Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Mentari pagi baru saja muncul dari ufuk timur lalu menyinari seluruh bangunan besar kediaman Anderson dengan cahaya keemasan yang terasa tenang dan hangat. Namun suasana tenang itu sama sekali tidak dirasakan oleh Gwen. Ia sudah tampil rapi dengan seragam sekolahnya lengkap, meski dasi di lehernya masih terpasang asal saja. Sejak cahaya fajar mulai menyingsingkan, pikirannya sudah tertambat kuat pada satu tujuan saja yaitu kamar adiknya, Kiyo.
Gwen melangkah cepat menyusuri koridor lantai dua sambil mengabaikan para pelayan yang sedang sibuk membersihkan ruangan. Ia tahu Kiyo semalam memilih tidur di sofa ruang keluarga lantai bawah setelah selesai berbicara panjang lebar dengan ibunya dan hal itu menjadi kesempatan emas bagi Gwen untuk menemui dan mengecek keadaan Bianca tanpa ada gangguan dari si pemilik kamar yang begitu melindungi itu.
Tok! Tok! Tok!
Gwen mengetuk pintu kamar Kiyo dengan irama yang terdengar agak tidak sabar. "Bi? Bianca? Kamu sudah bangun?"
Di dalam kamar itu, Bianca yang sebenarnya sudah terjaga sejak satu jam yang lalu langsung bergerak sigap. Tadi ia sempat berdiri tegak di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya dengan senyum penuh rencana, namun kini ia seketika mengubah seluruh ekspresi wajahnya. Ia mengacak-acak sedikit rambutnya agar terlihat berantakan dan alami lalu mengusap-usap pipinya supaya tampak lebih pucat dan lemas. Setelah itu ia berjalan mendekati pintu dengan langkah yang sengaja diseret pelan-pelan.
'Ayo kita mulai sandiwara paginya, Gwen. Gue mau liat seberapa jauh lo bakal berlutut dan menuruti kemauan cewek beasiswa ini,' batin Bianca dengan pandangan yang tajam dan penuh hitungan.
Pintu kamar terbuka perlahan lalu menampakkan sosok Bianca yang tampak begitu rapuh dan lemah dengan balutan kaus kebesaran milik Kiyo yang dipinjamnya semalam. Matanya yang terlihat sayu menatap Gwen tepat di depan sana hingga membuat pemuda itu seketika menahan napasnya kaget.
"Kak Gwen..." suara Bianca terdengar sangat lirih hampir sama halnya seperti bisikan angin yang lewat.
"Bi, lo nggak apa-apa? Aduh, muka lo masih pucat banget," ucap Gwen dengan nada cemas yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. Ia tanpa sadar mengulurkan tangan menyentuh dahi Bianca untuk memastikan suhu tubuh gadis itu. "Masih agak anget. Semalam bisa tidur nggak?"
Bianca mengangguk pelan lalu memberikan senyum tipis yang terlihat begitu dipaksakan. "Bisa kok, Kak. Berkat obat dari Dokter Surya semalam. Kak Gwen... mau berangkat sekolah ya?"
"Iya, tapi gue kepikiran lo terus dari tadi. Tadinya mau gue culik lo ke rumah gue yang satu lagi biar nggak diurus sama Kiyo, tapi kayaknya lo butuh istirahat total di sini," Gwen menghela napas panjang sementara tangannya masih enggan melepaskan bahu Bianca. "Lo di sini aja ya, jangan ke mana-mana. Nanti kalau ada apa-apa, atau si Kiyo macem-macem, langsung telepon gue. Lo punya nomor gue, kan?"
"Punya, Kak. Kak Gwen hati-hati di jalan ya," jawab Bianca dengan nada bicara yang sangat lembut dan patuh.
Gwen mengacak rambut Bianca dengan gerakan gemas dan penuh perhatian. "Ya udah, gue berangkat duluan. Inget, jangan sungkan minta tolong sama orang rumah. Gue cabut dulu ya, Bi."
Begitu sosok Gwen menghilang di balik belokan koridor, Bianca segera menutup kembali pintu kamar. Detik itu juga ekspresi wajahnya berubah drastis. Mata yang tadinya terlihat sayu dan lemas kini berkilat tajam penuh rasa menang. Ia bersandar di balik daun pintu sambil melipat kedua tangan di dada.
'Satu sudah masuk perangkap. Sekarang tinggal nunggu si pemuda dingin itu bangun,' batinnya dengan senyum licik yang melebar.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, giliran Kiyo yang akhirnya muncul di depan pintu. Berbeda dengan Gwen yang terlihat terburu-buru dan tidak tenang, Kiyo masuk dengan cara yang jauh lebih tenang dan teratur. Ia baru saja selesai mandi dan bersiap di kamar tamu lantai bawah serta kini sudah tampil rapi dengan seragam sekolahnya yang terlihat sangat bersih dan pas di badan. Kiyo masuk ke kamarnya sendiri dan melihat Bianca sedang duduk diam di tepi ranjang.
Kiyo sama sekali tidak tahu kalau kakaknya sudah lebih dulu datang ke sini pagi tadi. Baginya, momen pagi ini adalah waktunya untuk memastikan orang yang dianggapnya miliknya itu berada dalam keadaan baik-baik saja sebelum ia pergi menjalankan tugasnya sebagai Ketua OSIS.
"Sudah bangun?" tanya Kiyo dengan nada yang tenang namun matanya menelusuri setiap jengkal wajah Bianca dengan perhatian yang mendalam.
"Sudah, Kak Kiyo. Kakak mau berangkat sekarang?" Bianca mendongak menatapnya lalu kembali memasang topeng gadis yang lugu dan penurut sepenuh hati.
"Iya, ada rapat pagi. Keadaan kamu gimana? Masih sesak?" Kiyo melangkah mendekat lalu berlutut di lantai tepat di depan Bianca supaya posisi tinggi mereka jadi sejajar. Sebuah tindakan yang kalau dilihat oleh teman-teman satu sekolah mereka pasti akan membuat heboh satu kota.
"Sudah jauh lebih baik, Kak. Terima kasih banyak ya sudah izinin aku di sini," Bianca tersenyum manis, sebuah senyuman yang sukses membuat jantung Kiyo berdetak lebih cepat persis seperti yang diungkapkan ibunya semalam.
Kiyo berdehem pelan berusaha menutupi rasa gugup yang tiba-tiba datang. "Nanti Mama yang bakal anter makanan ke sini. Lo harus makan yang banyak, jangan bandel. Gue berangkat dulu."
"Iya, Kak Kiyo. Semangat sekolahnya."
Kiyo berdiri tegak lalu sempat ragu sejenak sebelum akhirnya ia menepuk pelan puncak kepala Bianca dan melangkah keluar ruangan. Begitu suara pintu tertutup terdengar, Bianca langsung memutar bola matanya malas.
'Semangat sekolahnya? Cih, geli banget gue ngomong gitu,' batin Bianca sambil mengusap bekas sentuhan tangan Kiyo di kepalanya dengan perasaan jijik yang tersembunyi.
Suasana di dalam rumah itu mulai sepi setelah Maxwell, Gwen, dan Kiyo berangkat ke kegiatan masing-masing. Tak lama kemudian, pintu kamar kembali diketuk namun kali ini bunyinya lebih berirama dan lembut.
"Bianca? Ini Tante Eleanor..."
Bianca segera mengubah posisi dan penampilannya. Ia duduk diam di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang lalu menatap keluar dengan pandangan kosong yang terlihat melankolis dan sedih. Saat pintu terbuka, Eleanor masuk membawa nampan berisi sarapan yang terlihat mewah dan lengkap mulai dari roti panggang, telur dadar, buah segar, hingga segelas susu hangat yang masih mengepul.
Eleanor meletakkan nampan itu di atas meja kecil lalu berjalan perlahan mendekati Bianca. Ia melihat gadis itu sedang melamun menatap sisa-sisa rintik air hujan yang masih menempel di dedaunan luar sana. Eleanor mengulurkan tangannya lalu mengusap rambut Bianca dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kasih.
"Astaga!" Bianca berjingkat kaget lalu menoleh dengan mata yang membelalak lebar, setelah itu ia segera berdiri dan membungkukkan badannya dalam-dalam. "M-maaf, Nyonya Eleanor... saya tidak dengar Nyonya masuk."
Eleanor terkekeh pelan lalu memegang bahu Bianca meminta gadis itu kembali duduk tenang. "Jangan panggil Nyonya, panggil Tante saja. Kamu sedang melamunkan apa, Nak? Sampai-sampai Tante masuk pun tidak sadar."
Bianca menundukkan wajahnya sambil memainkan ujung jarinya dengan gerakan malu-malu. "Tidak ada apa-apa, Tante. Hanya... pemandangan di sini sangat bagus. Jauh berbeda dengan tempat tinggal saya."
"Kamu jangan merasa minder begitu. Di rumah ini, kamu tamu Kiyo, berarti kamu tamu Tante juga," Eleanor tersenyum tulus dan hangat. Ia menatap wajah Bianca dengan lekat. "Gimana keadaan kamu? Kiyo bilang semalam kamu pingsan karena trauma?"
"Iya, Tante. Saya memang punya ketakutan berlebih kalau hujan deras," Bianca menjawab dengan nada sedih yang dibuat-buat seolah sedang menceritakan kelemahan terbesarnya. "Tapi sekarang saya sudah merasa jauh lebih baik. Terima kasih banyak atas kebaikan keluarga ini."
Eleanor mengangguk paham lalu meraih mangkuk dan gelas susu di dekatnya. "Tante suapi ya? Kamu sepertinya masih sangat lemas."
Bianca dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil melambaikan tangan menolak halus. "Eh, tidak usah, Tante! Itu... itu terlalu merepotkan. Saya bisa makan sendiri kok. Tante sudah sangat baik membawakan ini ke kamar."
Melihat penolakan yang sopan itu, Eleanor tidak lagi memaksa. Ia memberikan sendok makan ke tangan Bianca. "Ya sudah, kalau begitu dimakan ya. Harus habis supaya tenaganya pulih kembali."
Bianca mulai menyantap makanannya dengan gerakan yang sangat sopan dan tenang. Eleanor duduk di hadapannya sambil memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan maknanya.
'Gadis ini... sopan sekali. Caranya memegang sendok, cara dia duduk... entah kenapa dia mengingatkan aku pada seseorang. Tapi siapa ya? Rasanya sangat familier,' batin Eleanor penuh rasa penasaran. Ia menggelengkan kepalanya pelan berusaha menepis pikiran aneh itu. 'Ah, mungkin cuma perasaanku saja. Yang penting Kiyo senang. Aku belum pernah melihat Kiyo sepeduli ini pada perempuan mana pun.'
"Tante kenapa?" tanya Bianca lembut yang seketika membuyarkan lamunan Eleanor.
"Oh, tidak apa-apa, Sayang. Tante cuma senang melihat kamu sudah mau makan. Kiyo itu... dia anak yang sulit ditebak. Tapi semalam, dia bercerita banyak soal kamu," Eleanor menggoda Bianca dengan senyum jahil yang lucu.
Bianca pura-pura tersipu hingga pipinya terlihat memerah (padahal itu hasil menahan napas sejenak agar terlihat alami). "Kak Kiyo cerita apa, Tante?"
"Katanya kamu itu rajin, pintar, dan... yah, dia bilang dia tidak suka kalau ada cowok lain yang dekat-dekat kamu," Eleanor tertawa kecil melihat reaksi gadis itu. "Sepertinya anak yang biasanya tertutup itu benar-benar sudah berubah gara-gara kamu."
Bianca menunduk makin dalam menyembunyikan kilatan kemenangan di matanya. 'Bagus, Tante. Teruslah dukung anakmu buat jatuh cinta sama gue. Karena makin tinggi dia terbang, makin sakit pas gue jatuhin nanti,' batinnya penuh dendam yang tersimpan rapi.
"Kak Kiyo terlalu berlebihan, Tante. Saya hanya siswi biasa yang kebetulan dibantu olehnya," ucap Bianca merendahkan dirinya sendiri sehalus mungkin.
"Kamu bukan siswi biasa kalau bisa bikin Kiyo Anderson debat sama Papanya demi kamu, Bianca," balas Eleanor dengan nada hangat dan meyakinkan. "Tante senang kalau kamu ada di sini. Rasanya suasana rumah jadi sedikit berbeda dan lebih hidup."
Keduanya pun mulai berbincang panjang lebar mengenai banyak hal. Bianca dengan sangat lihainya mengarahkan alur pembicaraan supaya Eleanor semakin merasa nyaman dan dekat dengannya. Ia bercerita tentang "kesulitan" hidupnya sebagai anak yatim piatu (versi yang sudah diubah dan ditambah bumbu menyedihkan), tentang perjuangannya mengejar beasiswa sekolah, serta mimpinya untuk bisa sukses dan membahagiakan dirinya sendiri.
Setiap kata yang keluar dari mulut Bianca adalah umpan yang sangat manis dan menggoda hati, dan Eleanor sama sekali tidak menyadarinya lalu menelan semuanya bulat-bulat. Ibu dari Kiyo itu semakin yakin dan percaya bahwa Bianca adalah gadis berhati mulia yang sangat pantas untuk mendampingi putranya kelak.
Sementara itu di sela-sela kegiatan makannya, Bianca terus memantau dan memetakan situasi di sekelilingnya. Ia melihat betapa besar kasih sayang Eleanor kepada anak-anaknya dan ia tahu bahwa melukai hati wanita ini akan menjadi pukulan yang paling menyakitkan bagi Maxwell. Namun untuk saat ini, memenangkan hati sang nyonya besar adalah prioritas utama yang harus diselesaikan.
'Sedikit lagi, Ayah. Aku sudah ada di jantung pertahanan mereka. Dan mereka justru menyambutku dengan tangan terbuka lebar,' batin Bianca sambil menyesap susu hangatnya dengan tenang, matanya menatap Eleanor dengan pandangan palsu yang terlihat begitu tulus dan bersahaja.