NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:209
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

Zoya berdiri dengan tubuh yang relatif mungil… tingginya sekitar 165 cm, dengan postur ramping yang sekilas tampak ringan, seolah mudah terdorong angin.

Di hadapannya, pria bertubuh besar itu hanya melirik sekilas.

Ucapan “mohon bimbingannya” dari Zoya terdengar sopan, namun di telinganya… nyaris seperti formalitas kosong.

Ia sama sekali tidak menganggapnya serius.

Bagi pria setinggi hampir dua meter dengan tubuh sekitar 90 kilogram itu, menghadapi Zoya yang hanya setinggi 165 cm dan bertubuh ringan terasa seperti berhadapan dengan seseorang anak kecil..

Di matanya, ini bukan pertarungan… lebih seperti formalitas.

Ia bahkan tidak berniat berlama-lama.

Satu langkah cepat, satu gerakan tegas… cukup untuk menjatuhkan Zoya dan mengakhiri uji coba ini secepat mungkin.

Namun, di luar dugaan, begitu pertarungan berlangsung, keadaan langsung berbalik.

Meski tubuh Zoya terlihat mungil dan ringan, tekniknya luar biasa. Ia tidak mengandalkan kekuatan, melainkan presisi dan kecepatan. Setiap gerakan terasa efisien, setiap serangan diarahkan ke titik lemah lawan.

Sejak awal, pria itu langsung dibuat kewalahan… serangan Zoya datang bertubi-tubi, cepat dan rapat seperti hujan tanpa jeda.

Beruntung, pria itu memang memiliki kemampuan nyata. Setelah sempat terdesak karena meremehkan, ia segera menyesuaikan diri dan mulai bertarung dengan serius.

Semangatnya justru semakin membara. Sudah lama ia tidak bertemu lawan yang mampu memaksanya seperti ini.

Pertarungan berlangsung sengit, terus berlanjut hingga lebih dari dua puluh menit.

Namun pada akhirnya, perbedaan fisik mulai terasa. Napas Zoya mulai tidak stabil, tenaganya terkuras. Dalam satu celah kecil, pria itu berhasil membalik keadaan dan melumpuhkannya.

Begitu Zoya jatuh, pria itu langsung melepaskan pegangan dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

Tak ada lagi tatapan meremehkan di matanya.

Hanya kekaguman.

“Kau sangat hebat,” ujarnya jujur.

Zoya mengatupkan bibir, lalu tersenyum tipis.

“Kau juga sangat hebat.”

Kemampuan Zoya bukanlah kebetulan. Sejak kecil, ia sudah ditempa oleh ayahnya… yang selalu menekankan bahwa seorang gadis harus mampu melindungi dirinya sendiri ketika dibutuhkan.

Pria itu menggeleng pelan.

“Kau lebih hebat. Kalau bukan karena tenagamu lebih kecil, aku tidak yakin bisa menang.”

Itu bukan basa-basi.

Ia tahu betul… kemenangan tadi bukan karena teknik, melainkan karena keunggulan fisik.

Jika Zoya memiliki ukuran tubuh yang setara dengannya… hasilnya mungkin akan sangat berbeda.

Sutradara awalnya mengira Zoya hanya memiliki kemampuan bela diri biasa. Namun setelah melihat langsung, ia benar-benar terkejut… gadis ini mampu bertarung seimbang dengan instruktur profesionalnya.

Terlebih lagi, melihat instruktur yang biasanya arogan kini justru penuh pujian, sang sutradara langsung mengambil keputusan tanpa ragu.

“Aku akan minta asisten mengirimkan naskahnya padamu. Kamu punya dua minggu untuk persiapan. Setelah itu, kamu langsung masuk lokasi syuting. Bagaimana?”

Ia adalah tipe orang yang lugas. Meski masih ada sepuluh peserta lain yang belum audisi, ia sudah yakin… tidak akan ada yang lebih cocok dari Zoya.

Untuk peran ini, Zoya adalah pilihan terbaik.

Kemampuan akting bisa diasah, tapi kemampuan fisik seperti ini… tidak bisa diciptakan dalam waktu singkat.

Di industri yang penuh dengan pemeran pengganti, menemukan seseorang seperti ini adalah kesempatan langka. Ia tidak akan menurunkan standar.

Setelah mengucapkan terima kasih, Zoya meninggalkan lokasi audisi.

Di dalam mobil, pikirannya mulai berputar.

Dua minggu.

Begitu syuting dimulai, waktunya akan tersita sepenuhnya. Itu berarti kesempatan untuk mendekati Arlo akan semakin sempit.

Zoya menyandarkan kepala ke kursi, lalu tersenyum tipis.

Karena itu, ia memutuskan memanfaatkan dua minggu ini sebaik mungkin… setidaknya sampai ia mendapatkan nomor ponselnya.

Sesampainya di apartemen, naskah sudah dikirimkan padanya.

Asistennya, Necki, langsung sibuk mempersiapkan segala sesuatu dengan penuh semangat. Namun di tengah euforia¹ itu, ia melirik buku di tangan Zoya.

¹Kata euforia (serapan dari bahasa Inggris euphoria) merujuk pada perasaan gembira, senang, atau sejahtera yang sangat kuat dan meluap-luap.

“Zoy… kenapa kamu belajar fisika?” tanyanya heran. “Bukannya kamu harus fokus ke naskah?”

Zoya bahkan tidak mengangkat kepala.

“Jangan pedulikan aku,” jawabnya santai.

Necki mengernyit, lalu mencoba mengintip isi buku itu. Begitu melihat deretan angka dan rumus yang rumit, kepalanya langsung terasa pening.

Ia menyerah.

Ya sudah… terserah dia saja.

Keesokan harinya, Zoya datang ke kampus. Hari ini ada kelas fisika… dan dosennya tetap Arlo.

Ia sudah menyiapkan pertanyaan, duduk lebih awal, dan menunggu.

Selama pelajaran berlangsung, ia memperhatikan dengan serius. Dan seperti biasa, setelah kelas selesai, ia menyerahkan pertanyaannya. Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama.

Namun pada suatu pertemuan…

Begitu kelas dimulai, Arlo tanpa sadar mencari sosok Zoya.

Namun setelah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan… ia tidak menemukannya.

Zoya tidak ada.

Untuk pertama kalinya, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya… memanggil absensi satu per satu.

Tetap tidak ada.

Ia akhirnya mengajar seperti biasa, namun ada sedikit rasa kosong yang tak bisa dijelaskan.

Namun pada pertemuan berikutnya…

Saat ia masuk dan melihat Zoya duduk di barisan depan, tatapannya yang biasanya datar bergetar sejenak.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk membuat langkahnya terasa lebih ringan, dan sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.

Perubahan itu sangat halus… nyaris tak terlihat oleh orang lain.

Tapi Zoya… menyadarinya.

Senyum tipis muncul di bibirnya… nyaris tak terlihat.

Kelas dimulai…

Meski suasana hatinya membaik, Arlo tetap mengajar dengan serius. Profesionalismenya tidak berubah.

Namun setelah kelas usai dan mahasiswa lain hampir pergi, Zoya mendekat sambil membawa buku catatannya.

Arlo sudah terbiasa. Ia menerima buku itu tanpa banyak kata, lalu mulai membaca.

Pertanyaan kali ini lebih dalam… berkaitan dengan materi sebelumnya, namun berkembang ke topik lain yang jauh lebih kompleks.

Ia tidak bisa menjelaskannya hanya dalam beberapa kalimat.

Arlo melirik jam sebentar. Ia masih memiliki satu kelas lagi.

Lalu pandangannya kembali pada wajah kecil Zoya… menatap matanya yang haus akan ilmu pengetahuan.

“Kalau kamu tidak terburu-buru,” katanya tenang, “bagaimana kalau kita lanjutkan di kantor setelah kelas saya berikutnya selesai?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!