Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Zarta melangkah masuk kembali ke dalam rumah dengan napas terengah dan wajah yang memerah karena kesal.
Ia membanting pintu depan, membuat Maria yang masih berdiri di ruang tengah tersentak.
"Ada apa dengan Ibu sebenarnya? Apa salah Aliya sampai Ibu tega mengusirnya?!" tanya Zarta dengan suara meninggi.
"Ibu bahkan tidak memberikan dia kesempatan untuk menjelaskan! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di luar sana?"
Maria memalingkan wajah, napasnya masih
memburu.
"Dia sudah berani membohongi kita, Zarta. Dia pergi berhari-hari tanpa kabar, dan kamu lihat sendiri bagaimana gayanya tadi? Dia semakin sulit diatur karena kamu selalu membelanya!"
"Ibu..." Zarta menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya.
"Jangan membandingkan aku dengan Aliya, Bu. Aku lelaki dan aku kakaknya. Tugasku melindunginya, bukan menekannya sampai dia tidak punya tempat untuk pulang. Aliya itu perempuan, hatinya lembut. Kalau Ibu terus seperti ini, Ibu akan benar-benar kehilangan dia."
Maria terdiam. Kata-kata Zarta barusan
menghujam telaknya.
Ia menatap lantai dengan tatapan kosong, kemarahan yang tadi meluap kini mulai berganti dengan rasa sesak yang asing di dadanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Zarta merogoh ponselnya. Ia menekan nomor Aliya berkali-kali, namun hanya suara operator yang menyambutnya.
"Ponselnya dimatikan," gumam Zarta frustrasi.
Ia kemudian mencari nomor Leyla, sahabat terdekat Aliya. Harapannya hanya satu: Aliya pergi ke rumah gadis itu.
"Halo, Leyla? Ini Zarta," ucap Zarta begitu telepon diangkat.
"Apa Aliya ada bersamamu? Dia baru saja pergi dari rumah setelah bertengkar dengan Ibu."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara Leyla terdengar panik.
"Apa? Aliya pergi? Tidak, Kak. Dia tidak ada di sini. Aku malah baru mau menanyakan kabarnya."
Zarta mematikan sambungan telepon dengan lemas.
Perasaannya semakin tidak enak. Jika tidak ada di rumah Leyla, lalu ke mana adiknya yang masih dalam kondisi belum pulih benar itu pergi?
Di luar, langit Istanbul mulai menggelap, seolah ikut merasakan kegelisahan yang menyelimuti hati Zarta.
Ia tidak tahu bahwa saat ini, Aliya sedang duduk di tepi dermaga yang dingin, menatap laut lepas dengan tas pakaian di sampingnya dan rasa sakit yang mulai kembali menusuk dadanya.
Leyla menyambar tas selempangnya dengan gerakan panik. Pikirannya kalut.
Ia tahu Aliya tidak mungkin bertahan lama di jalanan dengan kondisi fisik yang masih lemah.
Dengan napas tersengal, Leyla menyisir setiap sudut yang mungkin didatangi sahabatnya itu.
Ia mulai dari area sekolah yang sudah sepi, beralih ke kafe kecil tempat mereka biasa berbagi cerita, hingga ke taman kota yang luas. Namun, semuanya nihil. Sosok Aliya tidak terlihat di mana pun.
"Aliya, kamu di mana..." gumam Leyla sambil menatap jalanan Istanbul yang mulai diterangi lampu kota.
Putus asa dan tidak tahu harus mencari ke mana lagi, Leyla akhirnya terpaksa menekan sebuah nomor yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan akan ia hubungi: Kabir.
Di kediaman Emirhan yang megah, suasana ruang makan pelayan sedang hangat oleh aroma sup dan tawa kecil.
Kabir baru saja menyendok makan malamnya saat ponsel di saku jasnya bergetar hebat.
Begitu melihat nama di layar, ia langsung terdiam. Ekspresinya berubah serius seketika.
Tanpa menyelesaikan suapannya, Kabir berdiri dan segera melangkah menuju bangunan utama.
Ia menaiki tangga dengan cepat, menuju pintu kamar Emirhan yang berada tepat di sebelah ruang makan keluarga, di mana keluarga besar itu baru saja akan memulai makan malam formal mereka.
Tok! Tok!
Pintu terbuka sedikit. Emirhan muncul dengan wajah yang tampak lelah namun tetap tajam.
"Ada apa, Kabir? Aku sedang bersiap makan malam dengan Ayah dan Ibu."
Kabir mendekat dan berbisik dengan nada mendesak.
"Tuan... Leyla baru saja menelpon. Aliya pergi dari rumahnya setelah bertengkar hebat dengan ibunya, dan Leyla tidak bisa menemukannya di mana pun."
Mata Emirhan seketika menajam. Rasa lelahnya hilang berganti dengan kecemasan yang membakar.
Ia teringat luka Aliya yang baru saja kering dan bagaimana gadis itu sangat ketakutan pada ibunya tadi siang.
"Siapkan mobil. Sekarang," perintah Emirhan singkat.
Tanpa mempedulikan setelan mahalnya, Emirhan menyambar jaket kulit hitam dari gantungan.
Ia keluar dari kamar dan melewati ruang makan di mana Onur dan Zaenab sudah duduk menantinya.
"Emirhan? Mau ke mana kamu? Makan malam baru saja dimulai," tanya Onur dengan nada tidak senang.
"Ayah, Ibu, maafkan aku. Aku harus keluar sebentar, ada keperluan mendadak yang sangat penting," jawab Emirhan tanpa berhenti melangkah.
"Urusan bisnis lagi?" seru Zaenab khawatir.
Emirhan tidak menjawab.
Ia terus melangkah lebar menuju pintu keluar, di mana Kabir sudah menunggunya dengan mesin mobil yang menderu.
Di dalam kepalanya hanya ada satu nama yang terus berputar: Aliya.
Ia bersumpah tidak akan membiarkan gadis yang telah menyelamatkan nyawanya itu menderita sendirian di dinginnya malam Istanbul.
Laura menyipitkan matanya, menatap punggung Emirhan yang menghilang di balik pintu besar dengan perasaan campur aduk.
Ada kekecewaan yang nyata terpancar dari wajahnya; ia sudah berdandan cantik malam ini dan sangat merindukan momen makan malam bersama sepupunya itu. Namun, lagi-lagi pria itu pergi begitu saja demi "urusan mendadak" yang terasa mencurigakan.
Zaenab yang menyadari perubahan raut wajah keponakannya segera menyentuh lengan Laura lembut.
"Sudahlah Laura, duduklah. Ayo kita mulai makan malamnya. Emirhan memang sedang sangat sibuk belakangan ini."
Di ujung meja, Onur tampak memperbaiki posisi duduknya.
Suaranya terdengar berat dan tegas, tidak ingin suasana makan malam ini rusak oleh drama kecil.
"Fokuslah pada makananmu, Laura. Biarkan Emirhan menyelesaikan urusannya. Dia tahu apa yang dia lakukan."
Laura hanya bisa menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya patuh.
"Baik, Paman," jawabnya singkat.
Meskipun tangannya mulai memotong daging di piringnya, pikiran Laura tetap tidak tenang.
Ia tidak bisa berhenti bertanya-tanya urusan apa yang begitu penting sampai membuat seorang Emirhan meninggalkan makan malam keluarga dengan terburu-buru.
Kecurigaannya semakin kuat bahwa ada sesuatu—atau seseorang—yang sedang disembunyikan oleh Emirhan dari mereka semua.
Sementara itu, mobil Emirhan melaju kencang membelah jalanan.
Di dalam kabin yang sunyi, Emirhan terus menatap layar ponselnya, menunggu kabar dari Kabir atau Leyla.
"Kabir, pelabuhan," ucap Emirhan tiba-tiba.
Kabir sedikit terkejut. "Pelabuhan, Tuan? Mengapa kita ke sana?"
"Aliya pernah bercerita padaku bahwa pelabuhan adalah tempat kenangannya bersama mendiang ayahnya. Jika dia merasa tidak punya tempat pulang, dia pasti akan ke sana," jawab Emirhan dengan sorot mata penuh tekad.
Tangan Emirhan mencengkeram erat jaketnya. Ia tahu Aliya masih dalam masa pemulihan, dan udara malam di pelabuhan Istanbul bisa sangat menusuk tulang.
Ia tidak akan membiarkan Aliya kedinginan lebih lama lagi.
Di pelabuhan yang sunyi, Aliya duduk memeluk lututnya di tepi dermaga.
Suara ombak yang menghantam beton pelabuhan seolah menyahuti isak tangisnya yang mulai mereda.
Ia menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, mencoba menguatkan diri di tengah keputusasaan.
Krucuk... krucuk...
Perutnya berbunyi nyaring. Aliya baru menyadari bahwa sejak siang tadi ia belum menyentuh makanan apa pun setelah kejadian di rumah sakit.
Rasa lapar itu mulai mengalahkan rasa sakit di hatinya.
Dengan langkah gontai, ia bangkit berdiri, menyampirkan tas ranselnya, dan berjalan meninggalkan area dermaga menuju deretan kedai kecil yang biasanya melayani para pekerja pelabuhan.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur cepat dan berhenti mendadak di depan gerbang pelabuhan.
Kabir segera keluar dari kemudi, sementara Emirhan turun dengan wajah yang sangat tegang.
Mereka menyisir setiap sudut dermaga. Emirhan berlari ke arah kursi kayu tempat Aliya biasanya bercerita tentang ayahnya, namun tempat itu kosong. Hanya ada sisa botol air mineral yang tertinggal.
"Tidak ada, Tuan. Aliya tidak terlihat di area ini," lapor Kabir setelah memeriksa sisi barat pelabuhan.
Wajah Emirhan mengeras. Urat-urat di lehernya menegang karena emosi dan kekhawatiran yang memuncak.
Ia tidak bisa membayangkan Aliya yang sedang terluka harus berkeliaran di area pelabuhan yang rawan pada jam seperti ini.
"Cari lagi, Kabir! Periksa semua kedai dan jalanan di sekitar sini!" bentak Emirhan, suaranya menggelegar di tengah kesunyian malam.
"Mungkin dia sedang menuju ke arah stasiun atau—"
"Aku tidak bisa menunggu satu jam, bahkan dua jam pun! Mengerti?!" potong Emirhan dengan mata yang berkilat marah.
"Setiap detik yang terbuang adalah risiko baginya. Lukanya bisa terbuka kembali!"
Emirhan mencengkeram kerah jaketnya sendiri, mencoba meredam ketakutan yang luar biasa.
"Aku bilang aku ingin Aliya berada di sisiku sekarang juga! Temukan dia, bagaimanapun caranya!"
Kabir tersentak melihat sisi Emirhan yang begitu rapuh sekaligus meledak-ledak.
Ia segera menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Baik, Tuan. Saya akan menghubungi seluruh tim keamanan untuk menyisir radius satu kilometer dari sini."
Kabir kembali masuk ke mobil dan memutar arah dengan cepat, sementara Emirhan memilih untuk berlari menyusuri jalanan setapak menuju deretan warung makan, matanya dengan liar mencari sosok gadis yang kini telah menjadi pusat dunianya.