Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Pilihan Tidak Sesederhana Ucapan
Shafiya mengambil piring kosong di depan kiai Fakih, hendak mengisinya dengan makanan. Menu makan malam sederhana tapi aromanya saja sudah menggoda.
"Suamimu dulu, Shafa." Ucapan kiai Fakih itu menghentikan gerakan Shafiya.
"Sekarang tanggung jawab abi atasmu, sudah berpindah ke suamimu." Beliau melanjutkan dengan suara hangat. "Jadi, dahulukan suamimu."
Shafiya bukan tidak tahu ajaran itu. Hanya saja karena ia lebih jarang bersama abinya, ditambah kini beliau baru sembuh, maka ia ingin melayani segala keperluan beliau sebisa mungkin.
Namun bagi kiai Fakih, tuntunan tetaplah tuntunan. Ia harus dikedepankan di atas kepentingan apapun.
"Baik, Bi." Shafiya patuh.
Ia berpindah ke samping Sagara. Mengambil piring kosong di depannya.
"Mas mau makan apa?" tanya Shafiya lebih dulu. Ia tahu semua menu yang tersaji di sini, bukan menu yang biasa ada di meja makan malam Adinata Residence. Jadi ia ragu untuk mengambilkan tanpa bertanya lebih dulu.
"Terserah."
Jawaban singkat itu membuat Shafiya harus memilihkan satu, yang dianggapnya cukup mendekati menu biasa di rumah mewah Sagara.
Shafiya sempat memperhatikan satu per satu hidangan yang tersaji.
Tidak ada yang benar-benar ia kenal sebagai “menu biasa” di meja makan Sagara.
Namun--ayam bakar di hadapannya tampak paling mendekati.
Tidak terlalu asing--bagi Sagara mungkin.
Ia mengambilnya perlahan.
Menambahkan sedikit sayur di sampingnya. Pilihan yang… aman.
Shafiya meletakkan piring itu kemudian di depan Sagara, lengkap dengan segelas air putih hangat. "Silakan."
Sagara tidak langsung menyentuh makanannya. Tatapannya sempat jatuh pada piring di depannya.
Ayam bakar. Sayur sederhana di sisinya.
Beberapa detik kemudian tangannya bergerak. Ia mulai makan. Tanpa komentar.
Tanpa perubahan raut wajah.
Namun kali ini--ia tidak menghentikannya di suapan pertama. Sepertinya pilihan menu itu cocok.
Makan malam itu berjalan tanpa banyak percakapan.
Namun, tidak terasa kaku. Setiap orang mengambil secukupnya. Dan menikmati dengan tenang.
Menu yang tersaji memang sederhana.
Tapi hangatnya… terasa cukup.
Tidak ada yang terburu-buru mengakhiri.
Juga tidak ada yang sekadar menyentuh tanpa benar-benar makan. Semuanya menikmati, dengan cara masing-masing.
Beberapa saat kemudian.
Semua sudah menyelesaikan makan.
Kyai Fakih mengusap tangannya.
Pandangan beliau terangkat.
“Kita ke ruang tengah saja."
Tidak ada yang bertanya.
Tapi semua mengerti. Shafiya bangkit lebih dulu. Diikuti yang lain. Langkah mereka tidak tergesa.
Namun arah mereka sama.
Agam sebenarnya ingin memisahkan diri. Ia paham, yang akan terjadi kemudian pasti bukan ruang yang boleh ia masuki.
Tapi kiai Fakih justru menyilakannya duduk dengan isyarat tangan. Membuat Agam tak lagi bisa menghindar.
Kyai Fakih menatap mereka bergantian.
Lalu dengan tenang berkata,
“Alhamdulillah. Allah menjaga nasab itu tetap jelas.”
Kalimat yang tidak panjang.
Namun cukup untuk memenuhi ruangan.
Yang dimaksud tentu anak itu. Anak dalam kandungan Shafiya. Hal mana membuat Shafiya menunduk, dan matanya kembali menghangat.
Allah telah menunjukkan kebenaran. Shafiya tetap seorang muslimah yang menjaga marwahnya. Ia hamil--di luar nikah bukan karena perbuatan nista. Tapi goresan takdir yang memilihnya dengan cara berbeda.
Kyai Fakih tidak langsung melanjutkan.
Ia memberi jeda agar kalimatnya dipahami dengan sempurna.
Baru kemudian pandangannya beralih pada Sagara.
“Artinya, tanggung jawab itu sudah jelas berpindah sekarang."
Nada beliau tetap sama. Tenang, tapi tidak ringan. “Bukan hanya sebagai suami. Tapi juga sebagai ayah.”
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya tertahan pada Kyai Fakih.
Beberapa detik. Seolah menimbang… bukan pada kata-kata, melainkan makna di baliknya.
Lalu perlahan ia mengangguk tipis.
“Saya paham.”
Hanya itu. Hanya dua kata singkat.pp
Namun cukup jelas maknanya.
bahwa ia tidak menghindar.
Kyai Fakih juga tidak meminta lebih.
Hanya kesadaran, dan tanggung jawab. Itu saja. Cukup.
Di sisi lain, Shafiya menunduk. Ucapan kiai Fakih tinggal lebih lama di hatinya.
"Artinya." Kiai Fakih melanjutkan.
"Kontrak dosa dan pahala yang kalian sepakati di awal. Sudah selesai."
Kalimat itu mengejutkan. Tak hanya Shafiya yang ekspresinya jelas terbaca. Sagara juga yang terbiasa bereaksi tenang, tatapannya kini jelas berubah--meski hanya beberapa detik saja.
Agam juga tak bisa menahan diri untuk tak menatap kiai Fakih--karena merasa belum paham arahnya.
"Niat awal kalian menikah." Kiai Fakih menjawab semua tatap tanya dengan tenang.
"Shafiya, karena ingin menutup aib.
Mas Sagara karena tuntutan keluarga. Kalian menjalani akad yang berpijak di atas kemungkinan dosa dan pahala."
Semua diam. Meski kini sudah mengerti maksudnya. Namun masih belum paham kemana arahnya.
"Ada tanggung jawab baru di antara kalian, sekarang." Kiai Fakih menatap anak dan menantunya itu bergantian.
"Ada anak. Yang sudah jelas sebagai milik kalian.
Dan itu seharusnya cukup menjadi alasan untuk kalian memperbarui niat menikah."
Shafiya menunduk.
Sagara diam.
Satu-satunya orang yang menyatakan raut setuju, hanya Agam. Ia mengangguk. Merasa itu benar. Meski tak dinyatakan lewat ucapan.
"Maksud abi, kami..." Shafiya menoleh ke Sagara sesaat. Lalu kembali menatap abinya "...memperbarui akad?"
Kiai Fakih mengangguk. "Dengan niat yang lebih benar... pernikahan itu, seharusnya ibadah. Bukan hanya sebatas transaksi."
Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini sunyinya berbeda. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan. Tapi karena apa yang harus diputuskan itu bukanlah hal yang ringan. Terutama bagi Sagara.
Untuk beberapa saat, semua masih diam.
Sagara juga tidak langsung menjawab.
Sedangkan Shafiya memilih untuk mengikuti saja.
“Kalau niat itu diperbarui, apa yang berubah?”
tanya Sagara kemudian.
Kyai Fakih menatapnya tenang.
“Semuanya, Nak." kata "Nak" itu terdengar begitu meneduhkan. Tak hanya bagi Sagara, juga Agam. Lelaki itu bahkan sampai menarik napas pelan.
“Maksudnya bukan sekadar akad yang diulang. Terlebih yang diperbarui… adalah cara kalian menjalani pernikahan ini." kiai Fakih menjelaskan.
“Bukan lagi karena terpaksa.
Bukan karena keadaan.Tapi karena kalian memilih. Dan berlandaskan niat yang benar. Menikah karena ibadah."
Ruangan kembali hening.
Dan kali ini--hening itu terasa lebih berat.
Karena pilihan…
tidak pernah sesederhana ucapan.
Sagara tidak menjawab lagi.
Tatapannya tidak berubah. Dan ia belum memutuskan apapun. Istilah suami saja…
masih terasa asing baginya.
Apalagi untuk memahami sebuah pernikahan sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kesepakatan.
Di sisi lain--Kyai Fakih tidak menekan.
Beliau sudah menyampaikan seperlunya.
Sebagai orang tua ia memiliki kewajiban untuk mengingatkan dan mengarahkan.
Namun keputusan… bukan lagi di tangan beliau. Melainkan pada mereka
yang akan menjalaninya
Sementara Shafiya. Ia tetap diam. Bukan karena tidak bisa bersuara menyampaikan keputusan. Tapi karena ia tahu, keputusan untuk menjalani pernikahan dengan benar itu, antara dua orang. Bukan hanya dirinya saja.
Jika Sagara saja tidak memutuskan apa-apa. Bagaimana ia akan maju. Mungkin yang terbaik sekarang adalah jalani saja dulu. Setelah tiba pada waktunya, segala hal itu akan menjadi jelas.