanpa persediaan air."
Xinghe perlahan melangkah keluar dari balik batu persembunyian. Jubah sutra hitamnya berkibar ditiup angin ngarai yang membawa debu merah. Wajah pucatnya tidak memancarkan ketakutan sedikit pun, melainkan seutas kedinginan tirani yang sanggup membekukan aliran darah musuh dari kejauhan.
"Tidak ada rute memutar dalam kamus hidupku, Ibu," suara Xinghe mengalun datar, menggetarkan kerikil di sekitar kakinya. "Tembok kayu dan sekumpulan tentara bayaran rendahan... tidak memiliki kualifikasi untuk menahan langkah kaki seorang penakluk. Kakak, jaga Ibu dan Xiaoxiao di sini. Aku akan membuka gerbang ini menggunakan cara yang paling mereka pahami."
Tangan kanan Xinghe mencengkeram kuat gagang *Pedang Berat Tanpa Bilah*. Langkah kakinya yang panjang dan ritmis mulai membelah jalan setapak menuju Gerbang Air Mata Darah. Setiap kali sol sepatunya menggilas batuan kapur merah, sebuah dengungan energi guntur yang teredam mulai beresonansi dari punggungnya, bersiap untuk meledakkan badai kehancuran pertama di bawah langit Kekaisaran Naga Langit. Roda takdir kosmik kembali berputar cepat, menyongsong datangnya Sang Penakluk yang menolak tunduk pada batasan dunia fana.