Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Rumah yang Aneh
Hyren benar-benar hampir menangis.
Dan itu mungkin hal paling aneh yang pernah Nayra lihat.
Karena selama ini cowok itu selalu terlihat seperti manusia yang bahkan lupa cara menunjukkan emosi.
Tapi sekarang—
di balik kaca ruang kunjungan dingin itu—
ia terlihat cuma seperti kakak laki-laki yang lelah.
Sangat lelah.
Suasana mendadak canggung.
Tidak ada yang tahu harus bicara apa setelah kalimat Zavian tadi.
Karena kata-kata itu terlalu besar.
Terlalu tulus.
Dan mungkin terlalu mudah memaafkan.
“Kalian bikin aku nggak nyaman.”
Arsen tiba-tiba muncul dari pintu belakang sambil membawa kopi kaleng.
Semua langsung menoleh.
Nayra melotot.
“SEJAK KAPAN KAMU DI SINI?!”
“Dari tadi.”
“KAMU NGUPING?!”
“Aku observasi emosional.”
“Itu bahasa keren buat nguping!”
Bahkan Hyren tertawa kecil kali ini.
Dan jujur—
melihatnya tertawa terasa aneh sekaligus melegakan.
“Aku bawa kabar,” kata Arsen sambil duduk santai.
“Kalau kabarnya buruk aku lempar kamu.”
“Tenang. Setengah buruk.”
“Itu nggak menenangkan.”
Arsen membuka minuman kalengnya dulu sebelum lanjut bicara.
“Pemerintah mulai nutup semua fasilitas Lazarus.”
Tatapan semua orang langsung serius.
“Sebagian besar anggota inti ketangkap.”
“Sebagian besar?” ulang Nayra pelan.
Arsen mengangguk kecil.
“Masih ada yang hilang.”
Deg.
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
“Siapa?” tanya Zavian.
“Divisi lapangan luar negeri.”
Tatapan Arsen berubah tajam sekarang.
“Mereka nggak terlalu terlibat eksperimen langsung…”
Lalu ia mendecih kecil.
“…tapi tetap berbahaya.”
Hyren langsung memahami maksudnya duluan.
“Mereka bakal cari sisa data.”
“Exactly.”
Sunyi.
Dan Nayra langsung punya firasat buruk.
Lagi.
“Tenang aja.”
Arsen bersandar santai.
“Mereka belum tahu Nayra masih hidup.”
Nayra langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Kenapa aku merasa itu bukan kabar baik?”
“Karena hidupmu memang genre thriller.”
“Fair.”
Hyren menatap Nayra lama.
Lalu berkata pelan—
“Mereka bakal nyari kamu kalau tahu.”
“Hah?”
“Kamu hasil akhir Project Lazarus.”
Tatapannya serius sekarang.
“Buat mereka…”
Ia berhenti sebentar.
“…kamu aset paling berharga.”
Dada Nayra langsung dingin.
Ia benci kata itu.
Aset.
Bukan manusia.
Bukan seseorang.
Cuma objek.
Dan Zavian langsung sadar ekspresinya berubah.
“Hey.”
Tangannya menyentuh jemari Nayra pelan di bawah meja.
“Kamu bukan barang.”
Deg.
Sesederhana itu.
Namun cukup membuat Nayra ingin menangis lagi.
“Aku capek hidup dramatis,” gumam Nayra pelan.
Arsen langsung menjawab—
“Sayangnya hidup suka kamu.”
“Kenapa hidup nggak suka orang lain aja sih?”
“Karena kamu protagonis.”
“Aku mau resign.”
Setelah kunjungan selesai—
mereka keluar dari fasilitas penahanan saat sore mulai turun.
Langit mendung.
Udara dingin.
Dan Nayra terus memikirkan kata-kata Hyren tadi.
Mereka bakal nyari kamu.
Ia benci kenyataan itu.
Karena bahkan setelah semua selesai…
hidup mereka ternyata belum benar-benar aman.
“Kamu terlalu diem.”
Zavian berjalan di sampingnya sambil memasukkan tangan ke saku jaket.
“Hm?”
“Kamu mikir lagi.”
“Wajahku gampang dibaca ya?”
“Banget.”
Nayra mendesah kecil.
“Aku cuma pengen hidup normal.”
Tatapannya turun ke jalan basah.
“Makan enak. Tidur cukup. Nonton film jelek.”
Zavian mengangguk kecil.
“Kedengeran bagus.”
“Iya kan?”
Lalu Nayra menoleh padanya.
“Tapi hidup kita malah kayak serial Netflix stres.”
“Itu deskripsi akurat.”
Mereka akhirnya sampai di apartemen menjelang malam.
Dan begitu pintu dibuka—
Nayra langsung berhenti.
“Astaga.”
Ruang tengah berantakan.
Snack di mana-mana.
Botol minuman berserakan.
Dan Arsen tidur di sofa sambil memeluk bantal seperti beruang hibernasi.
Nayra langsung menunjuk.
“Kenapa dia ada di rumah kita?”
Zavian diam dua detik.
Lalu—
“Aku lupa ngunci.”
“ITU BUKAN JAWABAN.”
Arsen membuka satu mata.
“Kalian lama.”
“KENAPA KAMU DI SINI?!”
“Aku lapar.”
“Itu bukan alasan tinggal ilegal!”
Ternyata Arsen memang sudah beberapa hari “menumpang sementara”.
Dan menurut Zavian—
“dia nggak mau diawasi pemerintah sendirian.”
“Jadi kamu ajak dia ke sini?”
“Aku kasihan.”
“KAMU PUNYA BELAS KASIHAN TERNYATA?!”
“Sedikit.”
Arsen langsung menyahut dari sofa—
“Aku tersentuh.”
“Diam pengganggu.”
Akhirnya malam itu—
mereka makan mie instan bersama di ruang tengah yang masih berantakan.
Aneh.
Sangat aneh.
Karena beberapa bulan lalu mereka bahkan saling mengancam.
Sekarang malah rebutan telur rebus.
“Hoi itu punyaku,” protes Nayra.
“Aku lihat duluan,” jawab Arsen santai.
“Itu nggak berlaku buat telur!”
“Semua berlaku buat makanan.”
Zavian cuma memijat pelipis seperti ayah dua anak bermasalah.
Setelah makan—
Nayra berdiri di balkon kecil apartemen.
Hujan gerimis turun lagi.
Lampu kota menyala samar.
Dan untuk beberapa menit…
semuanya terasa damai.
Sampai suara kecil itu muncul lagi.
“Kamu suka tempat ini.”
Deg.
Nayra tersenyum kecil otomatis.
“Iya.”
“Kecil.”
“Tapi nyaman.”
Suara kecil itu terdengar seperti tertawa samar.
“Kayak rumah.”
Dada Nayra langsung hangat.
Karena ia sadar—
ini pertama kalinya dalam hidup ia benar-benar punya tempat yang terasa seperti rumah.
Bukan laboratorium.
Bukan ruang eksperimen.
Bukan tempat pelarian.
Tapi rumah.
Walau isinya manusia-manusia aneh.
“Kamu ngomong sendiri lagi.”
Nayra menoleh.
Zavian berdiri di pintu balkon sambil membawa dua cangkir minuman hangat.
“Aku mulai khawatir.”
“Sedikit aja.”
Cowok itu menyerahkan satu cangkir padanya.
Jari mereka bersentuhan sebentar.
Hangat.
Dan jantung Nayra langsung berdebar lagi seperti orang bodoh.
“Kamu gampang merah akhir-akhir ini.”
“Aku mau lempar kamu.”
“Ancaman favoritmu banyak.”
Nayra mendengus kecil.
Lalu bersandar di pagar balkon.
“Zavian.”
“Hm?”
“Kalau nanti semuanya benar-benar selesai…”
Tatapannya ke lampu kota.
“…kamu mau ngapain?”
Sunyi sebentar.
Lalu cowok itu menjawab pelan
“Nggak tahu.”
“Hah?”
“Aku nggak pernah mikirin masa depan.”
Deg.
Nayra langsung menoleh.
Dan ia sadar—
itu benar.
Orang ini hidup terlalu lama cuma buat bertahan hidup.
Bukan buat benar-benar hidup.
“Kalau gitu aku bantu pikirin.”
Zavian mengernyit sedikit.
“Contohnya?”
“Hm…”
Nayra pura-pura serius berpikir.
“Kita bisa buka toko tanaman.”
Tatapan Zavian langsung datar.
“Kamu lihat tanaman hampir mati di ruang tamu?”
“Oke valid.”
“Atau—”
Nayra langsung semangat lagi.
“Buka kafe.”
“Kamu nggak bisa bikin kopi.”
“Kamu juga.”
“Fair.”
Mereka akhirnya tertawa kecil bareng.
Dan jujur—
itu terasa menyenangkan sekali.
Tiba-tiba ponsel Arsen berbunyi keras dari dalam apartemen.
Lalu terdengar—
“WOI!”
Nayra dan Zavian langsung masuk lagi.
Arsen sekarang duduk tegak di sofa sambil menatap layar laptop dengan wajah serius.
Dan Nayra langsung tidak suka itu.
Karena Arsen jarang serius.
“Kamu kenapa?”
Arsen perlahan menoleh.
“Mungkin kita punya masalah.”
“Oke aku benci kalimat itu.”
Arsen memutar layar laptop ke arah mereka.
Rekaman CCTV muncul di sana.
Buram.
Gelap.
Tapi cukup jelas memperlihatkan seseorang sedang berdiri di depan apartemen mereka beberapa menit lalu.
Orang bertudung hitam.
Diam.
Mengawasi.
Deg.
Dada Nayra langsung dingin.
“Siapa itu?”
Arsen menggeleng pelan.
“Nggak tahu.”
Zavian langsung berubah tegang lagi.
Tatapannya dingin.
Bahaya.
Dan Nayra tahu ekspresi itu sekarang.
Artinya ia siap melindungi seseorang.
Artinya situasi mulai buruk.
“Dia berdiri di luar sekitar sepuluh menit.”
Arsen memperbesar gambar.
“Terus pergi.”
Hening.
Tak ada yang bicara beberapa detik.
Sampai akhirnya Nayra berkata pelan—
“Mereka nemuin kita ya.”
Tak ada yang menyangkal.
Dan itu jawabannya.