NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Bab 23: Suara Yuli

Jam 2 siang, ruang meeting Global Child Foundation Jakarta terasa lebih dingin dari AC yang disetel 18 derajat.

Di layar besar, empat kotak Zoom menyala: kantor donor Jepang di Tokyo, tim legal di Singapura, Liana di Jakarta, dan Yuli di Chad.

Tiga puluh delapan jam lagi deadline 48 jam habis.

Kalau Liana gagal, 15 juta USD untuk program Chad, Nigeria, Ethiopia dibekukan.

Rara duduk di samping Liana, jari-jarinya ngecek baterai laptop buat yang kelima kalinya.

Arka ada di ruang server lantai bawah, pantau semua sinyal biar Zoom nggak putus.

Bram buka tiga monitor penuh data transaksi.

Maya duduk di samping Yuli di klinik Chad, lampu emergency nyala karena listrik baru mati 10 menit lalu.

Hendra nggak ada di meeting.

Tapi semua orang di ruangan itu tahu, dia lagi nonton juga.

 

“Ms. Liana Wijaya, you have 15 minutes,” kata Mr. Tanaka, kepala donor Jepang. Suaranya datar, nggak ada emosi.

Liana berdiri. Dia nggak buka presentasi.

Dia cuma putar video.

Layar besar berubah.

Muncul Yuli, duduk di bangku kayu luar klinik, belakangnya anak-anak kecil antre bawa kartu imunisasi. Mata Yuli bengkak, rambutnya diikat asal, tapi suaranya jelas.

“Nama saya Yuli Mote. Saya bidan di Klinik Desa Moundou, Chad.”

Ruangan hening.

“Tiga minggu lalu, ada uang 5.000 USD masuk ke rekening saya. Saya pikir itu dana dari kantor pusat Global Child Foundation. Saya pakai untuk beli obat malaria, vitamin untuk 200 ibu hamil, dan susu untuk bayi prematur. Saya tidak tahu itu uang dari Tuan Hendra Wijaya.”

Video dipause.

Mr. Tanaka angkat alis. “You said you didn’t know. How can we trust that?”

Liana maju satu langkah.

“Karena Yuli nggak pernah pegang rekening itu sendiri. Itu rekening klinik yang dikelola kepala desa. Saya punya bukti chat antara Yuli dan kepala desa tanggal 12 Agustus. Dia tanya, ‘Uang dari pusat sudah masuk?’ Kepala desa jawab, ‘Sudah. Pakai untuk obat.’”

Bram langsung share layar. Chat WhatsApp, stempel waktu, nomor rekening.

Arka di belakang nge-forward file log transaksi bank Chad yang dia bobol secara legal lewat pengacara.

Mr. Tanaka nggak bereaksi. Dia cuma catat sesuatu.

Liana lanjut.

“Yang kedua, kami punya bukti bahwa uang 5.000 USD itu berasal dari PT. Menteng Kapital. Perusahaan cangkang milik Tuan Hendra Wijaya. Transaksi terjadi 6 jam setelah Tuan Hendra keluar dari Lapas Salemba dengan status tahanan kota.”

Layar berubah. Foto akta perusahaan, nama Hendra sebagai komisaris, tanggal transaksi.

Rara ngirim satu file lagi: rekaman CCTV pintu masuk Lapas 14 Agustus jam 3 sore. Hendra keluar pakai kemeja putih, senyum.

Mr. Tanaka angkat tangan.

“Ms. Liana, this proves Mr. Hendra sent money. But it doesn’t prove you didn’t ask him to.”

Itu dia. Titik lemahnya.

Liana tarik napas. Ini bagian yang paling berbahaya.

“Putar lagi video Yuli, menit 2:17,” katanya.

Video jalan lagi.

Yuli menatap kamera langsung.

“Saya mau bilang satu hal ke Ms. Liana. Saya minta maaf karena hampir bikin program ini berhenti. Tapi saya juga mau bilang ke Tuan Hendra… kalau kau dengar ini, berhentilah. Anak-anak di sini bukan alat untuk kau balas dendam. Mereka butuh obat. Mereka butuh hidup.”

Yuli berhenti, lalu nangis.

“Kalau program ini ditutup, 200 ibu hamil di desa ini nggak akan dapat pemeriksaan lagi. Anak saya juga salah satunya. Saya hamil 5 bulan, Kak Liana.”

Ruangan berubah.

Beberapa staf donor di Tokyo saling pandang.

Liana pelan-pelan bicara.

“Yuli hamil 5 bulan. Dia kerja 14 jam sehari keliling desa naik motor butut. Dia hampir keguguran bulan lalu karena kelelahan. Tapi dia tetap minta saya jangan tarik program ini.”

“Kenapa?” tanya Ms. Sato, legal dari Singapura.

“Karena dia tahu, kalau program ini berhenti, bukan cuma dia yang mati. Ada 200 orang lain.”

 

Hendra akhirnya muncul.

Pintu ruang meeting terbuka. Dia masuk pakai jas hitam, didampingi dua pengacara.

“Maaf terlambat,” katanya, suaranya tenang.

“Mr. Tanaka, Ms. Sato. Saya diundang untuk klarifikasi.”

Liana nggak duduk.

Hendra senyum tipis ke dia, lalu duduk di kursi kosong di seberang.

“Pertama,” kata Hendra, “saya akui saya mengirim uang itu ke Yuli. Tapi itu donasi pribadi. Saya nggak tahu itu akan dianggap suap.”

“Bukti chat Anda dengan Yuli?” tanya Ms. Sato.

“Ngga ada. Karena saya nggak pernah chat dia langsung. Saya pakai perantara.”

Liana ngerti. Dia main aman. Nggak ada jejak digital langsung.

Hendra lanjut.

“Kedua, soal surat pengunduran diri Ms. Liana. Dia yang kasih saya surat itu di Lapas Salemba. Bukti bahwa dia merasa bersalah.”

Dia angkat kertas robek yang kemarin dia ambil dari Liana.

“Ini bukti. Dia mundur karena sadar program ini bermasalah.”

Ruangan tegang.

Rara menggenggam tangan Liana di bawah meja.

Liana balas genggamannya.

“Benar,” kata Liana tiba-tiba.

“Saya yang kasih surat itu.”

Semua orang kaget.

“Tapi bukan karena saya bersalah,” lanjut Liana.

“Saya kasih surat itu karena saya mau tahu seberapa jauh Anda mau pergi, Hendra.”

Hendra menyipitkan mata.

Liana menatap langsung ke kamera donor.

“Mr. Tanaka, Ms. Sato. Saya mundur karena saya pikir kalau saya hilang, Hendra akan berhenti. Saya salah. Dia nggak akan berhenti sampai program ini hancur.”

“Jadi ini pengakuan,” kata Hendra pelan.

“Terima kasih, Liana.”

“Tidak,” kata Liana.

“Ini peringatan.”

Dia nod ke Arka di ruang server.

Layar besar berubah lagi.

Kali ini bukan video Yuli.

Tapi rekaman suara.

Suara Hendra.

“Kau mau aku hancur? Ambil kepalaku. Tapi jangan sentuh Yuli. Jangan sentuh 2.000 ibu di Chad.”

“15 menit habis, Kak Obat. Waktu kita habis.”

Ruangan meledak.

“Where did you get this?” bentak pengacara Hendra.

“Dari HP Tuan Hendra sendiri,” kata Arka lewat speaker.

“File audio ini tersimpan di folder voice note. Metadata menunjukkan direkam 14 Agustus jam 4:03 sore. 3 menit setelah pertemuan Anda dengan Ms. Liana di Lapas Salemba. Anda lupa matikan voice recorder, Tuan.”

Hendra berdiri.

“Itu ilegal! Itu pelanggaran privasi!”

“Ilegal kalau saya sebarkan,” kata Liana pelan.

“Tapi ini bukan untuk publik. Ini untuk donor. Untuk orang yang dananya Anda coba rusak.”

Mr. Tanaka menutup matanya sebentar.

“Ms. Liana, are you blackmailing Mr. Hendra?”

“Tidak,” jawab Liana.

“Saya cuma kasih Anda konteks. Hendra bilang sendiri bahwa tujuannya bukan bantu Yuli. Tujuannya bikin saya takut.”

Hendra menatap Liana lama.

“Kau pikir kau menang?”

“Saya nggak pikir menang,” kata Liana.

“Saya cuma pikir 200 ibu hamil di Chad lebih penting dari ego kita.”

 

Meeting diskors 20 menit.

Di koridor, Hendra mendekati Liana.

Pengacaranya narik dia, tapi Hendra lepas.

“Kau pakai wanita hamil buat nyerang aku,” katanya pelan.

“Kau sama kayak aku, Liana. Nggak beda.”

Liana menatap dia.

“Bedanya, aku nggak pernah nyuruh orang hamil kerja 14 jam buat nutupin kejahatanku.”

Hendra berhenti.

Dia mau jawab, tapi Rara udah narik Liana masuk ruang kecil.

“Jangan,” bisik Rara.

“Dia mau bikin kau kehilangan kendali. Sekali kau marah, semua bukti ini nggak guna.”

Liana mengangguk.

Tangannya masih gemetar.

 

Pukul 3:47 sore, meeting dibuka lagi.

Mr. Tanaka menatap layar.

“After reviewing all evidence, we have a decision.”

Hendra berdiri, siap-siap senyum kemenangan.

“Dana Phase 1 tidak akan dibekukan,” kata Mr. Tanaka.

Hendra membeku.

“Tapi,” lanjut Mr. Tanaka,

“kami akan mengirim auditor independen ke Chad minggu depan. Dan Tuan Hendra Wijaya akan kehilangan akses ke semua program Global Child Foundation, efektif hari ini.”

Hendra menoleh ke Liana.

Matanya kosong.

“Ms. Liana,” kata Mr. Tanaka,

“program Anda lanjut. Tapi dengan satu syarat. Yuli Mote harus jadi koordinator lapangan resmi. Kami butuh wajah yang donor percaya.”

Liana menoleh ke layar. Yuli nangis di Chad.

Maya memeluknya.

Liana mengangguk.

“Saya setuju.”

 

Jam 6 sore, kantor udah kosong.

Cuma Liana, Rara, Arka, dan Bram yang masih ada.

Liana duduk di lantai, punggung sandar ke dinding.

Dia nggak nangis. Dia cuma nggak bisa berdiri.

“Kita menang,” kata Bram pelan.

“Kita beneran menang.”

Arka duduk di sebelah Liana.

“Gue nggak pernah deg-degan kayak gitu seumur hidup. Jantung gue kayak mau copot.”

Rara ngelus kepala Liana.

“Lo keren, Lia. Lo nggak nyerah.”

Liana ngangkat kepala.

“Menang apanya? Hendra masih bebas. Nadine masih hamil. Dan Yuli… Yuli sekarang jadi target.”

“Gue udah atur pengamanan buat Yuli,” kata Maya lewat telepon.

“Ada dua orang ex-militer yang jaga klinik 24 jam. Hendra nggak bisa sentuh dia.”

Liana diem.

Lalu dia ketawa kecil.

“Gue capek, Rara.”

“Tidur dulu,” kata Rara.

“Besok kita urus Hendra.”

“Urus apanya?”

“Urus biar dia nggak bisa ganggu orang lagi,” kata Arka.

“Gue punya ide. Tapi butuh 24 jam.”

Liana menatap mereka bertiga.

Teman-teman yang 48 jam lalu dia nggak tahu bisa bantu sejauh ini.

“Thanks,” katanya pelan.

“Beneran. Makasih.”

Bram nyodorin kopi.

“Jangan lebay. Lo juga yang nyelametin gue waktu gue mau dipecat tahun lalu. Inget kan?”

Liana ambil kopi itu.

Dia minum.

Pahit. Tapi hangat.

 

Jam 11 malam, Liana pulang.

Di apartemen, dia buka laptop.

Ada email baru.

Pengirim: nadine.wijaya@mail.com

Subjek: Maaf.

Liana buka.

Kak Liana,

Saya Nadine. Istri Hendra.

Saya baru baca semua bukti yang Kakak kirim. Saya nggak tahu suami saya bisa sejauh ini.

Saya hamil 7 bulan. Dokter bilang kalau saya stres, anak saya bisa lahir prematur.

Saya nggak mau anak saya lahir di dunia yang penuh kebohongan.

Saya akan bicara dengan pengacara saya besok. Saya akan minta cerai.

Dan saya akan kasih Kakak semua email dan dokumen yang Hendra simpan di laptop rumah. Mungkin itu bisa bantu Kakak menutup kasus ini untuk selamanya.

Maaf karena saya baru berani sekarang.

Nadine.

Liana baca email itu tiga kali.

Lalu dia balas satu kalimat.

“Jaga kehamilanmu, Nadine. Yang lain biar aku yang urus.”

Dia tutup laptop.

Matanya perih.

Di luar, hujan turun pelan.

Untuk pertama kalinya dalam 72 jam, Liana merasa bisa napas.

Hendra belum selesai.

Tapi dia udah nggak sendiri.

Bersambung...

🙏🙏🙏

Bab 24 kita cerita tentang hendra dan Nadine ya besty🤗🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!