Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Angin sore yang sejuk berhembus pelan melewati celah jendela kaca tebal, membawa serta aroma sisa bau bahan uji coba yang khas menguar di udara.
Di sudut sayap gedung belakang Mutiara Group, terdapat ruangan khusus yang jarang dikunjungi orang lain. Laboratorium Pengembangan Produk. Ruangan itu luas, berisi deretan rak berisi sampel bahan baku, alat-alat uji coba yang berkilau rapi, serta lemari kaca tempat tersimpan catatan-catatan penelitian berharga.
Di sinilah Sherina dan Arsya berada sore itu, datang bersama untuk memeriksa hasil percobaan bahan baru yang baru saja dikirimkan dari pemasok. Meskipun hubungan keduanya masih kaku dan penuh sisa ketegangan pasca insiden tuduhan yang keliru itu, kebutuhan pekerjaan menuntut mereka bekerja sama, dan keduanya sama-sama profesional untuk tidak mencampuradukkan perasaan pribadi dengan tugas yang diemban.
Saat keduanya sedang sibuk meneliti data di meja kerja utama, tiba-tiba terdengar bunyi mekanisme kunci yang berbunyi klik cukup keras, disusul suara pintu besi berat yang tertutup rapat sendiri. Angin kencang yang menyusup dari lorong luar ternyata telah mendorong daun pintu itu hingga menutup, dan sistem kunci otomatis yang terpasang demi keamanan ruangan itu langsung bekerja begitu pintu menempel pada bingkainya.
Sherina mengangkat wajah dengan kaget, berjalan cepat mendekati pintu itu dan mencoba mendorongnya. Namun pintu itu sama sekali tidak bergeser, terkunci rapat dari luar. Ia mencoba memutar tombol pemutar di bagian dalam, namun gagal. Mekanisme pengaman ruangan ini dirancang sedemikian rupa sehingga hanya bisa dibuka kembali menggunakan kartu akses yang terhubung ke sistem pusat, atau dari sisi luar pintu.
Ia berbalik menatap Arsya yang masih berdiri diam di dekat meja, wajah pemuda itu masih datar namun terlihat sedikit mengernyitkan dahi.
"Kita terkunci, Pak," ucap Sherina pelan, suaranya sedikit bergetar karena situasi yang tak terduga ini.
"Sinyal ponsel juga tidak ada di sini, terhalang dinding tebal. Sepertinya kita harus menunggu ada petugas yang lewat nanti sore untuk membukakan pintu."
Arsya mengangguk singkat, berjalan mendekati jendela kaca kecil yang tinggi namun tertutup jeruji besi pengaman, menatap ke luar ke arah halaman gedung yang mulai sepi. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit. Waktu pulang kerja sudah lewat, dan kemungkinan besar tidak ada lagi karyawan yang akan melewati lorong terpencil ini sebelum keesokan harinya. Artinya, mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di ruangan ini, hanya berdua saja.
Suasana hening sejenak menyelimuti mereka, keheningan yang berat dan canggung. Sherina berdiri di satu sisi ruangan, memeluk tubuhnya sendiri, sementara Arsya berdiri di sisi lain, punggungnya memunggungi gadis itu.
Sejak kejadian malam itu saat ia melihat Arsya sendirian dan sedih memandangi tangannya yang cacat, hati Sherina mengalami perubahan besar. Rasa marah dan kesal yang dulu memenuhi hatinya kini perlahan berganti dengan rasa ingin tahu yang mendalam, dan rasa iba yang berusaha ia tahan sekuat tenaga. Ia tidak mau bersikap lemah, tidak mau terlihat memandang kasihan, karena ia sadar betul betapa benci pemuda itu jika dianggap lemah atau butuh belas kasihan orang lain.
Namun, di ruangan sempit dan sunyi itu, dinding pertahanan yang selama ini dibangun tinggi-tinggi perlahan mulai retak. Tekanan keheningan, serta keberadaan satu sama lain tanpa ada gangguan orang lain, seolah memaksa mereka untuk menurunkan sedikit saja benteng yang ada di hati masing-masing.
Arsya berjalan pelan menuju kursi di sudut ruangan, lalu duduk dengan berat. Tangan kanannya, seperti biasa, terselip di balik saku jasnya, namun gerakan itu kini terlihat lebih lambat dan tidak lagi tegas seperti biasanya. Ia menatap lurus ke dinding seberang, matanya kosong, seolah pikirannya telah melayang jauh ke masa lalu yang kelam.
"Kau pasti bertanya-tanya, bukan?" tanya Arsya tiba-tiba, suaranya terdengar rendah dan serak, memecah keheningan yang panjang. Ia tidak menoleh ke arah Sherina, matanya masih terpaku pada titik kosong di depan matanya.
"Bertanya-tanya mengapa orang yang dianggap jenius, yang memiliki kemampuan berpikir setajam ini, malah berada di sini, mengurusi produk dan strategi pemasaran... padahal dulu aku punya jalan hidup yang sangat berbeda, jauh berbeda dari sekarang."
Sherina terdiam, menahan napasnya sejenak. Ia tidak menyangka Arsya akan memulai pembicaraan semacam ini. Perlahan, ia melangkah mendekat sedikit, berdiri di jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mendengar setiap kata yang terlontar.
"Saya tahu sedikit, Pak," jawab Sherina pelan dan tenang, suaranya lembut namun tegas.
"Saya pernah mendengar kabar samar dari rekan lain, bahwa Bapak dulunya adalah seorang dokter. Dokter muda yang sangat berbakat dan menjadi kebanggaan banyak orang."
Sudut bibir Arsya bergerak membentuk senyum yang sangat tipis, senyum yang penuh kepahitan. Ia mengangguk pelan.
"Benar. Dulu aku seorang dokter," ucap Arsya, nada bicaranya lambat dan berat, seolah setiap kata yang keluar membawa beban berat di dadanya.
"Menjadi dokter adalah segalanya bagiku. Bukan sekedar pekerjaan atau profesi. Itu adalah mimpi yang aku bangun sejak kecil, mimpi yang sama dengan kedua orang tuaku. Mereka juga berprofesi sebagai dokter. Kami hidup untuk menolong orang, hidup untuk menyembuhkan rasa sakit, hidup demi kemanusiaan. Tangan ini..."
Arsya menjeda ucapannya, rahangnya mengerat kuat seolah menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Ia tidak mengeluarkan tangannya dari saku, tidak memperlihatkan apa pun, namun getaran halus di bahunya cukup bagi Sherina untuk mengerti betapa berat hal ini baginya.
"Tangan ini dididik untuk menjadi sempurna, untuk presisi, untuk melakukan hal-hal yang sangat teliti. Dalam dunia medis, terutama di bidang tempat aku dulu berada, kesempurnaan fisik adalah syarat mutlak. Satu jari saja hilang atau rusak, maka segalanya berakhir. Kau tidak akan pernah bisa memegang alat bedah dengan kestabilan yang sama. Kau tidak akan pernah bisa menjamin keselamatan nyawa orang lain dengan tangan yang tidak utuh."
Suara Arsya perlahan bergetar, namun ia berusaha tetap tenang dan dingin, meski topeng itu semakin tipis saja.
"Lalu... apa yang terjadi, Pak?" tanya Sherina pelan, ia berusaha bertanya dengan nada wajar, agar tidak terdengar seperti sedang mengorek luka orang lain.
"Mengapa beralih ke dunia usaha yang sangat berbeda ini?"
Arsya menghela napas panjang, napas yang terdengar seperti membawa beban bertahun-tahun lamanya. Ia menatap lurus ke depan, namun pandangannya kabur, seolah sedang melihat kembali bayangan-bayangan masa lalu yang menyakitkan itu.
"Terjadi sesuatu... kecelakaan. Sesuatu yang mengubah segalanya dalam sekejap mata," jawab Arsya dengan kalimat yang samar, tidak menjelaskan rincian apa pun, tidak menyebutkan tentang hujan deras, tentang truk yang melaju tak terkendali, atau tentang kehilangan orang tua yang sangat dicintainya.
Ia hanya menyebutkan kata 'kecelakaan' itu saja, namun rasa pedih yang tersirat dalam kata itu sudah cukup membuat hati Sherina terasa sesak.
"Kecelakaan itu merenggut apa yang paling berharga bagiku. Merenggut kemampuanku, merenggut masa depanku, merenggut segala hal yang membuat diriku menjadi 'aku' yang dulu. Dunia medis yang aku cintai sepenuh hati itu... tiba-tiba tertutup rapat untukku. Pintu itu tertutup, dan tidak ada jalan lain untuk kembali masuk."
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih keras dan penuh kepahitan.
"Aku merasa hancur. Rasanya seperti separuh jiwaku ikut mati saat itu. Aku tidak tahu harus ke mana, harus berbuat apa. Semua ilmu yang kupelajari bertahun-tahun, semua pengorbanan, semua harapan... semuanya menjadi sia-sia. Aku benci dunia saat itu. Aku benci takdir yang begitu kejam. Dan aku mulai memandang rendah pada mereka yang memiliki segalanya utuh, mereka yang memiliki kesempatan dan kemudahan namun sering kali tidak menyadarinya atau menyia-nyiakannya. Aku merasa... tidak adil. Mengapa mereka bisa memiliki semuanya, sementara aku direnggut paksa dari apa yang paling aku cintai?"
Arsya akhirnya menoleh sedikit, menatap ke arah Sherina dengan pandangan yang dalam dan rumit. Di pandangan itu, tidak ada lagi kemarahan atau penghinaan seperti dulu. Yang ada hanyalah rasa sakit yang mendalam, rasa kehilangan, dan rasa lelah yang luar biasa.
"Itulah sebabnya aku bersikap keras kepadamu, Sherina," ucap Arsya terus terang, nama gadis itu disebutnya pelan dan jelas untuk pertama kalinya tanpa nada sarkasme.
"Saat pertama kali melihatmu, melihat siapa ayahmu, melihat betapa mudahnya jalan hidupmu, betapa utuhnya segala hal yang kau miliki, aku melihat sesuatu yang sangat menyakitkan bagiku. Aku melihat apa yang hilang dariku. Aku mengira kau sama seperti orang-orang lain yang aku benci. Orang yang hidup dalam kemewahan, yang tidak tahu arti kehilangan, yang hanya bermain-main dengan kehidupan. Aku menuduhmu, aku mencarikan kesalahanmu, bukan semata-mata karena kerjamu, tapi karena aku iri. Dan aku marah. Marah pada takdir, marah pada keadaan, dan sayangnya, aku melampiaskannya kepadamu."
Pengakuan itu terucap pelan namun begitu jujur, meluncur keluar dari bibirnya seolah beban berat baru saja terangkat sedikit dari pundaknya. Arsya kembali memalingkan wajah, menatap lantai ruangan yang dingin.
"Aku tahu aku salah. Terutama saat kejadian kesalahan sistem tempo hari. Kau tidak bersalah, kau bekerja keras, kau jauh lebih baik dari apa yang aku duga. Tapi harga diriku dan keras kepala ini membuatku sulit mengatakannya secara terang-terangan."
Sherina mendengarkan semua itu dengan tenang, diam, dan penuh perhatian. Ia tidak memotong pembicaraan, tidak bertanya lebih lanjut tentang rincian kecelakaan yang sengaja disembunyikan Arsya. Ia mengerti bahwa ada bagian dari masa lalu itu yang terlalu perih untuk diceritakan, bagian yang mungkin belum sanggup Arsya ungkapkan kepada siapa pun.
Di dalam hatinya, rasa kasihan itu semakin tumbuh besar, bergelora seperti ombak yang tak bisa lagi ditahan. Ia melihat sosok Arsya bukan lagi sebagai pemimpin yang dingin dan kejam, melainkan sebagai manusia yang sangat terluka, yang hidupnya berubah drastis karena satu peristiwa nahas.
Ia mengerti sekarang mengapa Arsya begitu tertutup, mengapa ia menyembunyikan tangannya, dan mengapa ia memiliki pandangan hidup yang begitu keras. Semua itu adalah benteng pertahanan diri yang dibangun untuk melindungi hati yang hancur itu agar tidak terluka lagi.
Namun, Sherina berusaha keras untuk tidak memperlihatkan rasa kasihan itu secara berlebihan. Ia tahu, bagi Arsya, rasa kasihan adalah penghinaan terbesar. Ia tidak ingin Arsya merasa disayangi karena dianggap menyedihkan. Ia ingin Arsya dihargai atas kemampuannya, atas kejeniusannya, sama seperti ia sendiri ingin dihargai atas kemampuannya sendiri.
"Bapak tidak perlu menjelaskan ini semua jika tidak mau," ucap Sherina pelan, suaranya lembut namun tegas dan penuh penghargaan.
"Tapi... terima kasih sudah menceritakan sebagian kisah hidup Bapak kepada saya. Sekarang saya mengerti. Bukan untuk memaafkan sikap Bapak dulu, tapi untuk memahami dari mana semuanya berasal. Kehilangan sesuatu yang sangat dicintai pasti sangat menyakitkan. Saya bisa merasakannya, meski mungkin tidak seberat apa yang Bapak rasakan."
Sherina menghela napas pelan, menatap sosok Arsya yang tampak begitu kecil dan kesepian di sudut ruangan itu.
"Dan saya ingin Bapak tahu satu hal, Pak... Memiliki segalanya secara fisik atau materi belum tentu membuat hidup seseorang mudah atau bahagia. Saya pun punya perjuangan saya sendiri, rasa sakit saya sendiri, dan hal-hal yang harus saya buktikan. Dan meski jalan hidup kita berbeda, ternyata kita sama-sama berjuang, sama-sama berusaha mencari tempat berdiri yang kokoh di dunia ini."
Arsya tidak menjawab. Ia hanya menunduk dalam, tenggelam dalam diamnya sendiri. Namun di keheningan itu, di antara dinding laboratorium yang dingin dan pintu yang terkunci itu, sesuatu yang besar telah terjadi.
Dinding pemisah yang tinggi antara keduanya telah retak, cahaya pemahaman mulai menyusup masuk, dan benih-benih hubungan yang baru, yang lebih jujur dan lebih dalam, perlahan mulai bertunas.