Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Hujan sore ini turun lebih deras dari kemarin, memukul aspal dengan ganas, mengubah jalanan menjadi sungai kelabu yang berkilau terkena lampu kendaraan. Angin bertiup kencang, membuat suhu udara terasa menusuk tulang. Arya memacu motornya pelan, jaket kulitnya sudah basah sebagian, matanya menyipit berusaha menembus tirai air yang tebal. Ia baru saja keluar dari perpustakaan, pikirannya masih penuh dengan kata-kata tajam dan peringatan Naya tadi siang.
Tiba-tiba, di tikungan jalan sepi tak jauh dari pusat kota, pandangannya menangkap sesuatu. Sesuatu yang merah tergeletak miring di pinggir trotoar.
Skuter merah marun.
Jantung Arya seolah berhenti berdetak sepersekian detik. Ia langsung menarik rem tangan dengan keras, membelokkan motornya hingga ban berdecit menciptakan goresan hitam di aspal basah. Tanpa mematikan mesin, Arya melompat turun.
Benar saja. Di sana, di bawah guyuran hujan yang tak kenal ampun, duduk Naya di pinggir jalan. Tubuhnya meringkuk, kedua tangannya erat mencengkeram pergelangan kaki kanannya yang terlipat aneh. Helmnya tergeletak beberapa langkah jauhnya, rambut hitam panjangnya lepas terurai basah kuyup, menempel di wajah dan bahu pucatnya. Gaun kemeja kuning pucat yang ia kenakan kini tembus pandang oleh air hujan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang gemetar kedinginan. Wajahnya memerah bukan hanya karena dingin, tapi karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Air mata bercampur air hujan mengalir di pipinya, namun mulutnya terkatup rapat, menahan erangan agar tidak keluar.
"Naya!" teriak Arya, suaranya tenggelam sebagian oleh gemuruh hujan.
Naya mendongak kaget, matanya yang merah karena menangis membelalak saat melihat sosok yang berlari mendekat.
"Pergi... pergilah!" serunya lemah, suaranya pecah. Ia berusaha mundur menjauh, tapi saat kakinya bergerak, rasa nyeri tajam menyerang, membuatnya meringis hebat. "Aku bilang jangan dekati aku! Kenapa kamu selalu ada saja?"
"Aku tidak akan pergi, lihat kondisimu!" Arya tidak peduli dengan protes gadis itu. Ia berjongkok tepat di depan Naya, tanpa ragu menyentuh pergelangan kaki yang bengkak itu.
"Jangan pegang! Sakit!" Naya menepis tangan Arya, tapi tenaganya sudah habis. Tubuhnya menggigil hebat, matanya mulai berkunang-kunang.
"Tulang tidak patah, tapi terkilir parah. Kamu tidak mungkin jalan atau bawa motor dalam keadaan begini," ucap Arya cepat, menilai kondisi kaki Naya dengan mata tajamnya. Ia lalu melepas jaket kulit tebalnya, membungkus tubuh ringkih Naya yang sudah menggigil kedinginan.
"Ngapain kamu baik sama aku? Kamu kan benci aku... atau kamu cuma mau manfaatkan aku?" bisik Naya, matanya mulai berkabut, kesadaran nyaris hilang karena syok dan rasa sakit. Tatapannya kosong, seolah ia sedang bicara pada dirinya sendiri. "Semua orang cuma mau ambil untung... Ayah, Tante, teman... semuanya..."
Kalimat itu menyambar hati Arya seperti cambuk. Di balik sikap dingin, sombong, dan penuh tembok pertahanan itu, ternyata tersimpan hati yang sangat terluka, kesepian, dan tak percaya pada siapapun. Rasa kasihan dan rasa ingin melindungi bercampur aduk di dada Arya, melampaui rasa curiganya.
"Aku beda. Percaya aku kali ini saja," bisik Arya lembut, tak memberi waktu Naya untuk menolak. Dengan sigap, ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.
Berat tubuh Naya sangat ringan, persis seperti memegang setumpuk bulu. Naya refleks melingkarkan lengannya ke leher Arya, kepalanya jatuh lembut ke ceruk leher pemuda itu. Bau rambutnya yang bercampur aroma hujan dan wangi bunga melati yang samar menusuk hidung Arya, membuat detak jantungnya kacau balau.
Arya menggendong Naya ke jok belakang motor, lalu mendudukkannya dengan hati-hati. Ia memposisikan dada gadis itu menempel punggungnya, memastikan Naya berpegangan erat di pinggangnya.
"Pegang kuat-kuat, jangan lepas!" perintah Arya.
Tanpa sadar, jari-jemari dingin Naya mencengkeram pinggang Arya erat sekali, seolah Arya adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai. Arya melaju pelan namun pasti, membelah hujan lebat. Ia tidak membawa Naya ke rumah sakit—ia tahu Naya pasti menolaknya dan akan membuat keributan. Ia ingat rumah besar bergaya klasik itu di kawasan elit utara. Ia tahu jalannya.
Sepuluh menit kemudian, motor Arya berhenti tepat di depan gerbang besi tinggi berwarna hitam itu. Rumah Keluarga Wijaya.
Arya membunyikan klakson pendek. Sebuah jendela kecil di pos penjagaan terbuka, lalu gerbang otomatis itu meluncur terbuka pelan. Rupanya penjaga mengenali skuter merah Naya yang tertumpang di belakang motor Arya.
Mereka masuk, melaju menuju halaman depan yang luas. Arya mematikan mesin. Hujan sudah mulai mereda menjadi gerimis halus. Pintu depan rumah terbuka lebar, keluar seorang wanita paruh baya berpakaian rapi dengan wajah cemas. Itu Bi Inah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sana puluhan tahun.
"Nona Naya! Ya Tuhan, apa yang terjadi sama Nona?" seru Bi Inah panik saat melihat Naya tergolek lemah di punggung Arya.
"Kecelakaan sedikit, Bu. Kakinya terkilir dan dia kedinginan. Saya bawa dia masuk ya," ujar Arya sopan namun tegas. Bi Inah yang kaget dan panik hanya bisa mengangguk pasrah, mempersilakan pemuda asing itu masuk ke dalam wilayah terlarang itu.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Arya tertegun sejenak.
Interior rumah Wijaya sangat megah, bernuansa klasik mewah dengan furnitur kayu jati berukir emas, lampu kristal besar yang menggantung di langit-langit tinggi, dan karpet tebal bermotif bunga. Namun, meski barang-barangnya mahal, rumah ini terasa sunyi, dingin, dan kosong. Tidak ada suara televisi, tidak ada tawa, hanya keheningan yang berat.
Arya mengikuti arahan Bi Inah menuju kamar Naya di lantai dua. Begitu pintu kamar terbuka, napas Arya tercekat lagi.
Kamar Naya sangat besar, dominan warna putih dan krem, terlihat bersih, rapi, dan... impersonal. Seperti kamar hotel mewah, bukan kamar tempat seseorang tinggal dan hidup. Tidak ada foto keluarga di meja rias, tidak ada barang-barang lucu atau pribadi yang berantakan. Semuanya tertata rapi, terlalu rapi.
Arya membaringkan tubuh Naya dengan hati-hati di atas tempat tidur besar berkanopi putih. Naya masih sadar tapi matanya terpejam rapat, wajahnya masih pucat pasi, rambutnya masih basah menempel di bantal sutra.
"Bi, tolong ambilkan handuk kering, air hangat, dan minyak urut atau balsam untuk terkilir. Cepat!" perintah Arya. Otoritas suaranya membuat Bi Inah, seorang pembantu senior, tanpa sadar patuh dan buru-buru keluar kamar.
Sekarang hanya ada mereka berdua. Arya duduk di tepi ranjang, menatap wajah Naya dari dekat. Tanpa jaketnya, gaun Naya yang basah memperlihatkan lekuk tubuhnya, membuat Arya sadar posisi mereka yang agak intim. Ia memalingkan wajah sejenak, mengambil handuk kecil yang tergeletak di meja samping, lalu dengan lembut mulai mengusap rambut dan wajah Naya, mengeringkan sisa air hujan.
Gerakan Arya begitu halus dan penuh perhatian. Naya yang terpejam perlahan membuka matanya sedikit. Tatapannya buram, fokusnya jatuh pada wajah Arya yang begitu dekat. Untuk pertama kalinya, tidak ada ketajaman atau kebencian di mata Naya. Hanya kebingungan dan... kelembutan.
"Kenapa..." bisik Naya serak. "Kenapa kamu begitu baik padaku, Arya? Padahal aku jahat sama kamu..."
Arya berhenti mengusap rambut, tangannya beralih menyentuh pipi dingin gadis itu. "Karena aku merasa... aku mengenalmu, Naya. Dan aku benci melihat orang yang aku kenal kesakitan sendirian."
Saat itulah, pandangan Arya jatuh ke dada Naya, tepat di bawah leher, di mana kancing teratas gaunnya terbuka sedikit karena basah.
Jantung Arya seolah meledak di dalam dada.
Di sana, tergantung sebuah kalung sederhana berwarna perak, yang rantainya sudah agak kusam dimakan usia. Liontinnya berbentuk bulan sabit, persis sama... persis sama dengan kalung yang ditinggalkan ibunya di meja makan saat ia menghilang setahun lalu. Kalung yang Arya simpan dan peluk setiap malam saat ia rindu ibunya.
"Kalung itu..." bisik Arya, tangannya gemetar menyentuh liontin bulan sabit itu.
Sentuhan hangat jari Arya di kulit lehernya membuat Naya tersentak, tapi ia tidak menarik diri. Ia hanya menatap Arya bingung.
"Kalung ini... dari mana kamu dapatnya?" suara Arya bergetar hebat, matanya menatap tajam ke manik mata cokelat madu itu.
Naya menunduk melihat kalungnya, lalu kembali menatap Arya dengan tatapan sendu.
"Ini... satu-satunya barang yang aku punya dari Ibu. Dia meninggal saat aku kecil. Ini peninggalannya. Katanya... ini kalung kembar. Ada satu lagi yang sama persis."
Dunia Arya seakan berputar.
Kembar.
Ibunya punya satu. Ibu Naya punya satu.
Artinya... teori Arya benar seratus persen. Ibunya dan almarhumah Ibu Naya, Sari Wijaya, bukan sekadar sahabat biasa. Mereka pasti bersaudara? Atau kembar? Atau... mereka adalah dua orang yang terikat janji sehidup semati yang tak bisa dipisahkan, bahkan oleh kematian sekalipun?
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Bi Inah masuk membawa baskom air hangat dan perlengkapan obat-obatan, memutus momen itu. Tapi benang merah itu sudah tertangkap oleh Arya. Kebenaran itu sudah menggantung tipis di ujung hidungnya.
Arya menarik tangannya perlahan, berdiri dengan kaki gemetar karena emosi yang meluap. Ia harus keluar dari kamar itu secepatnya, sebelum ia tak bisa menahan diri untuk tidak membentak Naya dan meminta seluruh kebenaran saat itu juga.
"Saya... saya pergi dulu, Bu Inah. Tolong obati kakinya," ucap Arya tergagap, suaranya masih bergetar. Ia melirik Naya sekali lagi. Gadis itu masih menatapnya dengan bingung, tak mengerti kenapa tiba-tiba sikap Arya berubah drastis dari lembut menjadi tetegang dan tergopoh-gopoh ingin pergi.
"Terima kasih, Arya..." bisik Naya pelan, cukup keras agar hanya Arya yang mendengar. "Maaf... atas semua kata kasarku."
Arya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat, lalu berbalik dan berjalan cepat keluar dari kamar itu, menuruni tangga, keluar dari rumah Wijaya yang megah namun menyeramkan itu, kembali menerobos gerimis yang mulai berhenti.
Begitu sampai di luar, di bawah langit senja yang mulai gelap, Arya menarik napas panjang, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, mencoba menenangkan jantungnya yang mau copot. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok pagar tinggi itu.
Kalung kembar. Foto lama. Sahabat dekat.
Semua kepingan itu kini menyatu menjadi satu gambaran besar yang menakjubkan sekaligus menakutkan.
Naya bukan orang asing. Naya adalah bagian dari keluarganya. Dan ayah Naya, Hendrawan Wijaya, adalah satu-satunya orang yang tahu kebenaran di balik masa lalu, di balik kehancuran, dan di balik hilangnya ibunya.
"Ayahmu pegang kuncinya, Naya," gumam Arya ke arah rumah besar di belakangnya. "Dan kamu... kamu adalah kuncinya."
Malam itu, Arya tahu satu hal pasti: Ia tidak hanya akan mendekati Naya demi rasa penasaran. Ia harus masuk ke dalam hidup Naya, sedalam mungkin. Karena gadis itu bukan lagi sekadar orang yang ia temui di perpustakaan. Naya adalah satu-satunya jalan pulang bagi Arya untuk menemukan ibunya, dan menemukan jati dirinya sendiri.