Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Misi Berhasil
Udara pagi terasa dingin menggigit kulit saat Sumarni melangkah keluar dari paviliun belakang. Ia memeluk sebuah kotak kayu berukir yang mendekap erat dada kirinya.
Kotak itu berisi mahakarya pertamanya, selembar kain batik Sekar Malam. Bau khas lilin lebah, getah pinus, dan pewarna daun tarum masih menempel samar di sela-sela jarinya.
Jantungnya berdebar keras memukul tulang rusuk. Ketegangan mengalir dari tengkuk hingga ke ujung kaki. Ia harus berhasil menyusup ke acara arisan elit Nyonya Walikota hari ini juga.
Perjalanan menggunakan becak menuju rumah dinas Walikota terasa sangat lambat. Roda becak berderit nyaring setiap kali melewati jalan berlubang di pusat kota.
Sumarni menahan napas saat gerbang besi tinggi bercat putih itu mulai terlihat. Deretan mobil sedan Holden dan Mercedes mengkilap terparkir rapi di halaman depan yang luas.
Sumarni sadar betul akan posisinya. Sebagai istri kedua Harjono, namanya tidak mungkin ada dalam daftar tamu undangan resmi. Ia merapatkan kerah kebaya katunnya dan memilih jalur samping bangunan.
Sepatu hak rendahnya melangkah hati-hati melewati deretan pelayan katering yang sibuk memindahkan rantang makanan. Suara tawa melengking dan denting cangkir keramik terdengar riuh dari area taman belakang yang rindang.
Di bawah tenda kanopi putih, belasan istri pejabat duduk melingkar. Nyonya Wardoyo, istri Walikota yang berwajah tegas, duduk di kursi rotan utama.
Tepat di sebelah nyonya rumah, Sulastri sedang duduk tegak memegang cangkir teh. Istri pertama Harjono itu mengenakan kebaya sutra merah menyala yang memantulkan cahaya matahari siang. Sulastri tampak sedang berusaha keras menarik perhatian.
"Kain sutra dari Singapura ini sangat langka, Nyonya," pamer Sulastri dengan suara melengking yang dibuat-buat. "Saya khusus memesannya untuk acara Dharma Wanita bulan depan. Pasti Nyonya Wardoyo akan terlihat paling memukau jika memakainya."
Nyonya Wardoyo hanya tersenyum tipis. Jari tangannya yang dipenuhi cincin emas menyentuh kain sutra tumpukan Sulastri itu dengan enggan.
"Panas, Jeng Sulastri. Kulitku gampang gatal kalau harus pakai kain sutra mengkilap begini di siang bolong," tolak Nyonya Wardoyo halus.
Mendengar penolakan itu, kesempatan emas seketika terbuka lebar di depan mata Sumarni. Ia merapikan letak selendang di bahunya, lalu melangkah tenang keluar dari balik pilar batu.
"Permisi, Nyonya-nyonya sekalian." Suara lembut Sumarni memecah percakapan mereka.
Semua kepala sontak menoleh. Wajah Sulastri langsung pucat pasi. Matanya melotot lebar seolah melihat hantu bergentayangan di siang bolong.
"Marni?!" pekik Sulastri tanpa sadar.
Tangan Sulastri gemetar hebat hingga teh panas dari cangkirnya tumpah sedikit membasahi pangkuan kebaya merahnya. Nyonya Wardoyo menatap Sumarni dari atas ke bawah dengan kening berkerut.
"Kamu siapa? Berani sekali masuk ke acara arisan tertutup ini tanpa undangan," tegur Nyonya Wardoyo dingin.
Sumarni menunduk hormat dengan gestur tubuh yang sangat elegan. Ia mengatur napasnya agar suaranya tidak bergetar sama sekali.
"Maafkan kelancangan saya, Nyonya Wardoyo. Saya Sumarni, bagian dari keluarga Bapak Harjono."
Sulastri langsung berdiri dari kursi rotannya dengan kasar. Wajahnya kini memerah menahan malu dan amarah yang meledak.
"Perempuan udik, sedang apa kamu di sini?! Cepat pulang sebelum kamu membuat malu nama suamiku!" bentak Sulastri tajam.
Sumarni sama sekali tidak menoleh atau merespons amarah Sulastri. Ia mempertahankan senyum tenang di bibirnya, menatap langsung ke arah mata Nyonya Wardoyo.
"Saya datang membawa titipan khusus, Nyonya. Sebuah kain yang sengaja dibuat untuk menghargai keanggunan Nyonya Walikota."
Sumarni melangkah maju dengan percaya diri. Ia meletakkan kotak kayu berukir itu perlahan di atas meja bundar tepat di hadapan Nyonya Wardoyo.
Bunyi pelan saat kotak itu menyentuh kaca meja membuat semua orang menahan penasaran. Sumarni membuka tutup kotak itu secara perlahan.
Aroma wangi lilin malam yang khas, berpadu dengan keharuman bunga kantil segar, langsung menyebar memenuhi udara taman. Mata Nyonya Wardoyo melebar. Tangannya bergerak cepat menyentuh lipatan kain mori di dalam kotak.
"Ini..." Nyonya Wardoyo bergumam takjub.
Istri Walikota itu menarik kain batik tersebut dan membentangkannya di bawah sinar matahari. Gradasi warna biru gelap dan cokelat kemerahan dari motif bunga malam tampak sangat hidup dan memanjakan mata.
Permukaan kainnya terasa sangat sejuk dan lembut menempel di kulit.
"Batik tulis murni," desah Nyonya Wardoyo penuh kekaguman. "Warna alaminya meresap sempurna. Tidak ada bau bahan kimia sama sekali. Siapa pengrajinnya, Marni?"
Sulastri menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia tidak percaya perempuan kampungan seperti Sumarni bisa memiliki barang semewah itu.
"Ini pasti barang curian dari gudang almarhum mertuaku!" tuduh Sulastri dengan suara gemetar.
Namun, Nyonya Wardoyo langsung mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat tegas agar Sulastri diam. Nyonya Wardoyo paling benci jika acara arisannya dirusak oleh keributan murahan.
"Ini adalah mahakarya dari Sekar Malam, Nyonya," jawab Sumarni dengan intonasi mantap. "Sebuah merek baru yang mengutamakan kualitas serat alami dan pewarnaan tradisional keraton."
Nyonya Wardoyo mengusap kain itu sekali lagi. Senyum kepuasan akhirnya mengembang di wajah tegas istri pejabat tinggi tersebut.
"Luar biasa bagus. Aku sudah lama bosan dengan batik cap pabrikan yang kasar di pasaran. Aku pesan dua puluh potong untuk seragam pengurus inti Dharma Wanita bulan depan."
Mendengar jumlah pesanan itu, darah Sumarni berdesir hebat. Itu adalah jumlah transaksi yang sangat besar untuk sebuah permulaan bisnis.
"Dengan senang hati, Nyonya," jawab Sumarni sambil menundukkan kepala lega.
Nyonya Wardoyo segera memanggil asisten pribadinya. Seorang wanita berkebaya hijau datang membawa sebuah amplop cokelat tebal dan menyerahkannya langsung kepada Sumarni.
"Ini uang muka penuh dariku. Aku ingin kualitas yang sama persis dengan contoh memukau ini. Jangan pernah mengecewakanku," pesan Nyonya Wardoyo.
Sumarni menerima amplop itu dengan ujung jari yang dingin. Sentuhan kertas tebal dan tumpukan uang kertas di dalamnya memberikan sensasi kemenangan luar biasa.
Tepat pada detik itu, layar biru transparan berkedip di sudut pandangan mata Sumarni.
[Misi Berhasil! Anda mendapatkan pesanan pertama dari tokoh elit.]
[Perolehan Poin: 1000 Poin Sistem Istri Ideal.]
[Hadiah Tambahan: Skill Negosiasi Tingkat Tinggi telah diaktifkan.]
Sumarni tersenyum puas di dalam hati. Ia menoleh sekilas ke arah Sulastri yang kini duduk kaku menahan napas di kursinya. Wajah istri pertama itu terlihat sangat hancur karena harga dirinya baru saja terinjak habis di hadapan para petinggi kota.
"Saya pamit undur diri, Nyonya-nyonya," ucap Sumarni dengan sopan.
Ia melangkah keluar dari rumah dinas itu dengan punggung tegak dan kepala terangkat. Udara siang yang tadinya terasa panas kini terasa sangat menyegarkan paru-parunya.
Sesampainya di paviliun belakang keluarga Harjono, suasana rumah terasa sangat sepi. Dimas sedang tidur siang dengan tenang di kamarnya.
Sumarni segera duduk di tepi ranjang kayu jati miliknya. Ia merobek ujung amplop cokelat itu dengan jari gemetar penuh antusiasme.
Lembaran uang kertas pecahan besar yang masih kaku tampak menumpuk tebal di dalamnya. Sumarni mengelus tumpukan uang itu, merasakan kebanggaan yang meledak di dadanya. Ini adalah langkah pertama menuju kemerdekaan finansialnya.
Ceklek.
Suara gagang pintu yang diputar paksa membuat bahu Sumarni tersentak kaku. Pintu kamar paviliun tiba-tiba terbuka lebar tanpa ada suara ketukan lebih dulu.