NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Korsleting atau sabotase?

"Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin!”

Iren berteriak histeris saat melihat bangunan toko kuenya telah hangus dilalap api. Dinding-dinding yang dulu berdiri megah kini telah menghitam, kaca-kaca pecah berserakan di tanah, dan aroma gosong masih begitu pekat di udara.

Tak ada yang tersisa sedikit pun.

Tubuh Iren melemas.

Air matanya jatuh deras tanpa bisa dibendung.

“Tidak…” lirihnya sambil menggeleng berkali-kali. “Ini toko ku… ini hasil kerja kerasku…”

Ia berlari mendekati bangunan itu, tetapi Bayu dengan cepat menahan tubuhnya.

“Iren, tenang!” ucap Bayu tegas.

“Lepaskan aku!” teriak Iren histeris sambil memukul dada Bayu. “Papa lihat, kan?! Semuanya hancur! Semua usaha mama hancur!”

Citra yang ikut datang langsung memeluk ibu mertuanya erat.

“Mama… tenang dulu…” ucap Citra dengan mata berkaca-kaca.

“Bagaimana mama bisa tenang?!” jerit Iren sambil menangis tak karuan. “Semua toko mama habis! Habis!”

Samuel berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah serius. Untuk pertama kalinya, ia melihat ibunya benar-benar hancur seperti ini.

Bayu mengusap wajahnya kasar, emosinya juga kacau.

“Sudah cukup menangis. Kita cari tahu penyebabnya.”

Tak lama, sebuah mobil polisi berhenti di lokasi.

Seorang polisi berjalan mendekat sambil membawa berkas laporan.

“Siapa keluarga dari pemilik toko ini?” tanyanya.

Bayu langsung melangkah maju. “Saya suaminya.”

Polisi itu membuka berkas di tangannya.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan awal.”

Iren buru-buru mendekat dengan wajah penuh harap.

“Siapa pelakunya?!” tanyanya penuh emosi. “Siapa yang membakar toko saya?!”

Polisi itu menghela napas pelan.

“Berdasarkan hasil sementara, kebakaran disebabkan oleh korsleting listrik.”

Deg.

Iren membeku.

“Apa?”

Polisi itu kembali melanjutkan.

“Dan kami mendapat laporan bahwa beberapa cabang toko kue Anda juga mengalami hal yang sama.”

Mata Iren membelalak lebar.

“Tidak mungkin…” lirihnya.

“Seluruh titik kebakaran menunjukkan pola korsleting listrik yang serupa. Untuk sementara, kami tidak menemukan tanda sabotase.”

Tubuh Iren limbung.

Untung Citra dan Samuel dengan cepat menahannya.

“Mama!” seru Citra panik.

Air mata Iren kembali jatuh deras.

“Tidak…” suaranya bergetar hebat. “Ini tidak mungkin hanya kebetulan…”

Bayu menatap bangunan yang hangus itu dengan rahang mengeras.

Entah kenapa, ia merasa semua ini terlalu rapi untuk disebut kecelakaan biasa.

°°••°°

“Diana, kenapa kamu masuk kerja?”

Diana mengerutkan kening. “Emang kenapa, Ra?”

Tiara menatapnya dengan kesal sekaligus gemas. “Kamu baru keluar dari rumah sakit, Na. Harusnya kamu istirahat di rumah.”

Diana tersenyum tipis. “Aku sudah baikan, Ra. Aku bosan di rumah,” ucapnya pelan.

Tiara mendengus. Sahabatnya ini memang cukup keras kepala.

“Tapi kamu benar-benar sudah sehat kan? Keponakan aku bagaimana?” tanya Tiara sambil mengelus perut Diana.

“Dia nggak apa-apa, Ra. Bayiku kuat,” jawab Diana sambil tersenyum kecil.

“Syukurlah...” Tiara mengangguk lega. “Lalu bagaimana dengan pemotor itu? Polisi sudah menemukannya?”

Diana mengangkat bahu. “Aku nggak tahu, Ra. Aku juga nggak terlalu peduli. Mungkin dia lagi buru-buru.”

Tiara langsung menatap Diana tak percaya.

“Buru-buru?” ulangnya dengan nada tinggi. “Na, dia hampir nabrak kamu sampai kamu masuk rumah sakit!”

Diana terdiam sejenak.

Ia menunduk, jemarinya tanpa sadar mengusap perutnya pelan.

“Aku cuma… nggak mau terlalu memikirkannya,” lirihnya. “Yang penting aku dan bayiku baik-baik saja.”

Tiara menghela napas panjang.

“Kamu ini terlalu baik, tahu nggak sih?”

Diana hanya tersenyum kecil.

“Sudah-sudah, sekarang kita fokus kerja.”

Tiara mengangguk, lalu mereka kembali membungkus pesanan kue yang semakin hari semakin membludak sambil sesekali berbincang ringan.

“Diana.”

Diana menoleh. “Iya, Kak?”

“Di luar ada kurir cari kamu,” ucap Puspa sambil tersenyum.

Diana mengerutkan kening. “Kurir? Aku tidak pesan apa-apa, Kak.”

“Tapi katanya namamu,” jawab Puspa.

“Temui saja, Na,” ujar Tiara.

Diana akhirnya keluar untuk menemui kurir.

“Cari saya, ya?”

“Iya, dengan Diana Veronika?” tanya kurir.

Diana mengangguk. “Iya, Kak.”

Kurir itu kemudian menyerahkan sebuah kotak pizza.

“Tapi saya tidak memesan apa pun,” bantah Diana.

“Saya juga tidak tahu, Kak. Saya hanya disuruh mengantar,” jawab kurir singkat.

Diana akhirnya menerima kotak itu, sementara kurir segera pamit pergi.

Ia menatap kotak pizza tersebut dengan bingung. Aromanya tercium hangat dan menggoda.

“Ini siapa yang kirim ya?” gumamnya pelan.

Ting!

Ponselnya berbunyi.

Diana langsung merogoh kantongnya.

Deg.

Diana langsung membeku di tempat.

Matanya membulat menatap layar ponselnya berkali-kali, memastikan dirinya tidak salah baca.

Niel {Jangan lupa makan siang}

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Niel?” gumamnya pelan.

Ia menatap kembali kotak pizza di tangannya, lalu ke layar ponsel.

“Jangan bilang ini…”

Dari kejauhan, Tiara berjalan mendekat dengan rasa penasaran tinggi.

“Siapa yang kirim, Na?” tanyanya sambil melongok isi kotak.

Saat melihat pizza di dalamnya, mata Tiara langsung membesar.

“Wah! Pizza?!” serunya heboh. “Siapa yang ngirim?”

Diana langsung menyembunyikan ponselnya ke belakang punggung.

“E-enggak tahu.”

Tiara menyipitkan mata curiga.

“Kenapa wajah kamu merah?”

“Aku nggak merah.”

“Kamu merah.”

“Aku nggak merah!”

Tiara langsung merebut ponsel Diana dengan cepat.

“Tiara!”

Namun semuanya terlambat.

Tiara membaca pesan di layar dan langsung menjerit kecil.

“ASTAGA! BOS DINGIN ITU?!” bisiknya heboh.

Diana buru-buru merebut kembali ponselnya.

“Pelan-pelan dong!”

Tiara menatap Diana dengan wajah penuh godaan.

“Diana Veronika…” ujarnya sambil menaik-turunkan alis. “Kamu bilang hubungan kalian biasa aja?”

Diana salah tingkah.

“Memang biasa aja!”

“Biasa dari mana? Dia kirimin kamu makan siang!”

“Dia mungkin cuma kebetulan lewat aja.”

Tiara melongo lalu ketawa.

“Kebetulan lewat terus pesen pizza khusus buat kamu? Wah, jalannya jauh banget ya kebetulannya.”

Diana terdiam.

Jujur saja, hatinya terasa hangat.

Tapi di sisi lain, ia juga takut berharap terlalu jauh.

“Sudah sana makan,” goda Tiara. “Kasihan calon ayah sambung ponakanku udah perhatian.”

“Tiara!” wajah Diana langsung merah padam.

Tiara tertawa puas lalu kembali bekerja.

Sementara Diana menatap pizza itu lagi dengan senyum kecil yang sulit ia sembunyikan.

Tanpa sadar, jemarinya mengetik balasan.

Diana {Terima kasih… tapi kenapa harus kirim sebanyak ini? Aku nggak mungkin habisin sendiri.}

Tak butuh waktu lama—

Ponselnya kembali bergetar.

Niel {Bagikan pada teman kerjamu. Pastikan kamu makan lebih banyak.}

Diana menggigit bibirnya pelan, berusaha menahan senyum yang terus muncul.

Pria itu benar-benar membuat hatinya kacau dengan cara yang sederhana.

°°••°°

“Pa, bagaimana keadaan Mama?” tanya Samuel saat keluar dari ruang rawat ibunya.

Bayu menghela napas berat. “Dia belum sadar, Sam. Kata dokter, dia terlalu panik,” jawabnya pelan. “Kejadian ini membuat mamamu syok berat.”

Samuel terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, namun di balik itu jelas terlihat kekhawatiran yang ia tahan sejak tadi.

“Papa merasa nggak? kebakaran toko Mama ini seperti ada kejanggalan.”

Bayu terdiam.

Angin malam di depan rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya.

“Papa juga merasa ada yang aneh,” jawab Bayu akhirnya. “Tapi polisi bilang itu korsleting listrik.”

Samuel mendengus pelan, jelas tidak puas dengan jawaban itu.

“Korsleting untuk semua cabang sekaligus?” gumamnya. “Terlalu rapi.”

Bayu tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada kaca rumah sakit di seberang mereka, kosong dan dingin.

“Papa juga akan minta penyelidikan ulang,” ucap Bayu akhirnya. “Kalau memang ini bukan kebetulan, kita harus cari pelakunya.”

Samuel mengangguk pelan.

“Siapa pun itu,” suaranya rendah, “Dia nggak cuma menghancurkan bisnis Mama.”

Rahangnya mengeras.

“Dia sengaja mau menjatuhkan Mama sampai seperti ini.”

Bayu menepuk bahu Samuel pelan.

“Fokus dulu ke Mama kamu. Soal ini, Papa akan urus.”

Samuel mengangguk.

1
Adriana Bora
sangat2 bagus
Prafti Handayani
Lanjut thor..Gass tross....
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
Thor di tunggu lanjutannya...
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
FIX istrimu Pelacur Samm...
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Prafti Handayani
Calon suami dan Daddy buat Diana dan Debay.Mudah"an pria ini lebih berkuasa dri kel Samuel dan Citra.Biar Diana bs bls dendam.Dan calin Daddy bs melindungi Diana dan Debay slmnya.Niar debay nti gag bs diambil alih sm samuel dan keluarganya saat nti tau sam dan citra gag bs punya anak.
Mpusss...
Lia Rahmawati
katanya si Diana pergi jauh,tapi ko toko rotinya Deket sama toko rotinya yang punya si jahat?
Nona Jmn
Hai, kak. Akhirnya mampir di novel baruku😋😍
tia
jahat banget iren ,,makany toko u sepi
tia
semoga karma menghampir u Samuel sekuritas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!