Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Darah di Kaukasus dan Tangis di Islamabad
September 701 Masehi — Istana Agung Kekaisaran, Islamabad
Waktu berlalu seperti kilat di atas rel kereta cepat Dinasti Rahmad. Sembilan bulan telah lewat sejak kabar gembira itu pertama kali menyelimuti istana. Islamabad, yang kini telah tumbuh menjadi pusat peradaban dunia dengan gedung-gedung pencakar langit bertenaga fusi, seolah menahan napas. Seluruh aktivitas di sekitar kompleks Istana Agung diperlambat; tidak ada jet tempur yang diizinkan melakukan sonic boom, dan suara klakson kendaraan otomatis diatur pada desibel terendah.
Di dalam kamar persalinan yang dilengkapi dengan peralatan medis paling mutakhir dari abad ke-21—hasil manifestasi sistem yang paling presisi—Yudi Rahmad tidak beranjak satu inci pun dari sisi Yue Qing. Peluh membasahi dahi Sang Permaisuri, wajahnya yang cantik kini memerah menahan kontraksi yang hebat.
"Tarik napas, Sayang. Kau kuat. Aku di sini," bisik Yudi, menggenggam tangan Yue Qing yang mencengkeram sprei sutranya dengan kuat.
Di luar ruangan, Maharani Wu Lin berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Meskipun ia adalah penguasa Zhou yang tangguh, momen kelahiran cucu pertamanya membuatnya tampak seperti ibu biasa yang cemas. Di sisi lain, Galuh bersiaga dengan tablet data di tangannya, memantau tanda-tanda vital permaisuri yang terhubung ke sistem pusat.
Setelah perjuangan yang menguras tenaga selama berjam-jam, sebuah tangisan melengking memecah keheningan malam di Islamabad. Tangisan itu bukan sekadar suara bayi, melainkan pengumuman kepada dunia bahwa Dinasti Rahmad memiliki pewaris sah.
"Seorang putra, Tuan Kaisar," suara bidak medis sistem terdengar tenang.
Yudi terpaku melihat bayi mungil yang masih merah itu diletakkan di dada Yue Qing. Bayi itu memiliki rambut hitam legam seperti Yudi, namun saat ia membuka matanya sebentar, kilatan merah delima yang unik—warisan genetik Yue Qing—tampak sangat jelas. Yudi mengecup kening istrinya yang kelelahan.
"Kita beri dia nama Zulkarnain Rahmad Zhou," ucap Yudi pelan. "Sang pemilik dua tanduk, penguasa Barat dan Timur."
Badai di Kaukasus: Aliansi Sabit dalam Bahaya
Namun, kegembiraan di Islamabad kontras dengan bau mesiu dan darah yang tercium di pegunungan Kaukasus. Jauh di Barat, Kekhalifahan Abbasiyah yang merupakan sekutu setia Yudi, sedang terjebak dalam perang yang melelahkan. Bersama sekutu lokal mereka, Kerajaan Abkhazia, pasukan Abbasiyah harus menghadapi keganasan Kerajaan Azov—sebuah kekuatan stepa yang brutal yang mencoba merebut jalur perdagangan Laut Hitam.
Kerajaan Azov dikenal dengan kavaleri beratnya yang tidak mengenal rasa takut. Mereka menggunakan taktik bumi hangus yang membuat pasukan Abbasiyah kesulitan mempertahankan logistik. Khalifah Abbasiyah, meski memiliki beberapa unit senjata api awal bantuan Yudi, merasa kewalahan karena jumlah musuh yang mencapai rasio lima banding satu.
Yudi, yang menerima laporan taktis di sela-sela waktu menemani Yue Qing, tidak bisa tinggal diam. Namun, ia tidak ingin memicu perang besar yang menarik seluruh armadanya ke Barat sementara ia baru saja memiliki putra.
"Galuh," panggil Yudi melalui komunikasi terenkripsi. "Aku tidak akan mengirim divisi. Kirimkan 300 Infanteri Elit dari Satuan Black Guard. Bekali mereka dengan perlengkapan infanteri masa depan standar Exoskeleton dan senapan serbu terintegrasi. Kirim mereka menggunakan pesawat angkut siluman malam ini juga ke markas Abbasiyah."
Hanya 300 orang. Bagi Khalifah, jumlah itu tampak seperti penghinaan. Namun bagi Yudi, 300 orang bersenjata masa depan adalah kiamat bagi 50.000 pasukan kavaleri abad ke-8.
Benar saja, di lembah pegunungan Kaukasus, pasukan Azov yang sedang melakukan pengepungan terhadap benteng Abkhazia mendadak dikejutkan oleh suara tembakan yang tidak bersuara namun mematikan. 300 Infanteri Rahmad bergerak seperti hantu dalam kegelapan. Dengan Night Vision, mereka menghabisi komandan-komandan Azov dari jarak dua kilometer. Senjata otomatis mereka merobek zirah besi Azov seolah-olah itu hanya kertas basah. Hanya dalam waktu tiga jam, 50.000 pasukan Azov kocar-kacir, mengira mereka sedang diserang oleh tentara malaikat yang tak terlihat. Kemenangan ini mengamankan posisi Abbasiyah di Utara dan membuat nama Yudi semakin dikeramatkan di tanah Arab.
Gejolak di Nusantara: Sriwijaya vs Kerajaan Dvaravati
Sementara itu, di wilayah Asia Tenggara (ASEAN), dinamika kekuasaan mulai bergeser. Kerajaan Sriwijaya, raksasa maritim yang berbasis di Sumatra, mulai melebarkan sayapnya ke daratan Asia Tenggara untuk menguasai jalur perdagangan Tanah Genting Kra.
Langkah Sriwijaya ini memicu konfrontasi langsung dengan Kerajaan Dvaravati (yang berpusat di wilayah Thailand modern). Sriwijaya mengerahkan armada kapal-kapal kayu raksasa mereka untuk mendaratkan pasukan di pesisir Thailand, mencoba merebut pelabuhan-pelabuhan strategis.
Perang ini berlangsung sengit. Prajurit Sriwijaya yang tangguh dalam pertempuran hutan harus menghadapi gajah-gajah perang Dvaravati yang terlatih. Kabar perang ini sampai ke telinga Yudi. Ia melihat Sriwijaya sebagai calon mitra maritim yang potensial, namun ia juga tahu bahwa ketidakstabilan di jalur Selat Malaka akan mengganggu jalur logistik maritim Dinasti Rahmad yang sedang berkembang.
"Sriwijaya mulai menunjukkan taringnya," gumam Yudi saat melihat peta laut di tabletnya. "Untuk saat ini, biarkan mereka berperang. Kita akan mengamati siapa yang paling layak untuk menjadi perwakilan Islamabad di kepulauan selatan."
Statistik Kekaisaran & Global (September 701 M)
Status Keluarga Kekaisaran:
Kaisar: Yudi Rahmad.
Permaisuri: Yue Qing (Pasca Melahirkan).
Putra Mahkota: Zulkarnain Rahmad Zhou (Lahir 12 September 701 M).
Statistik Perang Kaukasus:
Pasukan Rahmad: 300 Infanteri Elit.
Korban Rahmad: 0 (Zero Casualty).
Pasukan Azov: 50.000 (Hancur total/Mundur).
Hasil: Abbasiyah & Abkhazia mengamankan Laut Hitam.
Statistik Perang Nusantara:
Sriwijaya: 40.000 Pasukan Maritim, 500 Kapal Perang.
Dvaravati: 35.000 Pasukan Darat, 2.000 Gajah Perang.
Status: Konflik Aktif di Semenanjung Malaya & Thailand Selatan.
Demografi Dinasti Rahmad:
Populasi: ± 84.000.000 Jiwa (Terus bertumbuh).
Muslim: 34.000.000 Jiwa.
Ekonomi: Melejit berkat pajak perdagangan kereta cepat dan ekspor energi ke Zhou dan Abbasiyah.
Malam itu di Islamabad, Yudi menggendong Zulkarnain di balkon istana, menatap bintang-bintang. Di kejauhan, lampu-lampu kota Islamabad yang tak pernah tidur tampak seperti galaksi yang jatuh ke bumi. Yudi tahu, tantangan ke depan akan lebih besar. Bukan hanya mempertahankan apa yang sudah ada, tapi memastikan bahwa putra kecilnya akan mewarisi dunia yang jauh lebih baik, lebih terang, dan lebih adil daripada saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Tibet setahun yang lalu.
Dunia sedang membara di ujung-ujungnya, namun jantungnya—Dinasti Rahmad—berdetak lebih kuat dari sebelumnya.