Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
******
“Bagaimana kondisi Aruna, Dok?”
Dimas langsung menyerbu dengan pertanyaan begitu pintu ruang operasi terbuka. Dokter yang sejak tadi menangani Aruna masih mengenakan pakaian bedah, masker sudah diturunkan ke dagu, wajahnya tampak lelah namun berusaha tenang.
Lorong rumah sakit itu dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk. Lampu putih menyilaukan, seolah menambah tegang suasana.
Dokter menarik napas panjang sebelum menjawab. “Operasinya berjalan cukup lama. Kami harus menghentikan pendarahan di beberapa titik dan melakukan tindakan darurat pada tulang kaki kirinya yang hancur cukup parah.”
Jantung Dimas seperti diremas. “Hancur…?” suaranya tercekat.
“Benturan keras kemungkinan terjadi saat tubuhnya terhempas ke permukaan air lalu terbawa arus ke pantai berbatu. Ada beberapa tulang yang mengalami kerusakan berat. Kami sudah melakukan pemasangan pen dan membersihkan jaringan yang rusak untuk mencegah infeksi.”
Dokter berhenti sejenak, memastikan Dimas masih mampu menerima penjelasan itu.
“Bagaimana dengan organ dalamnya, Dok? Kepalanya? Dia sempat tak sadar cukup lama,” Dimas bertanya lagi, nyaris tanpa jeda.
“Untungnya tidak ada perdarahan hebat di otak. Ada gegar otak ringan hingga sedang, tapi hasil pemindaian tidak menunjukkan cedera fatal. Paru-parunya sempat terisi sedikit air laut dan ada memar di beberapa bagian tubuh, juga dua tulang rusuk retak. Namun yang paling berat memang pada kaki dan bahu kanannya yang mengalami dislokasi serta retakan tulang.”
Dimas memejamkan mata sesaat. Bayangan Aruna terdampar sendirian di pasir kasar, tubuhnya penuh luka, membuat dadanya sesak.
“Dia… selamat, kan Dok?” Suaranya jauh lebih pelan sekarang, nyaris seperti doa.
Dokter mengangguk pelan. “Untuk saat ini, ya. Kondisinya stabil setelah operasi. Tapi masa kritis belum sepenuhnya lewat. Dua puluh empat hingga empat puluh delapan jam ke depan sangat menentukan. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU untuk pengawasan ketat.”
Kaki Dimas terasa lemas. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dingin rumah sakit. “Apa dia akan bisa berjalan lagi?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, penuh ketakutan yang selama ini ia tahan.
Dokter tak langsung menjawab. “Kami sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan struktur kakinya. Namun proses pemulihan akan panjang. Ia akan membutuhkan beberapa kali operasi lanjutan dan terapi intensif. Kemungkinan untuk berjalan tetap ada, tapi semuanya tergantung respons tubuhnya terhadap pemulihan.”
Harapan kecil itu cukup membuat Dimas kembali bernapas.
“Boleh saya menemuinya?”
“Sebentar lagi dia akan dipindahkan. Anda boleh melihatnya dari luar ruang ICU setelah itu. Tapi tolong, jangan membuatnya stres jika nanti ia sadar.”
Dimas mengangguk cepat. “Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah menyelamatkannya.”
Dokter menepuk bahunya singkat sebelum berlalu. Beberapa menit kemudian, brankar keluar dari ruang operasi. Tubuh Aruna terbaring pucat, wajahnya nyaris tak dikenali karena lebam dan balutan perban. Selang infus terpasang di tangannya, alat bantu napas menutupi sebagian wajahnya. Kaki kirinya terbalut penyangga besar, sementara bahunya dibebat rapat.
Dimas mengikuti di sampingnya, menahan air mata yang sejak tadi menggenang.
“Aruna… kamu kuat. Kamu pasti kuat,” bisiknya lirih, meski ia tahu Aruna belum bisa mendengar.
Saat pintu ICU tertutup, Dimas berdiri terpaku di balik kaca. Di luar sana, laut mungkin masih bergelora, menyimpan sisa-sisa puing pesawat yang merenggut banyak nyawa. Namun di ruangan steril ini, satu nyawa yang paling berarti baginya sedang berjuang untuk tetap bertahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak kabar kecelakaan itu datang, Dimas merasa secercah harapan—rapuh, tapi nyata.
******
Di tempat lain.
Tepatnya di pantai Moonveil shore. Damar dan Arkana terlihat begitu khawatir karena Calista sedari tadi tidak bangun dari tidurnya.
"Calista pingsan, sialan! Cepat bawa dia ke rumah sakit atau klinik terdekat, napasnya bahkan sampai putus putus. " Arkana dengan rasa panik yang menggerogoti dirinya dengan cepat menggendong tubuh lemah Calista dan diikuti Damar di belakang yang sibuk mencari kunci mobil.
"Bangun, sayang. Jangan buat aku khawatir... " ujar Damar terakhir sebelum akhirnya melajukan mobilnya mencari rumah sakit atau klinik terdekat.
Beberapa menit mencari letak rumah sakit atau klinik, akhirnya mereka menemukan satu rumah sakit kecil setelah menempuh perjalanan lima belas menit lamanya, cukup jauh— Damar bahkan sampai mengamuk sedari tadi karena susah sekali mendapati rumah sakit di sekitar pantai Moonveil shore.
Arkana langsung turun sambil tetap menggendong Calista.
"Suster! tolong! Ada pasien tidak sadar!” teriaknya begitu memasuki lobi kecil rumah sakit itu.
Beberapa perawatan akhirnya datang dengan mendorong brankar.
" Letakan disini, cepat! " salah satu suster berkata tegas.
Calista dipindahkan dengan hati-hati ke atas brankar. Oksigen segera dipasang. Seorang dokter jaga datang dengan wajah serius.
“Sejak kapan tidak sadar?” tanya sang dokter dengan serius.
"Tidak tau pasti, tapi saat bangun tidur tadi istriku masih saja memejamkan matanya bahkan saat ku paksa bangun, bahkan napasnya terlihat putus putus. " jelas Damar dengan nada gemetar ketakutan.
Arkana di sebelahnya tidak berani bersuara, dia masih agak shock dengan kejadian yang tiba-tiba menimpa Calista.
"Apa sebelumnya pasien sudah merasakan sakit atau memiliki riwayat penyakit bawaan? "
"Tidak ada penyakit bawaan, hanya dari semalam istriku sudah mengeluh ingin cepat cepat istirahat, suhu tubuhnya juga tiba-tiba saja memanas. "
Dokter itu akhirnya mengangguk singkat, "Kami akan melakukan pemeriksaan. Mohon tunggu di luar.”
Pintu ruang tindakan tertutup.
Sunyi.
Arkana bersandar di dinding lorong, kedua tangannya mengepal. “Kalau terjadi apa-apa…” suaranya terhenti.
Damar menatap pintu ruang tindakan tanpa berkedip. “Tidak akan. Dia kuat.” Namun suaranya sendiri tak sepenuhnya yakin.
Waktu kembali berjalan lambat. Setiap detik seperti mengikis kewarasan.
Setelah hampir tiga puluh menit, pintu akhirnya terbuka. Dokter keluar dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Keluarga pasien?”
“Kami,” jawab Damar dan Arkana bersamaan.
Dokter itu melepas masker medisnya perlahan, ekspresinya serius namun berusaha tetap tenang. “Kondisinya sudah lebih stabil. Tekanan darahnya sempat turun drastis dan tubuhnya mengalami kelelahan berat. Yang cukup mengherankan, secara medis pasien tidak memiliki riwayat penyakit apa pun.”
Damar dan Arkana menahan napas.
“Tadi, di sela pemeriksaan, detak jantung pasien sempat berhenti beberapa detik sebelum akhirnya kembali berdetak. Namun ritmenya masih melambat dan belum sepenuhnya stabil.” Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepala mereka berdua.
“Jantungnya… sempat berhenti?” suara Arkana tercekat.
Dokter mengangguk. “Kami langsung melakukan tindakan cepat. Untungnya respons tubuhnya masih baik. Untuk saat ini kondisinya terkendali, tetapi kami harus terus memantau secara ketat.”
Damar mengepalkan tangannya, wajahnya memucat. “Apa itu berbahaya, Dok?”
“Ya,” jawab dokter jujur. “Jika terlambat beberapa detik saja, risikonya bisa jauh lebih fatal. Karena itu pasien harus dirawat dan diawasi. Kami juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada gangguan pada jantung atau faktor lain yang memicu kejadian tersebut.”
Lorong rumah sakit itu terasa semakin dingin.
Arkana menunduk, napasnya bergetar. “Dia… benar-benar hampir pergi…”
Damar menatap pintu ruang perawatan dengan tatapan kosong, jantungnya sendiri terasa nyeri membayangkan kemungkinan terburuk yang nyaris terjadi.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
gx lanjuut 21 ,, 🤭