NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 11

Namun, diusir secara halus ternyata tidak lantas memadamkan api di dalam diri Aurora. Ia menolak untuk menyerah.

Begitu keluar dari gedung, Aurora memilih untuk tidak beranjak jauh. Ia berdiri di area pelataran depan perusahaan, menatap nanar ke arah pintu kaca lobby utama dengan gelisah.

Pikirannya berputar mencari rute alternatif. Mungkin, mungkin saja Aragon akan keluar untuk makan siang. Atau mungkin ia bisa menyelinap dengan cara lain. Demi kemungkinan kecil itu, Aurora memilih untuk menunggu.

Menit demi menit merangkak lambat. Matahari kian merangkak naik, menggantikan kesejukan pagi dengan hawa gerah yang membakar kulit.

Terik siang itu menyengat aspal Kota S dengan kejam, membuat udara di sekitar terasa kian menyesakkan. Kendati peluh mulai membasahi pelipis dan pakaian sederhananya terasa kian tidak nyaman, Aurora tetap bergeming di posisinya bagai patung yang sarat akan tekad.

Di tengah penantian yang melelahkan itu, sebuah sedan hitam mewah dengan kaca segelap malam perlahan membelah kemacetan, memasuki area drive-way De Hartmann Group.

Mobil itu melaju mulus tanpa suara menuju lobby utama. Namun, sebelum sempat berhenti sempurna, perhatian pria di balik kemudi mendadak tersita oleh siluet seorang gadis yang berdiri sendirian di bawah terik matahari yang menyengat.

Hank mengernyitkan dahi samar. Sorot matanya yang tajam mengunci sosok Aurora selama beberapa detik melalui kaca depan.

Penampilan gadis itu benar-benar kontras, bagai bumi dan langit jika dibandingkan dengan kaum borjuis yang biasa memadati distrik elit ini.

Pakaiannya terlampau sederhana, polos, dan jauh dari kesan bermerek. Namun, ada sesuatu pada gestur tubuhnya yang menarik perhatian Hank, gadis itu berdiri di sana dengan binar keputusasaan sekaligus keteguhan yang aneh.

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan drop-off utama. Begitu Hank membuka pintu dan turun, beberapa pengawal serta petugas keamanan luar langsung bergegas mendekat, menundukkan kepala mereka dengan takzim.

“Selamat siang, Tuan Hank.”

Hank tidak langsung membalas sapaan itu. Alih-alih melangkah masuk, ekor matanya justru melirik kembali ke arah Aurora yang berdiri beberapa meter di sayap kanan gedung. Sikap itu bagian dari sifat Hank yang selalu mencurigai hal sekecil apapun di sekitar Tuannya.

“Siapa dia?” tanya Hank dengan suara baritonnya yang dingin dan datar.

Salah satu petugas keamanan senior segera mencondongkan tubuh, menjawab dengan cepat dan penuh rasa segan.

”Gadis itu sejak pagi tadi memaksa ingin bertemu dengan Tuan Aragon, Tuan. Tapi karena tidak memiliki janji temu, kami sudah memintanya keluar.”

Hank kembali melirik sekilas ke arah Aurora sebelum berbalik, melangkah memasuki lobby perusahaan dengan pembawaan yang tenang sekaligus mengintimidasi.

Langkah sepatu kulit hitamnya yang mengilat berdentang ritmis di atas lantai marmer, sementara para pengawal mengekor di belakang dengan formasi rapi.

Namun, baru beberapa langkah Hank menapakkan kaki di dalam gedung, salah satu petugas keamanan memberanikan diri memanggilnya.

“Tuan Hank...”

Langkah Hank seketika terhenti. Pria itu menoleh sedikit, memberikan tatapan datar yang sontak membuat petugas keamanan tersebut menelan ludah gugup.

“Bagaimana dengan gadis itu, Tuan?” tanyanya teramat hati-hati, sembari melempar kerlingan ke arah Aurora yang masih berdiri di luar gedung, berteman terik matahari siang yang kian membakar.

Hank terdiam beberapa detik, mengamati siluet Aurora dari balik dinding kaca besar, sebelum akhirnya mendengus hambar. “Biarkan saja.”

Petugas keamanan itu tampak sedikit sangsi.

”Tapi... dia sudah menunggu di sana cukup lama, Tuan.”

Hank kembali mengayunkan langkahnya tanpa ekspresi, seolah menganggap interupsi itu tidak lebih dari sekadar angin lalu.

“Nanti juga bosan sendiri,” sahutnya dengan nada suara yang dingin dan abai.

Bagi Hank, fenomena seperti Aurora bukanlah hal baru.

Setiap hari, selalu saja ada orang yang datang dengan sejuta alasan demi bisa menemui seorang Aragon De Hartmann. Ada yang datang meratap meminta bantuan finansial, ada yang nekat menyodorkan proposal kerja sama tak masuk akal, bahkan tidak sedikit pula wanita yang sengaja datang membawa motif terselubung.

Namun, dari sekian banyak orang yang mencoba peruntungan tersebut, mayoritas dari mereka akhirnya memilih mundur teratur sebelum sempat menghirup udara di lantai tempat ruangan Aragon berada.

Sebab, tidak semua orang memiliki kualifikasi atau cukup nyali untuk sekadar berdiri di hadapan sang penguasa De Hartmann. Awalnya mereka memang memiliki semangat menggebu-gebu namun langsung menciut nyalinya tatkala melihat aura Aragon meski dari kejauhan.

Dan Hank sangat yakin, gadis sederhana di luar sana pun akan segera menyerah begitu rasa lelah dan lapar mulai menggerogoti tekadnya. Cepat atau lambat, dia pasti akan pergi.

“Ting!”

Pintu lift pribadi berdenting samar, terbuka lambat di lantai paling atas gedung De Hartmann Group. Begitu kaki melangkah keluar, atmosfer langsung berubah drastis.

Berbeda terbalik dengan hiruk-pikuk lantai bawah yang dipenuhi kesibukan korporat, lantai tertinggi ini diselimuti keheningan yang absolut.

Sunyi, mewah, sekaligus mengintimidasi. Keangkuhan tempat ini seolah sengaja dirancang untuk menciutkan nyali siapa pun yang berani menginjakkan kaki di sana.

Di sepanjang lorong hitam panjang yang lurus menuju ruang kerja utama, berdiri beberapa pengawal elite dengan setelan jas gelap. Tubuh mereka tegap tak bergerak, dengan tatapan waspada yang mengawasi setiap sudut.

Hank berjalan melewati mereka tanpa sedetik pun menurunkan temponya. Sebagai orang kepercayaan, Aragon, Hank selalu bekerja sebersih mungkin dan sesempurna mungkin, melihat bagaimana Aragon tidak akan mentolerir kesalahan meski hanya sekecil kuku.

Langkah sepatunya yang mantap menggema pelan, memecah kesunyian lorong sampai ia tiba di depan sepasang pintu ganda besar berwarna hitam pekat. Tanpa ragu, Hank mengetuk dua kali, lalu mendorongnya terbuka.

Ruangan di balik pintu itu terhampar begitu luas, didominasi oleh dinding kaca masif yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Dari sudut ini, seluruh panorama Kota S terpapar tanpa batas, gedung-gedung pencakar langit lainnya tampak kerdil di bawah sana.

Cahaya matahari siang yang terik menembus kaca, memantul samar di atas lantai marmer hitam yang dipoles mengilap layaknya permukaan danau beku.

Tepat di tengah ruangan, berdiri sebuah meja kerja megah berbahan marmer hitam pekat.

Permukaannya begitu licin dan bersih, memantulkan bayangan langit di luar bak sebuah cermin raksasa.

Dan di sana, di balik kemegahan itu. Aragon De Hartmann duduk dengan ketenangan yang mematikan.

Setelan jas pesanan khusus membalut tubuh tegapnya dengan sempurna tanpa ada satu pun lipatan yang cela. Jam tangan mahal yang mengkilap, dengan harga hampir senilai rumah mewah terpasang di pergelangan tangannya.

Jemari tangan kanannya memegang sebuah pena perak berujung runcing, sementara jempol kirinya bergerak ritmis, memutar pelan sebuah cincin signet hitam khas di jari manis kirinya.

Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun, aura dingin dan dominasi mutlak yang memancar dari pria itu sudah cukup untuk membuat ruangan terasa sesak seolah kehabisan oksigen.

Hank melangkah mendekat, lalu mengambil posisi berdiri beberapa meter di depan meja, menjaga jarak aman yang penuh rasa hormat.

“Tuan Aragon.”

Aragon tidak langsung mengangkat kepalanya. Fokusnya masih tertuju pada tumpukan berkas penting di hadapannya.

“Sudah selesai?” tanya Aragon masih fokus pada bekas di hadapannya. Suaranya rendah, berat, dan tanpa riak emosi, mengalun bersamaan dengan goresan ujung pena yang menandatangani dokumen korporat.

Bersambung

1
Rainn G.
Calon istri ga tuh 🗿
Rainn G.
Mau kasian tapi lebih kasian diriku 😭
Rainn G.
What? Sakit banget
Rainn G.
Psikotes banget tapi suka 🔥💅🏻
Rainn G.
Manly guys
Rainn G.
Asikk ributtt 🔥
Rainn G.
Merajuk ke? 😂
Rainn G.
Marahin aja marahin 😏
Rainn G.
Iyalah orang jodohnya wkwk
Rainn G.
Makanya jaga jarak 😑
Rainn G.
Padahal omongin aja langsung ra siapa tau bisa sampein
Anggitadama
Aku tungguin lho kok blm up kak?
Anggitadama
belum up ua kak
Anggitadama
keren sekali up lagi
Anggitadama
up lagi
Arumi Hanza
seru lanjut lagi novelnya
Arumi Hanza
lanjutkan update
Luna.aluna
aku sudah tebar koin untuk kakak semoga kakak senang jadi kakak semangat untuk update selanjutnya karena novel kakak bagus sekali
Luna.aluna
Kak apakah kakak tahu novel kakak sangat aku tunggu-tunggu sekali
Bangun Hanjaya
tolong jangan lama-lama up again
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!