NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Keesokan harinya, seperti biasa., petugas mengumumkan dari speaker kalau ada calon yang mendapat paket. Kali ini dua nama yang muncul: Ruby dan Marey. Mendengar nama Ruby, semua yang sedang makan siang langsung saling pandang.

Tiga Minggu mereka di sini, baru kali ini Ruby menerima paket. Sedangkan yang lainnya sudah pernah mendapat satu atau dua, kecuali Kimi.

"Ya kali ada yang rajin ngirimin aku paket. Aku mah anak terbuang, " kata Kimi sewaktu mereka sempat menanyakannya.

Di kamar, Ruby menatap isi paketnya dengan puas. Dua belas toples cookies premium dengan berbagai rasa. Sekarang tinggal memanggil Kimi dan menyuruhnya memilih, Tentu tidak semua, karena sebagian harus diberikan ke Anela.

Setelah ini, masalahnya dengan kimi akan selesai. Ruby gelisah sendiri karena merasa bersalah dan berutang pada Kimi, jadi ia memutuskan untuk berbaik hati kali ini saja.

Ia bangkit, yakin setengah mati Kimi ada di kamar. Begitu diketuk, benar saja, Cewek itu muncul dengan wajah kecut.

"Ada apan? Aku bikin salah lagi?" tanya Kimi datar.

"Kok ngomong gitu?" Ruby mengernyit.

"Di mata kamu aku salah mulu kan? Makanya jutek banget."

"Baper amat. Ikut gw, ada yang mau gw kasih."

Kimi mengernyit, tapi tetap mengikuti dengan langkah pelan. Begitu masuk ke kamar Ruby, ia makin bingung melihat banyak toples di atas karpet.

"Pilih mana aja yang lo suka," kata Ruby santai sambil duduk di pinggir kasur.

"Kenapa kamu kasih ini?"

"Buat ganti cookies nyokap lo."

"Oh," Kimi mengangguk paham, "Gak usah deh. Aku ikhlas kok."

kimi berjalan terpincang lagi ke pintu, tapi Ruby

langsung sigap menghalangi. "Gak bisa. Lo harus ambil minimal satu."

"kok maksa?"

"Gw gak mau punya utang."

"Aku udah bilang ikhlas kan? Ya udahlah, gak usah dibahas. Lagian kamu sendiri yang suruh aku jauh-jauh. Jadi gak ada utang."

Ruby mendengus, kaget karena ternyata Kimi baperan juga. Awalnya ia kira Kimi tahan banting, karena tak pernah tersinggung dengan ucapannya.

"Lo marah? Oke, gw minta maaf. Ambil cookies-nya, baru lo boleh pergi."

"Gak mau,"

"Ambil."

"Dibilang ogah."

"Yaudah, terserah. Gw benci sama orang cengeng."

Ruby bergeser dari pintu. "Pergi aja kalau mau. Jangan pernah balik lagi."

Kimi terdiam. Matanya tiba-tiba memanas. Ia tidak bermaksud menangis, tapi air itu keluar sendiri. Kimi sendiri kaget, apalagi Ruby.

"Kok nangis beneran?" Ruby agak panik. "Yaudah, kalau gak mau gak apa-apa. gw kan udah gak maksa."

Kimi menarik napas, mengusap air matanya, lalu menoleh ke Ruby dengan tatapan sendu.

"Aku gak marah. Ini beneran bukan karena cookies. Aku cuma mikir..." ia menelan ludah, sedikit terisak. "Sesusah ini ya cuma mau jadi teman kamu.'"

Ruby tertegun. Tatapan Kimi yang sendu, air mata yang jatuh, hidung merah, bibir sedikit terbuka mencari napas, semuanya terlihat aneh. Tapi alih-alih risih, Ruby justru merasa... gemas.

Gemas dan sedikit lucu.

Maksudnya, serius? Kimi nangis cuma gara gara mau berteman dengannya?

"Minggir dikit. Aku mau lewat," ucap Kimi serak.

Ruby baru sadar dirinya masih berdiri di depan pintu. Ia cepat-cepat menyingkir, membiarkan kimi lewat tanpa banyak kata. Setelah pintu tertutup, Ruby mendesah pelan, lalu bersandar di meja kerja sambil memandangi toples cookies yang tadi ditolak mentah-mentah.

"Dia belum nyoba sih," gumamnya. "kalau udah, pasti ketagihan."

Ruby tidak suka merasa berutang. Tapi Kimi sampai segitunya, nangis cuma karena ingin berteman. Yah, itu agak keterlaluan sekaligus bikin Ruby tak tenang.

Namun kalau mereka benar-benar berteman, bukankah Kimi bakal dijauhi? Ruby mengacak rambut sampai ikatannya lepas.

"Kenapa sih tuh anak gak mikir panjang?" omelnya pelan. "Ngajak ribut satu asrama gampang kali ya buat dia. "

Sementara itu di kamar sebelah, Kimi berdiri di depan pintu dengan tatapan kosong. Air matanya sudah kering, tapi jengkelnya justru naik ke ubun-ubun.

"Dia gak kejar aku? Serius gak dikejar? Jadi aku segitu gak pentingnya?" Kimi merengut, lalu bergumam lirih, "Minimal temen aja deh, gak usah napsu juga."

Belum sempat lanjut mengomel, suara ketukan keras membuatnya hampir terjungkal ke depan.

"Ya ampun siapa lagi sih?" gerutunya panik.

Begitu dibuka, ternyata Ruby berdiri di depan pintu.ekspresinya datar, tapi di tangannya ada beberapa toples cookies.

"Mau apa lagi?" tanya kimi sewot.

"Biarin gw masuk, Cuma mau naro ini bentar,"

Kimi menyingkir dengan pandangan heran, sementara Ruby lewat begitu saja, lalu menaruh enam toples di meja. Saat melirik kasur, Ruby nyaris tertawa melihat selimut pink motif unicorn dan boneka teddy bear di ujung bantal.

Serius nih, dua puluh dua tahun? batinnya geli sendiri.

Sebelum keluar, Ruby sempat berkata,

"Kalau kurang bilang aja. Nanti gw suruh orang rumah kirimin lagi. Dan lo, jangan nangis cuma gara-gara mau temenan. Kita ini udah bukan abege, gak perlu baper sampai segitunya."

Ia sempat mengusap kepala kimi sebelum keluar kamar.

Setelah pintu tertutup, kimi masih terpaku. Tangannya naik menyentuh kepala yang baru saja diusap itu.

Perempuan yang pernah melakukan hal itu cuma tiga. orang: Mama, Tante, dan pacar abangnya. Dan tiap kali, selalu disertai kalimat, 'uluh -uluh, si bocil gemesin'.

kimi langsung berbalik dan mendelik ke arah pintu. "Jadi dia beneran mikir aku bocah?!"

...**...

Malam itu Kimi menghabiskan satu toples cookies

sendirian, Ternyata enak. Terlalu enak malah sampai ia Susah berhenti.

"Bikin nagih banget sih. Ngeselin, kayak yang ngasih," gerutunya sambil nyomot satu lagi.

Paginya setelah mandi, Kimi keluar kamar untuk sarapan, Begitu membuka pintu, bertepatan dengan Ruby yang juga baru keluar. Alih-alih menyapa, Kimi cuma lewat sambil menyeret satu kaki.

Ruby mengernyit. Masih ngambek, batinnya. "Kenapa juga harus lama-lama gitu, emangnya pacar gw?" gumamnya pelan, tak habis pikir.

Saat menuruni tangga, Ruby melewati Kimi begitu saja. Bukan mau balas cuek, tapi di belakang kimi sudah ada Febi dan Marey yang sigap membantu.

"Yaelah, kasian amat. Ini anak siapa woy!" Marey terkekeh sambil memegangi kimi turun bersama Febi.

"Pelan-pelan, kim. kalau gelindingan lagi, bisa patah beneran loh," kata Febi serius sambil menahan pinggang Kimi.

Kimi mendengus. "Kamu mah gitu, bantu tapi bikin deg-degan."

Mereka bertiga terkekeh sampai tiba di anak tangga terakhir.

Sebenarnya mereka sudah menawari kimi pindah ke kamar bawah sampai kakinya sembuh. Tapi bukan kimi namanya kalau tak punya seribu alasan, Versi logis: "Pemandangan di atas lebih bagus. "

Versi manja: "Aku gak bisa tidur di kamar baru, nanti harus penyesuaian lagi."

Versi absurd: "Aku udah jodoh sama kamar itu."

Padahal alasannya simpel: Kimi ogah jauh dari Ruby.

kalau pindah ke bawah, artinya ia gagal memantau Anela yang keluar masuk kamar Ruby. Kadang Kimi sendiri mikir, aku kok kayak orang yang lagi kecintaan gini ya? Tapi tetap saja, besoknya dilakukan lagi.

Sekarang Ruby sudah mulai memberi sinyal pertemanan. Soal ciuman dan pelukan itu nanti bakal Kimi cari tahu pelan-pelan. Oke, langkah selanjutnya-

"Kim, mau telur mata iblis atau telur bulat?" tanya Septi, nyelonong sambil bawa piring kosong.

"Telur iblis apaan?"

"Mata sapi. Tapi gw suka nyebutnya iblis."

"Oh, yaudah yang mata iblis aja."

"Nugget atau sosis? Daging asap atau tuna? Nasi atau kentang? Roti biasa atau roti panggang? "

"Astaga, lo bawel amat, Sep," Janu yang dari tadi mendengar jadi jengah sendiri.

Septi cengengesan, "Kan gw mastiin biar gak salah ambil,"

"Biasanya kimi makan apa sih?" tanya Janu lagi.

Septi cuma angkat batu. Akhirnya Juli mendengus, bangkit, dan menyambar piring dari tangan Septi. Dengan gaya ala ibu berpengalaman, dia langsung mengambilkan makanan dan menaruhnya di depan kimi.

"Makasih, kak Juli," ujar Kimi sok imut.

"Ih, gw punya adek kayak gini mau dah," kata Juli sambil terkekeh.

"Ho oh, yang ada lo dibabuin," celetuk Okta, lalu buru-buru menutup mulut. "Eh, sorry kim, gak maksud-"

"Gak apa apa kok," balas kimi santai.

"Peak lo," Juni menepuk kepala Okta. "kimi gak nyuruh, tapi terpaksa."

"Iya loh, kaki Kimi masih sakit tau," bela Mei.

"Gak punya perasaan banget jadi orang," tambah Desi dramatis.

"Ya ampun, gw cuma becanda! kenapa pada nyerang gini sih," Okta mulai panik.

"Makan aja lah. Sepele dibesar-besarin," kata Nove bijak. Ia lalu menoleh ke Kimi. "Kalau butuh sesuatu, ngomong aja, jangan ditahan,"

Kimi mengangguk polos. "Kalau bisa sih, aku mau minta tolong. Nanti gendong nyampe kelas."

"Nah, kan. Ngelunjak!" seru Marey sambil menutup muka menahan tawa.

Semua tertawa, dan tak ada yang benar-benar kesal. Sejak Kimi mulai masuk lagi, kelas keuangan dipindahkan ke lantai bawah. Entah karena solidaritas atau mungkin faktor kemalasan, kelas lain ikut minta pindah juga. Dan pembimbing tidak keberatan.

Lagipula, siapa sih yang mau repot naik tangga?

Di tengah suasana ramai, Kimi sempat melirik Ruby yang duduk bersama Anela. Begitu mata mereka bertemu, Kimi refleks melotot kecil, lalu buru-buru fokus ke makananya.

Ruby mengernyit. Masih pagi, tapi udah aneh aja tingkahnya. Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Dasar Teddy bear," bisiknya pelan.

"Apa, Ru?" tanya Anela bingung.

"Enggak. kok pagi ini tumben dagingnya agak keras."

"Oh ya? Aku sih ngerasanya biasa aja."

"Berarti gigiku yang bermasalah."

"Yaudah, nanti aku temenin ke klinik ya."

Ruby terkekeh pelan. Kadang Anela terlalu serius untuk dunia yang se-absurd ini.

Hari ini hujan turun tanpa jeda, bahkan rintiknya makin deras saja. Pak Mahmud yang sedang menjelaskan materi sudah menguap tiga kali dalam sepuluh menit.

Ia akhirnya duduk, menatap lima peserta di depannya yang ikut menguap kompak seperti paduan suara malas.

Suara hujan, udara dingin, aroma tanah basah, kombinasi maut yang bikin ngantuk. Setelah perjuangan panjang menahan kelopak mata agar tetap terbuka, tepat pukul tiga sore kelas pun resmi bubar.

Pak Mahmud dan para pembimbing langsung kabur dengan payung masing- masing, meninggalkan para peserta yang berdiri di teras sambil bengong menatap hujan.

"Balik sekarang aja kali ya? Gw ngantuk," ujar Janu sambil menguap lebar. Ia langsung menyambar salah satu payung yang disediakan, berdiri di pinggir teras, lalu membuka payungnya.

"Gw juga deh," kata Agus ikut-ikutan.

Sayangnya begitu melangkah ke pinggir, Agus malah terpeleset karena lantai licin. Badannya menabrak Janu yang langsung nyungsep ke depan. Tapi sebelum jatuh sempurna, Janu refleks menarik jaket Agus, seolah membawa serta biang masalah ikut terjerumus sekalian.

Keduanya sukses terguling di genangan air.

"Lo bego banget! kaki lo udah gak napak apa gimana?!" bentak Janu kesal.

"Lantainya licin tau! Gw juga gak sengaja!" balas Agus, lebih ke takut daripada marah.

"Ah, bacot! Lo pasti dendam sama gw!" Sebelum Janu menarik telinganya, Agus langsung lari menjauh. Janu tak tinggal diam, ia langsung bangkit mengejar.

"Jangan kabur lo!"

Hujan deras, tanah becek, tapi dua manusia itu malah kejar-kejaran seperti di film India.

"Itu bocah berdua... seriusan?" gumam Marey tak percaya.

"Weh, seru banget. Ikutan yuk!" celetuk Juli tiba-tiba.

Tanpa pikir panjang, Juli langsung melepas jaket dan melesat ke tengah hujan. Dan seperti efek domino, yang lain juga ikut turun, termasuk Desi yang biasanya paling anti kegiatan fisik.

Tersisalah satu orang waras di muka bumi ini: Kimi.

Lari? Dengan kaki begini? Jalan saja masih mirip robot.

"Kim! Ayo sini! Seru loh!" teriak Febi sambil melambai-lambai di tengah hujan.

kimi menghela napas. Mau tak mau, dia ikut melepas jaket kodoknya dan melangkah pelan keluar teras. Baru kena rintik pertama, kulitnya langsung merinding. Dingin! Tapi dua belas orang itu malah tertawa seperti bocah yang lagi main air laut.

"Dingin kan? Gw juga," kata Marey santai, padahal bibirnya sudah biru.

Kimi geleng-geleng. Ini sudah bukan kegiatan pelatihan lagi, tapi semacam ritual gila berjamaah.

Tiba-tiba langit menyala terang - DUAARR!

Petir menyambar di kejauhan, tapi suaranya bikin semua orang menjerit. Dalam hitungan detik, formasi "lari gembira' langsung bubar total. Ada yang lari ke asrama, ada yang balik lagi ke gedung kampus.

"Tunggu! Hei! Tungguin aku!" teriak Kimi, tapi suaranya tenggelam oleh derasnya hujan.

Ia berusaha mengejar, tapi langkahnya terseok. kakinya mulai nyut-nyutan, napasnya terengah. Dalam sekejap, semua sudah lenyap dari pandangan. Tersisa dirinya dan hujan yang makin menggila.

Lalu dari kejauhan, seseorang berlari sambil membawa payung.

Ruby.

Tadinya ia dan Anela sedang jalan santai ke asrama, tapi langkahnya terhenti melihat peserta lain berlarian panik sambil menutup telinga. Saat pandangannya menyapu lapangan, ia. melihat satu sosok kecil tertinggal. Ia menyipit, mencoba memastikan.

Cuma satu orang di pelatihan ini yang jalannya timpang. Ya si kimi.

Ruby sempat ingin membiarkan, karena ya... ini cuma hujan air, bukan hujan batu. Tapi petir yang lagi-lagi menyambar membuatnya langsung lari mendekat.

"Bego banget! Udah tau hujan, masih keluyuran. Gak sadar sama kaki?" katanya begitu sampai, suaranya gak ngos-ngosan tapi tetap terdengar nyolot.

Kimi menunduk, bibirnya gemetar menahan dingin, takut, dan kaget. "M-maaf. Aku g-gak enak kalau gak i- ikutan..."

Ruby mendesah, menyesuaikan langkahnya dengan langkah kecil kimi yang pincang. "Terus kalau yang lain nyemplung jurang, lo ikutan juga?" katanya lagi, nada kesalnya lebih ke capek dari pada marah. "Ada ya orang yang kayak lo gini."

Kimi hanya diam. Air hujan menetes dari rambutnya ke dagu, menyatu dengan napasnya yang gemetar. Ruby tetap memayunginya sampai ke teras asrama, tak peduli meski sisi kiri tubuhnya basah.

Dari kejauhan, dua belas pasang mata menatap mereka dengan rahang kaku.

Yang di kampus buru-buru membawa tas dan jaket mereka-termasuk punya Kimi-lalu menyusul ke asrama sambil menenteng payung. Sementara yang di asrama menyambut kimi dengan wajah bersalah.

"kim, duh, sorry banget. Gw refleks lari sampe gak sadar lo ketinggalan," kata Juli sambil memegangi tangan kimi yang dingin.

Febi ikut bicara dengan nada memelas. "Aku juga, sumpah, kim, Tadi tuh panik banget. Gak mikir apa-apa."

"kita egois banget. Maaf ya," timpal Apri dengan suara pelan.

Ruby hanya. menatap mereka datar. "Daripada sibuk minta maaf, mending tuh anak disuruh mandi. Keburu flu."

Semuanya menoleh ke Ruby, tapi cewek itu cuma meletakkan payung di teras lalu melangkah masuk ke dalam. Anela yang sejak tadi diam ikut menyusul di belakang.

"kamu baik banget sampai lari nyamperin dia. Aku aja ditinggal," kata Anela, berusaha terdengar santai.

"Mau gimana. Aku gak bisa biarin orang kesamber petir gitu aja kan?"

"Jadi.. ini bukan karena dia Kimi?"

Ruby mengerutkan daki. "Aku gak peduli siapa pun itu, Selagi bisa nolong, ya kutolong."

Meskipun ujung-ujungnya malah bikin salah paham, tambah Ruby dalam hati.

Anela mengangguk, lalu merangkul lengan Ruby saat menaiki tangga. Di dekat pintu, kimi yang sedang dipapah Juli dan Apri hanya menatap datar.

Nempel mulu, udah kayak cicak kawin, batinnya

jengah.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!