Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Kita akan membahas detailnya setelah semua orang yang aku butuhkan terkumpul." Krystal mengajak Kin untuk mengemasi barangnya. "Dan bawalah beberapa rekanmu di sini untuk bekerja dibawahmu."
Kin Zircone menatap sekeliling pondok kerjanya yang sempit untuk terakhir kali. Mendengar tawaran Krystal tentang membawa rekan kerja, matanya yang semula redup kini tampak bersemangat. Di distrik bawah ini, ia tahu persis siapa saja para buruh imigran berbakat yang energinya habis diperas oleh para penyihir menara dengan upah minimum.
"Dua hari," ucap Kin tegas sambil memasukkan beberapa perkakas mekanis pusaka dan cetak biru mentah ke dalam peti kayunya. "Beri aku waktu dua hari untuk mengumpulkan setidaknya tiga pengrajin logam dan ahli struktur magis terbaik yang disia-siakan di sudut-sudut distrik ini. Jika kau bisa memberi mereka kehidupan yang layak, mereka akan menyerahkan loyalitas dan nyawa mereka untuk proyekmu."
Krystal mengangguk setuju. "Sorento akan mengurus logistik dan keselamatan mereka ke penginapan. Pastikan pergerakan kalian tidak menarik perhatian para penjaga kota."
Dengan bergabungnya Kin, lima kamar di menara penginapan mewah yang disewa Krystal kini telah terisi penuh. Di bawah atap yang sama, rombongan ini mulai menyerupai sebuah faksi rahasia yang solid: Krystal sebagai otak dan pemimpin, Eros sebagai pelindung magis, Sorento di bagian taktis dan pengamanan, Mira yang mengurus relasi dan penyamaran, serta Kin bersama para buruh geniusnya yang akan menjadi mesin penggerak mahakarya mereka. Sementara Elenoir bertugas menjaga Laura kecil agar tetap aman di dalam menara yang sudah diberi sihir pelindung oleh Eros.
Keesokan harinya, sebelum mereka benar-benar meninggalkan Provinsi Alexandrite menuju tujuan berikutnya, Krystal memutuskan untuk mengeksekusi rencana logistik berikutnya: **memborong** **Permata Alexandrite** (permata bunglon) sebanyak mungkin. Permata ini adalah komoditas magis yang sangat langka, terkenal karena kemampuannya memantulkan warna hijau zamrud di bawah cahaya siang hari dan berubah menjadi merah keunguan di bawah cahaya api atau sihir malam. Bagi seorang pengrajin seperti Kin, permata ini adalah konduktor mana terbaik untuk menyimpan formula sihir tersembunyi.
Namun, saat Sorento dan Mira mendatangi Grand Bazaar di pusat kota, mereka membentur dinding aturan yang kaku.
"Maaf, Tuan, Nyonya," ujar sang pengawal dagang dari serikat resmi Alexandrite, sambil menunjuk sebuah prasasti hukum magis di dinding toko. "Hukum kekaisaran menetapkan bahwa permata Alexandrite tingkat murni adalah komoditas strategis. Pembelian untuk selain warga asli provinsi ini sangat dibatasi demi menjaga stabilitas pasokan energi menara sihir."
Masing-masing pendatang hanya diperbolehkan membeli maksimal dua kotak permata per orang dalam satu periode kunjungan. Aturan ini dibuat agar para pedagang luar tidak memonopoli aset magis kota.
Sorento tidak kehilangan akal. Ia segera mengirim pesan sihir pendek kepada Krystal. Tak lama kemudian, Krystal menginstruksikan seluruh anggota dewasa di rombongannya yang memiliki identitas samaran sah untuk turun langsung ke pasar.
Total ada enam orang yang dikerahkan: Krystal, Eros, Sorento, Mira, Elenoir, dan bahkan Kin Zircone yang kini penampilannya sudah dirombak menjadi lebih rapi layaknya seorang asisten saudagar kaya.
Dengan memanfaatkan kuota maksimal per orang secara legal, mereka maju satu per satu ke meja registrasi serikat dagang:
\* 6 orang × 2 kotak \= 12 kotak permata Alexandrite tingkat tinggi berhasil diamankan.
Karena rombongan "saudagar asing" ini melakukan transaksi instan dalam jumlah maksimum yang diizinkan hukum secara tunai dengan koin emas Aquamarine, pihak serikat dagang menganggap mereka sebagai kolektor atau investor besar yang menguntungkan. Sebagai bentuk apresiasi, kepala serikat dagang memberikan sebuah bonus tak terduga.
"Karena Anda sekalian telah memenuhi kuota borongan tertinggi hari ini, serikat kami memberikan bonus berupa sepasang \*Serenade Velvet Box\* berisi pecahan \*Alexandrite Rough Dust\* (bubuk sisa potongan permata murni) dan sebuah lencana perak pelancong kehormatan yang berguna untuk teleportasi instan yang berfungsi untuk seluruh tempat di Alexandrite," ujar sang kurator toko sembari membungkuk hormat.
Bubuk Alexandrite tersebut mungkin dianggap limbah oleh penyihir menara, namun bagi Kin Zircone yang melihatnya langsung di dalam kereta, itu adalah harta karun. Bubuk itu bisa dicampur ke dalam pelumas mesin magis atau tinta segel untuk menyamarkan keberadaan dokumen penting *LadyBug*.
Malam itu, di dalam menara yang penuh dengan kotak-kotak permata yang memancarkan pendar ungu misterius, Krystal mengumpulkan semua orang mengelilingi meja teleskop sihir. 12 kotak permata telah siap, cetak biru ada di tangan, dan para pekerja terbaik.
Setelah itu Krystal masuk ke dalam kamar dan menatap Eros yang berdiri tegap di belakangnya dengan sisa-sisa pendar ungu keemasan dari dinding kaca Alexandrite yang memapar paras tampannya.
Sebuah tatapan menggoda sekaligus menantang melintas di sepasang mata biru murni Krystal. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan.
"Aku telah berhasil membujuk Kin dengan mudah... beri aku hadiah," bisik Krystal, nadanya rendah, berayun lembut bagai simfoni yang menghanyutkan.
Eros menatap wajah yang teramat ia cintai itu, lalu sebuah senyuman tipis yang sarat akan pengabdian terbit di bibirnya. "Apapun itu, Dewiku," jawab Eros tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya. Bagi sang Dewa Nafsu, tidak ada satu pun benda di dunia fana atau langit tertinggi yang tidak akan ia serahkan jika itu adalah permintaan Krystal.
Mata Krystal seketika berbinar-binar gembira. "Sungguh?"
"Sungguh," Eros menegaskan, mengunci pandangannya tepat pada Krystal. "Memangnya apa yang kau inginkan dariku, Rys?"
Krystal tersenyum penuh kemenangan. Ia sedikit menjinjitkan kakinya, mencondongkan tubuh ke depan hingga helai rambut cokelat madu samarannya menggelitik leher Eros. Dengan napas hangat yang menyapu daun telinga pria itu, Krystal berbisik teramat lirih, "Aku ingin kita melakukan... '*itu*'."
*Deg*.
Seluruh aliran darah Eros seolah berhenti berdesir dalam satu detik. Detak jantung manusianya berdentum hebat, sementara esensi dewanya bergolak panas mendengar kata tabu yang baru saja meluncur dari bibir sang kekasih.
Refleks pelindung dan moralitas yang ia jaga selama keabadiannya mendadak mengambil alih kendali tubuhnya. Terkejut, panik, dan dipenuhi gelombang emosi yang tak menentu, Eros tanpa basa-basi langsung meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Krystal dan mendorong tubuh kekasihnya itu menjauh darinya.
"Tidak!" seru Eros dengan suara yang sedikit meninggi, napasnya memburu. "Kau boleh meminta hal lain, Rys. Tapi tidak untuk '*itu*'."
Krystal yang terdorong beberapa langkah ke belakang nyaris kehilangan keseimbangan. Beruntung tumitnya menahan bobot tubuhnya dengan baik. Namun, rasa terkejut akibat dorongan fisik yang kasar itu dengan cepat membakar harga dirinya. Wajahnya seketika memerah, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang meledak-ledak.
"Oh! Apa kau harus mendorongku sekasar itu?!" bentak Krystal, matanya menyala penuh amarah murni seorang tuan putri yang merasa terhina.
"Rys, dengarkan aku," Eros melangkah maju satu tapak, suaranya kini melunak namun sarat akan ketegasan mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuh, mencoba meredam gejolak di dalam dadanya sendiri. "Aku akan menolakmu dengan sangat tegas untuk hal ini. Aku tidak akan menyentuhmu melewati batas, apalagi mengambil kesucianmu sebelum kita resmi terikat dalam janji pernikahan yang sakral, Rys."
Eros memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca, tidak sanggup menatap mata Krystal yang mulai berkaca-kaca karena amarah. Rahangnya mengeras kuat saat ia berbisik dengan nada yang terdengar hampir seperti permohonan frustrasi, "Aku menahan diri sekuat tenagaku di setiap detik aku berada di dekatmu... Kumohon, kau juga harus bisa menahan diri."
Bagi Krystal yang selama belasan tahun selalu ditolak, diabaikan, dan diasingkan oleh keluarganya, penolakan tegas dari Eros—meskipun atas dasar niat yang teramat luhur—terasa seperti tamparan keras pada egonya yang baru saja mekar. Emosi remajanya yang bergejolak mengalahkan logika taktisnya.
Tanpa membalas satu kata pun, Krystal membalikkan badan dengan sentakan kasar. Ia melangkah lebar keluar dari kamar menara utama.
*BRAK*!
Suara pintu kayu tebal yang dibanting dengan kekuatan penuh menggema dahsyat sepanjang koridor menara, menciptakan getaran kecil pada pajangan kaca di sekitarnya.