NovelToon NovelToon
Ketika Sinta Memilih Rahwana

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Perjodohan
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.

Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 8

Namun, pikiran itu sirna hanya karena satu panggilan yang masuk dari teman barunya itu. Semua kebingungan tentang sikap Sinta lenyap seketika saat nama Risa muncul.

"Iya, Ris. Ada apa?"

"Kak Rama di mana?" Suara manja dari Risa terdengar.

"Aku di ... jalan. Kenapa?"

"Wah, kebetulan. Aku mau ajak kak Rama ke cafe. Gak sibuk kan, kak?"

"Tentu saja tidak," ucap Rama cepat dengan nada yang penuh akan kebahagiaan.

"Bagus, aku tunggu kak Rama datang sekarang."

"Baik. Aku ke sana sekarang."

"Oke- oke-oke." Tawa kecil renyah terdengar di ujungnya.

Ternyata, yang baru selalu lebih indah dari yang lama. Hanya satu panggilan saja sudah mampu membuat yang lama terlupakan. Namun, Rama lupa, bahwa tak selamanya yang baru akan terasa indah. Karena keindahan itu hanya sesaat saja. Tetap, yang lama akan kembali bersinar nantinya. Sayang, saat itu terjadi, mungkin sudah terlambat untuk direbut kembali.

*

Beberapa hari kemudian, Sinta harus ke butik untuk memilih baju pengantin yang akan ia kenakan buat resepsi pernikahannya dengan Wana. Dia datang bersama Lusi ke tempat tersebut.

"Yang mana yang cocok untuk aku ya?" Sinta berucap sambil memilih beberapa gaun yang ada di depan matanya.

"Ah, mbaknya datang sama teman aja? Nggak datang sama calon suaminya sekalian, mbak?" Pelayan butik malah melontarkan pertanyaan yang sedikit mengusik.

"Memangnya kenapa kalo datang sama teman aja, mbak?" Eh ... malah Lusi yang naik tensi. "Datang sama teman atau sama calon suami, jatuhnya akan sama saja, bukan? Milih juga kok ceritanya."

"Bukan gitu, mbak. Biasanya, pasangan yang mau nikah itukan biasanya datang sama pasangan. Jadi, bisa langsung di sesuaikan dengan pasangannya mana gaun yang lebih cocok untuk di pakai."

Mendengar penjelasan itu, Lusi ingin menjawab lagi. Tapi Sinta dengan cepat menahan tangan temannya agar tidak banyak bicara.

"Ah, gitu ya, mbak. Mm ... calonnya sibuk banget, jadi gak bisa datang. Jadinya, aku harus pilih sendiri deh gaun yang cocok sama aku," ucap Sinta dengan nada lemah lembut seperti biasa.

Sungguh tak terduga. Yang menjawab selanjutnya bukan si pelayan, atau bukan juga Lusi. Melainkan, Risa yang entah bagaimana bisa ada di butik itu juga saat ini.

"Calonnya sibuk atau sengaja gak mau dateng, nona Sinta?"

Sontak, perhatian mereka semua langsung teralihkan ke Raisa yang ada di belakang mereka. Perempuan itu kini sedang tersenyum mengejek. Senyum yang membuat hati kesal Lusi bangkit dua kali lebih besar.

"Kau!"

"Si, tenanglah. Jangan emosi. Biarkan saja dia."

"Gak bisa, Sin. Itu manusia satu benar-benar bikin tensi naik."

"Biarkan. Abaikan saja dia. Jangan dihiraukan."

"Tapi, Sin-- "

"Lusi, biarkan saja. Oke?"

Lusi pun langsung melepas napas berat.

"Heh ... baiklah. Kita abaikan saja."

Namun, si biang masalah tidak akan tinggal diam. Melihat Sinta yang tidak memperdulikan dirinya, Risa malah semakin berulah. Mengucapkan kata-kata yang memancing emosi, merebut apa yang ada di tangan Sinta.

"Nona Sinta. Kamu gak cocok pakai gaun ini. Terlalu sederhana. Kamu kan anak orang kaya, cocoknya pakai gaun yang sangat mewah."

Risa merebut gaun yang ada di tangan Sinta.

"Yang ini, biar aku yang coba."

"Risa! Kamu!" Lusi berucap sambil menggenggam erat tangannya karena terlalu emosi.

"Apa? Mau rebut barang dengan aku? Kamu gak cukup kuat, Lusi."

Risa lalu mengeluarkan kartu dari tasnya.

"Mbak, gesek kartu. Aku bayar langsung sekarang juga."

Risa memamerkan kartu gold yang ia miliki. Tentu saja itu bukan kartu miliknya. Melainkan, kartu milik Rama. Risa sengaja memamerkan barang-barang milik Rama di depan Sinta agar Sinta sadar, kalau Rama lebih mengutamakan dirinya dari pada Sinta.

"Kau!"

Lusi yang sudah tidak tahan lagi akan ulah wanita itu langsung merebut gaun yang ada di tangan Risa. "Kau tidak pantas berebut barang dengan teman ku."

Sungguh, Lusi hanya merebut gaun, tapi Risa malah menjatuhkan dirinya ke lantai. Bahkan, sampai membentur kepalanya sendiri ke sanding meja kecil yang ada di ruangan tersebut.

"Risa!"

Teriakan keras terdengar dari arah luar. Itu Rama yang datang dengan wajah panik. Saat itu, Sinta dan Lusi baru sadar kalau perempuan ini sengaja memancing amarah sejak tadi. Karena dia sudah mengatur pertunjukan untuk Rama lihat.

"Kak Rama. Sakit," ucap Risa dengan raut wajah yang sangat terluka.

Amarah Rama terlihat dengan sangat jelas.

"Sinta! Kamu sangat keterlaluan."

"Keterlaluan apa? Kamu yang tidak punya mata." Kesal Lusi dengan ulah Rama saat ini.

"Kak, bukan salah mereka. Aku yang salah. Aku datang di saat yang tidak tepat."

"Risa. Kita ke rumah sakit sekarang."

Rama pun langsung menggendong Risa dengan penuh kasih. Namun, sebelum beranjak, pria itu sempat menatap Sinta dengan tatapan tajam.

"Kamu sungguh sangat mengecewakan, Sinta. Urusan hari ini, aku akan buat kamu membayarnya nanti."

"Kamu!"

Sinta langsung menahan tangan Lusi.

"Sudahlah. Biarkan saja dia. Dia gak akan bisa dengar penjelasan yang kita berikan. Karena yang ada di matanya, hanya teman barunya saja."

"Tapi, Sin. Aku kesal banget. Sangat-sangat kesal."

"Abaikan saja. Mereka gak waras, tapi kita tidak. Jangan tanggapi orang yang gak waras. Karena kita gak akan menang."

"Ah, ya sudah. Bantu aku pilih lagi. Yang mana yang cocok untuk aku ya."

Lusi pun melepas napas berat. Mereka kembali memilih gaun yang pas untuk Sinta kenakan. Beberapa saat kemudian, gaun yang Sinta inginkan telah mereka dapatkan. Dua sahabat itupun menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan, lalu makan di tempat biasa mereka.

Saat keduanya kembali, hari sudah hampir malam. Keduanya pun berpisah dengan jalan menuju rumah masing-masing.

Sinta melempar tubuhnya ke atas kasur setelah dia sampai di kamar. Rasa lelah telah menghampiri. Beberapa saat berbaring, ponsel Sinta tiba-tiba terdengar berdering. Dengan malas, gadis itu bangun untuk meraih tas yang ada di atas nakas.

"Siapa sih?"

Ketika melihat layar ponsel, nama mama Lusi terlihat jelas di layar tersebut. Sinta langsung menjawab panggilan itu dengan cepat.

"Halo, Tante."

"Sinta. Kamu masih sama Lusi sekarang, Nak?"

"Apa? Nggak kok, Tan. Aku udah nggak sama Lusi lagi. Aku udah di rumah."

"Apa? Bukannya tadi kalian pergi bersama? Ke mana Lusi sekarang, Sinta?"

"Aku pulang, tante. Lusi juga pulang. Aku udah anterin Lusi sampai depan pintu tadi."

"Tapi sekarang, Lusi gak ada di rumah, Sinta. Ponselnya juga gak aktif saat tante hubungi. Tante cemas banget. Anak itu gak pernah begini lho selama ini."

Sinta ikutan kaget karena ucapan mama Lusi. Dia yang awalnya malas-malasan di atas kasur, langsung bangun dengan cepat.

"Tante tenang dulu, biar aku bantu carikan Lusi. Tante tenangnya. Semua akan baik-baik saja."

1
Soraya
msih mbulet thor lanjut
partini
aihhh badan besar tapi gitu ,,yg kau butuhkan tuh seseorang yg bisa bikin hatimu yg panas jadi dingin
wana wana
partini
lah emang kamu yg di pukul semua orang juga tau dah lihat so what ?
aihhh Rama gendeng
aku
wkwkwkwk yg dihajar sopo yg ditanyai sopo 🤣🤣🤣 nyahokk kowe rama 🤣🤣🤣
Anonim
Rama bloon emang ,laki egois g tahu diri .ayo wana dan sinta harus tegas tunjukan sinta kamu itu milik wana sekaranf
Evy
gemes sama Rama ...pingin tak hiiiiih ajah 😅
partini
sejak kapan tunangan lebih berhak dari pada suami,,aihhh Ramayana emang rada"
Patrick Khan
risa sakit jiwa kah🤣🤣🤣🤣
Rani: wuahahahah.... sekarang masih belum. tapi sudah hampir mendekati🤣
total 1 replies
Patrick Khan
rama km ribet bgt sih🤣
Rani: jangan di kata. memang ribet dia
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: sabar yuhu🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Anonim
Si intan ibu yg oon ko bisa pilih kasih begitu,tolol.anak salah ko malah di dukung ,blok
Rani: nama juga anak sayangan dia.
total 1 replies
partini
dulu pas th 90 an ada drama India Rama dan Sinta ini kembali nya nikahnya sama wana jadi penasaran
Rani: wkwkwkw.... iya lho. tahun ini Sintanya malah milih Wana. Iya kan?
total 1 replies
partini
udah unboxing belum sih
Rani: jawabannya, udah pasti belom dong yah. ini Si Wana lho yah. Wana. Lama prosesnys. 🤭
total 1 replies
Dew666
💜
Rani: makasih buanyak😘🫰
total 1 replies
Anonim
Ah g seru si wana masa cowo gitu sih lemah amat ,gugup mulu
Rani: iya, anak angkat aku yang ini kan hidupnya penuh dengan penyisihan. jadi, wajar kalo dia kek gini kan yah
total 1 replies
Soraya
lanjut
Rani: sabara yah....
total 1 replies
Anonim
Ibu yg aneh ko bisa nanya kaya gitu bukan nya senang anak nya yg biasa menyendiri jadi ceria lagi,jangan jangan wana bukan anak kandung nya kah thor?
Rani: ish, nggak kok. anak kandung dia. Hanya saja, dia sejak kecil emang dekat dengan neneknya. Singkatnya, ibunya kek ibu tetanga aku 🤣 punya anak kesayangan gitu dia.
total 1 replies
Patrick Khan
ram ram karepmu wes..😄😄😄
Patrick Khan: sebel muak sm rama🤣🤣🤣
total 2 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Rani: 🫰🫰🫰🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: 👍👍👍👍👍👍🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!