Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Suasana di ruang tamu itu masih terasa sedikit mencekam meski Rinto sudah pergi.
Arga terdiam, ia menatap Gelsya yang kembali duduk dengan di sofa.
Wajah anak itu terlihat masih ada sisa air mata, tapi ia Gelsya tetap terlihat biasa, seolah ia sudah terbiasa melihat kekacauan di rumahnya sendiri.
Ghaizka yang berdiri di dekat Gelsya melihat ke arah Arga, lalu menoleh ke arah putrinya.
"Gelsya, makanlah yang banyak ya. Biarkan makanan ini tidak menjadi dingin. Mama mau lanjutkan pekerjaan Mama di dapur sebentar," kata Ghaizka dengan suara tenang setelah bertengkar hebat dengan Rinto.
"Baik, Ma," jawab Gelsya mengangguk.
Arga tampak tidak tenang. Tangannya menggenggam gelas teh di hadapannya begitu erat.
"Anu... Nona Ghaizka..." Arga membuka mulutnya dengan ragu-ragu.
"Saya... saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya. Sepertinya karena kedatangan saya yang tidak tahu waktu ini, Anda dan Suami Anda jadi bertengkar hebat sampai seperti tadi. Saya merasa sangat bersalah telah membawa masalah ke dalam rumah tangga Anda," ucapnya merasa bersalah.
Ghaizka hanya menanggapi permintaan maaf itu dengan anggukan kepala singkat dan dingin. Ia tidak marah, tapi juga tidak berminat membahasnya lagi.
"Tidak apa-apa. Urusan itu memang harus diselesaikan cepat atau lambat," jawabnya singkat, lalu berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam dapur, meninggalkan Arga dan Gelsya di ruang depan.
Di dalam dapur, Ghaizka tidak langsung mencuci piring atau memasak. Ia justru mengambil sebuah anyaman bambu berisi berbagai jenis tanaman dan rumput-rumputan yang tadi ia petik di belakang rumah.
Dengan gerakan tangan yang terbiasa, ia mulai memilah-milahnya satu per satu dengan teliti.
Bagi orang-orang zaman modern yang awam, tanaman-tanaman itu mungkin hanya terlihat seperti rumput liar biasa, gulma yang mengganggu dan tidak ada harganya.
Tapi bagi Ghaizka, itu adalah harta karun. Ia tahu betul setiap helai daun dan akar itu menyimpan khasiat obat herbal yang luar biasa ampuh.
Sayangnya kini sudah mulai dilupakan dan tidak banyak orang yang paham manfaatnya karena sekarang sudah ada dokter.
Ia meramu obat herbal itu dan ia berniat untuk membuka klinik herbal di rumahnya untuk mencari uang.
Sementara itu, di ruang tamu.
Arga menoleh perlahan ke arah Gelsya. Ia mendekatkan tubuhnya sedikit, berbicara dengan suara berbisik yang pelan dan hati-hati, seolah takut di dengar oleh Ghaizka.
"Gelsya... Mama mu marah ya sama Paman? Hati Mama lagi kesal ya? Gara-gara Paman datang tadi, Mama sama Papa jadi bertengkar hebat dan berantem ya?" tanya Arga sedikit tidak enak.
Gelsya segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Bukan begitu, Paman..." jawab Gelsya pelan.
"Papa memang sudah begitu sejak lama sekali... Papa sering memukul Mama. Papa selalu marah-marah tanpa alasan yang jelas, teriak-teriak dan membanting barang. Papa bikin Mama menderita terus. Sering kali Gelsya lihat Mama nangis sendirian di kamar, menahan sakit dipukuli Papa, tapi Mama gak pernah ngeluh sama orang lain," kata Gelsya sedih.
"Mama kerja keras setiap hari, panas-panasan di kebun, memungut berondol sawit sampai tangan melepuh, tapi hasilnya selalu diambil Papa buat judi dan mabuk-mabukan. Papa itu orang jahat, Paman... Tapi tunggu saja... Nanti kalau Gelsya sudah besar nanti, Gelsya mau jadi orang kuat. Gelsya janji akan lindungi Mama. Gelsya tidak akan biarin siapapun, termasuk Papa, nyakitin Mama lagi!" ucapnya dengan tegas dan memiliki tekad yang kuat.
Arga terpaku mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kecil itu. Hatinya terasa begitu tersentuh.
Tadi ia melihat sisi Ghaizka yang galak, tangguh, garang, dan bahkan bisa sangat menyeramkan saat menghajar Rinto tadi. Tapi baru sekarang ia mengerti...
Kekerasan dan keberanian wanita itu bukanlah sifat asli yang jahat. Itu semua adalah perisai yang dibentuk oleh rasa lelah, beban hidup yang berat, serta penderitaan panjang yang sudah bertahun-tahun ia tanggung sendirian demi menyelamatkan nyawanya dan anaknya.
"Benar-benar wanita tangguh," gumamnya pelan sambil melihat ke dapur.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...