(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 4 - NAPAS HUTAN
...Setiap hutan punya napas... ...
......dan malam ini sesuatu bernapas di luar ritmenya....
...⚙⚙⚙...
“Hatchi—!”
Suara bersin itu memecah keheningan hutan dengan telak. Seekor rusa bertanduk besar yang semula mematung di balik semak mendadak tersentak. Kepalanya terangkat tinggi, otot-ototnya menegang sesaat sebelum ia melesat, menghilang ke dalam kegelapan hutan dengan suara dahan yang patah.
Sunyi kembali menyergap, menyisakan desah napas yang baru saja dilepaskan.
Di sisi kanan, Rogan menurunkan crossbow mekanisnya perlahan. Bunyi klik halus terdengar saat ia mengendurkan pegas senjata tersebut. Ia tidak langsung bicara, matanya tetap terpaku pada semak yang masih bergoyang.
“...Liora,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya datar, namun ada kejengkelan yang tertahan di sana. “Apa kau sakit?”
Di atas dahan pohon, Liora menutup satu mata sambil mengusap hidungnya dengan punggung tangan. “Kalau aku sakit,” sahutnya ringan, “seharusnya aku sudah jatuh dari pohon ini sejak tadi.”
Ia melirik ke arah jalur pelarian sang rusa yang kini kosong. “Lagipula, itu hanya cara elegan untuk mengatakan bahwa kita sedang kurang beruntung.”
Dari sisi lain, Bram berdiri kaku dengan tombak yang masih terjaga di tangannya. Posisi tubuhnya masih mengarah ke titik di mana rusa itu tadi berdiri, jarak yang sebenarnya terlalu dekat untuk sebuah kegagalan. Ia menghela napas panjang, menutup mata sejenak sebelum menoleh ke arah Liora.
“Liora... kau mengacau lagi.” Kalimat itu keluar dengan nada pasrah, bukan kemarahan.
Liora melompat turun dari dahan. Gerakannya ringan dan hampir tanpa suara saat mendarat di antara kedua rekannya. Ia menepuk-nepuk tangannya yang kotor.
“Maaf,” ucapnya singkat. Ia kemudian melirik Rogan dan Bram bergantian.
Rogan masih menggenggam crossbow-nya erat, rahangnya tampak mengeras. “Padahal,” gumamnya pelan, masih menatap kegelapan hutan, “aku sudah mengunci jantungnya.”
Bram langsung menyahut tanpa menoleh, nada suaranya sedikit meninggi. “Mengunci jantung? Aku sudah berada di titik butanya. Satu langkah lagi dan semuanya selesai.”
“Jika kau secepat itu, seharusnya tidak ada waktu bagi bersin untuk mengganggu,” balas Rogan datar.
Bram akhirnya menoleh sepenuhnya. “Jika kau tidak terlalu lama membidik, mungkin kita sudah menyantap makan malam sekarang.”
“Presisi membutuhkan waktu.”
“Dan kesempatan tidak akan menunggu.”
“Lebih baik tepat sasaran daripada gegabah.”
“Lebih baik cepat daripada kehilangan target.”
Liora berdiri di tengah-tengah mereka, matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya dengan alis yang sedikit terangkat. “...Kalian sudah selesai?” tanyanya tenang.
Keduanya mendadak diam.
Liora menghela napas kecil, mengangkat satu tangan untuk menghentikan perdebatan yang mulai tidak produktif itu. “Baiklah,” katanya santai. “Jika kalian berdua yakin tadi adalah yang paling hebat, kita ulang saja.”
Rogan dan Bram menoleh bersamaan. Liora menyunggingkan senyum tipis yang sedikit miring.
“Kita cari buruan lagi,” lanjutnya. “Siapa pun yang menjatuhkan target lebih dulu, boleh meminta apa pun dari yang kalah.”
Hening sejenak.
“Deal,” sahut Rogan cepat.
“Deal,” Bram menyusul tanpa ragu.
Liora mengangguk kecil, merasa puas. Namun, Rogan tiba-tiba mengangkat satu jari dengan ekspresi yang berubah serius. “Tapi jangan lupa, tujuan utama kita ke sini bukan untuk berburu.”
Bram mendengus pelan, menyadari arah pembicaraan tersebut.
“Patroli,” lanjut Rogan. “Jika kita malah asyik bertaruh dan ketahuan...” Ia berhenti sebentar, wajahnya sedikit berubah membayangkan sebuah mimpi buruk. “...aku tidak mau dihukum Paman Garrick lagi.”
Bram meringis samar. “Jangan ingatkan aku soal itu.”
Rogan menghela napas pelan, bahunya sedikit turun. “Dua jam berdiri di depan gerbang dengan zirah lengkap, tanpa boleh bergerak sedikit pun...”
“Dan dia sengaja lewat setiap lima menit hanya untuk mengecek apakah kita sudah berkeringat atau belum,” tambah Bram.
“Dan jika kita bergerak sedikit saja...”
“Dia menyuruh kita mengulang dari awal.”
Keduanya terdiam, lalu secara bersamaan mereka menggelengkan kepala. Liora memperhatikan mereka dengan wajah datar yang sulit diartikan.
“Kalian berdua terlalu dramatis,” ucapnya ringan. Ia melangkah melewati mereka, masuk lebih dalam ke jalur hutan yang semakin gelap. “Tenang saja. Kalian sedang patroli bersama anak kesayangannya.”
Rogan dan Bram saling pandang dengan tatapan ragu. “...Itu sama sekali bukan hal yang meyakinkan,” gumam Rogan.
Bram menghela napas, mengangkat kembali tombaknya dan menyampirkannya di bahu. “Tetap saja,” katanya sambil berjalan menyusul, “jangan terlalu jauh masuk ke dalam hutan.”
Liora mengangkat tangan setengah hati tanpa menoleh. “Baiklah, kepala penjaga,” sahutnya santai.
“Baiklah, kepala penjaga,” ulang Rogan dengan nada datar yang mengejek.
Bram hanya mendengus, meski sudut bibirnya sedikit terangkat. Mereka bertiga kembali bergerak dengan formasi yang lebih teratur, menyusuri hutan yang perlahan mulai terasa terlalu sunyi.
Kabut merayap semakin tebal, menelan cahaya bulan dan menyisakan hutan dalam kesunyian yang mencekam. Tidak ada derik serangga malam atau gesekan dedaunan. Hutan itu mendadak kehilangan denyut nadinya, menyisakan kekosongan yang tidak wajar.
Langkah Liora melambat hingga akhirnya berhenti total. Rogan, yang berada tepat di belakangnya, nyaris menabrak punggungnya. Ia baru saja hendak memprotes ketika Liora mengangkat satu tangan ke udara. Isyarat itu mutlak. Bram segera merunduk, menurunkan posisi tombaknya dalam sikap siaga yang sempurna.
Liora berlutut perlahan. Di atas tanah yang lembap, sebuah jejak kaki tercetak dalam, terlalu besar dan berat untuk makhluk apa pun yang pernah mereka buru. Ia menyentuh pinggiran jejak itu dengan ujung jari.
“Dingin,” bisiknya datar. Bukan sekadar dingin suhu malam, melainkan hawa mati yang tertinggal di tanah.
“Ini jelas bukan jejak rusa,” balas Bram.
Liora berdiri kembali dengan gerakan cepat, memimpin mereka bergerak lebih dalam. Rogan dan Bram mengikuti dalam diam, mata mereka menyapu setiap celah di antara pepohonan yang kian rapat. Bau itu datang kemudian, tajam, amis, dan sarat akan aroma daging yang membusuk secara paksa.
Liora berhenti di depan sebuah pemandangan yang menghentikan detak jantung mereka sejenak. Seekor rusa jantan besar tergeletak di tanah, namun tubuhnya sudah tidak lagi utuh. Dagingnya terkoyak, menyisakan genangan darah hitam yang mulai mengental di tanah. Bram melangkah mendekat, ekspresinya mengeras saat melihat kambing liar di dekatnya yang lehernya terputus bersih.
“Ini bukan bekas gigitan predator,” kata Bram pelan, suaranya berat oleh ketegangan.
Liora tidak membuang waktu untuk menatap bangkai-bangkai itu. Matanya bergerak cepat, memetakan arah kehancuran. Batang-batang pinus di sekitar mereka retak, beberapa tumbang dengan akar yang tercabut paksa seolah disapu oleh kekuatan besar.
Mereka akhirnya sampai di sebuah ruang terbuka di tengah hutan. Tanah di pusat area itu retak hebat, dengan garis-garis gelap yang menjalar keluar. Retakan itu berdenyut sangat halus. Namun saat Liora menginjakkan kakinya di sana, tidak ada panas yang terasa. Hanya sensasi dingin yang menusuk hingga ke tulang.
“Ini tidak normal,” Rogan bergumam, jemarinya mengencang pada pegangan crossbow.
Di tengah lingkaran retakan itu, Liora berdiri diam. Ia menarik napas pendek, lalu tangannya bergerak ke arah punggang. Ia membuka kait di bahunya.
KLIK...
Senjata di genggamannya tampak ramping, bentuknya seperti busur besar yang terbuat dari logam ringan. Namun terdapat beberapa sambungan mekanik di sepanjang rangkanya.
^^^*gambar buatan AI^^^
Liora menekan tuas kecil di pegangan senjata.
KLIK...
Rangka senjata itu mulai bergerak. Bagian busur melipat. Sambungan logam bergeser. Dalam beberapa detik, bentuknya berubah menjadi tombak mekanis panjang.
Bram mendengus kecil. “Tidak banyak orang bisa pakai benda itu tanpa melukai diri sendiri.”
“Makanya Valkyra bukan milik banyak orang,” jawab Liora santai.
Ia kemudian menekan tuas lain. Dengan satu tekanan ibu jari pada mekanisme rahasianya, suara khas yang halus terdengar.
KLIK...
Struktur logam itu bergeser. Bagian tengahnya terbelah dan membentuk dua bilah tajam yang seimbang di kedua sisi.
Liora memutar senjata itu dengan kelincahan yang membuat bobot logamnya seolah hilang. Bram dan Rogan hanya bisa memperhatikan.
Rogan hanya mendengus pelan.
“Senjata aneh buatan Eldric lagi…”
Bram tidak berkata apa-apa. Tapi cara matanya mengikuti tiap perubahan bentuk itu, jelas bukan pertama kali ia melihatnya.
Mereka tahu betul bahwa senjata modular itu adalah salah satu karya paling ganjil dari Eldric, benda yang hanya bisa dikendalikan oleh tangan yang benar-benar terlatih.
Liora tidak ragu, seolah senjata itu mengerti bentuk apa yang ia butuhkan bahkan sebelum ia memikirkannya.
Matanya menyapu kegelapan di depan mereka. “Terlalu dekat,” ucapnya lirih.
“Dekat dengan apa?” tanya Bram.
“Desa.”
Keheningan kembali jatuh, lebih berat dari sebelumnya. Angin benar-benar mati. Mereka tahu mereka belum masuk terlalu jauh ke dalam hutan, yang berarti ancaman ini sudah berada di ambang pintu Brakenford.
CRACK...
Suara ranting patah meledak di tengah kesunyian. Sangat dekat.
Rogan seketika mengangkat crossbow-nya. Bram memutar tombaknya, mengarahkan ujung tajamnya lurus ke sumber suara. Liora tetap bergeming, namun Valkyra di tangannya sedikit bergeser ke posisi siap jagal. Matanya terkunci pada bayangan di balik pepohonan yang retak.
Sebuah langkah terdengar. Pelan, berat, dan tanpa rasa takut. Kabut bergeser perlahan, menyingkap sesosok makhluk yang sedang menarik napas dalam-dalam, suara napas yang berat dan tidak beraturan.
Raut wajah Liora berubah total. Ketenangannya berganti menjadi keseriusan yang mematikan.
“...bersiap,” bisiknya.
Langkah itu berhenti. Satu detik yang terasa abadi berlalu, sebelum akhirnya sesuatu di dalam kegelapan itu melangkah maju menembus cahaya redup.
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)