Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. WATACI
Langkah tergesa menghampiri ke arah Nika. Dengan mata melotot tajam ia menatap kerumunan.
"Siapa yang berani melukai anak kesayanganku, hah!" pekiknya.
Sang istri segera menghampiri dengan wajah memelas. "Dia! Dia yang sudah membuat anak kita babak belur. Pokoknya aku mau anak itu dihukum yang berat."
"Mampus kalian! Biar kalian punya pengacara tapi tidak akan bisa melawan suamiku yang berkuasa. Dia seorang manager di perusahaan Holding Group," tambahnya dengan angkuh.
Bram bersendekap angkuh. Ia menyipitkan mata saat melihat Adnan di antara mereka. "Tuan Adnan, apa kau yang membela anak itu? Tapi biarpun kau yang jadi pengacaranya aku pastikan dia tidak akan keluar dari sini."
Adnan mendekat. "Benarkah? Tapi tahukah Anda, anak Andalah yang pertama mengusik dan membully dia. Dia hanya membela diri apa itu salah."
Bram seketika menoleh ke arah putranya. Namun sang anak segera menggeleng cepat.
"Anak saya tidak mungkin melakukan itu, Tuan Adnan. Anda jangan asal nuduh, ya?" sahutnya.
Bram mendekati Elano dengan cepat ia hendak menarik tangannya, namun Nika segera menepisnya.
"Apa Anda serius ingin melakukan itu. Atau Anda bisa kehilangan pekerjaanmu yang sekarang. Jadi silahkan pilih, Pak Bram!" ujar Nika dengan nada datar.
Mata Bram seketika membelalak sempurna seakan akan keluar dari tempatnya saat melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Anda ... bagaimana bisa Anda ada di sini?" ucap Bram terbata.
"Karena yang membuat mereka babak belur itu adikku," sahut Nika.
Bram terhuyung dan segera ditahan oleh sang istri. "Apa yang terjadi? Dia ... dia yang sudah menghina dan merendahkan aku. Beri dia pelajaran suamiku."
Plak!
"Aakkkhhh!" rintih sang istri sambil memegangi pipinya yang merah sebab mendapat tamparan dari Bram suaminya.
"Lancang! Kamu tidak tahu dia siapa? Apa kamu mau aku jadi pengangguran, hah!" bentak Bram.
"Dia Direktur di perusahaanku bodoh!" tambahnya.
Seketika mereka semua mengangga tak percaya. Mereka sudah menyinggung orang yang paling berkuasa di kota itu.
Bram mendekat dengan tangan gemetar, karena dia sadar betul bagaimana tegasnya atasannya itu.
"Maafkan kelancangan kami, Bu. Anak saya salah, saya akan memberinya hukuman yang berat," katanya meyakinkan.
Namun, ini adalah Nika yang tak mudah luluh oleh rayuan seperti itu. "Maaf pak Bram, kali ini saya benar-benar tersinggung dengan ucapan istri dan anak Anda. Aku mau kalian semua bersujud dan meminta maaf jika tak ingin aku tuntut kalian!"
Mereka semua saling pandang tak percaya. Disuruh sujud, sama saja merendahkan diri sendiri. Namun, Bram tak memiliki pilihan lain. Ia menarik anak dan istrinya untuk segera bersujud dan meminta maaf.
Adnan yang berdiri di belakang Nika hanya bisa merasa ngeri. Begitu kejamnya jika Nika marah, bahkan tak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia merasa harus hati-hati tak ingin berurusan dengannya lebih jauh dan mencari jalan keluar agar tak jadi menikah dengannya.
Tak lama seorang polisi keluar. Ia mengatakan jika rekaman itu asli, dan masalah ini akan di usut tuntas. Untuk sementara anak-anak yang merundung Elano tidak di izinkan pulang.
"Jangan, jangan lakukan ini Bu Direktur. Saya sudah meminta maaf, jika sampai ada catatan buruk tentang anak saya bagaimana masa depannya. Dia masih kecil," ungkap Bram memelas.
Namun, NIka seolah enggan menatapnya. "Heh! Itu bukan urusan saya, Pak Bram. Dia berani berbuat harus berani bertanggung jawab, dong. Dan juga besok tidak perlu lagi datang ke kantor, karena saya sedang kesal Anda saya pecat hari ini juga."
"Geby, ayo kita pergi!" ajaknya tanpa menoleh.
Sementara Bram hanya bisa mematung dan tubuhnya merosot bersimpuh di lantai. Semua bagai mimpi buruk yang datang bertubi-tubi.
Nika dan yang lain segera meninggalkan kantor polisi menuju mobil. Ia duduk di kursi belakang bersama Adnan. Sedang Geby dan Elano di mobil lain.
Selama di perjalanan Nika tak banyak bicara begitupun dengan Adnan. Dalam batin Adnan menggerutu dengan keputusan yang Nika ambil. Bagaimana bisa dia sekejam itu dan tidak berperasaan.
"Apa kau sedang mengutukku dalam hati? Wajah itu terlalu jelas," celetuk Nika.
"Tidak, Bu. Saya mana berani," sahut Adnan.
Nika menoleh namun sorot matanya begitu tajam menusuk. "Apa sekarang kau sedang memikirkan cara agar tak menikah denganku, Tuan Adnan. Jangan pernah memiliki pikiran konyol itu. Karena kau harus melakukannya, mau atau tidak mau. Jika semua sudah aman, dan terkendali jika ingin cerai dan kembali pada kekasihmu, itu terserah."
'Apa? Begitu mudahnya dia mengatakan itu tanpa bertanya bagaimana pendapatku,' batin Adnan.
"Tapi ingat satu hal. Hal ini hanya kita yang tau, jangan sampai ada yang tahu termasuk kekasihmu," tegas Nika sambil kembali menatap layar ponselnya.
Mobil tiba-tiba berhenti tepat di depan mall tempat awal mereka bertemu. Adnan segera turun namun sebelum ia menutup pintu Nika menahannya. "Sampai ketemu di pelaminan, Tuan Adnan."
Adnan hanya bisa mematung saat mobil Nika menghilang dari pandangannya.