NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Luka yang Sengaja Digores

Luka yang Sengaja Digores

​Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku yang tampak asing. Gaun hitam berbahan satin ini melekat ketat di tubuhku, memperlihatkan lekuk yang biasanya aku sembunyikan. Bagian punggungnya terbuka lebar, memperlihatkan kulit mulusku yang dulu sering dijamah Gavin dengan tatapan memujanya.

​Tapi malam ini, tatapan itu tidak ada.

​Gavin sedang berada di ruang tengah, sibuk menyiapkan obat-obat Mbak Siska. Dia bahkan tidak melirik saat aku melewati ruang tamu dengan aroma parfum yang menyengat. Dia benar-benar menganggapku transparan.

​"Rum, cantik banget malam ini. Mau ke mana?" tanya Mbak Siska dengan suara lemah dari sofa. Dia tersenyum tulus, sebuah senyuman yang justru terasa seperti sembilu di hatiku.

​"Ada acara sama Raka, Mbak. Makan malam panitia," jawabku, mataku melirik Gavin.

​Gavin hanya mengangguk pelan tanpa menoleh dari botol obat di tangannya. "Hati-hati di jalan. Raka pria yang baik, jangan bikin dia nunggu."

​Kalimat itu... kalimat itu lebih menyakitkan daripada tamparan. Dia menyuruhku pergi dengan pria lain? Dia melepaskanku seolah-olah aku ini beban yang harus segera dipindahtangankan?

​Di Restoran Rooftop - Pukul 20.00

​Suasana restoran ini sangat romantis, tapi hatiku dingin. Di depanku, Raka menatapku dengan mata yang penuh puja. Dia terus memuji kecantikanku, tangannya berkali-kali mencoba meraih jemariku di atas meja.

​Aku meraih ponselku. Aku butuh reaksi. Aku butuh ledakan dari Gavin.

​Aku mengambil foto tanganku yang sedang digenggam erat oleh Raka, dengan latar belakang cahaya kota yang temaram. Aku mengunggahnya ke Snapgram dengan caption: "Akhirnya menemukan tempat yang benar-benar membuatku merasa berharga. Makasih, Rak 🖤"

​Aku tahu Gavin sedang memegang ponselnya sekarang untuk memantau jam minum obat Mbak Siska. Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit.

​Ting.

​Notifikasi masuk. Hatiku melonjak. Namun, itu bukan pesan dari Gavin yang marah. Itu notifikasi dari akun Gavin yang baru saja memberi tanda "Love" di postinganku, lalu sedetik kemudian dia mengirim pesan singkat.

​Gavin Pratama: "Baguslah kalau kamu bahagia. Siska juga senang lihat kamu punya seseorang yang bisa menjagamu selamanya. Selamat bersenang-senang."

​Ponselku nyaris jatuh dari genggamanku. Darahku mendidih. Dia benar-benar mengabaikanku! Dia sengaja menggunakan nama Mbak Siska sebagai tameng agar aku menjauh.

​"Rum? Lu kenapa? Kok mukanya tiba-tiba ditekuk gitu?" tanya Raka khawatir.

​Aku menatap Raka. Raka yang selalu ada. Raka yang lembut. Dan tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di kepalaku. Kalau Gavin mau aku bersama Raka, maka aku akan memberinya pertunjukan yang paling panas sekalian.

​"Rak, gue... gue kayaknya pusing. Kita keluar dari sini yuk? Gue pengen cari tempat yang lebih sepi," bisikku sambil menarik kerah baju Raka, mendekatkan wajahku ke wajahnya.

​Raka tampak terkejut, tapi matanya langsung berkilat. "Lu mau ke mana, Rum?"

​"Ke mana aja... yang nggak ada orang lain," sahutku berani.

​Di Sisi Lain - Kamar Rumah Sakit

​Gavin duduk di samping ranjang Siska yang sudah terlelap karena pengaruh obat penenang. Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol tajam. Matanya menatap layar yang menampilkan foto Arum bersama Raka.

​Rahangnya mengeras. Ada api yang membara di matanya, sebuah kecemburuan yang sangat primitif. Dia ingin melempar ponsel itu, dia ingin lari ke restoran itu dan menyeret Arum pulang. Dia ingin menghancurkan wajah Raka sampai tak berbekas.

​Namun, saat tangannya bergerak hendak mengambil kunci mobil, jemari Siska yang lemah bergerak menyentuh punggung tangannya.

​"Mas... jangan pergi..." igau Siska dalam tidurnya.

​Gavin mematung. Dia menatap istrinya yang pucat dan tak berdaya. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras dari rasa cemburu. Dia menarik napas panjang, mencoba mematikan sisi predatornya.

​"Aku di sini, Siska. Aku nggak akan ke mana-mana," bisik Gavin parau. Dia meletakkan kembali kunci mobilnya. Dia memilih untuk tinggal, meski hatinya terasa seperti sedang disayat-sayat membayangkan apa yang sedang dilakukan Arum di luar sana.

Di Dalam Mobil Raka - Area Parkir Sepi

​Suara musik low-fi mengalun pelan dari speaker mobil Raka. Kaca mobil mulai sedikit berembun karena udara di luar cukup dingin, tapi di dalam sini, suasananya mendidih. Aku duduk di kursi penumpang yang sudah direbahkan, sementara Raka berada di atasku, mengungkungku dengan napas yang memburu.

​Aku menggila. Aku benar-benar kehilangan kendali diri. Bukan karena aku cinta pada Raka, tapi karena aku ingin membalas dendam pada Gavin yang mengabaikanku.

​"Rum... lu beneran nggak apa-apa?" bisik Raka, suaranya serak. Tangannya gemetar saat menyentuh pinggangku yang terekspos karena potongan gaun ini.

​"Diem, Rak. Jangan banyak tanya," sahutku ketus. Aku menarik kerah bajunya, mempertemukan bibir kami dalam ciuman yang kasar. Aku tidak memberikan kelembutan, aku hanya memberikan tuntutan.

​Sambil bercumbu dengan Raka, tanganku diam-diam meraih ponsel di samping jok. Aku membuka kamera, memposisikannya di sudut yang strategis. Aku mengambil video pendek—hanya sepuluh detik. Video yang memperlihatkan rambutku yang berantakan, tangan Raka yang meremas bahuku, dan suara desahan napas yang sengaja kubuat sedramatis mungkin.

​Sent.

​Aku mengirimnya langsung ke nomor Gavin. Aku ingin dia melihat ini di tengah tugas "mulia"-nya menjaga Mbak Siska.

​"Arum... leher lu..." Raka mulai menciumi leherku, lidahnya menyentuh kulit sensitif di sana. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Aku mencoba membayangkan kalau bibir yang basah ini adalah milik Gavin. Aku mencoba membayangkan cengkeraman tangan ini adalah milik Gavin yang posesif.

​"Ahh... Rak..." desahku, namun dalam hati aku meneriakkan nama pria lain.

​Aku membiarkan Raka menggerayangi punggungku yang terbuka, membiarkan jemarinya menelusuri tulang belikatku. Ketegangan ini, rasa 'salah' ini, adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup setelah seminggu diabaikan.

​Gavin Pratama: "Berhenti, Arum. Jangan jadi murahan hanya karena aku sedang tidak menyentuhmu. Aku sedang menjaga kakakmu. Pulang sekarang, atau aku sendiri yang akan menjemputmu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup."

​Kembali ke Mobil

​Aku membaca pesan itu di tengah pergulatan panas dengan Raka. Aku tertawa sinis. Murahan? Dia bilang aku murahan?

​"Rum? Kenapa ketawa?" Raka berhenti sejenak, menatapku bingung. Bibirnya sudah memerah, dan rambutnya sangat berantakan.

​"Nggak apa-apa, Rak. Lanjutin aja. Gigit leher gue kalau perlu. Kasih tanda di sebelah yang lama," tantangku sambil menarik kepalanya kembali ke leherku.

​Aku ingin Gavin tahu kalau tandanya sudah tidak eksklusif lagi. Aku ingin dia tahu kalau aku bukan miliknya lagi.

​Raka yang sudah terlanjur terbawa suasana kembali mencumbuku dengan liar. Tangannya mulai mencoba menurunkan ritsleting gaunku, tapi aku langsung menahan tangannya.

​"Cuma sampai sini, Rak. Cukup," ucapku tiba-tiba, suaranya dingin dan tegas.

​"Tapi Rum—"

​"Gue bilang cukup!" aku mendorong bahu Raka. Aku sudah mendapatkan apa yang kumau. Aku sudah mengirimkan "pesan" itu pada Gavin. Aku tidak benar-benar ingin melakukan hubungan intim dengan Raka. Aku hanya butuh dia sebagai alat untuk menyakiti Gavin.

​Aku merapikan gaun dan rambutku di depan kaca spion. "Anterin gue pulang sekarang. Gue capek."

​Raka menatapku dengan tatapan kecewa dan bingung, tapi dia tidak berani membantah. Dia menyalakan mesin mobil dengan diam. Sepanjang perjalanan, aku hanya menatap layar ponselku, menunggu reaksi selanjutnya dari Gavin yang aku tahu... saat ini pasti sedang tersiksa di rumah sakit, terjebak antara tugas sebagai suami dan insting sebagai predator yang cemburu buta.

​Permainan ini baru saja dimulai, Mas Gavin. Dan kali ini, akulah yang memegang kendalinya.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!