NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Normalitas Baru

Beberapa menit kemudian, dari arah jalur rel kereta di selatan, terdengar suara gemerincing kaleng berantakan yang sangat keras, diikuti teriakan "HEY! LIHAT SINI!" yang sengaja dibesar-besarkan oleh Anton.

Dan seperti yang mereka harapkan-dan takuti-mereka melihat beberapa siluet dengan titik biru bergerak cepat, meninggalkan atap-atap di sepanjang jalan utama, melesat ke arah sumber suara itu.

Itu adalah kesempatan mereka.

"LARI! SEKARANG!" Jimin memberi perintah.

Dengan tenaga terakhir, mereka menerjang keluar dari persembunyian, menyeberangi jalan terbuka, menuju pagar pembatas yang terlihat begitu dekat namun masih begitu jauh. Napas mereka berdesing, kaki yang lelah dipacu melampaui batas. Ningning di atas papan menggigil. Sungchan mengerang kesakitan tapi terus dipapah.

Dari kejauhan, mereka mendengar suara keributan yang semakin menjadi-teriakan, benturan, dan lengkingan Klepek-Klepek. Anton dan Eunseok sedang memainkan peran mereka.

Mereka tidak boleh menoleh. Mereka hanya bisa berlari.

Gerbang Balai Kota semakin besar di depan mata. Mereka bisa melihat tentara dengan senjata di belakang pagar kawat berduri, melihat ke arah mereka dengan waspada.

Hanya tinggal seratus meter.

Lima puluh meter.

Lalu, dari arah jalur kereta, terdengar satu tembakan senjata api. Satu saja. Lalu... sunyi.

Sunyi yang mengerikan.

Rasa sakit yang menusuk hati mereka, tapi kaki tidak boleh berhenti. Air mata mengalir di pipi Mark dan Yeri, di wajah Jeno dan Hina, tapi mereka terus berlari.

Dua puluh meter.

Sepuluh meter.

"BUKA PINTU! KITA SISWA! BUKA!" teriak Jimin sekuat tenaga pada tentara di belakang pagar.

Sebuah pintu gerbang kecil yang terbuat dari kawat berduri dibuka. Seorang tentara melambaikan tangan mereka masuk dengan cepat.

Satu per satu, mereka menyembur masuk ke dalam area berpagar, terjatuh, tergeletak, terengah-engah di tanah yang aman-atau setidaknya, yang terlihat aman.

Mereka selamat.

Tapi ketika Jaemin menoleh ke belakang, memandangi jalanan kosong dan jalur kereta yang sunyi di kejauhan, hatinya hancur berkeping-keping. Mereka telah mencapai tujuan. Tapi berapa banyak lagi yang harus mereka tinggalkan di belakang? Anton dan Eunseok... apakah suara tembakan tadi adalah akhir bagi salah satu dari mereka? Atau keduanya?

Di dalam area aman Balai Kota, di antara tenda-tenda darurat dan wajah-wajah asing yang penuh trauma yang sama, dua puluh satu siswa SMA Nambu itu hanyalah sekelompok anak-anak yang terluka, yang telah kehilangan terlalu banyak, dan yang harus menemukan cara untuk hidup dengan bayangan-bayangan yang mereka tinggalkan di jalanan berdarah kota Seoul. Perjalanan mereka untuk sekadar bertahan hidup mungkin baru saja memasuki babak yang sama sekali berbeda.

Setelah proses sterilisasi yang melelahkan-mandi dengan air dingin terbatas, luka-luka mereka dibersihkan dan diobati dengan benar oleh paramedis, serta diberi pakaian bersih (seragam olahraga abu-abu yang sederhana)-mereka akhirnya dibawa ke sebuah ruangan besar yang berfungsi sebagai kantin darurat. Ruangan itu penuh dengan suara rendah percakapan, tangisan bayi, dan denting piring. Bau disinfektan masih kuat, tapi bau makanan kaleng hangat memberikan sedikit kenyamanan.

Mereka berkumpul di dua meja panjang yang berdekatan, secara alami terbagi.

DI MEJA 1:

Jaemin duduk di ujung, tangannya masih dibalut perban putih bersih. Di depannya ada Minjeong. Di seberangnya ada Mark dan Yeri. Di samping mereka ada Chenle yang duduk sangat dekat dengan Ningning-yang masih terlihat pucat dan lemah, tetapi sudah bisa duduk dengan bantuan bantal. Renjun, Jeno, Haechan, Giselle, dan Jimin (Karina) mengisi kursi lainnya.

DI MEJA 2:

Sungchan dengan kaki yang dibalut, Eunseok dengan lengan di gendong, Sohee, Yuha, Ian, Carmen, Yeon, A-na, Sunkyung yang masih tampak kosong, Koeun, Jisung, dan... Anton. Anton duduk dengan kepala tertunduk, tidak menyentuh makanannya.

Suasana di meja mereka muram, kontras dengan beberapa kelompok lain yang terlihat lega.

"Ning, lo udah bisa makan yang agak keras?" tanya Chenle, memandangi nampan berisi bubur dan roti di depan Ningning.

Ningning mengangguk pelan. "Sedikit. Tapi... gue masih gak percaya kita di sini." Matanya berkaca-kaca.

Haechan menatap bubur di depannya. "Gue masih gak percaya kita pernah ribut soal siapa yang dapet chiki terakhir di ruang linen."

Hechan menggeleng. "Kayak... dunianya beda banget."

"Iya, tuh. Sekarang kita punya bubur enak dari kemah pemerintah," Renjun menimpali sambil menyendok buburnya. "Tapi... gue lebih milih chiki waktu itu." Sedikit senyum muncul di wajahnya, pertama kali sejak lama.

Chenle dengan hati-hati menyuapi Ningning sedikit bubur. "Ning, inget gak waktu kita berantem soal contekan PR matematika? Sampe buku lo sobek?"

Ningning yang masih lemah, tersenyum tipis. "Inget. Dan akhirnya nilai kita sama-sama jelek karena gak ada yang nyontek beneran."

"Waktu itu kayaknya masalah besar banget ya," Yeri ikut tersenyum, memegang tangan Mark. "Sekarang... masalah besar kita beda jauh."

"Masalah besar kita sekarang bentuknya item, terbang, dan punya banyak mata biru," Jeno mencoba bercanda, tapi suaranya datar. Semua di meja itu diam sejenak, memproses candaan yang terlalu dekat dengan kenyataan.

"Klepek-Klepek," Giselle tiba-tiba menyebutkan nama itu. "Masih kepikiran gak, kita gak pernah sepakat soal nama yang bener."

"Ya udah, dari sekarang resminya Klepek-Klepek," Jimin berkata dengan nada akhir. "Soalnya emang bunyinya gitu. Dan... dan itu bikin mereka kesannya kurang serem, dikit."

"Buat mengingat Shotaro," Minjeong menambahkan pelan.

Mereka semua mengangguk, senyum getir menghiasi wajah. Mengenang teman dengan hal kecil seperti itu terasa lebih mudah daripada memikirkan akhirnya.

"Kalau Jiwoo," Stella dari meja 2 ikut nimbrung, matanya berkaca-kaca tapi dia tersenyum. "Dia pasti bakal protes dandan kita sekarang. Seragam abu-abu ini? Fashion disaster banget menurut dia."

"Dia pasti udah ngomel-ngomel dari surga," Yuha menambahkan, coba tertawa kecil.

"Wonbin..." Chenle mulai, lalu berhenti. Suasana sedikit meredup.

Jaemin mengambil alih. "Wonbin yang pendiam itu... paling berisik justru di akhir." Dia memandang Ningning. "Dia ngejaga lo sampe akhir, Ning."

Ningning mengangguk, air mata menggenang. "Gue... gue bakal jawab ajakannya makan siang itu. Di lain waktu." Semua mengerti maksudnya. Itu adalah janji untuk hidup, untuk masa depan yang entah ada atau tidak.

DI MEJA 2:

Sungchan sedang mengatur posisi kaki yang dibalutnya. "Gue masih penasaran sama strategi mereka. Mereka kerjanya berkelompok kayak semut atau serigala."

"Lebih kayak kelelawar predator," Eunseok yang duduk di sampingnya, ikut nimbrung. Luka lengannya masih sakit, tapi dia sudah bisa berpikir jernih. "Tapi punya kecerdasan koordinasi yang tinggi. Waktu ngepung kita di taman, mereka kayak bagi-bagi sektor."

"Jadi kita lawan predator cerdas yang sensitif sama ketakutan kita sendiri," Hina meringkas, menyentuh jidatnya. "Luar biasa beratnya."

"Tapi kita berhasil ngibulin mereka kan? Waktu di gang, pake alarm," Anton berkata, sedikit bangga. "Artinya mereka bisa ditipu."

"Ningning yang lagi demam itu kayak umpan terang buat mereka," Sohee menambahkan, naluri medisnya muncul. "Jadi selain ketakutan, kondisi fisik kita bener-bener pengaruh."

"Berarti kita musti jaga kesehatan sebisa mungkin di sini," A-na langsung mengambil kesimpulan praktis. "Makan yang bener, istirahat. Itu senjata juga."

"Gue setuju," Carmen mengangguk. "Kita udah berantem sama monster, jangan sampe kalah sama flu atau infeksi."

Yeon yang dari tadi diam, tiba-tiba berkata, "Kalau... kalau di sini aman, kita bakal dikemanain ya? Kembali ke keluarga? Kalo keluarganya udah..." Dia tidak menyelesaikan.

Pertanyaan itu menggantung. Jisung menghela napas. "Gue cuma mau tidur dulu yang nyenyak. Besok... besok pikirin lagi."

Percakapan mereka terus berlanjut, berganti topik. Dari menebak-nebak apa makanan favorit Klepek-Klepek (jawaban absurd dari Haechan: "es krim stroberi, soalnya dingin dan bikin senyum") hingga mengenang momen konyol di kelas, seperti waktu Mark ketiduran saat upacara bendera dan nyaris jatuh, atau ketika Renjun gambarnya disita karena menggambar karikatur guru.

Tawa kecil mulai terdengar, meski pendek dan terasa asing di telinga mereka sendiri. Air mata masih mudah mengalir, tapi setidaknya, di antara dua meja itu, ada sebuah ruang untuk bernapas. Mereka tidak membahas masa depan yang suram. Mereka hanya bertahan di saat ini, dengan obrolan ringan tentang masa lalu yang tiba-tiba terasa sangat indah dan sederhana.

Mereka adalah sekelompok remaja yang sedang belajar untuk hidup di sela-sela kematian, dan obrolan ringan tentang Klepek-Klepek, teman-teman yang hilang, dan kenangan kelas adalah langkah pertama mereka menuju normalitas baru-apa pun bentuknya nanti.

...

Suasana di fasilitas karantina itu tidak pernah benar-benar sunyi. Dengungan generator, langkah tentara yang berjaga, dan suara-suara rendah para pengungsi lainnya menciptakan latar belakang yang konstan. Setelah makan, sebagian besar dari mereka memilih untuk langsung tidur di barak darurat yang disediakan, kelelahan fisik dan mental akhirnya menang.

Tapi Jaemin dan Minjeong tidak bisa tidur. Mereka menemukan sudut yang relatif sepi di sebuah lorong yang menghubungkan beberapa tenda, duduk bersandar pada dinding beton yang dingin, diawasi dari kejauhan oleh seorang tentara yang berdiri kaku dengan senjata.

Untuk beberapa saat, mereka hanya diam, menikmati-atau sekadar menahan-keheningan yang tidak diisi oleh jeritan atau kepakan sayap.

"Tadi... di taman rumah sakit," Minjeong mulai, suaranya rendah, tidak menatap Jaemin. "Gue liat lo peluk Jimin. Pas kita ketemu."

Jaemin menoleh padanya, sedikit terkejut. "Oh. Iya. Itu... refleks aja sih. Lega banget liat dia-liat kalian semua-masih hidup."

"Refleks?," ulang Minjeong, akhirnya menatapnya. Ekspresinya netral, tapi ada sesuatu di matanya. "Tapi lo gak... lo gak peluk gue."

Jaemin menghela napas, memandangi sepatu barunya yang sederhana. "Min, keadaan kayak gini... Lo tau sendiri. Emosi kita lagi di ujung tanduk. Gue gak mau... gak mau bikin situasi jadi lebih ruwet." Dia jeda, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"di tengah situasi yang horor ini, perasaan kayak gitu... itu bisa jadi penyelamat, tapi juga bisa jadi racun. Bisa bikin keputusan jadi gak jernih."

Minjeong mendengus pelan. "Jadi lo peluk Jimin karena dia gak bikin situasi 'ruwet'?"

"Bukan gitu juga," Jaemin mencoba menjelaskan, sedikit frustrasi.

"Jimin... dia simbol ketahanan buat kita semua. Peluk dia kayak... nge-cek anker. Meyakinkan diri kalo kita masih punya pemimpin, masih punya harapan. Tapi sama lo..." Dia berhenti.

"Sama lo, Minjeong, itu beda. Itu personal. Dan gue gak mau itu jadi beban buat lo atau buat siapapun, terutama sekarang. Kita butuh fokus bertahan, bukan fokus ngurusin perasaan yang... yang bisa nunggu."

"Bisa nunggu sampe kapan?" tanya Minjeong, suaranya hampir berbisik. "Sampe kita aman? Apa ada yang namanya aman lagi? Atau sampe salah satu dari kita kayak... kayak Wonbin atau Shotaro?"

Nama-nama itu membuat mereka berdua merinding. Jaemin menarik napas dalam. "Jangan ngomong gitu. Kita sampe sini. Kita di tempat yang dijaga tentara. Ini peluang kita buat... bernapas. Buat mikir langkah selanjutnya." Dia menatap Minjeong.

"Perasaan gue... itu bener. Dari dulu. Tapi gue gak mau itu jadi alasan lo bikin keputusan yang terburu-buru, atau malah ngerusak dinamika kita yang udah susah payah bertahan."

Minjeong menunduk, memainkan ujung seragamnya. "Sungchan... dia emang baik. Tapi lo juga tau, perasaan itu... gak bisa dipaksa. Dan di tengah semua ini, yang gue rasain... itu campur aduk. Takut. Khawatir sama lo, sama dia, sama semua. Dan... kangen sama normalitas dimana gue bisa bercanda lo atau gue marahin lo karena nyontek."

Jaemin akhirnya tersenyum kecil, senyuman pertama yang tulus sejak lama. "Gue gak pernah nyontek, gue pinjem jawaban dengan sopan."

"Bodo," Minjeong balas, sudut bibirnya juga naik sedikit. "Intinya... gue ngerti maksud lo. Dan mungkin lo bener. Sekarang bukan waktunya buat... ribut soal ini. Tapi gue cuma mau lo tau. Pelukan di taman tadi... gue juga pengen."

Kalimat itu meruntuhkan pertahanan terakhir Jaemin. Tanpa kata-kata lagi, dia membuka lengannya. Bukan dengan gempuran emosional, tapi dengan sebuah gerakan yang pelan, penuh tanya, dan sangat rentan.

Minjeong tidak ragu. Dia melangkah masuk ke dalam pelukan itu, merengkuh tubuh Jaemin dengan erat, wajahnya terkubur di bahu Jaemin yang lebih tinggi. Jaemin menutup lengannya di sekitar tubuh Minjeong, menariknya lebih dekat, menanamkan wajahnya di rambut Minjeong yang masih berbau sabun darurat.

...

...

Mereka berpelukan. Bukan pelukan histeris penuh gairah, tapi pelukan yang dalam, penuh kelegaan, dan menghibur. Sebuah pengakuan tanpa kata bahwa di tengah semua kehancuran ini, ada sesuatu yang nyata dan hangat antara mereka. Mereka merasakan detak jantung satu sama lain, berdegup kencang namun mulai menemukan irama yang sama.

Beberapa saat lama mereka tetap seperti itu, mengabaikan tatapan tentara di kejauhan, mengabaikan dunia yang hancur di luar dinding beton. Hanya ada mereka, kehangatan, dan janji diam-diam untuk saling melindungi, apa pun yang terjadi.

....

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!