"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan ruang perawatan VIP tersebut, disusul oleh langkah kaki beberapa orang yang masuk dengan ritme konstan.
Luna dan Mahendra serempak menoleh ke arah pintu.
Seorang dokter spesialis jantung senior berambut agak memutih melangkah masuk dengan jubah putihnya yang rapi, didampingi oleh dua perawat dan kepala pengawal pribadi Mahendra yang sejak tadi berjaga di luar.
Wajah dokter tersebut tampak sangat serius, memegang sebuah papan klip berisi lembaran grafik rekam medis dan hasil laboratorium yang baru saja keluar dari ruang laboratorium pusat.
"Selamat siang, Tuan Besar Dirgantara, Nyonya Luna," sapa dokter itu dengan nada suara yang rendah dan penuh hormat.
Ia memeriksa grafik pada layar monitor pemantau jantung Mahendra sejenak sebelum menghela napas panjang.
"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Luna dengan sisa suara yang masih agak serak.
Jemarinya masih bertautan erat dengan tangan kekar Mahendra di antara sela pembatas ranjang mereka.
Dokter itu membetulkan letak kacamata kerjanya, lalu menatap Mahendra dan Luna secara bergantian dengan tatapan yang sarat akan teka-teki medis yang berbahaya.
"Kondisi fisik Tuan Mahendra sudah berangsur stabil pasca-tindakan darurat tadi. Namun, ada hal sangat krusial yang harus saya sampaikan terkait penyebab serangan jantung ini, Tuan."
Mahendra menaikkan sebelah alis matanya, topeng sedingin es dan wibawa mutlaknya seketika kembali terpasang di wajah matangnya meski ia masih mengenakan selang oksigen.
"Katakan, Dokter. Jangan ada yang disembunyikan," titah Mahendra dengan suara baritonnya yang berat dan penuh tekanan intimidasi.
"Berdasarkan hasil uji sampel darah dan sisa cairan yang kami periksa, serangan jantung yang Anda alami bukan disebabkan oleh faktor kelelahan atau penyakit bawaan. Jantung Anda dipaksa bekerja melampaui batas karena adanya zat kimia asing jenis obat perangsang (aphrodisiac) berdosis sangat tinggi yang masuk ke dalam sistem tubuh Anda melalui cairan yang Anda minum," ungkap dokter itu dengan tegas.
Dokter itu menjeda kalimatnya sejenak, memberikan efek kejut yang luar biasa di dalam ruangan.
"Obat perangsang dengan dosis seekstrem itu seharusnya memicu gairah yang tak terkendali pada pria atau wanita. Namun, karena Anda langsung dihadapkan pada aktivitas menyetir di bawah terik matahari, kombinasi zat aktif itu justru menjadi racun mematikan yang memicu hipertensi\ maligna dan takikardia secara mendadak. Dan, melihat komposisi dosisnya yang sangat tidak wajar, kami menduga..." Dokter itu melirik Luna sekilas, "...obat ini sebenarnya dirancang untuk target dengan berat badan yang lebih ringan. Mungkin saja, obat keras itu salah sasaran, Tuan Mahendra."
Deg!
Mendengar penjelasan ilmiah yang mengerikan itu, atmosfer di dalam kamar VIP seketika merosot hingga ke titik beku.
Kepala pengawal Mahendra yang berdiri di sudut ruangan langsung mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengetat rapat, menyadari ada penyusup yang telah menembus pertahanan logistik mereka.
Mahendra terdiam seribu bahasa. Sepasang netra tajam sang Titan Bisnis seketika menggelap, memancarkan kilat amarah yang luar biasa pekat laksana badai yang siap menggulung siapa saja.
Otak jeniusnya yang biasa membaca konspirasi tingkat tinggi di dunia bisnis langsung berputar dengan kecepatan penuh, merangkai setiap kepingan kejanggalan yang terjadi sejak tadi pagi.
Ia menatap lekat-lekat wajah polos istrinya yang kini tampak membeku dengan mata membelalak sempurna.
Memori Mahendra mendadak terlempar kembali pada kejadian beberapa jam lalu di selasar rumah utama Dirgantara.
Ia mengingat dengan sangat jelas bagaimana raut wajah Emma yang pucat pasi laksana melihat hantu, dan bagaimana adiknya itu mati-matian menahan kepergian Luna dengan alasan-alasan yang sangat dicari-cari.
Piring porselen mewah, taplak meja, dan dekorasi arisan yang janggal itu, semuanya kini terjawab dengan masuk akal di kepala Mahendra.
Sebuah kesimpulan berdarah dingin meluncur di benak sang penguasa Dirgantara Holdings.
Emma dan Mila pasti sudah menyiapkan rencana utama (Plan A) untuk mempermalukan Luna di rumah lewat arisan sosialita. Namun, karena Luna mendadak memutuskan ikut dengannya ke Bandung, rencana itu gagal total. Dan sebagai gantinya, mereka menggunakan rencana cadangan (Plan B)—memasukkan obat perangsang ke dalam botol air mineral di mini-fridge mobil dengan asumsi bahwa Luna-lah yang akan meminumnya di tengah jalan tol agar gadis itu bertingkah murahan di depan para klien pentingnya di Bandung.
Tapi takdir berkata lain. Obat itu justru salah sasaran dan masuk ke dalam tubuh Mahendra sendiri.
"Mas... Mas Mahendra..." cicit Luna memecah keheningan dengan suara yang bergetar hebat.
Air mata penyesalan yang baru saja mengering kini kembali mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
Luna meremas tangan suaminya dengan rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya.
"I-ini semua salahku, Mas. Ini salahku karena aku keras kepala ikut kamu ke Bandung. Kalau saja aku tetap di rumah, Mas tidak akan..."
"Stt... diam, Sayang. Cukup," potong Mahendra dengan suara baritonnya yang mendadak melembut, penuh dengan kasih sayang yang teramat dalam.
Tanpa memedulikan rasa nyeri yang masih tersisa di dadanya dan mengabaikan beberapa kabel medis yang menempel di tubuhnya,
Mahendra dengan jantan bangkit dari posisi berbaringnya.
Pria berusia setengah abad itu menggeser tubuh tegapnya ke tepi ranjang, lalu merentangkan kedua lengan kekarnya untuk menarik tubuh lemas Luna ke dalam pelukan hangatnya.
Grep!
Mahendra memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat, posesif, dan protektif, menenggelamkan wajah menangis Luna di dada bidangnya yang hangat.
Aroma vanila bercampur obat-obatan menyatu di udara.
Tangan kekar Mahendra bergerak lembut mengusap punggung dan rambut panjang Luna yang terurai, mencoba meredam seluruh kepanikan dan rasa bersalah yang tidak seharusnya dipikul oleh istri kecilnya.
"Ini bukan salahmu, Luna. Sama sekali bukan salahmu, Sayang," bisik Mahendra.
"Justru kehadiranmu hari ini adalah penyelamat hidupku. Kamu sudah melakukan hal yang luar biasa, Nyonya Mahendra. Sekarang tenanglah, suamimu ini sudah aman di dekatmu," lanjut Mahendra sembari mengecup pucuk kepala Luna dengan penuh takzim, bersiap menyusun pembalasan yang jauh lebih kejam bagi ular-ular oportunis yang bersarang di dalam rumah utamanya sendiri.
Di dalam dekapan dada bidang yang hangat itu, isak tangis Luna perlahan-lahan mulai mereda.
Ia mendongak sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata tajam suaminya yang kini sudah kembali memancarkan kilat kecerdasan seorang penguasa bisnis, meski selang oksigen masih bertengger di hidungnya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas?" tanya Luna dengan nada suara yang masih agak serak, dipenuhi rasa penasaran sekaligus kecemasan tentang bagaimana mereka akan menghadapi ular-ular di rumah utama.
Mahendra tidak segera menjawab. Sebuah seringai miring yang begitu seksi, misterius, dan sarat akan kelicikan yang berbahaya terbit di sudut bibir tegas pria berusia setengah abad itu. Jemari kekarnya bergerak lembut, mengusap sisa air mata di pipi mulus Luna.
"Kita ikuti permainan mereka, Sayang," bisik Mahendra dengan suara baritonnya yang berat dan begitu tenang.
Luna mengedipkan matanya beberapa kali, tidak mengerti.
"Maksud Mas? Mereka, tidak tahu kalau kita sekarang berada di rumah sakit, kan?"
"Tentu saja tidak tahu. Pengawal-pengawalku sudah menutup rapat semua informasi di lapangan tol tadi. Bagi Emma dan Mila di Jakarta, saat ini kita berdua mungkin sudah tiba di Bandung," sahut Mahendra, matanya berkilat penuh kemenangan.
Ia memajukan sedikit wajah matangnya, mengikis jarak hingga napas hangatnya berembus di wajah Luna.
"Menarilah striptis di depanku, Sayang. Aku akan membuat seolah-olah kamu yang terangsang karena obat itu di depan banyak orang."
"Menari striptis?!" Pekik Luna spontan.
Sepasang netra beningnya membelalak sempurna laksana ditampar kenyataan yang tidak masuk akal.
Wajahnya yang semula pucat pasi seketika merona merah padam hingga ke leher.
"Aku, tidak bisa, Mas! Mana mungkin aku bisa menari seperti itu?!"
Mahendra justru terkekeh rendah, sebuah tawa seksi yang menggetarkan dada bidangnya yang masih ditempeli beberapa kabel elektroda medis.
Cengkeraman tangannya di pinggang ramping Luna semakin posesif, menarik tubuh ranum istrinya agar semakin menempel ketat pada tubuh kekarnya.
"Bisa, Sayang. Aku yang akan membantumu nanti," goda Mahendra dengan nada suara yang mendadak berubah serak, sarat akan gairah baru yang entah bagaimana bisa bangkit kembali dengan begitu cepat.
Kilat lapar seorang serigala kembali mendominasi tatapannya. "Dan, setelah tarian itu selesai, mungkin aku akan meminta lebih darimu malam ini."
Luna seketika menggelengkan kepalanya dalam-dalam, menatap suaminya dengan pandangan tidak habis pikir sekaligus gemas yang luar biasa. Ia benar-benar syok melihat perubahan drastis tingkah suaminya ini.
Bagaimana mungkin seorang Mahendra Dirgantara—pria yang baru saja melewati gerbang kematian akibat serangan jantung beberapa jam yang lalu di pinggir jalan tol—kini justru sudah kembali berpikir mesum dan berniat menjebaknya dalam permainan intim yang gila di balik dalih menyusun rencana pembalasan dendam.
Pengendalian diri sang Don Juan legendaris tampaknya benar-benar telah hanyut total, menyisakan sisi buas yang siap memangsa kepolosan istrinya kapan saja tanpa peduli tempat dan situasi medis yang sedang melingkupi mereka.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi