NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Satu Kesalahpahaman

Biru melangkah mendekat, auranya kembali mengeras seperti tembok baja yang tak tertembus. Ia menatap nampan kopi di tangan Selena dengan pandangan meremehkan, seolah-olah keberadaan Selena di depan pintu itu adalah sebuah gangguan dalam jadwal kerjanya yang padat.

"Kamu menguping pembicaraan kami?" tanya Biru dingin, suaranya rendah namun penuh penekanan.

Selena mengerjapkan mata, mencoba menetralisir rasa canggungnya. "Aku hanya ingin mengantarkan kopi. Bagian dari 'akting' yang kamu minta, ingat?"

Biru mendengus, ia berjalan melewati Selena dan menuangkan air putih ke gelas kristal, menelannya seolah tenggorokannya sangat kering.

Qq1"Tidak perlu kamu pikirkan. Sejak aku masih remaja, kakek sudah menuntut punya cicit padahal aku masih sekolah. Dia hanya terobsesi pada garis keturunan Hermawan karena dia tidak percaya pada cucunya yang lain. Baginya, mereka semua hanya sekumpulan parasit."

Biru membalikkan badan, menyandarkan pinggulnya di pinggiran meja kerja yang kokoh, menatap Selena dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Jadi, jangan merasa terbebani. Kontrak kita tetap sama. Tidak ada anak, tidak ada pewaris, dan yang pasti... tidak ada hubungan ranjang. Kakek hanya perlu melihat kita tinggal bersama, itu saja sudah cukup untuk membungkam mulut dewan komisaris."

Selena terdiam sejenak. Ia melihat betapa Biru membicarakan tentang keluarga dan masa depannya sendiri dengan nada yang sangat sinis, seolah-olah hidupnya hanyalah sebuah bidak catur yang digerakkan oleh tangan kakeknya.

"Tapi Biru," Selena memberanikan diri bersuara, "bagaimana kalau kakek terus menekan? Dia terlihat sangat serius soal cicit itu."

Biru menatap Selena tajam, sebuah senyum miring yang pahit muncul di sudut bibirnya. "Maka itu adalah tugasku untuk terus berbohong padanya, sama seperti aku membohongi dunia tentang pernikahan ini. Kamu hanya perlu diam dan tetap berada di sayap kanan rumah ini."

Selena mencebikkan bibirnya, kembali teringat akan teorinya tentang Cakra. Pantas saja dia sesantai itu menolak permintaan cicit, pikir Selena. Bagaimana mau punya cicit kalau orientasinya saja berbeda?

"Oke, oke. Aku mengerti," sahut Selena sambil meletakkan nampan kopi itu di meja dengan sedikit sentakan. "Aku tidak akan berharap lebih, Pak CEO. Aku akan kembali ke kamarku dan melanjutkan menulis. Lagipula, karakter pria di novelku jauh lebih masuk akal daripada kamu."

Saat Selena berbalik untuk pergi, ia tidak menyadari Biru memejamkan mata rapat-rapat, tangan kirinya meremas pinggiran meja kayu itu hingga buku jarinya memutih.

Biru menahan napas, menunggu rasa perih yang menusuk di dadanya mereda.

Bagi Biru, tuntutan sang kakek bukan sekadar masalah pewaris, tapi pengingat kejam bahwa ia mungkin tidak akan pernah melihat hari esok, apalagi melihat seorang anak tumbuh besar dengan nama belakangnya. Ia harus menjauhkan Selena—secara fisik dan emosional—agar saat jantungnya berhenti berdetak, wanita itu bisa pergi tanpa membawa luka yang terlalu dalam.

"Selena," panggil Biru tiba-tiba, membuat langkah wanita itu terhenti di ambang pintu.

"Apa lagi?" ucap Selena tanpa berbalik.

"Tutup pintunya dari luar. Aku ingin bicara dengan Cakra. Berdua."

Selena mendengus keras. "Tentu saja. Silakan habiskan malam romantis kalian berdua!"

Blam!

Selena menutup pintu dengan keras, meninggalkan Biru yang terbatuk kecil sambil menyandarkan kepalanya yang terasa berat.

"Cakra..." panggil Biru lemah.

Pintu samping terbuka, dan Cakra langsung muncul dengan wajah penuh kekhawatiran, membawa botol obat yang sudah siap di tangannya. "Tuan, Anda harus istirahat sekarang. Tekanan dari Tuan Besar tadi terlalu berisiko bagi Anda."

"Aku tahu, Cakra. Aku tahu," bisik Biru, membiarkan asistennya itu membantunya duduk. "Pastikan Selena tidak melihat ini. Jangan pernah."

"Baik tuan." Cakra patuh, tapi di dalam otaknya, ia tak habis pikir kenapa pria yang sedang menderita ini malah menikahi wanita asing yang tak jelas asal-usulnya dan tetap menyembunyikan penyakitnya.

Di tempat lain, Selena menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur king sizenya yang empuk, namun hatinya terasa sekeras batu. Ia meninju bantal malangnya berkali-kali seolah bantal itu adalah wajah tampan Biru yang tanpa ekspresi.

"Dia pikir aku mau sekali mengandung anaknya apa?" gerutu Selena pada langit-langit kamar yang dihiasi lampu chandelier mewah. "Cih! Membayangkan harus berurusan dengan popok dan tangisan bayi saja sudah membuat kepalaku pening, apalagi kalau bapaknya modelan robot kulkas seperti dia!"

Selena bangkit berdiri, berjalan menuju cermin besar dan menatap pantulan dirinya. Gaun merah marun itu masih melekat sempurna, rambutnya pun masih tampak cantik, tapi semua usaha dandanannya tadi terasa sia-sia di hadapan pria yang lebih memilih berbisik-bisik dengan asistennya.

Selena mendengus, teringat bagaimana Biru memanggil Cakra masuk dan menyuruhnya keluar dengan begitu dingin.

"Kamu memang ganteng maksimal dan juga kaya raya, Biru Hermawan. Mungkin sejuta wanita di luar sana mau mengantre hanya untuk mendapatkan sisa perhatianmu," Selena menunjuk bayangan Biru dalam imajinasinya dengan jari telunjuk.

"Tapi aku? Aku ini Selena! Aku punya harga diri. Aku tidak akan mengemis cinta, apalagi mengemis pada jeruk yang suka makan jeruk!"

Ia menyilangkan tangan di dada, merasa teorinya semakin solid. "Pantas saja dia bilang kakeknya tidak percaya pada cucu yang lain. Mungkin kakeknya tahu kalau pewaris utamanya ini punya 'selera' yang berbeda, makanya dia dipaksa menikah denganku sebagai tameng."

Selena segera menyambar laptopnya, membuka draf bab terbaru dengan semangat yang meledak-ledak. Rasa kesalnya berubah menjadi energi kreatif yang luar biasa.

"Di bawah lampu temaram ruang kerja, sang CEO menatap asisten pribadinya dengan tatapan yang tidak pernah ia berikan pada istrinya sendiri..." jarinya menari lincah di atas papan ketik.

"Terima kasih, Biru. Kamu baru saja memberiku ide untuk sub-plot paling laku di platform Noveltoon!" gumamnya sambil tersenyum puas.

Malam itu, di sayap kanan rumah yang megah, Selena Putri tertidur dengan perasaan menang, tanpa menyadari bahwa di sayap kiri, suaminya sedang berjuang melawan maut dalam diam, ditemani oleh satu-satunya pria yang memegang rahasia tentang denyut jantungnya yang kian rapuh.

Dua rahasia, dua dunia, dan satu kesalahpahaman besar yang mulai mengakar di bawah satu atap yang sama.

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Raffi975: uhuiii
total 2 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!