NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Melihat hamparan pasir putih yang begitu bersih di depan mata, Anna tidak bisa lagi menahan kegembiraannya. Rasa sedih, kecewa, dan ketakutan yang sempat menggelayuti pikirannya seolah menguap begitu saja ditiup angin laut.

​Tanpa memedulikan status Axel yang menakutkan, Anna melepaskan flatshoes yang dipakainya dan langsung berlari kecil menuju bibir pantai. Rambutnya yang dicepol asal bergoyang mengikuti gerakannya, dan beberapa anak rambut yang terlepas membingkai wajahnya yang kini berseri-seri. Hidungnya yang masih sedikit kemerahan bekas menangis tadi justru menambah kesan menggemaskan pada wajah cantiknya.

​"Paman, airnya segar banget!" seru Anna riang.

​Ia sedikit mengangkat celana jeans pendeknya agar tidak basah, lalu membiarkan ombak kecil menyapu kaki jenjangnya yang putih mulus. Sifat polos dan kekanak-kanakan Anna yang selama ini tertekan oleh rasa takut akan plot novel, kini keluar sepenuhnya. Ia berjongkok, memainkan air laut dengan jemari tangannya, lalu tertawa lepas saat beberapa cipratan air mengenai jaket putihnya.

​Di kejauhan, Axel berdiri diam. Kedua tangannya tenggelam di saku celana, dan pandangannya mengunci sosok Anna sepenuhnya. Axel menatap lama gadis itu tanpa berkedip. Ada rasa hangat yang asing menjalar di dadanya saat melihat senyum lepas Anna. Gadis itu terlihat sangat cantik dan bersinar di bawah terik matahari, jauh berbeda dari ekspresi ketakutan atau kemarahan yang biasanya ia tunjukkan. Sikap Anna yang tiba-tiba menjadi penurut dan begitu murni membuat Axel menyadari bahwa ia benar-benar tidak ingin senyuman itu hilang dari wajah Anna.

​Anna menoleh ke belakang, mendapati Axel yang hanya berdiri memperhatikannya seperti patung. Ia melambaikan tangannya dengan ceria. "Paman! Sini, jangan cuma berdiri di sana! Airnya beneran enak, nggak dingin kok!" ajak Anna setengah berteriak.

​Axel hanya mengulas senyum tipis, hampir tak terlihat, lalu berjalan perlahan mendekat. Namun, alih-alih ikut bermain air, Axel memilih untuk duduk di sebuah batang kayu besar yang terdampar di tepi pantai, tak jauh dari posisi Anna.

​"Aku cukup melihatmu dari sini, Anna," jawab Axel dengan suara beratnya yang tenang.

​Anna mengerucutkan bibirnya sejenak, lalu berjalan mendekati tempat Axel duduk dengan langkah pelan, membiarkan kakinya yang basah berlumuran pasir putih. Ia berdiri di depan Axel, menatap pria itu dengan tatapan polosnya.

​"Kenapa cuma melihat? Paman nggak seru ah," gumam Anna. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling vila yang sepi sebelum sebuah pertanyaan tebersit di benaknya. "Oh iya, Paman... kenapa Paman nggak mengajak Jolina juga ke sini? Kan ini juga vilanya keluarga Elion. Lagian, Jolina kan keponakan Paman, pasti seru kalau dia ikut."

​Axel mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Anna yang jernih. Pertanyaan polos gadis itu membuat sudut bibirnya kembali terangkat, kali ini dengan tatapan yang begitu dalam dan mengunci.

​"Kenapa aku harus mengajaknya?" tanya Axel balik dengan nada rendah.

​"Ya... biar ramai?" jawab Anna agak ragu.

​Axel menggeleng pelan, lalu meraih pergelangan tangan Anna, menariknya lembut agar gadis itu berdiri lebih dekat di antara kedua lututnya.

​"Aku membawamu ke sini bukan untuk liburan keluarga, Anna. Aku membawamu karena aku ingin bersamamu," ucap Axel dengan intensitas tatapan yang membuat jantung Anna kembali berdegup kencang. "Jolina dan teman-temanmu punya waktu mereka sendiri nanti. Tapi hari ini, tempat ini hanya milik kita berdua. Aku tidak butuh orang lain yang akan mengganggu waktuku denganmu."

Mendengar jawaban Axel yang begitu blak-blakan, jantung Anna serasa melewatkan satu detak. Pipinya yang semula merona karena embusan angin laut kini semakin memerah sempurna. Ia mencoba menahan diri, namun gagal total; sebuah senyuman manis nan tulus terukir begitu saja di bibirnya.

​"Manis banget sih..." ucap Anna tanpa sadar, bergumam lirih sambil menatap ke arah ombak, berusaha menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa.

​Namun, sedetik kemudian, jiwa skeptis Anna sebagai pembaca novel kembali muncul. Ia menoleh lagi ke arah Axel, menyipitkan matanya dengan tatapan penuh selidik yang jenaka.

​"Tapi tunggu dulu," ujar Anna sambil melipat kedua tangan di dada. "Sudah berapa perempuan yang Paman bilangi kata-kata manis begini? Secara, Paman kan bos besar, kaya, ganteng... pasti antreannya panjang banget, kan?"

​Axel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Anna dengan tatapan dalam yang seolah bisa membaca seluruh isi pikiran gadis itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang terkesan seksi namun tulus.

​"Hanya dirimu," jawab Axel dengan suara berat yang terdengar mutlak, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

​Sebelum Anna sempat memproses jawaban itu atau mengeluarkan protesan lainnya, tangan kekar Axel tiba-tiba bergerak cepat. Dengan satu sentakan lembut namun bertenaga pada pinggangnya, Axel menarik tubuh mungil Anna hingga gadis itu terduduk tepat di atas pangkuannya.

​"Eh?!" Anna tersentak kaget, refleks mencengkeram bahu tegap Axel agar tidak terjatuh.

​Kini, jarak mereka benar-benar terkikis habis. Anna bisa merasakan kehangatan tubuh Axel dan aroma maskulin yang menguar kuat dari kaus turtleneck hitam pria itu. Axel melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Anna, mengunci posisi gadis itu agar tetap nyaman di pangkuannya, sementara tatapan matanya mengunci manik mata Anna dengan kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini.

1
Marsya
so sweet😉😉😉😉,so bangkrut wijaya🤣🤣🤣🤣
Imas Karmasih
apasih ko paman mantan tunangan terus itu mama nya kemana pagi " ko sarapan cuma bertiga
Imas Karmasih
padahal pernah nginep, sempet juga kedapur masaka gatau letak toilet😄
falea sezi
lanjut
falea sezi
wihh keil🤣 kapok anna di embat cogan baru🤣🤣
falea sezi
pinter suka cwek g menye menye mending pindah dpet temen baru cogan baru🤣🤭
Nazia wafa abqura
aq tunggu kak up ny
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
cerita ny bagus banget 😍
Marsya
udh pindah skolah juga msih difitnah,dsar zela brmuka dua,kyak ular dipotong ekornya baru gx agresif,nah klau org dihancurkn ksombongannya baru sdar diri😔😔😔😔😔
Rianie Sofyan
❤❤❤❤❤makasih kak...
Marsya
yg satu pikiran anak2 trlalu polos,yg satu pikiran dewasa,terlalu sungguh😄😄😄😄😄
@cristi
semangat up nya kakk, novelnya bagus😍
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!