NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rel Kereta

Pelarian terus berlanjut, sekarang dengan lebih banyak luka dan lebih banyak kenangan mengerikan yang akan menghantui mimpi mereka-jika mereka berhasil hidup sampai punya kesempatan untuk tidur lagi.

"LARI! LARI KE JALAN RAYA!" teriak Jimin, memimpin kelompok utama yang sudah jauh di depan.

Mereka belok ke sebuah persimpangan yang lebih lebar, dan di sana, menghalangi jalan seperti bangkai paus besi, adalah sebuah truk pengangkut kontainer berukuran besar. Roda depannya tertusuk pecahan baja, dan kaca depannya retak, tapi badan truknya terlihat utuh. Tampak sepi, mati.

"TRUK! BESAR!" Jaemin bernafas lega.

"Tapi mati! Gak bisa jalan!" sahut Yeri, putus asa.

"Tunggu..." Anton yang dari tadi diam, matanya yang biasanya tenang dan suka musik, kini terpaku pada kabin truk. Dia melihat sesuatu.

"Kuncinya... kuncinya masih ada di kontak!" Sebuah keajaiban kecil-atau mungkin kutukan-pengemudi truk itu mungkin melompat keluar dan lari saat serangan terjadi, meninggalkan kunci di tempatnya.

"Lo bisa nyetir ini, Anton?" tanya Jeno penuh harap.

"Ayah gue punya bengkel. Gue sering bantuin perbaikin truck kayak gini,"

jawab Anton, sudah berlari ke arah pintu kabin. "Coba gue starter!"

Tanpa pikir panjang, Jimin memberi perintah. "Semua naik ke bak belakang! Cepet! Bantu yang luka!"

Gerakan mereka seperti mesin yang terlatih. Chenle dan Minjeong dengan hati-hati mengangkat Ningning dari kursi rodanya ke atas bak tertutup di belakang kabin (pick-up box). Kursi rodanya dilipat dan dilemparkan masuk. Jaemin, Hina, Koeun, Yuha, Yeri, Stella, Yeon, Ian, Sohee, Renjun, Jeno, Sion-semua berhamburan masuk ke bak yang gelap dan pengap itu. Eunseok dibantu duduk di kursi samping sopir di dalam kabin, karena kondisinya yang masih terlalu lemah untuk bergoyang di bak.

Di kabin, Anton memutar kunci. Mesin diesel besar itu merintih, batuk-batuk, lalu dengan suara GROAARRR! yang menggelegar, hidup! Lampu dashboard menyala.

"YES!" teriak Anton, wajahnya berbinar sesaat sebelum dihantui realita. Dia lihat ke spion. "Yang lain! Sungchan mereka! Di mana?!"

"Mereka di belakang! Jalan pelan arahin ke mereka!" pekik Jimin dari bak belakang yang pintunya masih terbuka.

Anton memasukkan gigi, dengan susah payah mengendalikan truk besar itu berbelok. Truk itu bergerak pelan, seperti raksasa yang baru bangun, menuju arah dari mana jeritan dan suara pertarungan tadi datang.

Kepanikan dan desahan napas mereka adalah satu-satunya musik di jalanan sunyi itu. Jeritan Sunkyung masih bergema di telinga, diikuti dengusan marah Klepek-Klepek yang terluka. Sungchan pincang parah, darah mengucur dari pahanya yang terkoyak. Haechan dan Mark hampir menyeret Shotaro yang berusaha menopang tubuh Sunkyung yang lemas.

"Kita gak bisa... gak bisa jauh..." desis Haechan, paru-parunya terasa terbakar.

Tiba-tiba, dari ujung jalan yang gelap, sebuah suara menggelegar memecah kesunyian.

GROARRRR-!

Bukan suara makhluk. Tapi suara mesin diesel besar yang hidup, kasar, dan penuh janji.

Cahaya lampu besar menerangi jalan di depan mereka, memotong kabut ketakutan. Sebuah truk pengangkut kontainer berwarna biru kusam bergerak pelan mendekat, seperti kapal penyelamat di lautan kegelapan. Dari jendela samping kabin, sebuah tangan melambai-lambai dengan gila.

"AYOOO!!! NAIK!!! BURUAN NAIK!!!" suara Anton yang biasanya kalem, kini terdengar melengking oleh adrenalin dan keputusasaan.

Di bak belakang truk yang pintunya terbuka lebar, wajah-wajah yang mereka kenal-Jimin, Jaemin, Minjeong, Chenle, Yeri, Stella-terlihat, juga sedang berteriak dan melambaikan tangan.

"ITU ANTON!!" teriak Mark, secercah harapan menyala di matanya yang lelah.

"AYO BURUAN! LARI KE SINI!" Jeno menjulurkan tangannya dari bak truk.

Truk itu mendekat, mesinnya menderu meminta mereka untuk bergerak lebih cepat. Sungchan menggerutu kesakitan tapi memaksakan kakinya untuk berlari. Dengan susah payah, Mark dan Shotaro mendorong Sunkyung yang setengah pingsan masuk ke bak, ditangkap oleh tangan-tangan yang menunggu di dalam. Mark segera melompat masuk setelahnya.

"MASUK! CEPET!" Jimin berteriak dari dalam bak, membantu menarik tubuh Sunkyung yang nyaris tak sadar ke dalam.

Mark melompat masuk setelahnya, Haechan membantu Sungchan yang pincang untuk naik. "AYOOK!"

Tapi dari kegelapan di belakang mereka, dua Klepek-Klepek yang lebih kecil dan cepat muncul. Mereka meluncur langsung ke arah Haechan dan Sungchan yang masih setengah di luar.

"AWAS!" Shotaro yang masih berdiri di tanah, melihatnya. Tanpa pikir panjang, naluri parkour dan keberaniannya yang gila muncul.

shotaro melompat keluar dari bak truk yang sudah mulai melaju pelan, mengambil sebatang tongkat besi dari tanah, dan menghadang di antara teman-temannya dan makhluk itu.

"SHOTARO, JANGAN! MASUK!" teriak Sungchan dari dalam bak, mencoba meraihnya.

Tapi Shotaro sudah mengayunkan tongkatnya, membuat Klepek-Klepek pertama menghindar. "LARI! CEPET MASUK!JANGAN PEDULIIN GUE!!" shotaro berteriak pada Haechan dan Sungchan.

Haechan, dengan tenaga terakhir, mendorong Sungchan sepenuhnya masuk ke bak, lalu dia sendiri melompat masuk. "SHOTARO, AYO! LO BISA!"

Shotaro berbalik untuk berlari ke truk yang sudah mulai mempercepat laju. Tapi Klepek-Klepek kedua, yang lebih licik, sudah memanjat sisi truk dan meloncat tepat ke arah punggung Shotaro.

"Ugh!" Shotaro terhantam, jatuh tergeletak di aspal. shotaro melihat ke arah bak truk, di mana wajah-wajah temannya yang horror dan hancur menatapnya. Darah mengalir dari sudut mulut Shotaro. Dia tersenyum getir, seolah berkata "sudahlah".

"SHOTAROOO!!!" teriakan histeris bergema dari dalam bak. Sungchan berusaha melompat keluar, tetapi ditahan oleh Jeno dan Mark.

"JANGAN! KALO LO TURUN KITA BAKAL KEHILANGAN LO JUGA!" teriak Jeno, air matanya mengalir.

Di kabin, Anton melihat dari spion. Tangannya menggenggam kemudi hingga putih. Air mata mengalir deras di pipinya. Dia melihat Shotaro yang kecil dan lincah itu berlari menjauh, menarik perhatian makhluk-makhluk itu, memberi mereka kesempatan., "TUTUP PINTUNYA! MARK, TUTUP SEKARANG!"

Mark, dengan tangisan yang menyumbat napasnya, mendorong pintu besi berat di belakang bak truk.

"MAAF... SHOTARO... MAAF..." isaknya terdengar sebelum pintu "BRANG!" tertutup rapat, memutus pemandangan mengerikan di luar: Klepek-Klepek yang mulai mengerubungi tubuh tak bergerak Osaki Shotaro, si ahli dance dan parkour yang ceria.

Di dalam bak yang kini gelap total, hanya diterangi celah-celah kecil, histeria mencapai puncaknya. Sunkyung menangis tanpa suara, shock. Haechan menggigil tak terkendali. Sungchan memukul-mukul dinding truk dengan tangan terkepal, penuh kemarahan dan rasa bersalah. Yang lain menangis, memeluk satu sama lain, tercekik oleh kehilangan yang lain.

Anton di depan, dengan wajah basah oleh air mata, menekan pedal gas sekuat tenaga. Truk raksasa itu melaju kencang, menerobos rintangan kecil, menjauh dari tempat salah satu sahabat mereka telah gugur. Truk itu menjadi peti mati berjalan yang membawa mereka menjauh dari kematian, tetapi juga membawa kenangan pahit yang tak akan pernah hilang.

Kegelapan total menyergap mereka di dalam bak truk yang pengap. Hanya suara mesin yang menderu dan tangisan yang tak terbendung. Mereka kehilangan dia. Osaki Shotaro, orang yang selalu bisa membuat mereka tersenyum dengan gerakan dance konyolnya, yang selalu punya energi untuk melompati rintangan, telah melompat ke dalam kegelapan yang paling gelap-untuk mereka.

Truk itu meluncur di jalanan kota mati, membawa mereka menjauh dari kematian seorang pahlawan, membawa mereka menuju ketidakpastian yang entah akan meminta pengorbanan siapa lagi. Di dalam kegelapan itu, mereka bukan lagi sekadar sekelompok siswa. Mereka adalah sekumpulan jiwa yang terluka, yang mulai memahami harga sebenarnya dari kata "bertahan hidup".

Kegelapan di dalam bak truk yang tertutup rapat itu lebih pekat daripada malam mana pun yang pernah mereka alami. Udara terasa pengap, bercampur bau besi, keringat, darah, dan air mata. Suara mesin diesel yang menderu keras di luar hanya menjadi latar belakang bagi derai tangis yang tak terbendung.

Sunkyung masih syok, tubuhnya menggigil tak terkendali di pangkuan Yuha dan Yeon. Dia tidak menangis lagi, hanya matanya terbuka lebar, kosong, menatap kegelapan tanpa fokus.

Haechan duduk bersandar di dinding, wajahnya kotor oleh air mata dan debu. Tangannya masih gemetar hebat. "Dia... dia sengaja... dia sengaja lari ke arah lain..." gumamnya berulang-ulang, seperti tak percaya.

Sungchan memegangi luka di pahanya yang sudah dibalut darurat oleh Sohee, tapi rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding sakit di dadanya. Dia memukul pelan lantai besi truk. "Seharusnya gue... seharusnya gue yang turun... Gue yang terluka, gue yang seharusnya..."

"Jangan, Chan," Jeno meletakkan tangan di bahunya, suaranya serak.

"Lo turun, kita bakal kehilangan lo juga. Dia... dia milih." Kata-kata itu terasa pahit di mulutnya.

Chenle memeluk erat Ningning yang terbaring lemas di pangkuannya. Air matanya menetes ke rambut Ningning. "Shotaro... dia nari breakdance di acara pensi... semua pada tepuk tangan... sekarang..." Dia tidak sanggup melanjutkan.

Minjeong dan Jimin duduk berhadapan, di antara mereka terbaring tas-tas berisi persediaan. Jimin memegangi kepala, napasnya berat.

"Setiap kali kita bernapas lega... setiap kali kita dapat kesempatan... harganya selalu salah satu dari kita. Jiwoo di plaza... Wonbin di gang... Sekarang Shotaro..."

"Ini bukan salah kita, Jimin," Minjeong berkata, tapi suaranya tidak meyakinkan. "Ini salah dunia. Dunia yang sudah gila."

Yeri bersandar di dada Mark, tangisnya sudah mereda menjadi isakan lemah. "Kita bakal sampai di Balai Kota... terus apa? Apa kita bakal aman di sana? Atau cuma nunggu giliran berikutnya?"

Tidak ada yang bisa menjawab. Pertanyaan itu menggantung di udara pengap, bersama dengan bayangan tubuh Shotaro yang tergolek tak berdaya.

Jaemin, dengan luka di lengannya yang berdenyut, mencoba memecah kesedihan dengan logika. "Dokter Kim bilang mereka tertarik pada sinyal biologis, terutama dari yang sakit atau stres berat. Sekarang kita... kita semua dalam kondisi itu. Kita seperti membawa obor di kegelapan buat mereka."

"Jadi apa saran lo? Bunuh diri beramai-ramai biar gak narik perhatian?" sergap Hina dengan nada getir, tetapi maksudnya serius.

"Bukan," Jaemin menggeleng. "Tapi kita harus lebih hati-hati. Harus bisa... mengendalikan ketakutan kita. Susah, tapi harus."

Giselle yang duduk di sudut dengan tablet matinya, tiba-tiba bersuara.

"Shotaro... dia tadi bikin keributan. Dia sengaja narik perhatian mereka ke dirinya. Itu... itu strategi. Dia kasih kita peluang. Kita jangan sia-siakan dengan cuma nangis dan takut." Air mata mengalir di pipi giselle, tapi suaranya tegar. "Kita harus bertahan. Buat dia. Buat Jiwoo. Buat Wonbin."

Kata-kata Giselle seperti tamparan yang membangunkan. Tangis perlahan mereda, digantikan oleh desahan berat dan pandangan yang mulai kembali fokus di kegelapan.

"Berapa lama lagi ke Balai Kota?" tanya Stella pada siapa saja.

"Gak tau," jawab Renjun. "Tapi Anton nyetir kenceng banget. Semoga..."

Tiba-tiba, truk berbelok tajam, membuat mereka semua terlempar ke satu sisi. Lalu, suara brembes! keras, dan truk itu melambat, lalu berhenti.

Semua membeku. Apa yang terjadi? Kecelakaan? Klepek-Klepek menghadang?

Mereka mendengar suara Anton yang berteriak dari kabin, tapi teredam oleh dinding. Lalu, suara pintu kabin terbuka dan tertutup.

Kepanikan baru mulai merekah, sebelum terdengar ketukan di pintu belakang bak truk.

Tok. Tok. Tok.

Semua menahan napas. Jimin dan Jaemin saling pandang, lalu perlahan mendekati pintu.

"Siapa?" tanya Jimin, suaranya tegang.

"Anton! Buka! Cepetan!" suara Anton dari luar terdengar panik namun berusaha ditekan.

Dengan hati-hati, Mark dan Jeno membuka kunci dan mendorong pintu besi itu terbuka sedikit.

Cahaya senja yang kemerahan menyilaukan mata mereka. Anton berdiri di sana, wajahnya pucat dan penuh keringat.

"Kita di pinggir jalan deket rel kereta. Truk... truk gak bisa jalan lagi. Ban depan kempes dua. Kena paku besi atau apa," lapor Anton, napasnya tersengal.

"Kita harus jalan kaki dari sini. Tapi... tapi dari sini udah keliatan. Itu... Balai Kota."

anton menunjuk ke arah barat. Di kejauhan, di atas siluet bangunan-bangunan yang hancur, berdiri sebuah kompleks gedung pemerintahan yang megah. Sebagian kacanya pecah, tapi struktur utamanya masih berdiri kokoh. Dan yang paling penting-di sekelilingnya, terlihat pagar pembatas tinggi yang tampak didirikan dengan tergesa-gesa, dan di dalam area itu, terlihat tenda-tenda darurat dan beberapa kendaraan militer yang parkir.

Titik Kumpulan Aman. Fasilitas Karantina. Harapan.

Tapi jaraknya masih sekitar satu kilometer. Satu kilometer area terbuka, dengan atap-atap bangunan di sekelilingnya yang bisa saja menyembunyikan puluhan pasang mata biru yang haus.

Mereka harus keluar dari truk. Mereka harus menyeberangi padang terbuka itu. Dengan Ningning yang masih lemah, Sungchan yang pincang, Sion dan Ian yang kesleo, dan semua trauma yang baru saja mereka alami.

Mereka memandangi Balai Kota, lalu saling pandang. Air mata sudah kering untuk sementara, digantikan oleh ketakutan baru yang lebih dingin, lebih runcing. Perjalanan terberat mereka mungkin justru dimulai dari sini: seratus meter terakhir menuju gerbang penyelamatan, yang bisa menjadi jalan termudah menuju kematian.

Cahaya senja yang kemerahan mengecat langit dengan warna darah tua, menerangi wajah-wajah yang lesu di mulut bak truk. Balai Kota di kejauhan terlihat seperti benteng di ujung dunia, begitu dekat namun terasa mustahil untuk dicapai.

"Satu kilometer," gumam Hina, matanya memperkirakan jarak. "Dengan kondisi kita... dan mereka pasti mengintai di atap-atap sepanjang jalan itu."

"Kita gak punya pilihan lain," Jimin menjawab, suaranya berat namun tegas. Dia melompat turun dari bak truk, kakinya terasa kaku.

"Di truk ini kita duduk santai. Kita harus bergerak. Tapi kita harus punya rencana yang lebih baik dari sekadar lari."

Jaemin mengikutinya turun, memegangi lengannya. "Dokter Kim bilang mereka tertarik pada sinyal stres dan penyakit. Ningning masih demam, itu seperti beacon buat mereka. Kita harus... samarkan dia."

"Gimana caranya nyamarin orang demam?" tanya Chenle sambil turun dengan hati-hati sambil tetap memeluk Ningning.

"Selimut. Banyak lapis," usul Sohee dengan cepat. "Tapi itu cuma nutupi panas, gak nutupi sinyal biologis lainnya."

"Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali," Minjeong menambahkan. Mereka mulai mengeluarkan selimut darurat dari tas.

Sungchan yang pincang, dibantu turun oleh Jeno dan Mark, mengusulkan dengan suara serak. "Kita bagi dua kelompok lagi. Kelompok kecil dan cepat yang jadi umpan, narik perhatian ke arah lain. Kelompok besar yang bawa yang luka, menyelinap ke Balai Kota."

"Umpan? Kayak Shotaro?" Haechan langsung bereaksi, wajahnya masih pucat. "Gue gak mau... gue gak mau ada yang jadi umpan lagi!"

"Dan siapa yang mau jadi umpan?" Renjun menatap sekeliling. "Kita semua sudah kelelahan dan ketakutan."

"Gue," kata Anton tiba-tiba. Semua menoleh. Dia berdiri di dekat kabin truk, wajahnya tenang. "Gue yang nyetir, gue yang paling 'segar' secara fisik. Gue bisa lari. Gue ambil rute lain, bikin keributan."

"Sendirian? Itu bunuh diri!" sergap Yeri.

"Gak sendirian," Eunseok yang masih duduk di kursi kabin, bersuara lemah. "Gue ikut. Lengan gue sakit, tapi kaki gue masih bisa buat lari pelan. Dua orang lebih menarik perhatian daripada satu."

"Eun, lo gak bisa-" Jimin mulai protes.

"Gue bisa," potong Eunseok, matanya berapi-api. "Gue gak mau cuma jadi beban yang ditenteng. Biar gue berbuat sesuatu. Buat Shotaro."

Diam yang tegang menyergap. Pengorbanan lagi. Tapi kali ini, sukarela.

"Oke," Jaemin akhirnya memecah kebisuan. "Tapi kalian jangan jadi pahlawan bodoh. Kalian cuma perlu alihin perhatian cukup lama buat kita nyampe gerbang. Begitu kita dekat, kalian putar arah dan nyusul. Jangan langsung ke Balai Kota, tapi cari tempat sembunyi lain dulu, baru nyusup."

Rencana itu gila, rapuh, tapi itu satu-satunya yang mereka punya.

Mereka dengan cepat mempersiapkan. Ningning dibungkus dengan beberapa lapis selimut, hanya wajahnya yang terbuka. Dia dinaikkan ke atas sebuah papan yang mereka ambil dari truk, untuk diusung oleh Chenle, Minjeong, dan Yuha. Sungchan, Sion, dan Ian akan dipapah oleh yang lain.

Anton dan Eunseok mengambil beberapa kaleng kosong dan potongan besi untuk dijadikan alat buat berisik.

"Kalian semua," Jimin menatap satu per satu anggota kelompoknya yang tersisa-wajah-wajah yang sudah tak asing, yang telah melewati neraka bersamanya. "Kita mulai dari sini. Sampai di gerbang, jangan berhenti. Jangan lihat ke belakang. Percaya pada Anton dan Eunseok. Percaya pada kita semua."

Matahari hampir tenggelam sepenuhnya. Warna jingga di langit berubah menjadi ungu yang mengancam.

"Saatnya," Anton berkata, mengepalkan tangannya. Dia dan Eunseok melangkah ke arah selatan, menyusuri jalur rel kereta yang sejajar dengan jalan menuju Balai Kota.

"Semoga beruntung," bisik Jaemin.

"Kalian juga," balas Eunseok, lalu mereka berdua menghilang di balik semak-semak.

Kelompok utama-dengan beban berat di pundak dan hati-mulai bergerak menyusuri pinggir jalan, memanfaatkan setiap bayangan yang ada, menuju siluet Balai Kota yang semakin jelas. Setiap langkah terasa seperti mengarungi lumpur ketakutan. Setiap desiran angin membuat mereka membeku, mengira itu adalah kepakan sayap.

...

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!