Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 30
Langkah Mahesa begitu lebar, menuruni tangga menuju parkiran VIP dengan perasaan yang kacau balau. Ia mengabaikan setiap sapaan staf yang berpapasan dengannya. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama, Inara.
Setelah insiden di ruangannya, dia mencoba mencari Inara di seluruh sudut kantor, namun nihil. Sekretarisnya mengatakan Inara sudah pergi tak lama setelah pintu ruangan terbuka. Mahesa bahkan nekat memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen mereka, namun rumah itu kosong. Tidak ada barang yang berkurang, namun keheningan di sana terasa sangat menekan, seolah Inara sudah tidak lagi berada di sana secara jiwa.
Dengan rahang yang mengeras dan ponsel yang bergetar di tangannya karena mencoba menghubungi Inara berkali-kali tanpa hasil, Mahesa akhirnya memutar kemudi menuju rumahnya.
Dia tidak peduli lagi pada Clarissa yang ditinggalkannya di kantor. Dia tidak peduli pada teriakan wanita itu yang memanggil namanya. Saat itu, satu-satunya hal yang bisa menjernihkan napasnya yang sesak adalah melihat Inara.
"Inaraaaa..." panggil Mahesa namun sepi. Rupanya Inara tak ada di rumah mereka.
"Inara! Kamu dimana? Tidak mungkin kamu kabur dariku! Karena kamu tahu pasti apa yang akan aku lakukan pada ibumu!" ucap Mahesa emosi.
Bayangan wajah dingin Inara saat melihat dia berciuman dengan Clarissa masih terbayang di benaknya. Entah kenapa dia merasa hatinya sakit. Mahesa segera keluar dan menyalakan mobilnya.
Mobil sport Mahesa melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya benar-benar kacau. Kali ini dia menuju rumah kedua orang tuanya. Dia yakin Inara pergi ke sana.
Inara tidak mungkin pergi begitu saja, kan? batin Mahesa.
Mahesa tiba di kediaman Dirgantara dengan napas memburu. Dia tidak mengetuk pintu, dia langsung mendorong pintu utama hingga terbuka lebar. Seketika dia mengubah ekspresinya ketika masuk ke rumah itu. Dia tak ingin kedua orang tuanya tahu kalau mereka sedang bertengkar.
Mahesa terpaku di ambang pintu. Matanya langsung tertuju pada sosok Inara yang duduk di sofa panjang, tepat di samping ibunya. Inara terlihat begitu tenang, menyesap teh melati dengan gerakan anggun, seolah-olah tidak terjadi badai besar di kantor tadi.
Mama Karina meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang nyaring. Dia tidak menatap Mahesa, melainkan terus menatap ke arah taman belakang. Pak Dirgantara, di sisi lain, masih terpaku pada jam dinding, seolah menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
"Sayang, ayo pulang," ajak Mahesa dengan suara lembut.
Bahkan dia mendekat dan mencium kepala Inara seperti biasanya. Terlihat mesra dan penuh cinta kepada Inara. Istri yang dia nikahi karena perjodohan dari kedua orang tuanya.
Inara meletakkan cangkirnya perlahan. Dia menoleh, menatap Mahesa dengan tatapan yang sangat datar.
"Loh Mas, kamu ke sini juga?" jawab Inara pura-pura kaget.
"Iya sayang, aku pulang ke rumah tapi kamu tidak ada. Kenapa kamu ke rumah Mama papa nggak bilang dulu sama aku!" Mahesa duduk di sebelah Inara dan melingkarkan tangannya di pinggang Inara dengan posesif.
"Oh tadi kata sekretaris Ana, kamu sedang ada tamu di ruangan kamu. Padahal aku mau izin ke kamu anter Mama. Ponsel aku habis daya," bohong Inara dengan ekspresi yang di buat senatural mungkin.
Degh
Mahesa tahu dan dapat menangkap ucapan Inara barusan. Dia ke ruangannya dan melihat dia berciuman dengan Clarissa. Itu Clarissa yang memulainya bukan dia.
"Kalian jangan pulang ya ... Menginap di sini! Kan besok kita ada acara besar. Sepertinya Inara juga kurang istrirahat. Kenapa kamu tak memperhatikan kesehatan istrimu sendiri, Mahesa!" Mama Karina memotong pembicaraan mereka.
"Tapi Ma..." Mahesa ingin menolak.
Tangannya yang merangkul pinggang Inara menegang tanpa sadar. Inara hanya tersenyum tipis, senyum yang bagi Mahesa terasa seperti silet yang mengiris kesabarannya. Wanita itu melepaskan tangan Mahesa dengan gerakan yang sangat sopan, lalu kembali menatap Mama Karina.
"Iya Mas. Mungkin menginap di sini adalah pilihan yang tepat. Apalagi besok kita ada acara. Kita pasti akan sangat sibuk," jawab Inara tenang.
Matanya kemudian beralih menatap Mahesa, kali ini dengan tatapan yang menyiratkan tantangan terselubung.
Mahesa terdiam. Kata-kata itu terdengar masuk akal bagi orang tuanya, namun di telinga Mahesa, itu adalah sebuah pernyataan perang. Inara sedang memojokkannya. Dia tidak bisa menolak tanpa memancing kecurigaan kedua orang tuanya, apalagi setelah Papa Raharjo akhirnya mengalihkan pandangannya dari jam dinding dan menatap Mahesa dengan tatapan tajam yang penuh peringatan.
"Dengar istrimu, Mahesa," suara Pak Dirgantara berat dan penuh otoritas.
"Lagipula, ada hal penting yang ingin Papa bicarakan padamu nanti malam mengenai proyek baru di perusahaan,"
Mahesa mengatupkan rahangnya. Dia merasa terkepung. Di satu sisi, ada Inara yang tampak begitu tenang, terlalu tenang. Apalagi setelah melihat sendiri yang dia lakukan di kantor tadi. Di sisi lain, ada orang tuanya yang tak pernah bisa dia bantah. Apalagi dia masih membutuhkan kepercayaan mereka untuk mendapatkan kedudukan tertinggi di perusahaan.
"Baiklah, kalau itu yang Mama inginkan," ujar Mahesa akhirnya, suaranya sedikit parau.
Dia menoleh ke arah Inara, mencoba mencari celah dalam tatapan istrinya, namun Inara sudah kembali menyesap tehnya, seolah-olah Mahesa tidak lagi ada di sana.
"Bagus," potong Mama Karina.
"Inara, ayo ikut Mama ke kamar tamu. Mama sudah menyiapkan segala sesuatunya. Kamu harus istirahat total, wajahmu terlihat pucat. Kamu harus istirahat semalaman ini. Mahesa, kamu jangan ganggu dulu Inara di kamar tamu! Kamu tidur dulu sendiri!"
"Tapi Ma..."
"Tak ada Tapi-tapian!" mama Karina bangkit dan mengajak Inara ikut dengannya.
Inara bangkit dari duduknya dengan anggun. Sebelum melangkah pergi bersama mertuanya, dia sempat melirik Mahesa sekilas. Hanya satu detik, namun cukup untuk membuat jantung Mahesa berdegup kencang karena ketakutan yang aneh.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛