Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Andini
Bagas berdiri. kemejanya lecek dibagian lengan,bekas cengkraman Andini. Bagas mencolokkan flashdisk, tangannya gemetaran. Dilayar proyektor muncul file. REVISI FINAL.
Andini yang duduk diseberang meja tersenyum tipis.File itu hasil lembur dia semalam.Buktinya dia berguna.Buktinya Bagas butuh dia.
" Klien mau lebih warna warm, pak. Less corporate, more human," Bagas mulai persentasi. Suaranya kosong. Dikepalanya bukan warna warm, tapi warna foto pantai dua tahun lalu. Warna topi pantai yang dipakai Raya.
Slide pindah. Foto produk muncul. Tiba tiba saja Bagas membeku.
Foto produk itu latarnya mirip pantai. Pasir. ombak.
" Mas, kamu dimana? kenapa pesan aku tidak dibalas."
" Papa jahat..!"
" Sepuluh tahun Bagas..!"
Suara campur aduk dikepala Bagas, Andini,Raya, Galang anaknya.
" Bagas?" Satria menegur Bagas yang tiba tiba terdiam, satu ruangan melihat kearah Bagas.
Keringat dingin turun dipelipis Bagas. Dia merasa tercekik dan sulit bernafas. Bagas melihat kearah Andini. Andini mengangkat alis, bibirnya gerak tanpa suara." Fokus, mas."
Fokus kemana? ke pekerjaan yang menyelamatkan dia dari rumah? Atau kerumah yang sudah tidak lagi untuknya?
" Maaf, Pak," Bagas akhirnya memegang kepalanya," Saya tiba tiba sangat pusing sekarang, boleh Andini saja yang melanjutkannya sekarang? karena Andini juga ikut andil dari semalam. "
Satu ruangan hening. Satria mengerutkan keningnya, mengoper project keanak buah pas meeting penting itu.Fatal. Itu sama saja sudah lalai dari tanggung jawab.
Andini berdiri pelan, kemenangan kedua hari ini.
" Siap, pak Bagas." Dia berjalan kedepan, sengaja menyenggol bahu Bagas pas lewat. Bisik." Jangan grogi sayang."
Bagas duduk.Remuk didepan orang orang. Dia barusan mengaku tidak mampu. Bukan cuman sebagai karyawan. Tapi juga seorang laki laki.
SD HARAPAN BANGSA 08.10 wib.
Motor matic Raya parkir dibawah pohon Ketapang, Galang dan Gilang bergantian mencium takzim tangan Raya.
" Ma, Galang nggak jadilah tanding kalau mama masih sedih." Galang nego sambil pegang tangan Raya.
Raya jongkok, membenarkan kerah Galang. Senyum dipaksa," Mama sudah tidak sedih,sayang. Mama janji. Tuh, lihat." Raya menunjuk kelangit," Matahari cerah, itu artinya hari ini hari bagus. "
Galang yang sudah berusia sembilan tahun menatap Raya lama, dia tahu itu bohong. Tapi dia juga tahu Mamanya butuh dipercaya sekarang.
" Ya sudah,deh. Tapi nanti Mama harus nonton Galang, ya. Habis itu jemput Gilang, jangan telat kayak Papa." Galang menyodorkan jari kelingkingnya.
Raya juga menyodorkan jari kelingkingnya " Janji."
Bel masuk berbunyi. Anak anak berlari masuk kedalam kelas masing masing, Tinggallah Raya sekarang sendirian dengan motor matic yang mesinnya masih panas.
HP-Nya bergetar. Nomor tidak dikenal, Raya membuka layar HP nya, siapa tahu urusan anak. Tapi sekarang dia terdiam.
Foto selfi diruang meeting, di pojok foto,blur, tali jelas banget punggung Bagas dengan kemaja yang sangat familiar di mata Raya.
" Meeting dengan boyfriand, Sangat menyenangkan, Suamimu sungguh menawan."
Isi pesan dari Andini untuk Raya, Raya menarik nafas kasar, Kenapa pula Andini harus mengirimkan hal hal seperti ini padanya. Apa Andini ingin menunjukkan kepadanya kalau dia sudah berhasil merebut Bagas darinya. Murahan. Raya tahu itu nomor Andini, karena ada foto profilnya.
" Keterlaluan kamu Bagas, kamu sengaja memberikan nomorku pada selingkuhanmu, jahat" Raya sangat kesal sekarang dan mengira Bagas sengaja memperlakukan nya.
Raya tidak membalas pesan dari Andini. karena baginya itu tidak penting sama sekali.
" Aku cantik, Wangi, Seksi dan tidak bau bawang sepertimu. Mas Bagas sudah tidak ada rasa lagi padamu, Lepaskan dia, biarkan dia bebas. Jangan kamu kekang dia seperti Sapi perah untuk mengisi perutmu!" Lagi pesan yang dikirimkan Andini untuk Raya.
kali ini Raya sudah tidak bisa diam lagi. kata kata Andini begitu menusuk, padahal dia sama sekali tidak mengenalnya dan juga tidak ingin kenal.
" Jangan jadikan kecantikanmu untuk merayu lelaki pengecut,, mungkin aku lupa..kalau kalian berdua sama sama pengecut" Balas Raya kesal.
Andini yang berada dikantor merasa sangat senang sekarang, karena dia bisa membuat Raya kesal.
Raya tidak menangis. Dia sudah tidak punya airmata lagi untuk mengurus Bagas dan Andini. Dia menutup HP-NYA pelan, lalu dia melihat ke gerbang sekolah. Anak anak butuh dia waras. Raya menarik nafas. Dalam dalam.
" Sudah ya, Raya. kamu kuat, kamu harus tetap kuat." bisiknya kediri sendiri.
Raya mulai menaikkan standar motor. Dia mau pulang, mau beresin rumah yang masih berantakan.
Beberapa saat kemudian Raya sudah sampai dirumahnya. Rumah yang dulu sangat hangat dan penuh canda tawa, sekarang sepi bagaimana hati yang mati.
Raya menyender di sebelah pintu setelah kunci motor. Tas ditaruh sembarangan. Matanya langsung kemeja makan. Piring Gilang yang isinya masih sisa setengah masih ada disitu, kopi dingin Bagas juga. Dingin. kosong. Dia mengusap bekas lingkaran kopi dimeja pakai jempol.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang ya?" Batinnya.
Raya bisa saja datang ke kantor Bagas untuk Ribut. Nuntut dan memaki Andini sampai dia puas, Buat keributan. Mempermalukan Bagas didepan bosnya.
Atau dia diam dan berpura-pura semuanya baik baik saja. Tetap melakukan rutinitasnya seperti biasa. Memasak untuk anak anaknya. Tersenyum dan tidak mengeluh.
Tangan Raya bergetar hebat. Banyak sekali pikiran pikiran berterbangan dikepalanya. Tiba tiba dia merasa mual. Dia langsung lari kewastafel. Muntah. Tapi tidak ada yang keluar. Cuma rasa asam sama pahit.
Raya mengangkat kepalanya, matanya bertemu cermin di depan wastafel yang sengaja dipasang, untuk anak anaknya gosok gigi. Rambutnya acak acakkan, mata sembab, dan baju daster lusuh yang kini ada dibadannya.
Raya mulai menangis keras, melihat penampilannya sekarang sungguh sangat memalukan. Tidak ada lagi Raya yang cantik, Tidak ada lagi wajah yang mulus, yang ada hanya wajah kusam dan tampak tua.
Bagaimana mungkin dia bisa bersaing dengan wanita kantor yang selalu menjaga penampilannya dan wangi setiap hari. Sementara dirinya, Jangankan untuk memakai parfum, untuk sekedar membasuh muka saja dengan sabun cuci muka kadang dia berfikir, sayang uangnya.
Raya menoleh kefoto pantai, disana mereka semua sangat bahagia. Tidak akan terlihat mereka akan hancur seperti sekarang ini.
Raya menurunkan foto pantai tersebut. Raya duduk dilantai, sandar ke tembok dengan bingkai foto di pangkuannya.
Raya menarik nafas. Dia menarik nafas. Jam menunjukkan pukul 10.30 wib. Itu artinya sudah beberapa jam dia terpuruk disana. Galang selesai tanding jam 11.00, Gilang pulang jam 12.00 wib.
Dia punya waktu satu setengah jam untuk membersihkan diri. Dia berdiri dan membawa foto itu ke kamar. Dibalik dan menghadap tembok. Raya mulai berjalan ke kamar mandi, Tidak akan dia biarkan anak anaknya melihat dia kacau balau seperti sekarang ini.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏