menceritakan tentang kekaisaran yang berjaya serta sangat gila kuasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penjarahan besar besaran
Melihat para pasukan Barvatia mulai kewalahan dan kocar-kacir akibat formasi serangan meriam serta tembakan bertubi-tubi dari pasukan Numeria yang bersembunyi di balik reruntuhan kota, para komandan aliansi Barvatia dan Lingardia tidak tinggal diam mereka segera memerintahkan pasukan cadangan untuk maju membawa pasokan amunisi baru guna membalikkan keadaan. Pasukan Lingardia segera mendorong maju beberapa unit senapan gatling dengan dua roda ke posisi depan, mereka kembali menghujani posisi reruntuhan kota dengan hujan peluru yang sangat lebat tanpa henti hingga membuat pasukan Numeria tidak berkutik dan kesulitan untuk mengisi ulang senjata api mereka, di saat yang sama para pasukan Barvatia memanfaatkan kesempatan itu untuk merangsek maju secara brutal sambil melemparkan tumpukan dinamit ke arah reruntuhan bangunan tempat pertahanan musuh.
Terjadilah ledakan-ledakan besar yang sangat dahsyat menghancurkan sisa-sisa persembunyian mereka, membuat para pasukan Numeria banyak yang tewas seketika dengan kondisi tubuh hancur dan mati gosong akibat terkena ledakan, pasukan aliansi yang sudah tersulut emosi segera melakukan pembantaian massal terhadap seluruh pasukan Numeria yang tersisa di kota tersebut tanpa memberikan ampunan sedikit pun, mereka menembaki dan menusuk setiap tentara kekaisaran yang terluka hingga semuanya tewas berhamburan bersimbah darah memenuhi jalanan perkotaan.Masyarakat Numeria yang melihat pasukan militer mereka telah habis dibantai mulai merasa sangat ketakutan, mereka menghentikan aksi pelemparan batu dan mencoba melarikan diri untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing, akan tetapi para pasukan Barvatia dan Lingardia dengan cepat bergerak menyebar untuk mengepung seluruh akses jalan keluar kota sehingga tidak ada satu pun warga yang bisa lolos. Pasukan aliansi secara resmi berhasil menaklukkan satu kota tersebut, mereka segera menurunkan bendera kekaisaran Numeria dan mengibarkan bendera aliansi mereka di atas menara tertinggi kota sebagai tanda kemenangan, setelah itu para pasukan mulai merangsek masuk ke rumah-rumah warga untuk menyeret paksa seluruh masyarakat Numeria yang masih hidup keluar ke alun-alun kota dengan todongan senapan Muscat dan bilah pedang yang masih berlumuran darah.
Masyarakat yang menangis histeris tidak berdaya hanya bisa pasrah ketika para pasukan Barvatia mulai mengeluarkan rantai-rantai besi yang besar dan berat untuk diikatkan ke leher serta tangan mereka, mereka semua resmi ditawan untuk dijadikan budak pekerja paksa yang akan dibawa menuju wilayah Barvatia dan republik guna membangun infrastruktur yang rusak akibat perang.Para gadis remaja dan wanita muda yang berwajah cantik segera dipisahkan secara paksa dari keluarga mereka oleh pasukan Lingardia untuk dimasukkan ke dalam kereta-kereta kuda khusus demi memuaskan kesenangan para pasukan aliansi yang mulai bersiap mengadakan pesta kemenangan, sedangkan para pria yang masih sehat dipaksa berbaris memanjang di bawah pengawalan ketat pasukan berkuda aliansi yang memegang cambuk. Setelah seluruh harta benda, emas, dan barang dagangan di pasar berhasil dijarah habis oleh para pasukan, rombongan besar ribuan tawanan masyarakat Numeria yang kini telah menjadi budak tersebut mulai digiring berjalan kaki dengan penuh penderitaan dan kehinaan menuju ke arah pelabuhan, mereka melangkah pergi meninggalkan kota mereka yang telah hancur luluh lantah meratapi nasib buruk yang menimpa kekaisaran mereka akibat keganasan teknologi militer aliansi Barvatia dan Lingardia yang sangat tamak tersebut.
Melihat para pasukan Barvatia mulai kewalahan karena serangan balik dari formasi menembak pasukan Numeria yang berlindung di balik reruntuhan kota, para komandan aliansi segera memerintahkan pengerahan unit tambahan senapan gatling dengan dua roda untuk maju ke depan guna menekan posisi musuh dengan hujan peluru yang tiada henti, setelah situasi pertempuran di jalanan utama mulai bisa dikendalikan dan sisa pasukan kavaleri Numeria terpaksa mundur perlahan, para pasukan Barvatia dan Lingardia tidak membuang waktu mereka segera merangsek masuk lebih dalam ke pusat kota untuk mengincar wilayah elit tempat berdirinya rumah para bangsawan Numeria dan kediaman walikota,
Pasukan aliansi yang sudah sangat serakah dan dipenuhi amarah akibat banyaknya korban yang berjatuhan segera mengepung kompleks perumahan mewah tersebut, mereka mendobrak gerbang-gerbang besi yang megah menggunakan tumpukan dinamit lalu menyalakannya hingga memicu ledakan besar yang meruntuhkan pos penjagaan dan menewaskan para pengawal pribadi bangsawan seketika dengan kondisi tubuh yang mati gosong terkena serpihan ledakan, para pasukan Barvatia bersama dengan rombongan rakyat mereka yang ikut serta segera menyerbu masuk ke dalam rumah-rumah besar milik para bangsawan Numeria secara brutal, mereka mulai melakukan aksi penjarahan besar-besaran di setiap ruangan dengan merusak lemari dinding dan brankas rahasia menggunakan senapan Muscat untuk menguras habis semua koin emas kekaisaran, perhiasan berlian yang mahal, piring-piring perak, hingga piala emas murni bernilai tinggi yang dipajang di ruang tamu, Para bangsawan pria yang nekat melakukan perlawanan dengan pedang atau senjata api seadanya langsung dibantai habis tanpa ampun di tempat, mereka ditembak tepat di dada atau ditusuk dengan bayonet hingga tewas seketika bersimbah darah di atas karpet mewah mereka sendiri, sementara para wanita dan anak gadis remaja mereka yang menangis histeris segera ditawan secara paksa oleh pasukan Lingardia untuk diikat tangan mereka menggunakan rantai besi yang sangat berat lalu diseret keluar rumah dengan penuh kehinaan agar bisa digabungkan ke dalam barisan kereta kuda pembawa budak.
Setelah selesai membersihkan area perumahan elit tersebut, pasukan aliansi Barvatia dan Lingardia segera bergerak menuju gedung balai kota dan kediaman walikota Numeria yang berdiri sangat megah di ujung jalan utama, mereka menembaki setiap jendela dan pintu menggunakan senapan gatling roda dua hingga para pegawai kota yang berada di dalam tidak berkutik dan ketakutan setengah mati. Walikota Numeria yang mencoba bersembunyi di dalam ruang kerja pribadinya segera diseret keluar oleh pasukan Barvatia dengan sangat kasar, mereka memaksa walikota tersebut untuk menunjukkan gudang penyimpanan upeti dan dana darurat kota yang berisi ribuan koin emas murni serta artefak suci milik kekaisaran Numeria yang belum sempat disetorkan ke istana pusat. Setelah berhasil menemukan tumpukan emas yang sangat melimpah itu, para pasukan aliansi segera berebut memasukkannya ke dalam karung-karung besar sambil tertawa merendahkan kelemahan pemerintahan kekaisaran Numeria yang begitu mudah ditaklukkan, tidak lama setelah itu sang walikota langsung dieksekusi mati dengan tembakan di kepala dan jasadnya dilemparkan begitu saja dari atas balkon gedung, Keserakahan para pasukan semakin menjadi-jadi karena setelah menguras habis seluruh harta benda di kediaman walikota dan para bangsawan, mereka mulai membakar seluruh bangunan mewah tersebut demi bersenang-senang hingga asap hitam pekat membubung tinggi menutupi langit kota pinggiran yang kini telah luluh lantah, para pasukan aliansi yang merasa sangat puas dengan hasil jarahan melimpah ini segera membawa barisan kereta kuda yang penuh muatan koin emas dan barang berharga menuju ke arah benteng pertahanan mereka sendiri yang berada di perbatasan bawah kawalan ketat pasukan berkuda aliansi, meninggalkan puing-puing pusat kota Numeria yang hancur total menjadi neraka penuh abu pembakaran.