NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Lampu jalan yang mulai menyala satu per satu menemani perjalanan Zaidan.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam, dan setiap inci otot di tubuhnya terasa berteriak meminta istirahat.

Sejak aksi kejar-kejaran yang gagal semalam, dilanjut amukan warga, pernikahan dadakan, hingga talak yang ia jatuhkan pada Maya, Zaidan merasa seolah telah melewati hidup selama sepuluh tahun hanya dalam waktu dua puluh empat jam.

Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah kontrakan, sebuah bangunan sederhana yang kini menjadi satu-satunya tempat ia bisa merebahkan diri.

Zaidan mematikan mesin, menarik napas panjang untuk mengusir sisa-sisa ketegangan di kantor polisi, lalu melangkah menuju pintu kayu yang catnya sudah memudar itu.

"Assalamualaikum," ucapnya lirih saat memutar kunci.

"Waalaikumsalam, Mas," jawab sebuah suara lembut yang seketika memberikan ketenangan aneh di hati Zaidan.

Sulfi sudah berdiri di sana, menyambut kedatangan Zaidan dengan senyum tipis yang tulus.

Ia masih mengenakan daster panjang dengan kerudung instan, namun penampilannya jauh lebih rapi dibanding tadi siang.

"Mas mandi dulu ya, biar badannya segar. Setelah itu kita makan malam bersama," ucap Sulfi pelan.

Ia mengambil tas kerja Zaidan dengan gerakan yang sangat alami, seolah mereka sudah hidup bersama bertahun-tahun.

Zaidan tertegun di ambang pintu. Matanya beralih ke meja kayu kecil di tengah ruangan.

Di sana, Zaidan melihat istri yang baru saja ia nikahi sudah menyiapkan makan malam.

Uap tipis masih mengepul dari mangkuk berisi sayur bayam bening.

Di sampingnya, sepiring ikan asin goreng, sambal terasi yang aromanya menggugah selera, dan tentu saja nasi putih hangat yang berasal dari beras yang mereka bawa pagi tadi.

Semuanya tampak sangat bersahaja, namun di mata Zaidan, pemandangan itu terasa begitu mewah.

Ia teringat Maya yang biasanya hanya memesan makanan lewat aplikasi atau sibuk dengan ponselnya saat ia pulang.

Di sini, di rumah kontrakan sempit ini, ia justru menemukan kehangatan yang selama ini hilang dari rumah besarnya.

Zaidan menatap Sulfi, lalu menatap hidangan itu sekali lagi.

Rasa lelahnya mendadak menguap, berganti dengan rasa haru yang menyesakkan dada.

Suasana di ruang tengah yang sempit itu mendadak hening, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring kaca.

Cahaya lampu neon yang agak redup memayungi kebersamaan pertama mereka sebagai suami istri.

Zaidan menyuap nasi hangat dengan sayur bayam dan ikan asin itu dengan lahap.

Meski sederhana, rasanya jauh lebih nikmat daripada makanan mahal mana pun yang pernah ia santap.

Sulfi yang duduk di hadapannya memperhatikan dengan tatapan cemas sekaligus penuh harap.

"Enak nggak, Mas, masakan saya?" tanya Sulfi lirih, memecah kesunyian.

Zaidan menghentikan kunyahannya sejenak, lalu menatap Sulfi dengan lembut.

Sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya yang masih dihiasi sisa lebam.

"Enak sekali, Sulfi. Terima kasih sudah mau memasak untuk suamimu yang masih banyak kekurangan ini," jawab Zaidan tulus.

Mendengar pujian itu, rona merah tipis muncul di pipi Sulfi.

Ia mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Mereka kembali menikmati makan malamnya dalam keheningan yang lebih nyaman dari sebelumnya. Namun, di balik kunyahannya, pikiran Zaidan masih terbebani oleh kejadian di rumah mertuanya tadi siang.

Ia tahu, ia tidak bisa menyimpan rahasia ini terlalu lama.

Zaidan meletakkan sendoknya, lalu meminum air putih hingga tandas. Ia menatap Sulfi dengan serius.

"Sulfi, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan," ujar Zaidan dengan nada suara yang merendah.

Sulfi yang sedang merapikan piring langsung berhenti.

Jantungnya berdegup kencang melihat gurat ketegangan di wajah Zaidan.

"Apa, Mas? Mas sudah menangkap Guntur?" tanya Sulfi cepat, pikirannya langsung tertuju pada buronan berbahaya itu.

Zaidan menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkannya.

"Tadi siang, Mas menjatuhkan talak satu kepada Maya."

Zaidan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.

Tentang bagaimana ia dicaci maki di rumah mertuanya, tentang syarat kejam yang diajukan Maya untuk menjadikan Sulfi sebagai pelayan dan mengambil anaknya kelak, hingga tamparan Pak Surya yang membuatnya sadar bahwa ia tak lagi punya tempat di sana.

"Astaghfirullah, Mas!" seru Sulfi sambil menutup mulutnya dengan tangan. Matanya seketika berkaca-kaca.

"Kenapa Mas sampai menjatuhkan talak kepada Mbak Maya?"

Sulfi jatuh terduduk di kursi, tubuhnya bergetar hebat.

Rasa bersalah yang tadi sempat mereda kini menghantamnya lebih keras dari sebelumnya.

"Nanti Mbak Maya mengira saya yang memintanya, Mas. Dia pasti akan semakin membenci saya. Mas tidak seharusnya kehilangan keluarga Mas hanya karena membela saya," isak Sulfi pilu.

Ia tidak membayangkan bahwa pernikahan siri yang berawal dari ketidaksengajaan ini akan berujung pada hancurnya rumah tangga Zaidan yang sudah bertahun-tahun dibina.

Di mata Sulfi, ia kini benar-benar menjadi sosok wanita perusak yang membuat suaminya terusir dari kehidupannya yang lama.

Zaidan meraih jemari Sulfi yang bergetar di atas meja, mencoba menyalurkan ketenangan meski hatinya sendiri masih terasa perih.

"Ini semua bukan karena kamu, Sulfi," ucap Zaidan dengan nada rendah namun penuh penekanan, sebelum ia kembali menikmati makanannya dengan gerakan mekanis.

"Mas melakukan itu karena harga diri. Mas tidak bisa membiarkan Maya memperlakukan manusia lain seperti benda. Itu murni keputusan Mas sebagai laki-laki."

Namun, di balik ketenangan Zaidan, badai yang sesungguhnya sedang berkecamuk di sisi lain kota.

Di rumah mewahnya, suasana tampak seperti medan perang.

Maya berteriak histeris sambil menyambar bingkai foto pernikahan yang terpajang di dinding ruang tamu.

PRANGG!

Kaca bingkai itu hancur berantakan di lantai, menampilkan wajah Zaidan yang tersenyum mengenakan seragam kebesarannya.

Maya tidak berhenti di situ. Ia berlari ke kamar, mengobrak-abrik lemari, dan membuang semua pakaian mantan suaminya ke lantai dengan beringas.

"Dasar suami miskin! Tukang selingkuh!" teriak Maya dengan suara melengking.

"Kamu pikir kamu bisa hidup tenang setelah mempermalukan aku seperti ini?!"

Napasnya memburu, matanya merah karena dendam yang sudah meracuni akal sehatnya.

Maya meraih ponselnya yang tergeletak di kasur. Ia tidak akan membiarkan Zaidan pergi begitu saja dengan "istri barunya" sementara ia menderita sendirian.

Ia mencari sebuah nama di kontak teleponnya: Riko.

Riko adalah rekan satu unit Zaidan yang sejak dulu memiliki persaingan terselubung dengan mantan suaminya itu.

Maya tahu betul bahwa Riko haus akan jabatan dan sering merasa iri dengan prestasi Zaidan.

"Halo, Riko?" suara Maya terdengar dingin dan tajam saat panggilan itu diangkat.

"Ya, Maya? Ada apa malam-malam begini?" tanya Riko dari seberang telepon.

"Zaidan sudah mengkhianatiku. Dia menikah lagi secara diam-diam dan sekarang dia menceraikanku demi janda itu," Maya menjeda sejenak, bibirnya membentuk seringai licik.

"Aku butuh bantuanmu. Aku ingin dia hancur. Bantu aku memfitnahnya di kantor, buat laporan palsu atau apa pun itu, agar dia dipecat secara tidak hormat dari kepolisian. Aku akan pastikan kamu mendapatkan 'balasan' yang setimpal."

Hening sejenak di seberang sana, sebelum tawa kecil Riko terdengar.

"Menarik. Sepertinya kita punya kepentingan yang sama, Maya. Kita atur rencananya besok."

Maya menutup telepon dengan puas.

Jika Zaidan memilih untuk meninggalkan kemewahan demi harga diri, maka Maya akan memastikan Zaidan tidak memiliki apa-apa lagi untuk dibanggakan—bahkan seragam polisi yang sangat ia cintai itu.

Setelah menyelesaikan suapan terakhir, Zaidan meletakkan piringnya.

Kelelahan yang luar biasa kini mulai menagih haknya.

Matanya terasa berat, dan punggungnya seolah memikul beban berkuintal-kuintal.

"Ayo kita istirahat," ajak Zaidan pelan.

Sulfi menganggukkan kepalanya dengan patuh.

Ia membereskan meja dengan cepat, lalu mengikuti langkah Zaidan menuju kamar tidur mereka yang sederhana.

Di dalam kamar yang remang-remang itu, Sulfi melihat suaminya duduk di pinggir kasur sambil menghela napas panjang.

Ia tahu Zaidan sedang menanggung beban pikiran dan fisik yang sangat berat.

Dengan gerakan ragu namun penuh perhatian, Sulfi mendekat sambil membawa sebotol kecil minyak telon.

"Mas, boleh saya memijat punggung Mas?" tanya Sulfi lembut.

Zaidan menoleh, sedikit terkejut dengan perhatian kecil itu.

Ia menganggukkan kepalanya, lalu perlahan melepas pakaiannya, menampakkan punggungnya yang tegap namun tampak tegang.

"Permisi ya, Mas," ucap Sulfi dengan nada yang sangat sopan.

Ia menjaga jarak dan tata kramanya dengan baik, meskipun mereka sudah sah secara agama.

Sulfi mulai menuangkan minyak ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu menekankan jemarinya ke pundak Zaidan yang keras seperti batu.

Aroma khas minyak telon segera memenuhi ruangan, memberikan efek relaksasi yang instan.

Pijatan Sulfi terasa sangat pas—tidak terlalu keras, namun cukup untuk mengurai urat-urat yang kaku.

Kehangatan tangan Sulfi dan aroma menenangkan itu menjadi obat paling mujarab bagi Zaidan.

Rasa lelah yang bertumpuk sejak semalam seolah ditarik keluar dari tubuhnya.

Sentuhan lembut itu membuat pertahanan Zaidan runtuh.

Hanya dalam hitungan detik setelah Sulfi mulai memijat bagian tengah punggungnya, napas Zaidan mulai teratur dan berat.

Kepalanya terkulai pelan, dan ia pun tertidur pulas dalam posisi duduk yang kemudian disandarkan Sulfi dengan hati-hati ke bantal.

Sulfi berhenti memijat. Ia menatap wajah Zaidan yang kini tampak tenang dalam tidurnya.

Meskipun wajah itu dipenuhi lebam, bagi Sulfi, pria inilah yang telah menjadi penyelamat kehormatannya.

Ia menyelimuti Zaidan dengan kain sarung, lalu berbisik lirih sebelum ikut memejamkan mata di sisi kasur yang lain.

"Terima kasih sudah menjagaku, Mas..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!