NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SORE YANG PENUH CERITA

Sore itu, Angkasa menjemput Arum tepat waktu. Mobil hitam Angkasa, melaju pelan menyusuri jalanan kota Yogyakarta yang mulai disinari cahaya keemasan matahari senja. Awalnya Angkasa berniat mengajak Arum ke restoran atau kafe, tapi begitu mobil melintasi kawasan yang ramai pedagang jajanan, Arum yang duduk di sampingnya langsung jadi gelisah dan antusias.

"Mas Angkasa... Mas Angkasa... berhenti sebentar boleh nggak? Di sana kelihatan enak-enak banget jajannya," pinta Arum sambil menunjuk ke arah pinggir jalan, matanya berbinar cerah.

Angkasa menurut saja, meminggirkan mobil dan memarkirkannya di tempat agak jauh yang aman. "Siap, perintah dilaksanakan. Ayo turun, Mbak."

Di sinilah Angkasa akhirnya benar-benar mengenal sisi lain Arum yang jauh lebih ceria, manja, dan tingkahnya lucu banget, yang selama ini tersembunyi di balik sikap sopan dan tenangnya.

Begitu turun dan berjalan beriringan di antara deretan pedagang, sifat manjanya langsung keluar sepenuhnya. Arum menarik-narik pelan ujung lengan kemeja Angkasa, minta berhenti di sana-sini.

"Mas, lihat deh! Yang itu nasi kucing, baunya enak banget," tunjuk Arum antusias. Belum sempat Angkasa jawab, dia udah nunjuk lagi ke arah seberang.

"Eh, terus yang itu wedang ronde! Mas, boleh ya beli sedikit-sedikit aja? Aku pengen nyoba semuanya, tapi takut nggak habis..."

Angkasa cuma bisa senyum-senyum sendiri sambil mengangguk. Gemes banget rasanya lihat Arum yang biasanya kalem, sekarang berubah jadi anak kecil yang lagi lihat mainan.

"Jadi pengen bawa pulang,kalo gemes gini." Batin angkasa

Jadilah mereka berjalan kaki santai di kawasan itu, berhenti beli jajanan sesuai permintaan Arum. Angkasa sibuk bawa kantong-kantong makanan, sementara Arum sibuk mencicipi satu per satu dengan wajah senang.

Dan hal yang paling bikin Angkasa gemes setengah mati adalah kebiasaan Arum pas lagi makan. Gadis itu sama sekali nggak jaim. Tiap kali makan enak, ekspresinya berubah.

Mulutnya penuh mengunyah, ujung bibir sampai pipinya selalu belepotan kuah atau bumbu, dan yang paling lucu kepalanya suka goyang-goyang pelan ke kiri kanan sambil matanya terpejam.

Pas lagi makan sate kere yang bumbu kacangnya kental itu, ujung hidung dan sudut bibir Arum sampai cokelat semua kena bumbu. Arum sendiri sama sekali nggak sadar, dia malah sibuk cerita semangat sambil mengunyah.

Angkasa yang jalan di sebelahnya sambil bawa barang cuma bisa ketawa dalem hati. Rasanya pengen banget rekam momen itu selamanya.

"Kamu ini... makannya jangan sambil ngomong dong, Mbak. Lihat tuh hidungnya kena bumbu semua," kata Angkasa akhirnya, berhenti melangkah terus ngeluarin sapu tangan dari saku.

Arum langsung berhenti ngomong, matanya melotot kaget sambil buru-buru usap-usap hidungnya sendiri. "Hah? Iya? Ya ampun nggak kerasa deh..."

Angkasa nahan tangan Arum pelan, terus dengan gerakan lembut dan hati-hati, dia sendiri yang ngusapin sapu tangan itu ke hidung dan bibir Arum, bersihin sisa bumbu yang nempel.

Tatapannya begitu lekat dan penuh rasa sayang, bikin Arum yang tadinya heboh langsung diam membeku, wajahnya perlahan memerah merona karena malu dan salah tingkah.

"Udah bersih. Gemes banget sih kamu dari tadi," bisik Angkasa pelan, tangannya belum sempat menjauh dari wajah Arum.

Setelah puas muter-muter dan beli banyak jajanan, mereka kembali naik mobil. Kali ini Angkasa menuju ke alun-alun selatan Yogyakarta. Di sana tempatnya luas, rimbun pohon beringinnya besar, dan suasananya adem banget.

Angkasa memarkirkan mobil di tempat yang aman, lalu mereka berdua jalan kaki masuk ke area alun-alun, duduk bersebelahan di pinggir rumput di bawah lampu taman yang hangat.

Di sana, jauh dari keramaian pedagang, mereka menikmati sisa makanan dan suasana sore yang makin berubah jadi malam. Arum bercerita soal kegiatannya sehari-hari, soal kebiasaan ayahnya, soal impiannya nulis novel. Angkasa dengerin saksama, sesekali ketawa denger tingkah lucu Arum yang lain, sesekali ngasih komentar singkat yang bikin Arum ketawa renyah.

Tanpa mereka sadari, waktu berjalan begitu cepat. Obrolan ringan, canda tawa, dan kebersamaan itu terasa begitu singkat sampai akhirnya Angkasa melirik jam tangannya dan menyadari jarum jam udah nunjuk angka sembilan malam.

"Wah, udah jam sembilan rupanya," ucap Angkasa sedikit kaget. Dia noleh ke arah Arum yang masih asyik ngaduk minumannya.

"Kita harus pulang, Mbak. Nanti Bapak sama Ibu khawatir kalau kamu belum pulang sampai larut."

Arum mengangguk pelan, meski kelihatan jelas ada raut kecewa karena waktu berakhir begitu cepet. "Iya ya... rasanya baru sebentar loh kita di sini. gak kerasa banget."

Mereka pun kembali naik mobil. Di perjalanan pulang yang hening tapi hangat, Arum udah mulai ngantuk karna capek jalan-jalan, tapi wajahnya kelihatan sangat bahagia. Angkasa nyetir sambil senyum sendiri. Hari ini dia nggak cuma habisin waktu, tapi dia nemuin sisi Arum yang makin bikin dia jatuh cinta lebih dalem lagi.

Dia sadar satu hal: dia pengen momen kayak gini terulang lagi. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Angkasa udah ada di rumah Pak Bimo. Padahal urusan kerja sama udah beres semua, persediaan barang aman, dan jadwal pengiriman udah rapi. Tapi pagi itu Angkasa datang bawa berkas-berkas yang sama sekali nggak mendesak.

"Pak Bimo, saya mau bahas sedikit soal rincian harga pasokan bulan depan ya, ada beberapa poin yang mungkin perlu dibicarakan lagi," kata Angkasa dengan wajah serius, padahal rincian itu sebenernya udah jelas dan nggak ada masalah sama sekali.

Begitu selesai ngobrol sama Pak Bimo dan keluar dari ruang tamu, Angkasa sengaja berpapasan sama Arum yang lagi nyiram tanaman di halaman.

"Masih ada waktu luang nggak sore ini, Mbak?" tanya Angkasa langsung, matanya berbinar antusias.

"Ada tempat gudeg enak katanya, saya belum pernah coba. Mau nemenin saya lagi? Kan kamu yang paling tau tempat enak di sini."

Dan hari berikutnya lagi, Angkasa datang lagi. Kali ini alasannya ada masalah administrasi sepele yang sebenernya bisa diselesaikan lewat telepon, tapi dia malah datang langsung. Dan tentu aja, abis urusan "penting" itu beres, dia langsung nyari Arum.

"Mbak Arum... saya denger ada toko oleh oleh deket sini ya? Kebetulan saya mau cari oleh-oleh buat rekan kerja di kota, tapi bingung harus beli apa. Mau gak nemenin saya cari sore ini? Sekalian saya mau jajan lagi sama kamu," ajaknya dengan senyum penuh harap, seolah alasan itu paling masuk akal di dunia.

Sejak hari itu, Angkasa jadi rajin banget datang ke rumah Pak Bimo. Setiap hari pasti ada aja alasan yang dia bikin mulai dari ngecek stok, ngebahas kontrak ulang, memastikan kualitas, sampai alasan paling konyol sekalipun: "Lagi lewat aja, Pak, kebetulan ada waktu senggang."

Padahal Pak Bimo sendiri sampai heran, kenapa urusan yang seharusnya cuma sebulan sekali rapatnya, malah jadi hampir setiap hari dibahas. Angkasa nggak peduli. Baginya, alasan apa pun sah dan benar, asalkan tujuannya satu: bisa lihat Arum, bisa denger tawanya, dan bisa ngajak gadis itu jalan-jalan berdua lagi, menikmati waktu sore yang indah kayak kemarin.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!