Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: DI BALIK TAWA KENAN
Wadah kotak makan plastik berukuran cukup besar yang dipenuhi lauk-pauk hangat dari dapur Bu Baren kini berpindah tangan ke pelukan Kenan dan Sendy. Aroma kuah lauk yang gurih samar-samar masih tercium, menjadi bukti nyata betapa sayangnya keluarga Aldi kepada dua sahabat anak sulungnya itu.
Sebelum benar-benar melangkah keluar dari teras halaman, Kenan dan Sendy bergantian menyalami dan mencium punggung tangan Bu Baren dan Pak Dadang. Aldi mengantar mereka hanya sampai di depan pagar besi rumahnya yang setengah terbuka.
"Gue balik ganti baju dulu ya, Dul. Nanti jam delapan kurang sepuluh menit kita langsung kumpul di pos ronda," ujar Kenan sambil memosisikan kotak makan dari Bu Baren dengan nyaman tangannya.
"Yo, santai. Jangan telat lu pada. Awas lu ya, Sen, kalau motor lu pake acara mogok lagi kayak minggu lalu," balas Aldi sambil menunjuk muka Sendy dengan jari telunjuknya.
"Aman, Bedul! Tenang aja, mesin motor gue udah diservis pakai doa Ibu!" seru Sendy tertawa lebar sambil mulai melangkah berjalan kaki beriringan dengan Kenan membelah aspal gang yang mulai menghangat disengat matahari pagi.
Jarak rumah mereka berdua dari rumah Aldi memang tidak terlalu jauh, hanya perlu melewati beberapa kelokan gang di area kompleks RT 04 sebelum akhirnya berpisah di pertigaan utama. Suasana pagi itu masih terhitung tenang. Beberapa tetangga tampak mulai membuka pintu rumah, dan di kejauhan terdengar sayup-sayup suara lagu dangdut dari radio milik salah satu warga yang sedang menyapu halaman.
Sendy berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya. Matanya menatap lurus ke arah aspal, sementara langkah kakinya sengaja diperlambat agar sejajar dengan Kenan yang berjalan dengan pandangan tenang di sampingnya. Sifat Sendy yang biasanya petakilan, hobi melucu tanpa henti, dan selalu menjadi kompor di tongkrongan mendadak surut, menyisakan gurat wajah yang jauh lebih dewasa dan serius.
Sendy menoleh sedikit ke arah Kenan, memperhatikan sahabatnya yang sejak kecil selalu tumbuh bersama di lingkungan perumahan ini. Setelah beberapa saat terdiam, Sendy akhirnya membuka suara dengan nada yang sangat rendah, berbanding terbalik dengan suaranya yang cempreng saat menggoda Mikha atau bercanda di meja makan tadi.
"Lo capek gak sih, Nan?" tanya Sendy tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka berdua.
Kenan menghentikan langkahnya sejenak, menoleh dengan dahi berkerut tipis karena heran melihat perubahan sifat temannya yang mendadak melankolis pagi-pagi begini. "Capek kenapa? Lu tumben banget nanya ginian, kesambet apa lu di rumah si Bedul tadi?"
Sendy tidak ikut tertawa. Ia mengembuskan napas panjang melalui mulutnya, tatapannya beralih menatap profil samping wajah Kenan yang tampak sedikit tirus akibat kurang tidur.
"Gue serius, Nan. Lo kuliah, Senin sampai Kamis kerja buat pengobatan Mama lo, belum lagi kalau IPK turun beasiswa terancam kecabut. Yang anjingnya lagi... Papa lo tuh suka KDRT dan taunya pinjol mulu," ujar Sendy menjabarkan seluruh beban hidup terberat yang selama ini dipikul oleh pundak Kenan sendirian tanpa pernah cowok itu keluhkan di depan anak-anak tongkrongan lain.
Mendengar rentetan kalimat Sendy yang menghantam langsung pada realita hidupnya yang kelam, Kenan sempat tertegun. Langkah kakinya kembali berjalan pelan, menunduk menatap ujung sandal jepitnya yang sudah tipis. Angin pagi berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut ikalnya yang mulai memanjang.
Bukannya marah atau sedih karena luka lamanya dikuliti, Kenan justru mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat tenang—senyuman dari seorang lelaki yang sudah berdamai dengan takdir pahitnya sendiri.
"Hidup gue kalau mau capek ya pasti capek, Sen," jawab Kenan santai, nadanya terdengar sangat tulus tanpa ada keputusasaan di dalamnya. "Tapi gimana lagi? Capek juga gak bakalan nyelesain masalah, jadi gue lakuin aja yang gue bisa. Selama ada lo, Aldi, sama keluarganya... everything is gonna be fine kok, tenang aja."
Kenan menepuk kotak makan plastik pemberian Bu Baren di pelukannya dengan pelan, seolah kotak itu adalah simbol bahwa di dunia yang kejam ini, dia masih memiliki orang-orang yang peduli pada perut dan jiwanya. "Lu liat sendiri kan tadi? Nyokapnya si Bedul bahkan masih kepikiran buat bungkusin makanan buat Mama gue. Hal-hal kecil kayak gitu yang bikin gue ngerasa kalau dunia gak se-anjing itu sama gue."
Sendy mendengarkan setiap kalimat Kenan dengan dada yang terasa sedikit sesak. Sebagai sahabat yang tahu betul bagaimana rupa memar di lengan Kenan akibat amukan ayahnya yang frustrasi karena tagihan pinjaman online, Sendy selalu merasa tidak berdaya karena tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan keluarga Kenan.
Sendy menghentikan langkahnya tepat di bawah bayangan pohon kersen, memaksa Kenan untuk ikut berhenti. Sendy menatap lurus ke dalam manik mata Kenan dengan tatapan yang sangat tajam, menegaskan bahwa kalimat yang akan diucapkannya ini bukan sekadar basa-basi tongkrongan belaka.
"Kalau butuh apa-apa bilang, Nan. Butuh uang bilang, butuh makan dan lainnya bilang! Jangan dipendem sendiri, nyak?" cetus Sendy dengan penekanan yang kuat di setiap katanya. "Gue mungkin gak sekaya anak-anak gedongan sebelah, tapi kalau cuma buat minjemin lu duit jajan atau bagi makanan, keluarga gue selalu siap. Jangan pernah ngerasa gak enak sama gue atau Aldi."
Kenan terdiam menatap ketulusan yang terpancar dari wajah sahabat kunyuknya itu. Detik berikutnya, tawa renyah justru menyembur dari bibir Kenan, memecah ketegangan emosional yang sempat menggantung di antara mereka.
"Hahaha! Iya, Sen, iya! Makasih banyak ya, elah... muka lu jelek banget kalau lagi sok bijak begini, sumpah!" ledek Kenan sambil menonjok pelan lengan Sendy hingga temannya itu hampir terhuyung ke belakang.
"Sialan lu! Orang lagi mode serius juga!" omel Sendy yang wajahnya mendadak memerah karena malu kebaikan hatinya malah ditertawakan.
"Udah ah, melow-melowannya cukup sampai sini aja. Gak cocok sama muka lu yang mirip bandar togel," kata Kenan sengaja memancing emosi Sendy kembali ke setelan pabrik.
Kenan melirik ke arah depan, di mana pertigaan gang utama kompleks yang memisahkan jalur rumah mereka berdua sudah terlihat sekitar tiga puluh meter lagi. Sebuah ide jail mendadak melintas di kepala Kenan untuk mengalihkan suasana agar tidak semakin larut dalam kesedihan.
"Eh, Sen! Yang kalah sampai pertigaan depan, ntar pas kerja bakti wajib ngebawain cangkul sama bantuin manggul sak semen proyek irigasi ya!" seru Kenan tiba-tiba tanpa memberikan aba-aba.
"Hah? Maksud lu—"
Belum sempat Sendy menyelesaikan kalimatnya, Kenan sudah mengambil langkah seribu, berlari kencang sekuat tenaga membelah jalanan gang sambil mendekap erat kotak makan plastiknya. Sandal jepitnya menepuk-nepuk aspal dengan suara riuh, meninggalkan debu tipis di belakangnya.
"Woy! Curang lu, Bedul jilid dua! Kagak pakai hitungan lu ya!" teriak Sendy panik begitu menyadari dirinya telah dicurangi.
Tanpa membuang waktu, Sendy langsung ikut berlari kencang mengejar punggung Kenan yang sudah berada beberapa meter di depannya. Suara gelak tawa mereka berdua menggema riuh, memecah kesunyian fajar kompleks RT 04 pagi itu. Beban hidup, masalah pinjol sang ayah, ketakutan akan beasiswa yang terancam, seolah menguap begitu saja bersama peluh yang keluar dari tubuh mereka saat berkompetisi secara konyol di jalanan gang yang sepi.
Mereka berdua akhirnya sampai di titik pertigaan gang secara hampir bersamaan, dengan napas yang sama-sama tersengal-sengal dan tawa yang masih tersisa di sudut bibir. Kenan bersandar pada tiang listrik sambil memegangi perutnya yang kram karena tertawa, sementara Sendy bertumpu pada lututnya dengan wajah yang sudah dipenuhi keringat pagi.
"Gue... gue duluan yang nyampe ya... awas lu ntar... cangkul lu yang bawa!" ancam Sendy terbata-bata karena kehabisan napas.
"Kagak... kaki lu tadi... masih di belakang garis tiang listrik, ya!" balas Kenan tidak mau kalah sambil mengusap peluh di dahinya menggunakan ujung kaos oblongnya.
Setelah napas mereka mulai stabil kembali, keduanya saling bertukar pandang untuk terakhir kalinya sebelum berpisah ke arah rumah masing-masing. Batas pertigaan ini adalah tanda bahwa mereka harus kembali ke realita rumah tangga mereka yang berbeda, namun dengan sebuah kepastian di dalam hati bahwa mereka akan selalu saling menjaga di luar sana.
"Gue balik dulu, Sen. Salam buat nyokap lu," pamit Kenan sambil melambaikan tangan kanan kirinya yang bebas, mulai melangkah mengambil jalur gang sebelah kiri yang menuju ke arah rumahnya yang bernomor B-12.
"Yo! Mandi yang bersih lu, Nan! Jangan sampai pas ketemu si Irene siang nanti di balai desa, bau badan lu mirip kambing kurban belum dimandiin!" teriak Sendy kencang dari jalur gang sebelah kanan, sengaja mengeluarkan suara cemprengnya kembali agar didengar warga sekitar.
Kenan hanya mengacungkan jempolnya tanpa menoleh lagi, terus berjalan mantap menuju rumahnya dengan membawa kekuatan baru yang ia dapatkan dari meja makan keluarga Aldi dan ketulusan hati seorang Sendy. Persahabatan anak-anak komplek RT 04 ini tampaknya memang terlalu kokoh untuk sekadar dihancurkan oleh kejamnya roda kehidupan.